
🌹 Happy Reading 🌹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author 🤗.
Jenny terus menemani Ayahnya, mereka pergi jogging bersama dan mengobrol di taman sambil menemani Oma menanam bunga. Tak terasa dua hari berlalu dan tiba saatnya ayah berangkat ke Paris bersama ayah Satria.
"Ayah aku ingin ikut denganmu." pinta Jenny yang dengan wajah imutnya dan duduk di atas koper milik Ayah.
"Tidak, kamu tidak boleh ikut kamu itu sudah besar bukan anak kecil lagi bahkan kamu sudah memiliki suami." ucap Ayah mencubit hidung anaknya.
"Ahhh aku masih anak kecil, bawa aku Ayah." ucap Jenny merentangkan tangannya ke arah Ayahnya namun bukannya Ayahnya yang menggendongnya namun suaminya yang mengangkatnya turun dari atas koper.
"Kakak, aku ingin ikut dengan Ayah." bujuk Jenny pada Abizar, walaupun Abizar sudah menjanjikan seorang pengawal untuk Ayahnya namun hatinya masih tidak tenang meninggalkan Ayahnya.
"Tidak boleh, tapi aku janji akan membawamu berkunjung disana." ucap Abizar.
"Janji." ucap Jenny mengacungkan jari manisnya.
"Iya, aku janji." ucap Abizar.
Jenny menunjukkan wajah cemberutnya dan menggoyangkan pergelangan tanggannya, Abizar yang tidak peka membuat Jenny kesal dia pun menarik tangan Abizar dan mengikat janji kelingking.
"Terimakasih." ucap Jenny dan kembali membantu Ayahnya berkemas.
Abizar menatap Jenny dan tiba-tiba Ayah Surya menepuk pundaknya, seketika dia berbalik melihat Ayah Surya.
"Ayah."
"Aku ingin bicara denganmu." ajak Ayah keluar dari kamar dan Abizar mengikutinya.
"Apa yang ingin Ayah katakan ?" tanya Abizar.
"Aku sudah melihat ketulusanmu pada Jenny dan hal itu membuatku merasa tenang untuk meninggalkan Jenny bersamamu." tutur Ayah Surya dengan penuh senyum di wajahnya namun terlihat sedih.
__ADS_1
"Aku tahu kamu orang yang baik dan akan menjaga putriku namun jika suatu saat kamu tidak menginginkannya lagi maka beritahu aku dan kembalikan dia kepadaku.'' jelas Ayah dengan raut sedih.
"Aku mohon jangan sakiti dia." ucap Ayah mulai menjatuhkan air matanya.
"Aku janji tidak akan melakukan hal itu padanya dan aku janji akan membuat dia bahagia selagi aku masih hidup namun jika hal itu terjadi maka akan ku pastikan dia tidak akan terlalu kecewa kepadaku dan aku akan bertanggung jawab kepadanya seumur hidupku." ucap Abizar dengan wajah datarnya namun dengan mata berbinarnya membuat Ayah Surya merasa tenang.
"Aku mempercayaimu." ucap Ayah menepuk pundak Abizar.
Ayah dan abizar kembali ke kamar dan membantu Jenny untuk mengemas pakaian Ayah Surya, Jenny sesekali tiba-tiba memeluk ayahnya dari belakang dan hanya dibalas tepukan oleh sang ayah.
Pukul 12 helikopter milik keluarga Aslan tiba di halaman mension, dan sudah saatnya Ayah surya dan Ayah Satria berangkat ke Paris. semua orang mengucapkan selamat tinggal namun berbeda dengan Jenny yang terus memeluk Ayahnya seakan-akan tidak ingin melepas Ayahnya.
"Ayah jaga kesehatan yah disana." ucap Jenny mulai menunjukan mata yang berair.
"Putri Ayah kenapa sangat cengeng." ucap Ayah mengisap air mata di pipi Jenny.
"Hikss."
Ayah memberikan kode pada Abizar dan Abizar yang mengerti menarik Jenny dari pelukan ayahnya dan memeluk Jenny dengan erat agar tidak lari mengikuti Ayahnya.
"Ayah pergi dulu." pamit Ayah sambil melambaikan tangannya dan berjalan memasuki helikopter.
Perlahan helikopter mulai naik ke langit dan menjauh dari mension membuat jennie semakin menangis histeris di pelukan Abizar.
"Hikss..hiks...hikss...Ayah." suara isakan tangis Jenny di balik pelukan Abizar.
"Sudah jangan menangis lagi." bujuk Abizar pada Jenny.
Abizar yang mulai tidak sabar menunggu Jenny yang tidak berhenti menangis dia pun menggendong Jenny menuju ke kamarnya, dan meletakkan Jenny di atas kasur.
"Tidurlah dan jangan menangis lagi."
__ADS_1
"Kakak apakah Ayah akan baik-baik saja di sana ?" tanya Jenny.
"Iya dia akan baik-baik saja lagi pula ada Ayahku di sana dan beberapa dokter dan pengawal yang aku tugaskan untuk menjaga Ayahmu, semua akan baik-baik saja." ucap Abizar menenangkan Jenny.
"Huwaa..."tangis Jenny semakin keras membuat Abizar panik namun kasihan diapun segera memeluknya dan berusaha menenangkan Jenny.
Jenny perlahan tertidur karena sudah kelelahan menangis, habis sarapan mulai merasa lega diapun dengan perlahan-lahan menidurkan Jenny dan menyelimutinya.
"Kamu sangat cengeng seperti anak kecil yang ditinggal." gumam merapikan anak rambut Jenny.
\*-\*-\*-\*-\*
Sudah 6 hari kepergian sang ayah ke Paris Jenny mencari kesibukan lain agar tidak mengkhawatirkan Ayahnya, setiap hari Jenny membantu Abizar untuk bersiap-siap ke kantor dan kebutuhan lainnya. Jenny juga setiap pagi pergi jogging bersama Oma dan saat siang dia menemani Bibi Intan untuk menanam bunga dan di saat jam makan Jenny selalu membantu Bunda Dita memasak di dapur.
Tepat pada pukul 18.33 Jenny sedang melakukan perawatan diri di depan meja rias dan tiba-tiba dia mendapatkan notifikasi dari perusahaan tempat Desainer Dewi bekerja. Jenny yang melihat notifikasi itu dengan perasaan gugup dia memberanikan diri untuk membuka notifikasi itu karena notifikasi itu adalah masa depannya.
Jenny memencet notifikasi itu dengan mata tertutup, perlahan-lahan Jenny membuka matanya dengan jantung yang berdetak kencang dan melihat isi notifikasi itu. Jenny seketika melototkan matanya saat membaca isi notifikasi itu mengumumkan bahwa dia lulus kerja di perusahaan tempat desainer Dewi bekerja.
"Aahhhh." teriak girang Jenny sambil melompat lompat membuat Abizar yang baru saja keluar dari kamar mandi ikut kaget dan heran melihat Jenny yang melompat kegirangan.
"Kamu gila ?" ucap Abizar sambil menggosokkan rambutnya menggunakan handuk.
"Kak..Aku lulus kerja di perusahaan LAA." ucap girang Jenny melompat-lompat di hadapan Abizar.
"Jangan melompat seperti itu di hadapanku, lihat handuk mu mulai melorot." tunjuk Abizar pada dada Jenny dengan mengalihkan pandangannya.
"Hahah, sorry." ucap Jenny memperbaiki handuknya.
"Tadi kamu bilang perusahaan LAA ?" tanya Abizar memastikan.
"Iya, perusahaan desain terbesar di dunia dan perusahaan itu ada di negara kita, masa kakak tidak tahu sih." jelas Jenny penuh semangat.
"Dia ini bodoh atau apa tentu saja aku tahu ini kan perusahaan ku, bisa-bisanya dia tidak tahu orang yang tinggal bersamanya dan setiap malam tidur dengannya adalah CEO perusahaan yang dia incar."batin Abizar menggeleng kepalanya melihat Jenny yang sangat polos.
__ADS_1
Thanks you for reading 🌹🌹🌹*