Cinta Untuk Kencana

Cinta Untuk Kencana
BAB 11


__ADS_3

Rabu pagi pukul 06.30 kencana sudah dijemput tunangannya bernama ian,


untungnya kencana sudah siap. “assalamualaikum” “waalaikumsalam masuk


dulu ian, kencana masih diatas mungkin masih siap-siap” ucap tante


kencana. “cana… ini ada mas ian, ayo turun dandannya sudah belum?” “iya


tante, cana mau turun nih, cana nggak dandan tante Cuma pakai pelembab


aja kok” “tante Cuma bercanda cana” “iya tante cana tau kok hehe”


“yasudah saya dan kencana berangkat dulu ya tante, takut macet dijalan”


“lho nggak sarapan dulu can” “nggak usah tan, nanti aja cana beli


sarapan deket kantor sama mas ian” “iya tante kita nanti beli sarapan


disana saja” “yasudah kalau begitu” “cana berangkat dulu ya tan,


assalamualaikum” “waalaikumsalam, hati-hati dijalan”


Pagi itu


jalanan Nampak ramai dan padat perjalanan kencana yang dikira hanya tiga


puluh menit saja ternyata lebih lima puluh menit malah, dikarenakan pas


dengan jam kerja orang kantoran, jalanan menjadi macet. Setibanya


dikantor kencana, kencana langsung bergegas menuju tempat yang diinfokan


kepada kencana, “kamu tunggu sini aja ya mas” “kenapa kalau aku ikut,


kamu nggak mau ketahuan kalau sudah punya calon ya” “bukan begitu mas,


biar aku bisa sendiri dan nggak ngrepotin kamu” “nggak ngrepotin kok,


udah ayok aku antar keruangannya HRD” setibanya di depan ruangan HRD


kencana ragu untuk masuk karena ian masih saja mengikutinya dari


belakang, bukannya kencana risih hanya saja malu sudah sebesar ini


mengurus urusan pribadinya masak harus ditemani. Akhirnya kencana


menegur ian, “kamu disini aja mas, aku berani kok masuk sendiri” “yaudah


aku tunggu dikursi depan itu ya” sambil menunjuk ruang tunggu di


sebelah kanan ruang HRD. Akhirnya kencana masuk sendiri dan mengurus


berkas-berkas penerimaan calon pegawai negerinya. Salah satu pegawai HRD


menanyakan dengan siapa kencana datang, “kamu sama siapa kesini, ada


yang ngantar nggak?” kencana bingung harus menjawab apa, kencana ragu


apakah harus bilang kalau diantar tunangannya atau sendiri “saya diantar


teman saya bu” akhirnya kencana menjawab asal. “mana temanmu, nunggu


diluar ya?” “iya bu, teman saya sedang menunggu di ruang tunggu” “sudah


selesai, nanti kalau ada info terkait kapan mulai kerja akan diinfokan


via SMS ya” “oh baik bu terima kasih banyak bu” “iya sama-sama” akhirnya


kencana selesai mengurus berkas-berkasnya dan saat kencana keluar


ruangan dan mengajak ian pulang. Bukannya malah pulang ian mengajak


kencana ke kantornya terlebih dahulu untuk absen pagi, “mas apa nggak


apa-apa kamu Cuma absen aja terus pergi lagi, apa nggak sebaiknya kamu

__ADS_1


kerja, aku bisa tunggu kamu kok di mushola tempat kamu kerja” ucap


kencana. “nggak apa-apa aku udah izin atasanku, kalau hari ini ngantar


calonku” “emang dibolehin ya” “boleh kok, aku tuh jarang izin dan nggak


pernah cuti makanya dibolehin” “oh gitu yaudah deh, terus kita mau


kemana mas?” “ke kost aku aja yuk” “nggak mau ah, mending kita beli


makan dulu, aku laper mas” sambil meringgis memegang perutnya “yaudah


ayo kita beli makan dulu”


Setelah membeli makan untuk sarapan,


bukan sarapan lebih tepatnya hampir jam makan siang karena jam


menunjukkan pukul sebelas lewat 20 menit kencana mengajak tunangannya


pulang ke rumah tantenya, akan tetapi ian malah mengajak kencana ke kost


nya. Sesampainya di kost kencana heran ini barang kok berantakan semua


apa tunangannya ini baru pindah kesini sepertinya kostan ini baru


ditempati beberapa hari yang lalu dan belum sempat dirapihin. “kamu baru


pindah kesini mas? Berantakan banget lho ini” “iya hari sabtu kemarin


aku pindah kesini, belum sempat beres-beres” jawab ian sambil merebahkan


diri dikasur kostnya. “memangnya kenapa pindah mas, ada yang kamu


sembunyiin dari aku ya? Atau jangan-jangan mantan kamu suka main ke kost


kamu yang lama” selidik kencana. “nggak kok, pindah karena ibu kost


lama minta uang lebih tiap bulannya awalnya tujuh ratus ribu sekarang


beres-beres biar agak rapihan, kalau rapi kan enak dilihatnya” kencana


menaruh tas di meja tv kemudian memilah milah barang yang masih dipakai


dan tidak menata ruang tamu yang masih banyak barang entah barang apa


itu masih didalam kardus, kencana enggan bertanya kepada ian, kencana


hanya membantu seperlunya saja, untuk barang yang agak pribadi didalam


koper dan kardus yang masih di lakban kencana enggan bertanya  apalagi


membereskan kencana hanya menggeser saja dan menatanya agar lebih rapi.


Setelah selesai bebebnah, menyapu dan mengepel lantai kostan yang


ukurannya tiga petak ruangan itu kencana merebahkan diri di kasur tempat


tidur ian. “capeknya” keluh kencana.. “sini mau mas pijitin” “mau mas,


pundak aku sebelah kiri pegel banget mas” ian memijat pundak kiri


kencana lama-kelamaan pijatannya turun ke payudara kencana “mas, jangan”


ucap kencana “nggak apa-apa Cuma pegang aja” “tapi..” sebelum kencana


 menyelesaikan ucapannya bibirnya yang munggil langsung dicium ian


dengan terburu-buru “emmmph.. “ erang kencana. Ian tak tinggal diam saat


bibirnya menyatu dengan bibir kencana salah satu tangannya memainkan


payudara kencana meremasnya dengan perlahan membuat kencana merasakan


gejolak yang entah apa ini baru dirasakannya. Ciuman keduanya terpisah

__ADS_1


saat kencana kekurangan oksigen, dengan perlahan ian membuka kancing


baju kencana, kencana hanya diam saja setelah baju dibuka ian dibuat


melonggo bagaimana tidak melonggo begitu ranum indah payudara kencana


yang masih etrbungkus bra warna abu muda tersebut, ian kemudian


meremasnya perlahan membuat kencana mengerang “emm mas..” ian pun


mencium bibir kencana ciumannya lebih kasar dibandingkan yang pertama


tadi ciumannya lebih menuntut supaya kencana membuka lebar mulutnya


kencana mengikuti kemauan ian membuka mulutnya lebar dan menghisap lidah


ian dengan agresif, entah sejak kapan bra yang dipakai kencana ternyata


sudah dilepas oleh ian. Ciuman ian turun ke payudara kencana yang


begitu indah dan ranum, ian menghisapnya perlahan membuat kencana


semakin menggelinjang tak karuan salah satu tangan ian meremas payudara


yang satunya. Saat kencana merasakan sensasi yang begitu nikmat tangan


ian yang satu akan membuka kancing celana kencana  reflek kencana


langsung bangun dari posisinya dan berkata kepada ian “jangan mas, aku


belum siap, kita juga belum sah suami istri aku ini baru calonmu”


cerocos kencana sambil menutupi tubuhnya dengan bajunya yang berserakan


disampingnya. ian hanya diam saja tak menjawab, kencana bertanya lagi


“mas, kamu nggak apa-apa kan, aku Cuma nggak mau ngelakuin ini sebelum


kita sah” “maafin mas ya” akhirnya ian bersuara sambil menundukkan


kepalanya kebawah “maafin mas ya cana, harusnya mas bisa menjaga kamu


sebaik mungkin tapi mas malah berbuat yang tak seharusnya mas lakukan


sebelum kita sah suami istri” kencana mendekati ian dan memeluknya “it’s


ok mas, nggak apa-apa lain kali jangan diulang ya” “lain kali mas nggak


akan seperti ini lagi, tapi kalau kamu peluk mas seperti ini mas jadi


pengen lagi lho” reflek kencana melepaskan pelukkannya “ih apaan sih mas


Cuma meluk doag biar kamu nggak marah sama aku gitu maksudnya” “ya tapi


meluknya kamu masih telanjang dada gimana aku nggak pengen, aku juga


lelaki normal cana” “yaudah ih aku pakai bajuku, lagian siapa juga tadi


yang buka ya eh siapa juga yang marah aneh” gerutu kencana. Kencana


mengambil bra dan bajunya kemudian memakainya di kamar mandi, setelah


selesai memakai bajunya kencana keluar kamar mandi dilihatnya ian masih


tiduran di kasur “mas, sana mandi habis mandi aku mau ngobrol sama kamu,


banyak pertanyaan yang mau aku tanyain ke kamu mas” “ok aku mandi kamu


jangan kemana-mana disitu saja nonton tv” ian berlalu ke kamar mandi


“kemana-man a apanya aku nggak ngerti ini dimana ya pasti aku disini


nungguin kamu nganterin aku pulanglah gimana sih” gerutu kencana sambil


menyalakan tv dikamar ian.

__ADS_1


__ADS_2