
Rabu pagi pukul 06.30 kencana sudah dijemput tunangannya bernama ian,
untungnya kencana sudah siap. “assalamualaikum” “waalaikumsalam masuk
dulu ian, kencana masih diatas mungkin masih siap-siap” ucap tante
kencana. “cana… ini ada mas ian, ayo turun dandannya sudah belum?” “iya
tante, cana mau turun nih, cana nggak dandan tante Cuma pakai pelembab
aja kok” “tante Cuma bercanda cana” “iya tante cana tau kok hehe”
“yasudah saya dan kencana berangkat dulu ya tante, takut macet dijalan”
“lho nggak sarapan dulu can” “nggak usah tan, nanti aja cana beli
sarapan deket kantor sama mas ian” “iya tante kita nanti beli sarapan
disana saja” “yasudah kalau begitu” “cana berangkat dulu ya tan,
assalamualaikum” “waalaikumsalam, hati-hati dijalan”
Pagi itu
jalanan Nampak ramai dan padat perjalanan kencana yang dikira hanya tiga
puluh menit saja ternyata lebih lima puluh menit malah, dikarenakan pas
dengan jam kerja orang kantoran, jalanan menjadi macet. Setibanya
dikantor kencana, kencana langsung bergegas menuju tempat yang diinfokan
kepada kencana, “kamu tunggu sini aja ya mas” “kenapa kalau aku ikut,
kamu nggak mau ketahuan kalau sudah punya calon ya” “bukan begitu mas,
biar aku bisa sendiri dan nggak ngrepotin kamu” “nggak ngrepotin kok,
udah ayok aku antar keruangannya HRD” setibanya di depan ruangan HRD
kencana ragu untuk masuk karena ian masih saja mengikutinya dari
belakang, bukannya kencana risih hanya saja malu sudah sebesar ini
mengurus urusan pribadinya masak harus ditemani. Akhirnya kencana
menegur ian, “kamu disini aja mas, aku berani kok masuk sendiri” “yaudah
aku tunggu dikursi depan itu ya” sambil menunjuk ruang tunggu di
sebelah kanan ruang HRD. Akhirnya kencana masuk sendiri dan mengurus
berkas-berkas penerimaan calon pegawai negerinya. Salah satu pegawai HRD
menanyakan dengan siapa kencana datang, “kamu sama siapa kesini, ada
yang ngantar nggak?” kencana bingung harus menjawab apa, kencana ragu
apakah harus bilang kalau diantar tunangannya atau sendiri “saya diantar
teman saya bu” akhirnya kencana menjawab asal. “mana temanmu, nunggu
diluar ya?” “iya bu, teman saya sedang menunggu di ruang tunggu” “sudah
selesai, nanti kalau ada info terkait kapan mulai kerja akan diinfokan
via SMS ya” “oh baik bu terima kasih banyak bu” “iya sama-sama” akhirnya
kencana selesai mengurus berkas-berkasnya dan saat kencana keluar
ruangan dan mengajak ian pulang. Bukannya malah pulang ian mengajak
kencana ke kantornya terlebih dahulu untuk absen pagi, “mas apa nggak
apa-apa kamu Cuma absen aja terus pergi lagi, apa nggak sebaiknya kamu
__ADS_1
kerja, aku bisa tunggu kamu kok di mushola tempat kamu kerja” ucap
kencana. “nggak apa-apa aku udah izin atasanku, kalau hari ini ngantar
calonku” “emang dibolehin ya” “boleh kok, aku tuh jarang izin dan nggak
pernah cuti makanya dibolehin” “oh gitu yaudah deh, terus kita mau
kemana mas?” “ke kost aku aja yuk” “nggak mau ah, mending kita beli
makan dulu, aku laper mas” sambil meringgis memegang perutnya “yaudah
ayo kita beli makan dulu”
Setelah membeli makan untuk sarapan,
bukan sarapan lebih tepatnya hampir jam makan siang karena jam
menunjukkan pukul sebelas lewat 20 menit kencana mengajak tunangannya
pulang ke rumah tantenya, akan tetapi ian malah mengajak kencana ke kost
nya. Sesampainya di kost kencana heran ini barang kok berantakan semua
apa tunangannya ini baru pindah kesini sepertinya kostan ini baru
ditempati beberapa hari yang lalu dan belum sempat dirapihin. “kamu baru
pindah kesini mas? Berantakan banget lho ini” “iya hari sabtu kemarin
aku pindah kesini, belum sempat beres-beres” jawab ian sambil merebahkan
diri dikasur kostnya. “memangnya kenapa pindah mas, ada yang kamu
sembunyiin dari aku ya? Atau jangan-jangan mantan kamu suka main ke kost
kamu yang lama” selidik kencana. “nggak kok, pindah karena ibu kost
lama minta uang lebih tiap bulannya awalnya tujuh ratus ribu sekarang
beres-beres biar agak rapihan, kalau rapi kan enak dilihatnya” kencana
menaruh tas di meja tv kemudian memilah milah barang yang masih dipakai
dan tidak menata ruang tamu yang masih banyak barang entah barang apa
itu masih didalam kardus, kencana enggan bertanya kepada ian, kencana
hanya membantu seperlunya saja, untuk barang yang agak pribadi didalam
koper dan kardus yang masih di lakban kencana enggan bertanya apalagi
membereskan kencana hanya menggeser saja dan menatanya agar lebih rapi.
Setelah selesai bebebnah, menyapu dan mengepel lantai kostan yang
ukurannya tiga petak ruangan itu kencana merebahkan diri di kasur tempat
tidur ian. “capeknya” keluh kencana.. “sini mau mas pijitin” “mau mas,
pundak aku sebelah kiri pegel banget mas” ian memijat pundak kiri
kencana lama-kelamaan pijatannya turun ke payudara kencana “mas, jangan”
ucap kencana “nggak apa-apa Cuma pegang aja” “tapi..” sebelum kencana
menyelesaikan ucapannya bibirnya yang munggil langsung dicium ian
dengan terburu-buru “emmmph.. “ erang kencana. Ian tak tinggal diam saat
bibirnya menyatu dengan bibir kencana salah satu tangannya memainkan
payudara kencana meremasnya dengan perlahan membuat kencana merasakan
gejolak yang entah apa ini baru dirasakannya. Ciuman keduanya terpisah
__ADS_1
saat kencana kekurangan oksigen, dengan perlahan ian membuka kancing
baju kencana, kencana hanya diam saja setelah baju dibuka ian dibuat
melonggo bagaimana tidak melonggo begitu ranum indah payudara kencana
yang masih etrbungkus bra warna abu muda tersebut, ian kemudian
meremasnya perlahan membuat kencana mengerang “emm mas..” ian pun
mencium bibir kencana ciumannya lebih kasar dibandingkan yang pertama
tadi ciumannya lebih menuntut supaya kencana membuka lebar mulutnya
kencana mengikuti kemauan ian membuka mulutnya lebar dan menghisap lidah
ian dengan agresif, entah sejak kapan bra yang dipakai kencana ternyata
sudah dilepas oleh ian. Ciuman ian turun ke payudara kencana yang
begitu indah dan ranum, ian menghisapnya perlahan membuat kencana
semakin menggelinjang tak karuan salah satu tangan ian meremas payudara
yang satunya. Saat kencana merasakan sensasi yang begitu nikmat tangan
ian yang satu akan membuka kancing celana kencana reflek kencana
langsung bangun dari posisinya dan berkata kepada ian “jangan mas, aku
belum siap, kita juga belum sah suami istri aku ini baru calonmu”
cerocos kencana sambil menutupi tubuhnya dengan bajunya yang berserakan
disampingnya. ian hanya diam saja tak menjawab, kencana bertanya lagi
“mas, kamu nggak apa-apa kan, aku Cuma nggak mau ngelakuin ini sebelum
kita sah” “maafin mas ya” akhirnya ian bersuara sambil menundukkan
kepalanya kebawah “maafin mas ya cana, harusnya mas bisa menjaga kamu
sebaik mungkin tapi mas malah berbuat yang tak seharusnya mas lakukan
sebelum kita sah suami istri” kencana mendekati ian dan memeluknya “it’s
ok mas, nggak apa-apa lain kali jangan diulang ya” “lain kali mas nggak
akan seperti ini lagi, tapi kalau kamu peluk mas seperti ini mas jadi
pengen lagi lho” reflek kencana melepaskan pelukkannya “ih apaan sih mas
Cuma meluk doag biar kamu nggak marah sama aku gitu maksudnya” “ya tapi
meluknya kamu masih telanjang dada gimana aku nggak pengen, aku juga
lelaki normal cana” “yaudah ih aku pakai bajuku, lagian siapa juga tadi
yang buka ya eh siapa juga yang marah aneh” gerutu kencana. Kencana
mengambil bra dan bajunya kemudian memakainya di kamar mandi, setelah
selesai memakai bajunya kencana keluar kamar mandi dilihatnya ian masih
tiduran di kasur “mas, sana mandi habis mandi aku mau ngobrol sama kamu,
banyak pertanyaan yang mau aku tanyain ke kamu mas” “ok aku mandi kamu
jangan kemana-mana disitu saja nonton tv” ian berlalu ke kamar mandi
“kemana-man a apanya aku nggak ngerti ini dimana ya pasti aku disini
nungguin kamu nganterin aku pulanglah gimana sih” gerutu kencana sambil
menyalakan tv dikamar ian.
__ADS_1