
Hari minggu sore yang cerah, kencana dan kedua orang tua nya
berencana akan berkunjung ke rumah oang tua ian, tak lupa om kencana
juga ikut menemani guna untuk menjadi saksi dan penengah takutnya
terjadi hal yang tidak diinginkan. Sesampainya dirumah kedua orang tua
ian, kencana beserta kedua orang tua dan om nya disambut dengan hangat.
Dipersilakan masuk dan duduk di kuris ruang tamu yang sederhana nan
bersih. “sebelumnya kami mohon maaf tiba-tiba datang kemari tanpa
memberitahu sebelumnya pak” obrolan dimulai dari ayah kencana ingin
mengutarakan maksud dan tujuannya datang bertamu kerumah kedua orang tua
ian. Kedua orang tua ian duduk berhadapan dengan kedua orang tua
kencana, masih diam menunggu obrolan selanjutnya dari ayah kencana.
“jadi, kedatangan kami kesini bermaksud untuk mengembalikan cincin
pertunangan ian dan kencana pak, karena nak ian setiap ada masalah
dengan kencana selalu meminta untuk mengembalikan cincinnya ini.
keputusan ini diambil sendiri oleh kencana atas kesepakatan bersama
dengan ian, kami merasa berhak untuk mengembalikan barang yang bukan
haknya kencana” ucap ayah kencana menjelaskan maksud dan tujuannya
bertamu. “saya sudah tau dari ian pak, ian semalam pulang dan bercerita
kepada saya dan ibunya” sahut ayah ian sambil menghela nafas panjang.
“kalau memang belum jodoh mau bagaimana, kita sebagai orang tua hanya
bisa mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita” ujar ayah ian lagi.
“mana ian nya pak” ucap om kencana.
“tadi
jam empat sudah berangkat lagi ke jakarta” ucap ibu ian memberi
jawaban. “oh sudah balik lagi bu, kirain masih ada disini” ucap om
kencana lagi. Sesaat hening tidak ada obrolan. Kencana pun sedari tiba
dirumah kedua orang tua ian hanya diam tertunduk kebawah, entah apa yang
dilihatnya dilantai ruang tamu ian seakan lebih menarik daripada
__ADS_1
melihat kedua orang tua ian ataupun kedua orang tuanya. Kencana
benar-benar merasa sedih melihat kedua orang tua ian yang berharap bisa
menjadikan kencana menantunya akan tetapi mau bagaimana lagi kencana
tidak kuat menghadapi sikap dan sifat ian yang tidak pernah mau berubah
dan maunya menang sendiri.
“yasudah tidak apa-apa nak cana” ucap ibu ian sambil menghampiri kencana dan mengusap lembut kepala kencana.
“ibu
sudah ikhlas kalau memang kalian tidak berjodoh, mau bagaimana lagi,
rasa cinta kan tidak bisa dipaksakan, maafkan ian ya nak” ibu ian
memeluk kencana, luruhlah air mata kencana yang dari tadi ditahannya.
Kencana menangis, menangis bukan karena tidak bisa melanjutkan hubungan
dengan ian bukan, memang ini kemauan kencana berpisah dengan ian. Akan
tetapi kencana menangis karena telah membuat kecewa kedua orang tua ian
yang sudah menaruh banyak harapan terhadap kencana, tapi mau bagaimana
lagi kalau bukan jodoh mau dipaksa pun tidak akan bisa bersatu.
kencana ya bu, pak...kencana banyak salah” ucap kencana sambil terisak.
“ibu sudah memaafkan kamu nak cana, semoga kamu bisa bahagia dengan
lelaki pilihan kamu nantinya” ujar ibu ian.
“terima kasih bu, pak... sekali lagi maafkan kencana” ucap kencana tulus.
“bapak,
ibu, karena maksud dan kedatangan kami sudah diterima dengan baik, ini
cincinnya juga kami kembalikan” ayah kencana sambil mengeluarkan cincin
yang disimpan didalam tas dan diberikan kepada bapaknya ian. Bapak ian
menerimanya. “saya terima kembali dan masalah selesai, semoga tali
silaturahmi masih terjaga dengan baik ya pak, bu” ujar ayah ian
mengambil cincin yang dberikan ayah kencana. “iya pak, bu,” jawab ayah
kencana.
“mari silakan diminum tehnya” ibu ian mempersilakan
__ADS_1
untuk meminum teh yang telah dibuatkan ibu ian. Kencana masih belum
berani menatap kedua orang tua ian, untuk meminum minumannya pun juga
tak berani, alhasil kencana tak minum sama sekali dan hanya diam saja.
Sesaat setelah meminum minuman yang sudah dibuatkan keluarga kencana
pamit pulang. “karena sudah malam dan takut keburu hujan, kami mohon
undur diri pak, bu, sekali lagi kami selaku kedua orang tua kencana
memohon maaf yang sebesar-besarnya” ucap ayah kencana berpamitan dan
menyalami kedua orang tua ian. “kami selaku kedua orang tua ian juga
memohon maaf atas semua kesalahan yang telah dilakukan oleh ian kepada
nak cana ataupun kepada bapak dan ibu” ucap ayah ian tulus. “kalau
begitu kami pamit pulang ya pak, assalamualaikum” “waalaikumsalam”
kencana
dan keluarganya sudah berpamitan pulang, kencana merasa lega akhirnya
bisa mengembalikan cincin itu kepada kedua orang tua ian. masalah ini
membuatnya pusing tujuh keliling dan hampir stress sampai-sampai berat
badannya turun dratis dari 56 kilo menjadi 48 kilo, bagaimana tidak
turun berat badan, kencana tidak nafsu makan dan hanya mengandalkan air
putih saja. sekarang kencana hanya ini fokus berkarir dan bekerja dengan
baik di rumah sakit tempat kerjanya yang baru, kencana tidak akan
memikirkan tentang pendamping hidup dulu yang terpenting sekarang adalah
bekerja dengan sebaik mungkin dan membahagiakan kedua orang tuanya dan
juga adik-adiknya.
apakah ian akan mengganggu
kencana lagi dan berusaha mengajak kencana untuk menjalin tali kasih ?
atau sudah benar-benar putus hubungan dengan kencana. ikuti terus cerita
ini ya. jangan lupa follow author dan tap love untuk novel ini terima
__ADS_1
kasih banyak semua. kalau mau ada yang komen di persilakan ya.