
***
Pagi itu tepatnya hari Minggu,Dhania hanya menghabiskan waktunya di rumah saja bersama Abangnya.
"Bang..Tumben sih mamah papah nggak pulang?"Tanya Dhania kesel."Abang.."Lanjutnya merengek.
"Mungkin ada urusan lain dek."Jawab Dhanil santai.
"Masa hari Minggu ini gak bisa nyempatin kumpul sama anak-anaknya."Tanya Dhania.
"Gaktau dah,jangan pikirin itu yuk makan."Ujar Dhanil.
"Bentar,Dhania masak dulu Abang."Jawabnya.
"Okay,cepat gak pakek lama."Ucap Dhanil sambil mencubit pipi cubbynya Dhania.
"Iya-iya."Jawabnya Dhania kesal.
Dhania berjalan menuju dapur,ia dengan lincah masak dan ia pun langsung cepat menuju meja makan.
"Abang.."Panggil Dhania.
"Iya kenapa?"Tanya Dhanil sambil memainkan Gadgetnya.
"Katanya mau makan,Gimana sih."Ujarnya kesel.
"Buset dah cepet amat masaknya."Dhanil sambil memasuki Ruang makan.
"Iya dong,siapa dulu nih adek Abang."Menyombongkan diri.
"Yeh.."Jawab Dhanil dan mengambil piring.
__ADS_1
Mereka berdua makan bersama.Dibilang kembar ya enggak,tapi mereka sangat kompak dan wajahnya hampir mirip.
**
Selesai makan,Dhanil mengajak Dhania jalan keluar ke tempat yang suka mereka datangi yaitu danau dekat desa.
Saat tiba di sana,Dhania melamun entah memikirkan apa.
"Hei."Ucap Dhanil sambil menepuk bahu Dhania.
"Eh."Ujarnya kaget.
"Mikirin apasih Dede emesh."Godanya.
"Enggak Abang."Sambil tertawa lepas.
'Aku tau Dhan,kamu pasti mempunyai beban.Tapi kamu lebih memilih tertawa.'Batin Dhanil.
"Udahlah..ketawanya cukup,"Ucap Dhanil.
Suasana hening.
Mereka berdua larut dalam pikirannya masing-masing.
"Ketahuilah dek,Di dunia ini kaulah yang selalu ada untukku.Meskipun mamah papah berharga bagiku,tetapi kaulah yang selalu setia menemaniku."Dhanil membuka kata dan membuat sosok Dhania meneteskan air mata.
"Sini dek."Ucap Dhanil dan memeluk tubuh Dhania.
"Ih abangnih,jangan dramatis gitu."Sambung Dhania ketawa lepas dan mengusap air matanya.
"Aku tau pasti kamu sekarang sedih.entah perkara apa,"ucap Dhanil yang membuat Dhania mencerna kata-katanya.
__ADS_1
"Ah apaan sih."Ujar Dhania ketawa.
"Kamu gak bisa boong dek.Aku ini saudaramu,jadi semua yang kau rasakan pasti aku juga merasakannya.Ketika kamu sedih,batinku pun ikut sedih.ketika kamu senang,tentu saja aku juga senang."Ujar Dhanil yang membuat Dhania mengernyitkan dahinya.
"Aku gak sedih bang,malahan seneng kita bisa kumpul."Ucapnya menahan airmata yang akan jatuh.
"Jangan bohong."Jawab Dhanil.
'Lebih baik aku jujur sama abang.Asal Abang tau aku gak tega melihat Abang sedih.'Batin Dhania menangis.
Tangis pun pecah dan Dhanil memeluk erat tubuh Dhania.
"Bang,ada 2 perkara yang membuatku sedih."Air mata deras dipipi Dhania.
"Yang pertama aku rindu sosok mamah papah,Walaupun aku mempunyai raganya tetapi serasa tidak mempunyai kedua orangtua.Hiks hiks."Ujar Dhania yang membuat Dhanil ikut sedih.
"Huss..mamah papah sedang berjuang untuk masa depan kita."ucap Dhanil.
'Aku kira kamu sosok yang kuat,dingin,dan gak pernah menangis Dhan..'Batin Dhanil berbicara.
"Hiks hiks.."Tangis Dhania belum berhenti.
"Yang kedua..Aku rindu sosok yang aku cintai bang,Asal Abang tau.."Ucap Dhania sambil menarik napas panjang.
"Aku mencintainya tapi dia tak mencintaiku."Seketika dia melepaskan pelukannya.
'Aku kira kamu gak pandai bercinta haha.'Batin Dhanil.
"Yaudah itu jangan dipikirkan,pasti rencana Allah baik untukmu.Bisa jadi Allah mengirimkan sosok lain untuk kau cintai."Jawab Dhanil.
"Udah ah..ayo pulang."Dhania mengalihkan pembicaraan.Dhanil mengangguk sambil mengusap air mata Dhania.
__ADS_1