Cinta Yang Bisu

Cinta Yang Bisu
Sakitkah?


__ADS_3

_Entah bagaimana yang ku rasakan sekarang?


Ya memang Sakit tapi entah sakit karna apa.


________________________________________


POV Dhania.


'Aduh kepala pusing banget nih,gak tepat sekali waktunya.'batin Dhania sambil memegang pelipis,


Kak Rey tolong..Batinnya saja yang berbicara.


Brukk.


Taklain suara Dhania tergeletak sambil dikerumuni banyak orang.


"Hei..tuh temanmu pingsan."Ucap seseorang sambil menepuk bahu Reynand.Ia pun menoleh dengan mata yang berkaca-kaca namun Rey menahannya agar tidak jatuh cairan bening tersebut.Rey langsung Gercep menggendong Dhania menuju mobil.


"Niaa..Jangan gini dong,kamu tuh kelemahanku.Aku sangat mencintaimu."Rey sambil menahan air mata jatuh.


Wajah Rey sangat pucat karna takut,Baru kali ini ia merasakan jatuh cinta setelah dulu ditinggal oleh Mantan kekasihnya yang membuatnya bertahun-tahun menutup hatinya dan akhirnya sekarang dibuka oleh sosok Dhania.


POV Reynand.


"Yaudah,Yuk pulang."Ajak Rey sambil memegang tangan Dhania hanya mengangguk pelan.Ia mendahului Dhania tiba-tiba perasaan Rey gaenak.


"Hei,Tuh temanmu pingsan."Ucap seseorang yang mengangetkan Rey.Ia langsung lari menerobos kerumunan dan menyuruh mereka bubar.


"Niaa..Jangan gini dong kamu tuh kelemahan ku,Aku sangat mencintaimu."Ucap Rey sambil menggendong Dhania ke dalam mobil.


Perasaan Rey sangat terluka karena melihat pujaan hatinya pingsan tak sadarkan diri.


"Nia plis bangun."Ucap Rey seketika menggoyangkan lengan Dhania.


Ia terus menatap Sosok wanita yang berbalut seragam khas SMAnya dan tertutup Khimar panjang yang selalu ia pakai.


"Cantik."Satu kata lolos dari mulut Rey.


Rumah sakit Medika Utama


__________


Rey langsung berlari menemui dokter khusus.


"Dok..Dok.."Ucapnya panik dan Terengah-engah.


"Ada apa Den Rey?"Jawab dokter,pantes saja di panggil den karna Rumah sakit ini milik ayahnya Rey.Sebenarnya ia kaya,tetapi ia bersifat rendah hati dan tidak ingin orang lain mengetahui kedudukannya.Bahkan ia pun selalu pakai Skuter bututnya ketika kemana-mana.Hanya tadi ia pertama kali mengendarai mobil milik ayahnya.


"Itu,Temanku pingsan.Tolong cepat tangani."Ucap rey.


"Baik den,Tunggu lah sebentar."Ucap dokter santai.

__ADS_1


Ketika Rey mendudukkan dirinya di ruang tunggu,Ia seketika berfikir ingin menelpon Dhanil karna ia satu-satunya keluarga yang Rey kenal.


"Hallo assalamualaikum kak."


"..."


"Ini Nia pingsan,Udah aku bawa ke rumah sakit lagi dengan penanganan dokter."


"..."


"Rumah sakit Medika Utama."


"..."


"Oke kak,"


Telpon pun terputus.


Rey pergi ke ruang IGD dan melihat Dhania lewat jendela kecil.Sedih?Tentulah,orang yang kita sayang sakit.


Lampu merah menyala pertanda pemeriksaan selesai.


"Gimana dok keadaannya?"Tanya dhanil yang tiba-tiba muncul.


"Dia baik-baik saja,cuma butuh istirahat yang cukup.Kalau dia sering kecapekan maka keadaannya akan lebih buruk dari sekarang."Jelas dokter yang membuat mereka berdua mengangguk pelan.


"Oiya sekalian nanti kalian ke Meja administrasi untuk mengurusi obat di apotek."Tambah dokter.


POV Dhanil.


Di ruang kerja,Dhanil yang sibuk memandangi laptop yang menghadapnya.


ndrtt ndrtt


Taklain suara telpon Dhanil berdering.


"Hallo Waalaikumussalam."


"..."


"Apa?Di rumah sakit mana?"


"..."


"Oke aku segera datang."


"..."


Tut Tut Sambungan terputus


Dhanil Merasa cemas karena hanya Dhania lah yang berarti baginya.

__ADS_1


"Dhaniaaa..kenapa harus begini?"Ucap dhanial frustasi menarik rambutnya.


Ia langsung berangkat ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Tiba-tiba lampu IGD berwarna merah menandakan pemeriksaan selesai.


"Gimana dok keadaannya?"Ucap Dhanil tergesa-gesa mengagetkan Rey.


"Dia baik-baik saja hanya membutuhkan istirahat.Kalau istirahatnya kurang pasti akan lebih vatal dari ini.Entah bentuk istirahat fisik atau pikiran."Jelas dokter.


Pastinya Dhania sedang terbebani mamah papah nih.Aku harus menghubungi mereka,Tak Seharusnya mereka tak peduli dengan keadaan Dhania yang semakin memburuk.Batin Dhanil.


Di dalam ruangan.


Dhania masih terbaring lemah tak lupa menggunakan seragam ala ruma sakit berwarna biru muda dan berbalut hijab


"Dhania.."Bisik Dhanil ditelinga Dhania.


Tiba-tiba Air mata jatuh di pelipis dhania,menandakan Dhania yang sedang menangis.


Keduanya sedang bertatapan.


"Kak, Sebenernya apasih masalah yang dihadapi Dhania?"Tanya Rey lirih.


"Hm a-anu.."Ucapnya terbata-bata.


"Yaudah kak,Santai aja semua pasti baik-baik saja kok."Ucap Rey membuat Dhanil sumringah.


Kretek kretek


Mereka berdua menatap Dhania yang sedang bergerak membuat kasur yang Dhania tumpangi bunyii.


"Nia kamu sadar?"Tanya Rey sambil tersenyum manis.


"A-aku dimana?"Ucap Dhania sambil mengawasi sekeliling ruangan.


"Kamu di RS dek."Jawab Dhanil sambil mengelus kepala Dhania yang berbalut hijab.


Dhania hanya diam mengusap air mata yang mengalir tadi.


"Masih Sakitkah?"Tanya Rey.


Iya rasanya sakit sekali bukannya melihat mamah papah disini.Seharusnya mereka disini.Dan aku merindukan kak Alfan.'Kak Alfan ketahuilah,Rasakan lah ada sosok yang mencintaimu hanya diam.Sakitnya begitu mendalam melihatmu bersama yang lain.'


Seharusnya aku juga kuat,Aku tidak boleh kelihatan lemah di depan mereka. Batin Dhania berbicara panjang lebar.


"Enggak."Jawab Dhania sambil tersenyum manis.


Aku tau yang kamu rasakan dek.Bersabarlah. Batin Dhanil.


Quotes:

__ADS_1


*Tak seharusnya semua luka yang kau hadapi harus diceritakan kepada orang lain.Bahkan lebih baik kau diam karena ketika bibir berbicara tetapi hati teriak meminta pertolongan.


__ADS_2