
Rasa sakit yang ku rasakan sekarang tak sebanding dengan rasa sakit yang kau berikan padaku seketika menusuk hati.
____________________________________
Rumah Sakit
Dhania yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit,tak lupa pula Rey yang selalu memandanginya.Bagi Rey yang terpenting hanyalah keselamatan Dhania,Ia pun risih karna sedari Rey selalu memandangnya.
'Haish kenapa pria itu Mandang aku terus.'Batin Dhania memutar bola matanya kesal.
Rey pun menyadari bahwa Dhania tau kalau dipandanginya.
Ceklek
Suara pintu yang dibelakangnya terdapat Dhanil habis dari kantin membeli camilan."Kenapa pada tegang ni."Tanya Dhanil.
Rey sekaligus Dhania saling memandang,
Masyaallah khilaf.batin Dhania mengalihkan pandangan.
"Eh kak,aku izin ke bagian administrasi dulu ya."izin Rey sambil keluar dibalas oleh Dhanil dengan anggukan tanda setuju.
Dhanil berjalan menuju ranjang yang Dhania tiduri dengan menyentuh dahi menggunakan punggung tangan.
"Aish,suhunya panas."Ujar Dhanil cemas.
"Udah dong kak,jangan cemas.Aku gakpapa kok,pengen pulang."Rengek Dhania sambil menarik-narik lengan Dhanil,Tak sengaja pula Rey melihat Dhania manja membuat Rey tersenyum gemes.
"Dhania udah boleh pulang kok sama dokternya,tapi harus istirahat ekstra."sambung Rey yang membuat Dhania terkejut melepas lengan Dhanil.
"Yaudah,biar Abang aja yang mengemasi barang-barang."Ucap Dhanil mengelus-elus kepala Dhania.
Ketika Dhanil dan Rey memapah(menuntun)Dhania yang akan pulang,mereka bertemu pria tak lain si Alfan dengan sosok wanita yang digandengnya akibat luka di kaki.
__ADS_1
Glek
Dhania menelan ludah dan berusaha untuk kuat."Hai broo."Sapa Rey sambil menepuk pelan bahu Alfan.Kali ini ia hanya mengangguk dan menatap Dhania yang sedang mengalihkan pandangannya.
"Siapa ini?"Tanya Rey.
"Kenalin ini Marcha,Pacarku."Jawab Alfan dengan melirik Dhania.
Deg.
Seketika Dhania tak kuat menahan tubuhnya karena mendengar pengakuan Alfan.Dhania langsung didudukkan di kursi rumah sakit.
"Bang ayo pulang."Ucap Dhania,tangannya begitu bergetar.
"Yaudah ayo"Ucap Dhanil meneruskan memapah Dhania.
Alfan sungguh keterlaluan,membuat adekku semakin sakit.Aku tidak akan memaafkanmu.
batin Dhanil geram.
Kini mereka bertiga sampai di rumah,dan ternyata flora teman sebangkunya Dhania itu sudah stay at home wkw.
"Eh ra,kamu disini?"Dhania terkejoed aku terheran-heran (yaela malah nyanyi wkw dasar author)Dhania langsung memeluk tubuh flora sedari ia masih memikirkan Alfan tadi.
"Kamu kenapa tiba-tiba datang meluk-meluk aku,pasti kangen yaa."Ucap flora seraya menggoda.
"Ish kamu ini."Ucap Dhania sambil mengusap air matanya."Kamu jangan nangis dong,yuk aku antar ke kamar"Ucapnya menuntun Dhania.
Dhanil dan Rey masih terpaku melihat kedua sahabat itu sangat dramatis kali kayak ratu drama,eh bukan drama malah asli nih haha😂
"Rey silahkan duduk."Ajak Dhanil sambil menarik tangan Rey.Ia hanya mengangguk pelan.
"Rey"Ucapnya mulai serius malahan duarius wkw.
__ADS_1
"iya kak..kenapa"Jawab Rey mengernyitkan dahi.
"Tolong jaga Dhania,jangan biarkan dia sedih bahkan meneteskan air mata sedikitpun.Apa kau tau?tadi kejadian di rumah sakit?"Ucap Dhanil memasang wajah melasnya.
"Oh yang Alfan tadi kah?"Rey malah balik nanya,dhanil mengangguk tanda mengiyakan.
"sebenarnya Dhania suka sama Alfan ketika ia baru masuk sekolah,itupun juga bertepatan Alfan menjadi pembinanya."Jelas Dhanil panjang lebar.Rey masih terpaku tak percaya.
"Rey tolong aku,kamu kan mencintai dhania.buat dia juga mencintaimu,biar melupakan Alfan.Cukup Alfan dan mamah papah yang membuatnya sakit tapi tolong aku sangat percaya padamu."Ucap Dhanil ingin meneteskan bulir bening tapi itu sangat sulit karna laki-laki juga jarang menangis.
"Iya kak,Lagi pula ntar pas kelulusan aku masih belum ikut jadi aku harus mengulangi kelas 12 lagi deh.Aku harus semangat demi Dhania."Jawab Rey membuat Dhanil tersenyum manis.
Mereka berdua pun mengobrol panjang,tak terasa waktu sudah sore.
POV Dhania.
sesampainya di kamar,Dhania langsung memeluk flora karna ia sahabat satu-satunya yang mengetahui tentang kondisinya sekarang bahkan percintaannya.
"Ra aku tadi bertemu sama kak Alfan,dia bersama wanita."Ucapnya sambil terseduh-seduh.
"mungkin saudaranya Dhan."sambil mengelus-elus kepala Dhania.
"dia aja bilang ke Rey kalo dia itu pacarnya."Ucap Dhania membuat flora terbelalak.
"Yang bener kamu?"Dhania menuju balkon kamarnya dan duduk menatap Senja.
"Jangan dipikirin nanti kamu nambah sakit.Udah dong lepasin aja,toh dia juga kek gitu mentang-mentang ketos sifatnya dingin banget dah kayak kulkas jalan,kamu tuh juga jangan dingin-dingin amat."Cerocos flora,Dhania hanya manggut-manggut.
"kayaknya Rey menyukaimu Dhan."tambah flora.
"Ah masa?dia palingan cuma nganggap aku adiknya kok gak lebih."Jawab Dhania seketika senja tenggelam.
"iya"Cuek."Aku pulang dulu deh udah sore nih."Lanjutnya Dhania mengantar flora ke depan dan masih ada Rey dan Dhanil sedari dari tadi ngobrol.Rey terus menatap lekat wajah Dhania yang membuat Dhania malu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Aduh,kenapa jantung ini berdegup kencang.apa aku sakit jantung?ah enggak.Apa aku jatuh cinta?ah nggak mungkin aku masih mencintai kak Alfan.Terus aku kenapa?.batin Dhania bertanya-tanya.
Tak semua masalah harus di ungkapkan,bahkan diam lebih baik meski dalamnya merasakan sedih yang sangat begitu dalam.