
Lonceng pagi berbunyi, memberikan warna baru dalam hidup, tetesan embun pagi perlahan mengumpul menjadi
oasis oasis bagi kehidupan pagi.
Namaku Alina, wanita yang tidak lagi muda, mengukir cerita di masa mudaku.
Tersandar pada kursi, dan menikmati teh hangat di
pagi hari, menyadarkanku kembali kepada
ingatan – ingatan yang hidup abadi di dalam sanubari.
Telingaku masih tajam, ingatanku masih jelas dan
mataku masih awas. Kenangan perjalanan hidup yang pernah berjalan, perlahan ku tuliskan di atas kertas.
“ Dua puluh enam tahun yang lalu.” Adalah
waktu yang tepat untuk memulai semua cerita ini, saat aku teringat akan perjalanan cinta
seorang anak manusia, yang harus
berakhir tragis.
Saat itu, Silvy membangunkanku dari lamunan
panjangku, aku yang sedang termangu
memikirkan jarak antara sekolah dengan rumahku.
“Woy, nglamun saja Lin”, “ayo
ikut aku ke kantin”
Aku yang terkejut dengan kehadirannya, tanpa
basa – basi langsung saja meng-iyakan ajakannya, dengan kepala yang masih linglung setengah
sadar, aku dan Silvy berjalan menyusuri
lorong kelas menuju ke kantin. Tiba – tiba saja Silvy menghentikan
langkahnya, mata Silvy terpaku pada
seorang laki - laki yang melintas tepat di depannya.
“Hayo lho !..... nglihatin apa kamu Sil.“ tanyaku
kepadanya.
Kini giliranku yang membangunkan Silvy dari lamunannya, tampak Silvy sedang terlarut pandangan dengan
laki – laki itu, membuatku harus menggoyang
- goyangkan kan tubuh kecilnya\, untuk membuat
dia kembali tersadar.
“Eh, nggak ada apa apa kog, Cuma itu
tadi cowok anak kelas berapa ya ?” Tanya
silvy dengan penuh penasaran sambil terus memandangi laki – laki itu, yang telah berlalu pergi.
Akupun
tak menghiraukan pertanyaanya, dan lebih
memilih untuk mendorong tubuh kecilnya berjalan menuju ke arah kantin.
Es teh menjadi pilihan favoritku, dengan camilan
gorengan tempe yang masih hangat. Tiba – tiba saja, Rio dan gengnya datang menghampiri kami.
“Eh Lin, boleh dong aku minta gorenganya satu aja, aku nggak bawa uang saku nih “ pinta Rio kepadaku. “Ambil saja, tapi jangan banyak banyak ya” jawabku
kepadanya.
Rio
adalah anak yang baik, dia juga adalah
seorang ketua kelas, dia terkenal gemar
menolong teman – temannya yang sedang mengalami kesulitan, dalam hal perkelahianpun dia adalah jagonya.
Walaupun begitu, Rio tergolong anak yang
rajin dan berprestasi di sekolah.
Silvy bertanya kepada Rio tentang anak laki
laki yang tadi berpapasan dengannya di jalan, yang katanya membuat jantung
Silvy berdebar dan membuatknya terpana.
Namun
pertanyaan itu sama sekali tak di pedulikan oleh Rio, malahan Rio dan gengnya berlalu pergi begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Bel sekolahpun berbunyi, tanda waktu jam
pulang sekolah, aku bergegas menuju
parkiran sepeda. Aku teringat sore ini aku harus pergi ke pasar untuk mengambil
pesanan kakakku, sehingga membuatku
harus bergegas.
Saat itu secara tak sengaja aku melihat laki
laki yang dimaksud oleh Silvy tadi, dan
__ADS_1
dia dengan ramahnya melambaikan tengannya ke arahku.
Akupun
merasa heran, siapakah dia karena aku
pun baru pertama kali bertemu dengannya hari ini. Dia pun datang menghampiriku
dan mengajakku berkenalan, dia
memperkenalkan namanya Adit.
“Hallo, namaku Gunawan Radit Setiawan, panggil saja aku Adit, bolehkah aku tahu siapa namamu ?”.
Akupun terdiam sejenak, karena entah siapa
orang ini tiba tiba datang menghampiriku dan mengajak berkenalan.
“Okey, kenalkan namaku Fujiko Alina Sayaka, panggil
saja aku Lina… Oh iya kamu di cariin tuh sama temenku.” Jawabku
sembari menjabat tangannya.
“ Dicariin sama teman kamu ?....
Siapa ? “ Tanya Adit penasaran.
“ Namanya Silvy, Sylvi Tania Rarasanti teman sekelasku.”Jawabku
sambil menunjuk ke arah Silvy yang berada jauh di seberang jalan.
Akupun memperkenalkannya, karena aku tiba
tiba teringat dengan Silvy yang penasaran dengan Adit, setelah itu aku berpamitan pergi dengannya
untuk segera pulang.
Sore itu, kukayuh sepedaku dengan sekuat tenaga, jalan menanjak tak jadi halangan bagiku, karena pesanan kakakku jauh lebih penting daripada lelah yang kurasakan.
Saat aku berhenti di lampu merah, dari
sebelahku tiba tiba kakakku membuka jendela mobil dan menegurku, terkejut bagiku melihatnya berada tepat
disampingku.
“Lin, jangan lupa ya pesenan kakak jangan sampai telat “.
Aku
hanya mengangguk kecil dan melihat kakakku yang kemudian berlalu pergi begitu
saja memacu mobilnya. ‘ Dasar Pemalas,
kenapa dia tidak ambil sendiri saja, toh
aku tidak perlu capek capek mengayuh sepedaku ‘, gumamku didalam hati sambil kemudian
melanjutkan mengayuh sepedaku.
Aku
semester akhir, sedangkan namaku sendiri
adalah Fujiko Alina Sayaka, seorang
gadis berusia 16 tahun yang masih duduk di kelas sebelas SMA, dan adikku yang terpaut 3 tahun dariku
bernama Dian Risky Mayumi,yang masih duduk di bangku kelas delapan SMP, kami lahir dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan.
Ayahku adalah seorang dokter dan almarhum ibuku adalah seorang model
sebelumnya, namun ibuku sudah tiada saat
aku duduk di bangku kelas enam SD, aku
adalah tipikal orang tidak suka merepotkan orang dalam segala hal, jadi sebisa mungkin aku hidup mandiri dan
sederhana.
Waktupun
beranjak menjadi malam, aku buka tugas -
tugas sekolah yang harus aku kerjakan untuk besok. Sesaat tiba tiba aku
teringat akan perkenalanku dengan Adit siang tadi, rasa penasaran dan pertanyaan kemudian muncul
didalam pikiranku.
Kenapa
tiba tiba Adit memperkenalkan dirinya kepadaku, padahal aku sendiri tidak pernah ingin tahu tentang siapa dirinya, pertanyaan dan rasa penasaran itu semakin
membuatku sulit untuk tertidur, kupaksakan mataku untuk bisa terpejam, agar besok aku tidak bangun
kesiangan dan terlambat berangkat ke sekolah.
Embun pagi menyapaku dan membangunkan tidurku, bergegas aku mandi dan bersiap siap untuk segera berangkat ke sekolah.
Pagi itu ayahku menawarkanku untuk mengantarku ke sekolahan, namun tawaran dari ayah aku tolak, bersepeda lebih menyenangkan bagiku walaupun
jarak yang harus aku tempuh cukup jauh.
Bergegas,
aku kayuh sepedaku, naik turun jalan
yang berliku, melewati perumahan, taman dan area
persawahan, dengan ditemani oleh udara
pagi yang sangat menenangkan hati.
__ADS_1
Bel klakson mobil tiba tiba berbunyi dari arah belakang, membuatku terkejut dan terperanjat. Tiba - tiba si Adit sudah berada di
sampingku, dan membuka kaca jendela
mobilnya untuk menyapaku.
“Pagi Alina, bagaimana kalau kita berangkat bareng aja
naik mobilku “.
Akupun mengucap terima kasih dan menolak ajakannya, karena aku tidak mau merepotkan orang lain.
Namun Adit terus menawarkan tawarannya, tak lama langit berubah menjadi mendung
dan gerimis hujan perlahan turun membasahai jalan yang aku lintasi.
Kali
ini mau tidak mau, terpaksa aku menerima
tawaran dari Adit, segera aku lipat
sepedaku dan aku masukkan ke dalam bagasi mobilnya, akhirnya kami berangkat ke sekolah bersama.
Aku
hanya terdiam saat berada di dalam mobil Adit, bahkan aku pun memilih untuk duduk di kursi belakang menemani sepedaku.
“Lin, kamu kelas berapa sih ? “ Tanya Adit.
“Oh aku kelas sebelas” , “ Kalau kamu kelas barapa ?” tanyaku
kemudian
“ Kalau aku masih kelas sepuluh Lin.” Jawab Adit sambil tersenyum
“ Wah… masih adik kelasku dong
kamu, kalau gitu aku panggil kamu dik
Adit saja ya.” Ucapku bercanda.
“ Eh jangan salah.. walaupun aku
masih kelas sepuluh, tapi usia kita
sepantaran, dan aku yakin kalau kamu
tidak lebih tua daripada umurku.” Jawab Adit membela
“ Kenapa bisa begitu ? bukannya kamu masih kelas sepuluh ?... mana
mungkin usia kita sama.” Tanyaku penasaran.
“ Iya, itu karena sebenarnya aku adalah siswa kelas
sebelas di sekolahanku yang dulu…. Hanya saja aku harus mengulang dari kelas
sepuluh utnuk bisa bersekolah di sekolah kita saat ini.” Jawab
Adit menerangkan
“ Oh jadi kamu anak pindahan ?....
pindahan dari sekolah mana dulu ? “ tanyaku makin penasaran
“ aku dulu bersekolah di sekolah
musik di Australia, dan baru sebulan ini
aku pindah kesini.” Jawab Adit.
Kamipun
terlibat percakapan yang cukup mengasyikkan, antara hoby dan kesukaan yang ternyata memiliki banyak kesamaan, tak terasa gerbang sekolah sudah mulai tampak
terlihat.
Segera,
aku keluarkan sepedaku kembali, dan
mulai mengayuhnya kembali menuju sekolahanku, tak lupa aku ucapkan terima kasih kepada Adit untuk tumpangannya pagi
ini.
“ Terima kasih banyak ya Adit.” Ucapku
sambil membungkukkan badanku
“ Kenapa tidak mau aku antar sampai
ke dalam sekolah sekalian ? “ Tanya Adit heran
“ Janganlah, aku nggak enak kalau di lihat sama teman –
temanku yang lain.” Jawabku
Kamipun
akhirnya berpisah beberapa ratus meter sebelum gerbang sekolah, walaupun sebenarnya masih ada rasa penasaran
yang ingin aku tanyakan, seperti kenapa
dia tiba – tiba mengajakku berkenalan, padahal kami tidak saling tahu sebelumnya.
Sejenak,
aku terbangun dari ingatanku dan berhenti menulis, gadis kecil berlari ke arahku dan
membangunkan lamunanku yang sedang menulis tentang semua memori masa mudaku.
Embun pagi mulai berangsur menjadi udara pagi. Menyisakan udara teduh yang meneduhkan
__ADS_1
dari teriknya matahari.