CINTA YANG SEPERTI INI

CINTA YANG SEPERTI INI
Bab 1 Embun Pagi


__ADS_3

Lonceng pagi berbunyi,  memberikan warna baru dalam hidup,  tetesan embun pagi perlahan mengumpul menjadi


oasis oasis bagi kehidupan pagi.


Namaku Alina,  wanita yang tidak lagi muda,  mengukir cerita di masa mudaku.


Tersandar pada kursi,  dan menikmati teh hangat di


pagi hari,  menyadarkanku kembali kepada


ingatan – ingatan yang hidup abadi di dalam sanubari.


Telingaku masih tajam,  ingatanku masih jelas dan


mataku masih awas. Kenangan perjalanan hidup yang pernah berjalan,  perlahan ku tuliskan di atas kertas.


“ Dua puluh enam tahun yang lalu.”  Adalah


waktu yang tepat untuk memulai semua cerita ini,  saat aku teringat akan perjalanan cinta


seorang anak manusia,  yang harus


berakhir tragis.


Saat itu,  Silvy membangunkanku dari lamunan


panjangku,  aku yang sedang termangu


memikirkan jarak antara sekolah dengan rumahku.


“Woy,  nglamun saja Lin”, “ayo


ikut aku ke kantin”


Aku yang terkejut dengan kehadirannya,  tanpa


basa – basi langsung saja meng-iyakan ajakannya,  dengan kepala yang masih linglung setengah


sadar,  aku dan Silvy berjalan menyusuri


lorong kelas menuju ke kantin. Tiba – tiba saja Silvy menghentikan


langkahnya,  mata Silvy terpaku pada


seorang laki - laki yang melintas tepat di depannya.


“Hayo lho !.....  nglihatin apa kamu Sil.“ tanyaku


kepadanya.


Kini giliranku yang membangunkan Silvy dari lamunannya,  tampak Silvy sedang terlarut pandangan dengan


laki – laki itu,  membuatku harus menggoyang


- goyangkan kan tubuh kecilnya\,  untuk membuat


dia kembali tersadar.


“Eh,  nggak ada apa apa kog,  Cuma itu


tadi cowok anak kelas berapa ya ?”  Tanya


silvy dengan penuh penasaran sambil terus memandangi laki – laki itu,  yang telah berlalu pergi.


Akupun


tak menghiraukan pertanyaanya,  dan lebih


memilih untuk mendorong tubuh kecilnya berjalan menuju ke arah kantin.


Es teh menjadi pilihan favoritku,  dengan camilan


gorengan tempe yang masih hangat. Tiba – tiba saja,  Rio dan gengnya datang menghampiri kami.


“Eh Lin,  boleh dong aku minta gorenganya satu aja,  aku nggak bawa uang saku nih “  pinta Rio kepadaku. “Ambil saja,  tapi jangan banyak banyak ya”  jawabku


kepadanya.


Rio


adalah anak yang baik,  dia juga adalah


seorang ketua kelas,  dia terkenal gemar


menolong teman – temannya yang sedang mengalami kesulitan,  dalam hal perkelahianpun dia adalah jagonya.


Walaupun begitu,  Rio tergolong anak yang


rajin dan berprestasi di sekolah.


Silvy bertanya kepada Rio tentang anak laki


laki yang tadi berpapasan dengannya di jalan, yang katanya membuat jantung


Silvy berdebar dan membuatknya terpana.


Namun


pertanyaan itu sama sekali tak di pedulikan oleh Rio,  malahan  Rio dan gengnya berlalu pergi begitu saja,  tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Bel sekolahpun berbunyi,  tanda waktu jam


pulang sekolah,  aku bergegas menuju


parkiran sepeda. Aku teringat sore ini aku harus pergi ke pasar untuk mengambil


pesanan kakakku,  sehingga membuatku


harus bergegas.


Saat itu secara tak sengaja aku melihat laki


laki yang dimaksud oleh Silvy tadi,  dan

__ADS_1


dia dengan ramahnya melambaikan tengannya ke arahku.


Akupun


merasa heran,  siapakah dia karena aku


pun baru pertama kali bertemu dengannya hari ini. Dia pun datang menghampiriku


dan mengajakku berkenalan,  dia


memperkenalkan namanya Adit.


“Hallo,  namaku Gunawan Radit Setiawan,  panggil saja aku Adit,  bolehkah aku tahu siapa namamu ?”.


Akupun terdiam sejenak,  karena entah siapa


orang ini tiba tiba datang menghampiriku dan mengajak berkenalan.


“Okey,  kenalkan  namaku Fujiko Alina Sayaka,  panggil


saja aku Lina… Oh iya kamu di cariin tuh sama temenku.” Jawabku


sembari menjabat tangannya.


“ Dicariin sama teman kamu ?....


Siapa ? “ Tanya Adit penasaran.


“ Namanya Silvy,  Sylvi Tania Rarasanti teman sekelasku.”Jawabku


sambil menunjuk ke arah Silvy yang berada jauh di seberang jalan.


Akupun memperkenalkannya,  karena aku tiba


tiba teringat dengan Silvy yang penasaran dengan Adit,  setelah itu aku berpamitan pergi dengannya


untuk segera pulang.


Sore itu, kukayuh sepedaku dengan sekuat tenaga,  jalan menanjak tak jadi halangan bagiku,  karena pesanan kakakku jauh lebih penting daripada lelah yang kurasakan.


Saat aku berhenti di lampu merah,  dari


sebelahku tiba tiba kakakku membuka jendela mobil dan menegurku,  terkejut bagiku melihatnya berada tepat


disampingku.


“Lin,  jangan lupa ya pesenan kakak jangan sampai telat “.


Aku


hanya mengangguk kecil dan melihat kakakku yang kemudian berlalu pergi begitu


saja memacu mobilnya. ‘ Dasar Pemalas,


kenapa dia tidak ambil sendiri saja,  toh


aku tidak perlu capek capek mengayuh sepedaku ‘,  gumamku didalam hati sambil kemudian


melanjutkan mengayuh sepedaku.


Aku


semester akhir,  sedangkan namaku sendiri


adalah Fujiko Alina Sayaka,  seorang


gadis berusia 16 tahun yang masih duduk di kelas sebelas SMA,  dan adikku yang terpaut 3 tahun dariku


bernama Dian Risky Mayumi,yang masih duduk di bangku kelas delapan SMP,  kami lahir dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan.


Ayahku adalah seorang dokter dan almarhum ibuku adalah seorang model


sebelumnya,  namun ibuku sudah tiada saat


aku duduk di bangku kelas enam SD,  aku


adalah tipikal orang tidak suka merepotkan orang dalam segala hal,  jadi sebisa mungkin aku hidup mandiri dan


sederhana.


Waktupun


beranjak menjadi malam,  aku buka tugas -


tugas sekolah yang harus aku kerjakan untuk besok. Sesaat tiba tiba aku


teringat akan perkenalanku dengan Adit siang tadi,  rasa penasaran dan pertanyaan kemudian muncul


didalam pikiranku.


Kenapa


tiba tiba Adit memperkenalkan dirinya kepadaku,  padahal aku sendiri tidak pernah ingin tahu tentang siapa dirinya,  pertanyaan dan rasa penasaran itu semakin


membuatku sulit untuk tertidur,  kupaksakan mataku untuk bisa terpejam, agar besok aku tidak bangun


kesiangan dan terlambat berangkat ke sekolah.


Embun pagi menyapaku dan membangunkan tidurku,  bergegas aku mandi dan bersiap siap untuk segera berangkat ke sekolah.


Pagi itu ayahku menawarkanku untuk mengantarku ke sekolahan,  namun tawaran dari ayah aku tolak,  bersepeda lebih menyenangkan bagiku walaupun


jarak yang harus aku tempuh cukup jauh.


Bergegas,


aku kayuh sepedaku,  naik turun jalan


yang berliku,   melewati perumahan, taman dan area


persawahan,  dengan ditemani oleh udara


pagi yang sangat menenangkan hati.

__ADS_1


Bel klakson mobil tiba tiba berbunyi dari arah belakang,  membuatku terkejut dan terperanjat.  Tiba - tiba si Adit sudah berada di


sampingku,  dan membuka kaca jendela


mobilnya untuk menyapaku.


“Pagi Alina,  bagaimana kalau kita berangkat bareng aja


naik mobilku “.


Akupun mengucap terima kasih dan menolak ajakannya,  karena aku tidak mau merepotkan orang lain.


Namun Adit terus menawarkan tawarannya, tak lama langit berubah menjadi mendung


dan gerimis hujan perlahan turun membasahai jalan yang aku lintasi.


Kali


ini mau tidak mau,  terpaksa aku menerima


tawaran dari Adit,  segera aku lipat


sepedaku dan aku masukkan ke dalam bagasi mobilnya,  akhirnya kami berangkat ke sekolah bersama.


Aku


hanya terdiam saat berada di dalam mobil Adit,  bahkan aku pun memilih untuk duduk di kursi belakang menemani sepedaku.


“Lin,  kamu kelas berapa sih ? “ Tanya Adit.


“Oh aku kelas sebelas” ,  “ Kalau kamu kelas barapa ?” tanyaku


kemudian


“ Kalau aku masih kelas sepuluh Lin.” Jawab Adit sambil tersenyum


“ Wah… masih adik kelasku dong


kamu,  kalau gitu aku panggil kamu dik


Adit saja ya.” Ucapku bercanda.


“ Eh jangan salah.. walaupun aku


masih kelas sepuluh,  tapi usia kita


sepantaran,  dan aku yakin kalau kamu


tidak lebih tua daripada umurku.” Jawab Adit membela


“ Kenapa bisa begitu ?  bukannya kamu masih kelas sepuluh ?... mana


mungkin usia kita sama.” Tanyaku penasaran.


“ Iya,  itu karena sebenarnya aku adalah siswa kelas


sebelas di sekolahanku yang dulu…. Hanya saja aku harus mengulang dari kelas


sepuluh utnuk bisa bersekolah di sekolah kita saat ini.” Jawab


Adit menerangkan


“ Oh jadi kamu anak pindahan ?....


pindahan dari sekolah mana dulu ? “ tanyaku makin penasaran


“ aku dulu bersekolah di sekolah


musik di Australia,  dan baru sebulan ini


aku pindah kesini.” Jawab Adit.


Kamipun


terlibat percakapan yang cukup mengasyikkan,  antara hoby dan kesukaan yang ternyata memiliki banyak kesamaan,  tak terasa gerbang sekolah sudah mulai tampak


terlihat.


Segera,


aku keluarkan sepedaku kembali,  dan


mulai mengayuhnya kembali menuju sekolahanku,  tak lupa aku ucapkan terima kasih kepada Adit untuk tumpangannya pagi


ini.


“ Terima kasih banyak ya Adit.” Ucapku


sambil membungkukkan badanku


“ Kenapa tidak mau aku antar sampai


ke dalam sekolah sekalian ? “ Tanya Adit heran


“ Janganlah,  aku nggak enak kalau di lihat sama teman –


temanku yang lain.” Jawabku


Kamipun


akhirnya berpisah beberapa ratus meter sebelum gerbang sekolah,  walaupun sebenarnya masih ada rasa penasaran


yang ingin aku tanyakan,  seperti kenapa


dia tiba – tiba mengajakku berkenalan,  padahal kami tidak saling tahu sebelumnya.


Sejenak,


aku terbangun dari ingatanku dan berhenti menulis,  gadis kecil berlari ke arahku dan


membangunkan lamunanku yang sedang menulis tentang semua memori masa mudaku.


Embun pagi mulai berangsur menjadi udara pagi. Menyisakan udara teduh yang meneduhkan

__ADS_1


dari teriknya matahari.


__ADS_2