CINTA YANG SEPERTI INI

CINTA YANG SEPERTI INI
Bab 8 Cerita Pendakian


__ADS_3

Gelak


tawa antara aku dan ibu warung kopi begitu lepas,  segala penat yang ibu warung kopi rasakan


hilang begitu saja.


“ usiaku 42 tahun bu.” Ucapku


kepada ibu warung kopi. Ibu warung kopi tak percaya dengan apa yang aku ucapkan.


“ Bagaimana mungkin neng,  sementara wajahmu saja masih terlihat begitu


segar dan tak nampak sedikitpun garis – garis penuaan.”


Aku


hanya tersenyum kepada ibu penjaga warung,  sembari aku terus menyeruput kopi susu buatan ibu warung kopi yang begitu


menyegarkan.


Hari


sudah berubah menjadi sore,  kini saatnya


aku harus bergegas pulang kerumah,  kurapikan semua buku dan alat tulisku,  segera aku berpamitan kepada ibu warung kopi.


Sambil


terus tersenyum aku berjalan pulang menuju ke rumah,  tak henti – hentinya aku berfikir,  bagaimana mungkin ibu warung kopi itu


menyangka usiaku masih semuda itu,  sementara aku saja selalu merasa bahwa aku ini sudah tua.


Sesampai


dirumah,  Elena si gadis kecil datang


menyambutku,  dia adalah putri dari


mendiang adikku yang meninggal saat melahirkan beberapa tahun yang lalu. Elena


sudah ku anggap seperti anakku sendiri,  karena sejak bayi hingga kini hanya aku yang selalu ada dan mengasuhnya.


Kusandarkan


kepalaku di sofa rumahku, dan kunyalakan pemutar musik di ruang tamu,  sebuah irama lagu klasik memberikanku


ketenangan di sore menjelang malam itu.


Sayup


– sayup suara adzan Maghrib mulai terdengar,  mulai kulangkahkan kakiku untuk membersihkan diri dan bersujud kepada


Yang Maha Kuasa,  dalam dzikir aku selalu


teringat akan bayangan Rian yang kini entah berada dimana.


Tiba


– tiba saja aku teringat akan sebuah cerita bersama Rian,  saat aku dan Rian bersama – sama pergi


mendaki gunung,  sebuah kisah menarik


yang akan kutuliskan di atas kertas,  menemani kerinduanku bersamanya di masa yang tak akan pernah terulang


kembali.


Elena


dengan kaki kecilnya,  berjalan


mendekatiku membawakanku segelas coklat panas. Saat yang tepat untukku


melanjutkan kisahku bersama Rian.


Waktu


Libur sekolah tiba,  saat yang tepat


bagiku untuk mengistirahatkan hati dan fikiran dari kesibukan di sekolah.


“ Ah,  akhirnya waktu yang kutunggu tiba,  Sil ada agenda apa nih selama liburan ?”


“ Aku sih dirumah saja Lin,  paling – paling bantuin ibu jualan.”


“ Kalau kamu Mon,  mau kemana kamu liburan sekolah ini ?” Tanya


Silvy kepada Monica


“ Aku juga nggak tahu nih mau


kemana,  paling – paling aku mau pergi


kerumah nenek di desa.”

__ADS_1


Kami


pun saling mengobrol,  sambil berjalan


menuju ke gerbang depan sekolah,  tiba –


tiba saja ponselku berdering,  Rian


menelponku dan mengajakku untuk naik gunung bersamanya,  awalnya aku menolak ajakan Rian,  lantas saat aku mengatakan apakah aku boeh


mengajak teman – temanku Silvy dan Monic,  Rianpun menegaskan kepadaku,  bahwa nantinya yang akan ikut kegiatan mendaki gunung ini,  adalah Rian dan teman – teman bandnya,  dan Tiara juga akan ikut bergabung di acara


itu.


Akhirnya


aku menyetujui ajakan Rian,  aku


mengatakan kepada Silvy dan Monic,  kalau


aku,  Rian dan juga teman – teman bandnya


akan mendaki gunung,  sontak Silvy dan Monic


pun tertarik untuk ikut bergabung bersamaku.


Keesokan


harinya,  kami berkumpul dirumah


Tiara,  karena disana akan di adakan


sebuah pertemuan kecil yang akan membahas acara naik gunung nantinya,  apa saja yang perlu dilakukan dan apa saja


barang – barang yang perlu dibawa.


“ Baiklah semua sudah berkumpul,  kini saatnya bagi Rian untuk


menjelaskan,  apa saja yang harus kita


lakukan saa mendaki gunung nanti.” Ucap Gerry memimpin


pertemuan ini.


“ Selamat datang teman – teman


semua,  pendakian kita kali ini hanya


sebatas refreshing,  tidak ada challenge


sikap,  jaga ucapan dan jaga niatan


kita.”


“ Gunung yang akan kita daki,  bukanlah gunung yang terlalu tinggi,  tapi lebih tepatnya anak gunung,  tingginya hanya 1500 mdpl,  dan kita akan berkemah di puncaknya.” Terang


Rian saat memimpin rapat.


Ken


mengangkat tangannya dan mengajukan pertanyaan kepada Rian.


“ Lalu berapa lama waktu tempuh kita


dari pos pendakian sampai ke puncak gunung Yan ?”


“ Kita membutuhkan waktu,  setidaknya 8 jam waktu pendakian,  dari pos pendakian sampai ke puncak gunung.” Jawab


Rian menerangkan kepada Ken


“ Jadi kita mulai bergegas jam berapa


nantinya ?” Sahut Siro menanyakan kepada Rian


Sambil


melihat jam tangannya,  Rian seolah –


olah sedang membayangkan waktu yang tepat untuk berangkat.


“ Baik,  kita semua kumpul di rumah Diyar jam 8


pagi,  ingat nggak pakai telat,  nanti kita berangkat kesana naik mobil


bersama,  dan kita mulai mendaki jam 10


pagi.”


Semua


anggota mengangguk faham. Tak lama kemudian Adit dan Farhan datang ke pertemuan


itu,  “

__ADS_1


Maaf,  kami datang terlambat,  tadi ada sedikit masalah dijalan.”


Rian


mempersilahkan Adit dan Farhan untuk duduk,  kemudian Rian melanjutkan lagi pertemuan itu,  dan mulai membagi tugas untuk membawa barang


– barang yang dibutuhkan.


Kami


semua berjumlah total 14 orang,  jumlah


yang cukup banyak untuk melakukan pendakian,  diantara kami ada yang belum pernah sama sekali mendaki,  contoh saja aku dan Monic,  kami belum pernah sekalipun mendaki


gunung,  jadi seperti apa rasanya dan


bagaiman tantangannya,  tentu saja


membuat kami cukup penasaran.


Tiara


membagi kami menjadi 2 kelompok,  kelompok pertama bertugas membawa perlengkapan kemah,  dan kelompok kedua bertugas membawa


perlengkapan makan. Aku termasuk dalam kelompok yang kedua,  karena kelompok kedua isinya adalah orang –


orang yang tidak mempunyai pengalaman sama sekali dalam mendaki gunung.


Hari


yang ditentukan pun tiba,  sebelum jam


8,  kami semua sudah berkumpul di rumah


Diyar,  dengan barang – barang yang sudah


kami bawa sesuai dengan tugas masing – masing,  kami memasukkan semua barang – barang perbekalan kedalam bagasi mobil.


Dua


mobil membawa kami menuju ke pos pendakian,  aku satu mobil dengan Rian,  sedangkan Silvy satu mobil dengan Adit. Di


dalam perjalanan,  tak henti – hentinya


Diyar bercerita kepada Yuli kekasihnya,  tentang pengalamannya mendaki beberapa gunung,  namun setiap cerita yang diutarakan oleh


Diyar,  selalu saja di jawab oleh


Siro,  yang mengatakan bahwa semua cerita


Diyar adalah bohong,  tentu saja suasana


menjadi riuh penuh suka dan cita.


Akhirnya


tibalah kami di pos pendakian, Aku,  Yuli,  Agnes,  Rian,  Ken, Diyar dan Siro segera menuju ke posko pendaftaran,  karena mobil kami tiba lebih dahulu.


Sedangkan


Silvy,  Monica, Tiara,  Vera,  Farhan, Gerry dan Adit menyusul kami untuk melakukan pendaftaran.


Bergegas kami segera mengeluarkan barang – barang kami dan membaginya sesuai


dengan tugas kelompok masing – masing.


Dengan


di pimpin oleh Rian,  kamipun mulai


mendaki gunung,  selama perjalanan,  Rian selalu mengingatkan untuk tidak segan –


segan meminta istirahat bila merasa lelah,  intinya kegiatan ini adalah untuk refreshing,  dan bukan untuk yang lain.


Waktu


sudah menunjukkan jam 4 sore,  namun


jalanan masih panjang,  bahkan Agnes merasa


bahwa mereka hanya berputar –putar saja di tempat ini,  Rian sejenak menghentikan rombongan dan mulai


membaca ulang peta yang ada. Ken dengan pengalamanya mulai meninggalkan


beberapa tanda di tempat yang sudah kami lewati,  dan benar saja,  setelah beberapa lama kita berjalan,  ternyata kita hanya kembali ketempat yang


sama.


Sementara itu


waktu sudah menunjukkan jam 6 sore,  suasana sudah mulai gelap dan mulai turun kabut,  Rian menyuruh kami untuk beristirahat


sejenak,  karena tempat kami berkemah

__ADS_1


seharusnya bukan berada di tempat ini.


__ADS_2