
Gelak
tawa antara aku dan ibu warung kopi begitu lepas, segala penat yang ibu warung kopi rasakan
hilang begitu saja.
“ usiaku 42 tahun bu.” Ucapku
kepada ibu warung kopi. Ibu warung kopi tak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
“ Bagaimana mungkin neng, sementara wajahmu saja masih terlihat begitu
segar dan tak nampak sedikitpun garis – garis penuaan.”
Aku
hanya tersenyum kepada ibu penjaga warung, sembari aku terus menyeruput kopi susu buatan ibu warung kopi yang begitu
menyegarkan.
Hari
sudah berubah menjadi sore, kini saatnya
aku harus bergegas pulang kerumah, kurapikan semua buku dan alat tulisku, segera aku berpamitan kepada ibu warung kopi.
Sambil
terus tersenyum aku berjalan pulang menuju ke rumah, tak henti – hentinya aku berfikir, bagaimana mungkin ibu warung kopi itu
menyangka usiaku masih semuda itu, sementara aku saja selalu merasa bahwa aku ini sudah tua.
Sesampai
dirumah, Elena si gadis kecil datang
menyambutku, dia adalah putri dari
mendiang adikku yang meninggal saat melahirkan beberapa tahun yang lalu. Elena
sudah ku anggap seperti anakku sendiri, karena sejak bayi hingga kini hanya aku yang selalu ada dan mengasuhnya.
Kusandarkan
kepalaku di sofa rumahku, dan kunyalakan pemutar musik di ruang tamu, sebuah irama lagu klasik memberikanku
ketenangan di sore menjelang malam itu.
Sayup
– sayup suara adzan Maghrib mulai terdengar, mulai kulangkahkan kakiku untuk membersihkan diri dan bersujud kepada
Yang Maha Kuasa, dalam dzikir aku selalu
teringat akan bayangan Rian yang kini entah berada dimana.
Tiba
– tiba saja aku teringat akan sebuah cerita bersama Rian, saat aku dan Rian bersama – sama pergi
mendaki gunung, sebuah kisah menarik
yang akan kutuliskan di atas kertas, menemani kerinduanku bersamanya di masa yang tak akan pernah terulang
kembali.
Elena
dengan kaki kecilnya, berjalan
mendekatiku membawakanku segelas coklat panas. Saat yang tepat untukku
melanjutkan kisahku bersama Rian.
Waktu
Libur sekolah tiba, saat yang tepat
bagiku untuk mengistirahatkan hati dan fikiran dari kesibukan di sekolah.
“ Ah, akhirnya waktu yang kutunggu tiba, Sil ada agenda apa nih selama liburan ?”
“ Aku sih dirumah saja Lin, paling – paling bantuin ibu jualan.”
“ Kalau kamu Mon, mau kemana kamu liburan sekolah ini ?” Tanya
Silvy kepada Monica
“ Aku juga nggak tahu nih mau
kemana, paling – paling aku mau pergi
kerumah nenek di desa.”
__ADS_1
Kami
pun saling mengobrol, sambil berjalan
menuju ke gerbang depan sekolah, tiba –
tiba saja ponselku berdering, Rian
menelponku dan mengajakku untuk naik gunung bersamanya, awalnya aku menolak ajakan Rian, lantas saat aku mengatakan apakah aku boeh
mengajak teman – temanku Silvy dan Monic, Rianpun menegaskan kepadaku, bahwa nantinya yang akan ikut kegiatan mendaki gunung ini, adalah Rian dan teman – teman bandnya, dan Tiara juga akan ikut bergabung di acara
itu.
Akhirnya
aku menyetujui ajakan Rian, aku
mengatakan kepada Silvy dan Monic, kalau
aku, Rian dan juga teman – teman bandnya
akan mendaki gunung, sontak Silvy dan Monic
pun tertarik untuk ikut bergabung bersamaku.
Keesokan
harinya, kami berkumpul dirumah
Tiara, karena disana akan di adakan
sebuah pertemuan kecil yang akan membahas acara naik gunung nantinya, apa saja yang perlu dilakukan dan apa saja
barang – barang yang perlu dibawa.
“ Baiklah semua sudah berkumpul, kini saatnya bagi Rian untuk
menjelaskan, apa saja yang harus kita
lakukan saa mendaki gunung nanti.” Ucap Gerry memimpin
pertemuan ini.
“ Selamat datang teman – teman
semua, pendakian kita kali ini hanya
sebatas refreshing, tidak ada challenge
sikap, jaga ucapan dan jaga niatan
kita.”
“ Gunung yang akan kita daki, bukanlah gunung yang terlalu tinggi, tapi lebih tepatnya anak gunung, tingginya hanya 1500 mdpl, dan kita akan berkemah di puncaknya.” Terang
Rian saat memimpin rapat.
Ken
mengangkat tangannya dan mengajukan pertanyaan kepada Rian.
“ Lalu berapa lama waktu tempuh kita
dari pos pendakian sampai ke puncak gunung Yan ?”
“ Kita membutuhkan waktu, setidaknya 8 jam waktu pendakian, dari pos pendakian sampai ke puncak gunung.” Jawab
Rian menerangkan kepada Ken
“ Jadi kita mulai bergegas jam berapa
nantinya ?” Sahut Siro menanyakan kepada Rian
Sambil
melihat jam tangannya, Rian seolah –
olah sedang membayangkan waktu yang tepat untuk berangkat.
“ Baik, kita semua kumpul di rumah Diyar jam 8
pagi, ingat nggak pakai telat, nanti kita berangkat kesana naik mobil
bersama, dan kita mulai mendaki jam 10
pagi.”
Semua
anggota mengangguk faham. Tak lama kemudian Adit dan Farhan datang ke pertemuan
itu, “
__ADS_1
Maaf, kami datang terlambat, tadi ada sedikit masalah dijalan.”
Rian
mempersilahkan Adit dan Farhan untuk duduk, kemudian Rian melanjutkan lagi pertemuan itu, dan mulai membagi tugas untuk membawa barang
– barang yang dibutuhkan.
Kami
semua berjumlah total 14 orang, jumlah
yang cukup banyak untuk melakukan pendakian, diantara kami ada yang belum pernah sama sekali mendaki, contoh saja aku dan Monic, kami belum pernah sekalipun mendaki
gunung, jadi seperti apa rasanya dan
bagaiman tantangannya, tentu saja
membuat kami cukup penasaran.
Tiara
membagi kami menjadi 2 kelompok, kelompok pertama bertugas membawa perlengkapan kemah, dan kelompok kedua bertugas membawa
perlengkapan makan. Aku termasuk dalam kelompok yang kedua, karena kelompok kedua isinya adalah orang –
orang yang tidak mempunyai pengalaman sama sekali dalam mendaki gunung.
Hari
yang ditentukan pun tiba, sebelum jam
8, kami semua sudah berkumpul di rumah
Diyar, dengan barang – barang yang sudah
kami bawa sesuai dengan tugas masing – masing, kami memasukkan semua barang – barang perbekalan kedalam bagasi mobil.
Dua
mobil membawa kami menuju ke pos pendakian, aku satu mobil dengan Rian, sedangkan Silvy satu mobil dengan Adit. Di
dalam perjalanan, tak henti – hentinya
Diyar bercerita kepada Yuli kekasihnya, tentang pengalamannya mendaki beberapa gunung, namun setiap cerita yang diutarakan oleh
Diyar, selalu saja di jawab oleh
Siro, yang mengatakan bahwa semua cerita
Diyar adalah bohong, tentu saja suasana
menjadi riuh penuh suka dan cita.
Akhirnya
tibalah kami di pos pendakian, Aku, Yuli, Agnes, Rian, Ken, Diyar dan Siro segera menuju ke posko pendaftaran, karena mobil kami tiba lebih dahulu.
Sedangkan
Silvy, Monica, Tiara, Vera, Farhan, Gerry dan Adit menyusul kami untuk melakukan pendaftaran.
Bergegas kami segera mengeluarkan barang – barang kami dan membaginya sesuai
dengan tugas kelompok masing – masing.
Dengan
di pimpin oleh Rian, kamipun mulai
mendaki gunung, selama perjalanan, Rian selalu mengingatkan untuk tidak segan –
segan meminta istirahat bila merasa lelah, intinya kegiatan ini adalah untuk refreshing, dan bukan untuk yang lain.
Waktu
sudah menunjukkan jam 4 sore, namun
jalanan masih panjang, bahkan Agnes merasa
bahwa mereka hanya berputar –putar saja di tempat ini, Rian sejenak menghentikan rombongan dan mulai
membaca ulang peta yang ada. Ken dengan pengalamanya mulai meninggalkan
beberapa tanda di tempat yang sudah kami lewati, dan benar saja, setelah beberapa lama kita berjalan, ternyata kita hanya kembali ketempat yang
sama.
Sementara itu
waktu sudah menunjukkan jam 6 sore, suasana sudah mulai gelap dan mulai turun kabut, Rian menyuruh kami untuk beristirahat
sejenak, karena tempat kami berkemah
__ADS_1
seharusnya bukan berada di tempat ini.