
Kembali
ke masa sekarang, rasa ngantuk mulai
menggelayutiku, perlahan ku perhatikan
Elena yang mulai memejamkan matanya di depan Tv.
Aku
bangkit dari sofaku dan menggendongnya menuju ke kamar, sembari aku melihat ponselku dan melihat
sebuah notifikasi dari kantor penerbit.
Segera
aku buka notifikasi itu, dan betapa
bahagianya aku, melihat pemberitahuan
bahwa buku novelku akan segera di terbitkan. Ya inilah pekerjaanku sebagai
seorang penulis, semua inspirasi
tulisanku selalu aku dapatkan dari orang – orang di sekitarku.
Usiaku
memang tidak lagi muda, namun semangat
dan ceritaku selalu membuatku merasa muda, kira – kira begitulah yang selalu aku rasakan.
Segera
aku menelepon ke kantor penerbit, dan
membuat janji pertemuan dengan mereka esok hari. Perlahan aku menuju
kamarku, dan kulihat satu persatu buku –
buku novel karanganku yang sudah terbit, aku tertuju pada salah satu buku novel karanganku yang berjudul Pesta
Kecil, tiba – tiba saja aku teringat
kembali akan kenangan bersama teman – teman semasa sekolahku dulu.
Meskipun
rasa ngantuk ini benar – benar menyerangku dengan hebat, namun berita bahagia untuk penerbitan buku
novelku tadi, cukup membuatku kembali
bersinar terang, dan mengusir rasa
kantuk yang sangat.
Mulai
kubuka kembali buku tulisku, dan
kugoreskan penaku mengingatkanku akan kejadian Pesta Kecil yang pernah aku
rayakan bersama Rian dan teman – teman terbaikku dulu.
Masa
libur sekolah berakhir sudah, kini semua
kembali kepada kehidupan normal.
Pagi
itu Rian menelponku, bahwa dia akan
menjemputku ke sekolah, namun aku
menolaknya, karena aku ingin berangkat
sekolah menggunakan sepedaku, lagian
sepanjang libur sekolah sepedaku hanya terparkir rapi di dalam garasi rumah.
Tanpa
sepengetahuanku, dari arah belakang Rian
mengejarku menggunakan sepeda juga.
“ Astaga, kamu naik sepeda juga Yan ?” tanyaku
dengan nada terkejut.
“ Iya lah, habis kamu naik sepeda sih, aku jadi kepingin.” Jawab
Rian dengan riang
Kami
pun pada akhirnya berangkat sekolah bersama dengan sepeda kami masing –
masing, namun walaupun begitu, sekolah kami berbeda jarak, sekolahku sedikit lebih jauh daripada sekolah
Rian, kami pun akhirnya berpisah di
depan sekolah Rian.
Sesampai
di sekolah, aku di kejutkan dengan
kerumunan anak – anak di depan mading sekolah, Silvy berlari menghampiriku yang baru saja tiba.
“ Lin, nama kamu masuk ke daftar Lin.” Kata
Silvy kepadaku.
Akupun
masih kebingungan, daftar apa yang
dimaksud oleh Silvy, tanpa aku bertanya
lagi kepada Silvy, aku langsung ikut
menghambur ke depan mading sekolah.
Ternyata
itu adalah pengumuman seleksi group idol di kota kami, dimana masing – masing sekolah
merekomendasikan nama – nama siswi yang akan mengikuti seleksi, namaku tertera di dalam daftar, ada 8 siswi yang di daftarkan oleh
sekolah, dan aku adalah salah satunya,
Aku
yang merasa kurang pantas untuk mengikuti audisi tersebut, segera menemui ibu guru Ghea, karena penanggung jawab perwakilan dari
__ADS_1
sekolah kami adalah Ibu Ghea.
Ibu
Ghea menerangkan kepadaku, bahwa aku
dirasa layak dan mampu untuk mengemban tugas itu, ibu Ghea berharap agar aku bisa memberikan
yang terbaik untuk nama baik sekolahku.
Group
Idol itu nantinya akan menjadi besar, dan akan memberikan dampak yang positif bagi setiap membernya, begitulah yang di katakana oleh Ibu Ghea
kepadaku.
Atas
kepercayaan itu, mau tidak mau aku harus
siap, walaupun sebenarnya aku masih
merasa ragu apakah aku bisa dan mampu, sementara aku sendiri bukanlah tipikal orang yang mahir dalam hal seni.
Silvy
dan Monica memberikanku semangat, dan
mereka benar – benar berharap aku bisa lolos dan berhasil mengikuti audisi
tersebut.
“ Aku harap, namaku lah yang tertera
Lin, tapi sayang namaku tidak tertera di
situ, betapa beruntungnya kamu Lin, ayo Lin jangan kecewakan kami.” Ucap
Silvy kepadaku
“ Akupun sebenarnya juga tidak
mengharapkan namaku ada di situ Sil, Yaudah pokoknya aku usahakan yang terbaik ya.”
“ Nah gitu donk Lin, pokoknya kamu itu hebat, pintar, cerdas, cantik dan baik deh.”
“ Ah biasa aja tau Sil, kamu tuh yang rajin, cantik, rajin beribadah dan rajin menabung.”
Tampak
keceriaan di wajah kami saling bercanda satu sama lain, persahabatanku dengan Silvy dan Monic memang
bukan persahabatan sembarangan, kami
sudah berteman sejak kami duduk di bangku sekolah dasar.
Bel
pulang sekolah berbunyi, aku dan ketujuh siswi yang lain di panggil ke kantor
kepala sekolah oleh Bu Yani, beliau
adalah wakil kepala sekolah kami.
Beliau
memberikan beberapa keterangan informasi kepada kami, terkait dengan seleksi Idol group
tersebut, tampak berbaris di sebelahku
dan berbakatnya mereka, tentu jauh
sekali denganku yang tidak terlalu suka bergaul.
Bu
Yani mulai mengabsen kami sesuai dengan asal kelas kami.
“ Baik, ibu absen sesuai asal kelas masing – masimg
ya.”
“ Iya bu.” Jawab
kami serempak
“ Dari kelas sepuluh dulu, tolong di
dengarkan baik – baik.”
“ Siap bu.” Jawab siswi – siswi kelas sepuluh.
“ Aninda Wulandari, Asita Tiara Dewi, Cindy Himawari, semuanya hadir ?”
“ Iya bu, semuanya hadir.” Jawab
mereka
“ Sekarang kelas sebelas ya, tolong di dengarkan baik – baik.”
“ Siap bu.” Jawab
kami serempak
“ Beta Karimawati, Dessy Nur Yolanda,
Fuji Alina Sayaka, Haruna Saputri, semua
hadir ?”
“ Iya bu.” Jawab
kami
“ Baik yang terakhir dari kelas dua
belas, Jocelyne Destiarta.”
“ Iya bu, hadir.” Jawab
kak Celyne
Kak
Celyne adalah siswi kelas dua belas yang penuh dengan prestasi, orangnya cantik, putih bersih dan juga merupakan seorang
model, ayahnya adalah orang Jerman
sedangkan ibunya adalah keturunan Arab, jadi betapa cantiknya kak Celyne, pastilah dia akan lolos seleksi ini dengan mudah.
Fuji
Alina Sayaka, ya itulah namaku, mungkin semua orang akan menyangka bahwa aku
adalah orang dari negeri sakura Jepang, tapi sebenarnya ibuku lah yang berasal dari Jepang, walaupun aku tidak ikut dilahirkan di
Jepang, namun daripada namaku dipanggil
__ADS_1
Sayaka, lebih baik aku di panggil dengan
Alina, sempat dulu aku dipanggil dengan
nama Sayaka, tapi aku merasa tidak
nyaman dengan nama itu, seolah –olah aku
berbeda negara dengan temanku yang lain.
Ibu
Yani memberikan briefing singkat kepada kami, tentang tujuan seleksi idol group itu diadakan, bagaimanapun juga kami yang lolos, akan mewakili sekolah dan kota kami sebagai
duta untuk nantinya di kirim ke negeri sakura Jepang, tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri
bagi kami semua.
Tak
lupa aku memberi tahu Rian, bahwa aku
akan mengikuti seleksi idol group, Rian
nampak senang mendengar berita itu, bahkan menurutnya itu cocok untuk orang – orang seperti aku.
Sesuai
dengan jadwal yang telah di tentukan, kami berkumpul di sekolahan, dan
berangkat menuju tempat audisi menggunakan kendaraan yang di adakan oleh
sekolah.
Begitu
sampai di tempat audisi, betapa
terkejutnya aku menyaksikan peserta audisi yang berparas cantik dan
berpenampilan memukau dengan jumlah yang cukup banyak, masing – masing sekolah mengirimkan wakil
terbaiknya. Aku mendapatkan nomer antrianku, yaitu nomer 356, bisa dibayangkan ada berapa peserta yang ikut
seleksi di acara tersebut.
Kami
semua di seleksi dengan beberapa tahapan, hingga akhirnya ada 50 besar dan hanya 24 terbaik yang akan lolos
mewakili kota kami, seleksipun di mulai,
ada sekitar 700 an peserta pada waktu itu.
Tiba
giliranku untuk audisi, begitu berdebar
– debar jantungku saat berada di hadapan juri penguji, akupun di tes di suruh menyanyi dan
menari, disamping itu akupun ditanyai
tentang beberapa soal pengetahuan umum, sang juri yang merasa tertarik dengan namaku, kemudian iseng bertanya kepadaku dalam Bahasa
Jepang, spontan aku pun menjawabnya
dengan Bahasa Jepang juga, karena
dirumah kami sering menggunakan Bahasa Jepang dalam kehidupan sehari –
hari, apalagi kakakku, wajah, nama dan logatnya masih kental Japanese banget, itu karena kakakku lah yang lahirya di
Jepang.
Akupun
menjelaskan kalau ibuku almarhum, adalah
orang asli Jepang yang menikah dengan ayahku yang seorang dokter, dan ternyata juri yang menanyaiku tersebut
adalah orang Jepang asli, namanya Mr
Yoshigawa Watanabe, lalu sang juri
bertanya siapakah nama ibuku, akupun
menjawab kalau nama almarhum ibuku adalah Yukari Megumi.
Waktu
berjalan begitu cepat, tanpa terasa
sudah masuk dalam fase 50 besar, semua
peserta audisi dikumpulkan oleh panitia, dan mulai diumumkanlah nama – nama yang lolos babak 50 besar, aku terkejut ketika nama Tiara, Lyla dan
Janet di panggil oleh dewan juri dan masuk dalam babak 50 besar, ternyata mereka juga mengikuti audisi ini.
Menjelang
peserta terakhir yang lolos ke babak 50 besar, tiba – tiba Mr Yoshigawa berlari kecil ke arah dewan juri, ternyata namaku tercantum kedalam 50
besar, hanya saja tadi sempat terbalik
menyebutkan namaku, tentu saja aku
terkejut bercampur haru.
Tiara
yang kemudian menyadari bahwa itu adalah aku, bergegas berlari dan memelukku dengan erat, diapun baru menyadari bahwa aku juga
mengikuti acara seleksi idol group tersebut.
“ Selamat Lin, aku baru tahu kalau kamu juga ikutan audisi
lho.”
“ Aku juga baru tahu kalau kamu juga
ikutan lho Ra.”
Janet
dan Lyla kemudian datang menyusul, sebuah pesta kecil tiba – tiba saja terjadi begitu saja, sebuah kejutan kecil dari dewan juri untuk
peserta 50 besar akan mendapatkan kesempatan berlibur gratis ke taman
safari, dan akan mendapatkan pelatihan
khusus untuk seleksi selanjutnya.
Hanya
aku yang lolos mewakili sekolahku, dan
ternyata kak Celyne malah tidak lolos babak 50 besar.
__ADS_1