
Silvy dan Monic datang ke rumah sakit untuk menjenguk Rian, sekaligus menjemputku, Silvy terkejut melihatku berada di luar rumah sakit.
“Apa yang terjadi denganmu Lin, kenapa kamu berada di luar?” tanya Silvy kepadaku.
Aku tidak menjawab pertanyaan Silvy, aku hanya terdiam dan sesekali mengusap air mata yang terus keluar
“Apakah Rian baik-baik saja Lin?” imbuh Silvy
Tiara menyusulku keluar rumah sakit, dan tiba-tiba dia mendekap dan memelukku.
“Maafkan aku Lin, maaafkan ucapanku tadi, tak seharusnya aku menyalahkanmu Lin.” Ucap Tiara sambil menangis, akupun memeluknya kembali dengan erat, suasana haru terjadi begitu saja di halaman rumah sakit.
Kamipun kembali kedalam rumah sakit, dan masuk ke ruangan dimana Rian di rawat, aku dan Tiara berjanji di depan Rian dan Sinta, akan berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka, dan berjanji akan berusaha lolos audisi 24 besar.
Memang Rian tidak bisa menjawab, karena dia masih dalam keadaan lemah dan hilang ingatan, sementara Sinta masih dalam keadaan koma sampai saat ini, namun kami semua di kejutkan dengan air mata yang tiba-tiba menetes dari mata Sinta, dan perlahan dia menggerakkan jari tangannya,
Tiara tampak bahagia dengan hal itu, dia terus membisikkan kalimat-kalimat semangat kepada Sinta, perlahan-lahan gerakan tangan Sinta semakin sering, Ken berlari keluar ruangan memanggil dokter, tak lama kemudian, dokter datang dan memeriksa kondisi Sinta, dokter mengatakan bahwa Sinta sekarang sudah dalam keadaan yang lebih baik, dia mulai kembali tersadar.
Sontak pernyataan dokter membuat kami bahagia, walaupun kami tetap bersedih karena Rian harus kehilangan ingatannya, namun perkembangan baik Sinta, cukup menjadi obat bagi kami semua.
Hari yang ditunggupun tiba, pagi itu dengan wajah penuh semangat dan penuh harapan cerah, aku berangkat menuju ke tempat audisi 24 besar, di temani Silvy, Monic dan Tiara, kami berangkat bersama.
Segera aku mendaftarkan namaku kepada pihak panitia, dan panitia memberikanku nomor urut 16, sedangkan Tiara mendapatkan nomor urut 8. Kami saling menguatkan satu sama lain, karena tujuan kami adalah sama.
Bayangan ibuku hadir menguatkanku, seolah memberikanku semangat tersendiri, seolah-olah bayangan itu berbicara kepadaku agar aku tetap tegar dan tetap semangat.
Tiara terlihat begitu memukau, begitu cantik dan begitu merdu suaranya, gerakannya pun amatlah lincah, tampak para juri terpukau dengan penampilannya, tatapannya begitu tajam, membuat siapapun yang melihatnya akan jatuh hati.
Tiara mendatangi dan memelukku dengan erat, akupun tak tinggal diam mengucapkan selamat kepadanya.
“Gila Ra!... penampilan kamu luar biasa banget, the real artist kamu Ra.” Ucapku kepada Tiara
“ Tapi aku takut Lin, aku takut kalau aku gagal.” Ucap Tiara ragu
__ADS_1
“ Enggak kog, kamu nggak akan gagal, aku yakin akan hal itu Ra.” Ucapku seraya menggenggam tangan Tiara dengan erat.
Di saat aku sedang bersiap menunggu giliranku, aku terkejut melihat ke bangku penonton, karena Sinta dan Rian datang dengan kursi roda, tampak chemistry band dan teman-teman sekolahku juga datang, mereka benar-benar memberikanku spirit tersendiri.
“ Fuji Alina Sayaka silahkan naik ke atas panggung.” Seorang dewan juri memanggil namaku, dengan perasaan galau dan jantung yang berdebar-debar, aku maju dengan perlahan.
“Semangat Alina!“ teriak Sinta dengan keras dari bangku penonton.
Aku terkejut mendengarnya, entah mengapa ucapan Sinta membuatku menjadi tumbuh keyakinan dan semakin bersemangat, membuatku benar-benar merasa menjadi seorang bintang.
Aku tunjukkan penampilan terbaikku kepada semua orang, penonton dan juga dewan juri. Tampak dewan juri begitu tajam menatapku, apalagi saat dewan juri menyuruhku untuk membuat gerakan koreo, kulepaskan semua penatku, aku merasa seperti sedang berlari sekencang-kencangnya di seuah tanah lapang yang amat sangat luas.
Melepaskan semua kejenuhan di dalam hatiku, segala penat di dalam pikiranku, semuanya meledak dan berubah menjadi sebuah semangat yang luar biasa, tanpa aku kira para juri memberikanku standing applause. Hingga tanpa aku sadari saat turun dari panggung, pandanganku menjadi kabur dan kakiku terasa begitu lemas.
Tiara yang melihatku mulai berjalan sempoyongan, langsung berlari ke arahku dan memelukku serta merangkulku membimbing ke arah bangku peserta.
“Wow, kamu hebat Lin, aku salut sama kamu.” Ucap Tiara kepadaku
“Terima kasih banyak Ra, aku hanya berusaha semampuku, dan terima kasih telah menolongku.” Ucapku sambil terus berpegangan pada pundak Tiara.
Sinta dengan kursi rodanya mendekat ke arah kami, dia mengucapkan selamat kepada kami berdua, atas performa kami yang menurutnya begitu luar biasa, andai saja kecelakaan tak menimpa Sinta, maka saat ini kami
bertiga pasti akan berada disini.
Janet dan Lyla menjadi dua peserta terakhir, performa mereka tidak kalah hebat dibanding peserta – peserta
sebelumnya, bahkan Lyla membuat dewan juri lagi-lagi memberikan standing applause karena suara Lyla yang begitu merdu, membuat bulu kuduk peserta, penonton dan dewan juri yang mendengarkannya
menjadi merinding berdiri, akupun memberikan standing applauseku untuk Lyla yang benar-benar memiliki suara
emas.
Kini hari berganti menjadi malam, waktu pengumuman untuk ke 24 kontestan terpilih akan segera diumumkan, semua peserta dan penonton begitu gugup menunggu keputusan juri, jantungku benar-benar berdebar, ku pejamkan mataku sambil berpegangan tangan dengan Sinta, Tiara, Lyla dan Janet, kami saling berdoa dan mendoakan
__ADS_1
Kali ini dewan juri yang di wakili oleh Mr Saki Takajo akan mengumumkan siapa saja yang lolos menjadi 24 member idol group terpilih.
“Selamat malam semuanya, mohon perhatiannya, saya akan mengumumkan siapa saja yang berhak terpilih menjadi member idol group.” Ucap Mr Saki
“ Mohon nama-nama yang saya panggil untuk maju ke depan panggung.” imbuhnya lagi seraya menatakan tempat untuk para peserta yang akan dia panggil
Jantungku benar-benar berdebar kali ini, betapa besarnya tanggung jawab dan rasa beban yang aku rasakan.
“ Dian Tiara Rarasati dari Sma 1.” Ucap Mr Saki.
Sudah kuduga, Tiara pasti berhasil, Tiara adalah nama pertama yang disebutkan oleh Mr Saki, spontan Tiara langsung menangis bersujud dan memelukku, seolah tak percaya bahwa dia bisa lolos menjadi idol group.
“ Yulyla Sanda dan Ranti Janeta dari Sma Musik.” Ucap Mr Saki lagi sambil mempersilahkan mereka berdua untuk naik ke atas panggung.
Janet dan Lyla menyusul kemudian, mereka berdua saling berpelukan, kemudian mendatangiku dan memelukku.
“Lin, akan kutunggu di panggung.” Ucap Lyla menyemangatiku.
Hingga tersisa 3 peserta terakhir, membuat aku pasrah, jika memang ini adalah garisku, maka aku akan lakukan yang terbaik, namun jika ini bukan garisku, maka inilah yang terbaik.
Kini Mr Hatori ganti mengumumkan 3 peserta terakhir, dan ternyata 3 peserta terakhir ini, adalah peserta yang memiliki nilai tertinggi.
“ Fuji Alina Sayaka dari Sma Model.” Ucap Mr Hatori
Aku terkejut, bahagia, seolah tak percaya, aku langsung berlari ke arah penonton dan memeluk Silvy, Monic dan kakakku yang hadir mendukungku, tak lupa Sinta aku peluk sekuat-kuatnya, kamipun luruh dalam tangis haru.
Sedangkan ke dua peserta yang lain dengan nilai tertinggi adalah Hana dari Sma 4 dan Firly dari Sma 2, mereka memang layak menjadi yang terbaik, karena memang mereka berdua memiliki pengalaman yang cukup didalam dunia modeling dan tarik suara.
Kamipun berbaris berjejer di depan panggung, rasa bahagia yang aku keluarkan, menutupi rasa sedih yang aku rasakan, saat aku melihat Rian yang kali ini benar-benar tidak mengenaliku dan sibuk melihat kontestan yang lain.
Mr Hatori memberikan sambutan di atas panggung, dan mengucapkan selamat kepada kami semua, beliau mengatakan bahwa ke 24 member idol group ini akan memiliki banyak kegiatan, dan akan mengadakan road tour di beberapa kota setelah ini, disamping itu, juga memiliki kegiatan berinteraksi dengan beberapa idol group yang lebih dahulu exist di beberapa negara.
Tentu saja ini akan sangat menyita waktuku, karena kini kesibukanku bertambah, selain urusan sekolah, aku juga
__ADS_1
harus membagi waktu untuk menjadi seorang artis dadakan.