
Hari
yang aku tunggu pun akhirnya tiba, hari
ini adalah hari dimana Rian akan pergi mengajakku melihat acara festival band
pelajar, dengan sepeda motornya dia
menjemputku di rumah.
“ Mau kemana Lin, nggak sarapan dulu ?” Tanya
kakakku kepadaku.
“ Nggak kak, aku mau pergi dulu, mau nonton festival band di alun – alun kota
kak.” Jawabku sembari mengambil helm di kamar adikku.
“ Berangkat sama siapa kamu Lin ?”
“ Berangkat sama temanku kak, dah dulu ya kak aku pamit dulu, salam buat ayah dan sampaikan kalau aku
berangkat.” Aku pun bergegas menuju kehalaman rumah
dan segera menemui Rian.
“ Sudah siap Lin dan sudah nggak ada
yang ketinggalan ?”
“ Sudah nggak ada kog, semua sudah komplit, yuk berangkat.”
Rian
segera menghidupkan kendaraannya dan meluncur menuju ke alun – alun kota. Pagi
itu alun – alun kota di penuhi oleh banyak sekali siswa dan siswi dari seluruh
sekolah di kota kami, mereka datang
untuk memberikan dukungannya kepada band sekolah favourite mereka masing –
masing.
“ Wow banyak sekali ya Rian yang
datang.”
“ Ini masih belum seberapa Lin
dibandingkan tahun – tahun sebelumnya.”
“ What !, serius kamu Rian, tapi ini sudah banyak banget lho.”
Rian
menjawab dengan senyuman sembari menatapku.
“ Sudah focus sama nyetirnya, jangan tolah – toleh dulu.” Ucapku
kepada Rian, entah rasanya aku dan Rian
sudah bukan seperti orang lain lagi sekarang.
Rian
memarkir motornya di belakang panggung, dan saat itu semua orang disana memandangi kami dengan wajah penuh
pertanyaan, bagaimana mungkin seorang
Rian yang tidak pernah dekat dengan seorang wanita selain Yuki, kini berjalan bersama dengan Alina.
Siro, Gerry dan Diyar menyambut dan mendatangiku
dan Rian yang baru saja tiba.
“ Wih udah nggandeng cewek aja kamu
Yan.” Ucap Siro kepada Rian sembari memandangku, cepat – cepat Gerry merangkul dan menutup
mulut Siro dari belakang.
“ Hush !, jaga omongan kamu Siro, awas kalau ucapan kamu nyinggung perasaanya
Rian, kamu tahu kan siapa wanita yang
hanya ada di hatinya Rian.” Ucap Gerry sambil
membungkam mulut Siro, Gerry adalah
sahabat terdekat Rian yang paling tahu betul bagaimana Rian.
Aku
pun hanya terdiam mendengar ucapan Gerry, aku tahu bahwa apa yang dikatakan oleh Gerry itu sepenuhnya benar.
Namun
di luar dugaanku, jawaban Rian malah
membuat kami semua tercengang.
“ Tenang Ger, apa yang dikatakan Siro benar, dan Yuki kini telah menjelma menjadi Alina.” Ucap
Rian dengan santai sembari menggandengku menuju ke tenda peserta.
“ Maksud kamu apa Rian ?” tanyaku
kebingungan bercampur perasaan bahagia yang datang begitu saja secara tiba –
tiba, Rian hanya tersenyum sembari terus
__ADS_1
menggandengku.
Monic
dan Silvy datang menghampiriku ke dalam tenda peserta, pelan – pelan Silvy mendekatiku dan meminta
maaf kepadaku atas sikap cemburunya kemarin – kemarin kepadaku.
“ Maafin aku ya Lin, aku sudah berprasangka buruk kepadamu.”
“ Nggak papa kog Sil, aku aja nggak pernah jengkel sama sikap kamu
kog Sil, kamu tetaplah sahabat
terbaikku.”
Kamipun
saling berpelukkan dan hubungan kamipun kembali baik seperti sedia kala.
“ Cie yang sudah baikan.” Tiba
– tiba Tiara menyahut dari belakang.
Tak lama kemudian sang MC sudah naik ke atas panggung tanda acara festival band
akan segera dimulai, semua peserta dan
pengunjung nampak riuh menyambut kehadiran sang MC yang begitu ahli dalam
mengolah kata – kata sehingga membuat suasana menjadi lebih hidup.
Chemistry
Band menjadi Band pembuka sekaligus menjadi bintang tamu di acara festival
itu, seluruh personil band naik ke atas
panggung kecuali Ken yang sedang tidak enak badan dan terpaksa harus di rawat
di rumah sakit di luar kota.
Sebagai
pembuka kata – kata, Rian mengucapkan sebuah kalimat special sebelum memulai
permainan musiknya.
“ Selamat datang jiwa baru, jiwa yang menghadirkan kehidupan baru lewat
sebuah harmonisasi kehidupan, antara
musik dan cinta, antara Yuki dan Alina.” Ucapnya
kepada seluruh pengunjung di acara festival tersebut, semua penonton riuh menyambut kata – kata
Rian, sedangkan aku hanya diam mematung
lemas tak berdaya.
chemistry band melantunkan lagu – lagu andalan mereka di atas panggung, tampak di kejauhan Adit terus memandangiku
dengan raut wajah yang kecewa dan tak bersemangat, akupun memalingkan wajahku seolah tak memperdulikan
Adit, karena aku tak ingin akan ada hati
yang lebih tersakiti nanti.
Setelah
beberapa lagu di bawakan oleh Rian dan kawan – kawannya, kini giliran para peserta festival yang silih
berganti melantunkan lagu – lagu andalan mereka di atas panggung, dalam kesempatan ini para pengisi chemistry
band berganti menjadi dewan juri yang akan menilai band mana yang akan layak
mewakili kota kami maju di acara festival tingkat nasional.
Kini
giliran Adit dan Bandnya yang maju ke atas panggung, Silvy dengan wajah berseri – seri berteriak
hysteris memanggil – manggil nama Adit tanpa henti, namun pandangan Adit hanya tertuju
kepadaku, lalu tiba – tiba Adit maju ke
depan mic dan membuka penampilan dengan sebuah kalimat yang membuat semua mata
tertuju kepadaku.
“ Sebuah lagu yang aku ciptakan untuk
seorang Mahadewi yang melukai hatiku, Lagu ini untukmu Alina.” Semua mata tertuju
kepadaku, Silvy pun yang tadi berteriak
– teriak hysteris memanggil – manggil nama Adit tiba – tiba terdiam dan
melihatku dengan tak bisa berkata apa – apa.
Hanya
Rian yang tak perduli dengan apa yang diucapkan oleh Adit, dia hanya tersenyum kecil dan sesekali
melirikku di bangku penonton.
Sebenarnya
aku bingung dengan apa yang terjadi, apakah aku harus menyikapi Rian sebagai teman atau sebagai kekasih, aku bingung harus bersikap seperti apa, karena semua terjadi begitu saja tanpa ada
sebuah pernyataan yang pasti.
__ADS_1
Tiba
– tiba saja dari belakang, Tiara
menepukku dan mengingatkanku.
“ Rian adalah batu karang Lin, hati - hati lah sebelum hatimu terluka
nanti.”
“ Maksud kamu apa Tiara, berikanlah aku penjelasan.”
“ Kamu belum tahu bagaimana dalamnya
perasaan Rian kepada Yuki, dan kamu juga
belum tahu bagaimana kalau tiba – tiba Rian dan trauma masa lalunya.”
Ucapan
Tiara membuatku lemas tak berdaya, semua
yang dikatakan oleh Tiara memang benar adanya, aku baru mengenal Rian dan belum mengenalnya lebih jauh.
Bahkan
jika memang aku harus menjalin kasih dengan Rian, aku sendiripun masih bingung kemana arah dan
tujuan dari hubunganku itu nantinya.
“ Aku sendiri masih belum bisa
percaya Lin, apakah benar saat ini Rian
bahagia saat bertemu denganmu, karena
aku lah orang yang berada di sisinya saat dia memeluk Yuki untuk terakhir
kalinya.” Tiara menunjukkan sebuah video di ponselnya yang
menunjukkan betapa hancurnya Rian saat itu sembari memeluk tubuh Yuki yang
sudah kaku tidak bernyawa.
Kini
aku hanya bisa termenung sendiri sepanjang acara, Adit menghampiriku dan membawakanku sebotol
air mineral, sambil terus memperhatikanku yang nampak termenung sedih.
“ Maaf Lin, kubawakan air mineral ini untukmu, minumlah Lin.” Ucap
Adit kepadaku
“ Maaf Dit, pergilah menjauh dariku, cukuplah sudah membuat Silvy tersakiti, ku mohon padamu Dit.” Ucapku
sambil berusaha berdiri menjauh dari Adit.
“ Percayalah Lin, Rian tidak sungguh – sungguh menyukaimu, aku lebih tahu dia daripada engkau.”
“ Sudah !, pergilah Dit kumohon padamu.” Bentakku
kepada Adit.
Lagi
– lagi Adit masih melanjutkan kata – katanya, akhirnya aku putuskan untuk aku pergi menjauh meninggalkan acara
tersebut tanpa sepengetahuan Rian yang masih menjadi juri.
Aku
berjalan menuju ke jalan raya untuk naik ojek, namun tanpa di sangka –sangka Rian tiba – tiba saja sudah menungguku di
jalan dengan motornya.
“ Kalau sudah bosan dengan acaranya, jangan lupa bilang ke aku.” Ucap
Rian kepadaku
“ Naiklah segera.”
Akupun
bergegas memboncengnya, dan kamipun
meniggalkan acara festival band yang masih berlangsung itu.
“ Bagaimana engkau tahu bahwa aku
akan pergi meninggalkan acara Rian ?”
“ Aku memperhatikanmu sedari
tadi, saat Silvy dan Adit berbicara
kepadamu, akupun memperhatikannya dari
jauh.”
“ Dan aku tahu apa yang mereka
katakan, pasti mereka mengatakan bahwa
aku akan menyakitimu karena perasaanku kepada Yuki yang sangat besar tidak akan
bisa hilang, iya kan ? “
“ Mereka bukanlah aku, dan aku bukanlah mereka, aku rasa itu cukup menjelaskan keadaanku
Lin.”
__ADS_1
Akupun
mengangguk tanda mengerti apa yang Rian ucapkan kepadaku.