
Tibalah
kami semua di puncak gunung, begitu
indah dan luar biasa suasana di atas gunung, aku serasa terbang di atas awan, menjadi bagian dari dewi – dewi dalam cerita kahyangan.
Tak
kusia – siakan kesempatan itu untuk berfoto – foto dan mengabadikan moment yang
sangat langka ini, aku, Silvy dan Monic berlari kesana – kemari
bagaikan anak kecil.
Sementara
Lyla dan Janet tampak begitu biasa saja, seolah – olah itu adalah hal yang biasa menurut mereka, mungkin karena mereka memang sudah sangat
terbiasa mendaki gunung, sehingga hal
ini adalah hal biasa buat mereka.
Rian
tampak duduk berjongkok di sebuah batu yang berada di puncak gunung, dia tampak khusuk berdoa sembari memandangi
batu itu, perlahan aku mendekati Rian
yang sedang berjongkok di depan batu itu.
Betapa
terkejutnya aku, ternyata di batu itu
tertulis nama Rian dan Yuki, lalu dengan
tangannya, Rian mengambil pahatan batu, dan merubah nama di batu itu menjadi Rian dan
Alina.
Sungguh
aku tidak bisa berkata apa – apa, tiba –
tiba saja Rian berlutut di hadapanku dan mengutarakan perasaanya kepadaku.
“ Setelah sekian lama, mungkin ini adalah saat yang tepat
bagiku, untuk mengutarakan perasaanku
kepadamu Lin.”
“ Kuharap engkau mau menerima
perasaanku ini, untuk menemani hatimu
selamanya.”
Akupun
hanya terdiam, bingung harus menjawab
apa, karena aku sendiri masih bingung
dengan yang aku rasakan kepada Rian, apakah ini perasaan suka, atau
hanya sekedar perasaan penasaran, karena
sikap Rian memang selalu mengundang penasaran bagi siapa saja yang dekat
dengannya.
“ Jawablah Lin ! jangan diam saja dong.” Teriak
Ken
Aku
masih mematung dan masih benar – benar mematung, tiba – tiba aku teringat akan pembicaraan
antara Adit dan Rian semalam, kalau aku
tidak menjawab permintaan dari Rian, berarti sama saja aku memberi harapan kepada Adit, sementara aku sendiri benar – benar tidak
punya perasaan apa – apa kepada Adit selain sebagai teman biasa, kalau aku menerima permintaan Rian, walaupun aku sendiri masih ragu, setidaknya Adit tidak akan mengejarku, dan hubunganku dengan Silvy tidak akan
terganggu di kemudian hari.
Akupun
menganggukkan kepalaku, tanda bahwa aku
menerima perasaan Rian, Rian pun
langsung berdiri dan memelukku di atas puncak gunung.
“ Kini engkau adalah Alinaku, dan biarkanlah Yuki beristirahat dengan
__ADS_1
tenang.”
Aku
yang tiba – tiba merinding mendengar ucapan Rian, seolah – olah telah menggantikan posisi Yuki
yang begitu sangat tulus menyayangi Rian, sementara aku sendiri masih dalam perasaan bimbang antara sayang atau
hanya sebatas penasaran kepada Rian.
Hari
itu menjadi hari yang bersejarah bagiku, karena kali pertamanya aku dekat dengan seorang lelaki selain
ayahku, hal yang tidak pernah aku alami
sejak aku lahir.
Siang
berganti menjadi senja, kamipun telah
berada di pos awal pendakian, setelah
pendakian yang cukup mengesankan ini, kami berfoto bersama dan saling bertukar nomer telepon dengan Gana dan
teman – temannya, tak terkecuali dengan
Lyla dan Janet yang di awal cerita sempat membuat kami ketakutan.
Beregas
kami merapikan barang – barang kami kedalam mobil, dan segera melesat meninggalkan kaki gunung
menuju ke kota kami yang jaraknya lumayan cukup jauh, selama perjalanan pulang perasaanku menjadi
tidak karuan, entah aku salah atau tidak
menerima Rian menjadi kekasihku, namun
jujur aku akui kalau perasaanku kepada Rian memang masih berada di antara iya
atau tidak sebagai seorang kekasih.
Rian
melirikku, dan dengan tersenyum, tiba – tiba dia mengatakan sebuah kalimat
yang membuatku makin tak karuan.
“ Tenang Lin, aku tahu apa yang engkau rasakan, aku hanya menyelamatkanmu dari Adit, tentu kamu tahu bagaimana perasaanku kepada
pernah berubah.” Ucap Rian sembari tersenyum dan kembali
menyetir.
Ucapan
Rian tentu membuatku semakin bingung, apa maksud dari semua ini, apakah
ini hanya sebuah sandiwara, atau apakah
ini.
Tapi
akupun juga tidak bisa menuntut apa – apa kepadanya, karena bagaimanapun juga, perasaanku kepada Rian juga masih abu – abu.
Akhirnya
akupun tiba di rumah, langsung aku
ambrukkan badan kecilku di atas Kasur, dan tak butuh waktu lama untuk memejamkan mataku, karena rasa lelah yang begitu sangat.
Di
dalam tidurku, aku bermimpi bertemu
dengan Yuki, sebuah flashback beberapa waktu
yang lalu, saat pertemuan terakhirku
dengannya, kini berlanjut lagi didalam
mimpiku.
Masih
berada di tempat yang sama, di belakang
sekolah Rian, Yuki menunjukkan bayangan
seorang wanita kepadaku, wanita itu
berseragam sekolah seperti seragam sekolah zaman dulu, bukan seperti seragamku ataupun seragam Yuki.
Wanita itu nampak malu – malu berdiri di balik dinding sekolah, seolah – olah dia sedang mengamati seseorang, namun malu untuk menemuinya.
__ADS_1
“ Siapakah wanita itu Yuki ?” Ku
beranikan bertanya kepada Yuki
Yuki
tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya
menunjuk kepada wanita itu, dan seolah
menyuruh aku untuk tetap memperhatikannya, setelah lama aku amati, aku mulai
tersadar bahwa wanita itu ada kemiripan denganku, namun juga ada kemiripan dengan Yuki.
Fikiranku
mulai kemana – mana, siapa sebenarnya
wanita itu, dan kenapa Yuki seolah
memaksaku untuk memperhatikan wanita itu dengan seksama, tapi kenapa wajah wanita itu memiliki
kemiripan denganku dan Yuki.
Aku
terus mengamati wanita itu, dan kini
wanita itu beranjak dari tempatnya, mulai mendekati seorang lelaki yang begitu persis wajahnya dengan
Rian, namun dengan gaya rambut yang
berbeda, kini aku semakin merasa
penasaran, dengan perlahan dan hati –
hati aku dan Yuki membuntuti mereka dari belakang.
Tiba
– tiba adikku membangunkanku, dan aku
pun tersadar dari mimpi panjangku.
“ Woy bangun ! makan dulu kak.” teriak
adikku membangunkanku
Aku
yang masih linglung, berusaha
menyadarkan diriku, aku melihat jam
dinding kamarku. Menunjukkan jam 6, akupun langsung bergegas ke kamar mandi, beberapa saat kemudian aku sudah bersiap di
meja makan dengan pakaian rapi.
“ Mau pergi kemana malam – malam gini
non ?” tanya kakakku kepadaku.
“ Malam ? bukannya ini sudah pagi.” Tanyaku
kepada kakakku
Sontak
kakak dan adikku tertawa tak henti – henti, akupun bingung dengan apa yang terjadi, langsung aku menuju jendela dan kulihat keluar jendela, ternyata benar kalau sekarang ini malam hari.
“ Berapa lama aku tertidur kak ?” tanyaku
kepada kakakku
“ Kamu tidur seharian penuh, dari malam sampai malam lagi tau.”
“ Dibangunin aja sulitnya bukan
main.”
Aku
terkejut dengan ucapan kakakku, Astaga bagaimana dengan janjiku ke Silvy dan
Monic hari ini, segera aku berlari ke
kamarku dan memeriksa ponselku.
Ternyata
benar, beberapa notifikasi pesan dan
panggilan tak terjawab berulang – ulang dari Silvy dan Monica.
“ Ah, betapa lelahnya aku, hingga aku
tidak bisa membedakan mana senja dan mana fajar.”
__ADS_1
Akupun kembali ke kasurku,
menjemput mimpi - mimpi indah yang mungkin telah menantiku dengan setia.