CINTA YANG SEPERTI INI

CINTA YANG SEPERTI INI
Bab 10 Antara Fajar dan Senja


__ADS_3

Tibalah


kami semua di puncak gunung,  begitu


indah dan luar biasa suasana di atas gunung,  aku serasa terbang di atas awan,  menjadi bagian dari dewi – dewi dalam cerita kahyangan.


Tak


kusia – siakan kesempatan itu untuk berfoto – foto dan mengabadikan moment yang


sangat langka ini,  aku,  Silvy dan Monic berlari kesana – kemari


bagaikan anak kecil.


Sementara


Lyla dan Janet tampak begitu biasa saja,  seolah – olah itu adalah hal yang biasa menurut mereka,  mungkin karena mereka memang sudah sangat


terbiasa mendaki gunung,  sehingga hal


ini adalah hal biasa buat mereka.


Rian


tampak duduk berjongkok di sebuah batu yang berada di puncak gunung,  dia tampak khusuk berdoa sembari memandangi


batu itu,  perlahan aku mendekati Rian


yang sedang berjongkok di depan batu itu.


Betapa


terkejutnya aku,  ternyata di batu itu


tertulis nama Rian dan Yuki,  lalu dengan


tangannya,  Rian mengambil pahatan batu,  dan merubah nama di batu itu menjadi Rian dan


Alina.


Sungguh


aku tidak bisa berkata apa – apa,  tiba –


tiba saja Rian berlutut di hadapanku dan mengutarakan perasaanya kepadaku.


“ Setelah sekian lama,  mungkin ini adalah saat yang tepat


bagiku,  untuk mengutarakan perasaanku


kepadamu Lin.”


“ Kuharap engkau mau menerima


perasaanku ini,  untuk menemani hatimu


selamanya.”


Akupun


hanya terdiam,  bingung harus menjawab


apa,  karena aku sendiri masih bingung


dengan yang aku rasakan kepada Rian,  apakah ini perasaan suka,  atau


hanya sekedar perasaan penasaran,  karena


sikap Rian memang selalu mengundang penasaran bagi siapa saja yang dekat


dengannya.


“ Jawablah Lin !  jangan diam saja dong.” Teriak


Ken


Aku


masih mematung dan masih benar – benar mematung,  tiba – tiba aku teringat akan pembicaraan


antara Adit dan Rian semalam,  kalau aku


tidak menjawab permintaan dari Rian,  berarti sama saja aku memberi harapan kepada Adit,  sementara aku sendiri benar – benar tidak


punya perasaan apa – apa kepada Adit selain sebagai teman biasa,  kalau aku menerima permintaan Rian,  walaupun aku sendiri masih ragu,  setidaknya Adit tidak akan mengejarku,  dan hubunganku dengan Silvy tidak akan


terganggu di kemudian hari.


Akupun


menganggukkan kepalaku,  tanda bahwa aku


menerima perasaan Rian,  Rian pun


langsung berdiri dan memelukku di atas puncak gunung.


“ Kini engkau adalah Alinaku,  dan biarkanlah Yuki beristirahat dengan

__ADS_1


tenang.”


Aku


yang tiba – tiba merinding mendengar ucapan Rian,  seolah – olah telah menggantikan posisi Yuki


yang begitu sangat tulus menyayangi Rian,  sementara aku sendiri masih dalam perasaan bimbang antara sayang atau


hanya sebatas penasaran kepada Rian.


Hari


itu menjadi hari yang bersejarah bagiku,  karena kali pertamanya aku dekat dengan seorang lelaki selain


ayahku,  hal yang tidak pernah aku alami


sejak aku lahir.


Siang


berganti menjadi senja,  kamipun telah


berada di pos awal pendakian,  setelah


pendakian yang cukup mengesankan ini,  kami berfoto bersama dan saling bertukar nomer telepon dengan Gana dan


teman – temannya,  tak terkecuali dengan


Lyla dan Janet yang di awal cerita sempat membuat kami ketakutan.


Beregas


kami merapikan barang – barang kami kedalam mobil,  dan segera melesat meninggalkan kaki gunung


menuju ke kota kami yang jaraknya lumayan cukup jauh,  selama perjalanan pulang perasaanku menjadi


tidak karuan,  entah aku salah atau tidak


menerima Rian menjadi kekasihku,  namun


jujur aku akui kalau perasaanku kepada Rian memang masih berada di antara iya


atau tidak sebagai seorang kekasih.


Rian


melirikku,  dan dengan tersenyum,  tiba – tiba dia mengatakan sebuah kalimat


yang membuatku makin tak karuan.


“ Tenang Lin,  aku tahu apa yang engkau rasakan,  aku hanya menyelamatkanmu dari Adit,  tentu kamu tahu bagaimana perasaanku kepada


pernah berubah.” Ucap Rian sembari tersenyum dan kembali


menyetir.


Ucapan


Rian tentu membuatku semakin bingung,  apa maksud dari semua ini,  apakah


ini hanya sebuah sandiwara,  atau apakah


ini.


Tapi


akupun juga tidak bisa menuntut apa – apa kepadanya,  karena bagaimanapun juga,  perasaanku kepada Rian juga masih abu – abu.


Akhirnya


akupun tiba di rumah,  langsung aku


ambrukkan badan kecilku di atas Kasur,  dan tak butuh waktu lama untuk memejamkan mataku,  karena rasa lelah yang begitu sangat.


Di


dalam tidurku,  aku bermimpi bertemu


dengan Yuki,  sebuah flashback beberapa waktu


yang lalu,  saat pertemuan terakhirku


dengannya,  kini berlanjut lagi didalam


mimpiku.


Masih


berada di tempat yang sama,  di belakang


sekolah Rian,  Yuki menunjukkan bayangan


seorang wanita kepadaku,  wanita itu


berseragam sekolah seperti seragam sekolah zaman dulu,  bukan seperti seragamku ataupun seragam Yuki.


Wanita itu nampak malu – malu berdiri di balik dinding sekolah,  seolah – olah dia sedang mengamati seseorang,  namun malu untuk menemuinya.

__ADS_1


“ Siapakah wanita itu Yuki ?” Ku


beranikan bertanya kepada Yuki


Yuki


tidak menjawab pertanyaanku,  dia hanya


menunjuk kepada wanita itu,  dan seolah


menyuruh aku untuk tetap memperhatikannya,  setelah lama aku amati,  aku mulai


tersadar bahwa wanita itu ada kemiripan denganku,  namun juga ada kemiripan dengan Yuki.


Fikiranku


mulai kemana – mana,  siapa sebenarnya


wanita itu,  dan kenapa Yuki seolah


memaksaku untuk memperhatikan wanita itu dengan seksama,  tapi kenapa wajah wanita itu memiliki


kemiripan denganku dan Yuki.


Aku


terus mengamati wanita itu,  dan kini


wanita itu beranjak dari tempatnya,  mulai mendekati seorang lelaki yang begitu persis wajahnya dengan


Rian,  namun dengan gaya rambut yang


berbeda,  kini aku semakin merasa


penasaran,  dengan perlahan dan hati –


hati aku dan Yuki membuntuti mereka dari belakang.


Tiba


– tiba adikku membangunkanku,  dan aku


pun tersadar dari mimpi panjangku.


“ Woy bangun ! makan dulu kak.” teriak


adikku membangunkanku


Aku


yang masih linglung,  berusaha


menyadarkan diriku,  aku melihat jam


dinding kamarku.  Menunjukkan jam 6,  akupun langsung bergegas ke kamar mandi,  beberapa saat kemudian aku sudah bersiap di


meja makan dengan pakaian rapi.


“ Mau pergi kemana malam – malam gini


non ?” tanya kakakku kepadaku.


“ Malam ? bukannya ini sudah pagi.” Tanyaku


kepada kakakku


Sontak


kakak dan adikku tertawa tak henti – henti,  akupun bingung dengan apa yang terjadi,  langsung aku menuju jendela dan kulihat keluar jendela,  ternyata benar kalau sekarang ini malam hari.


“ Berapa lama aku tertidur kak ?” tanyaku


kepada kakakku


“ Kamu tidur seharian penuh,  dari malam sampai malam lagi tau.”


“ Dibangunin aja sulitnya bukan


main.”


Aku


terkejut dengan ucapan kakakku, Astaga bagaimana dengan janjiku ke Silvy dan


Monic hari ini,  segera aku berlari ke


kamarku dan memeriksa ponselku.


Ternyata


benar,  beberapa notifikasi pesan dan


panggilan tak terjawab berulang – ulang dari Silvy dan Monica.


“ Ah,  betapa lelahnya aku,  hingga aku


tidak bisa membedakan mana senja dan mana fajar.”

__ADS_1


Akupun kembali ke kasurku,


menjemput mimpi - mimpi indah yang mungkin telah menantiku dengan setia.


__ADS_2