CINTA YANG SEPERTI INI

CINTA YANG SEPERTI INI
Bab 13 Ledakan Sebuah Semangat


__ADS_3

Lelah


dan bahagia,  begitulah yang kurasakan


saat ini,  sekedar kupandangi foto masa


muda ibuku,  yang begitu cantik dan pasti


banyak laki – laki yang mengejar cintanya,  sungguh beruntung ayahku berhasil mendapatkan cinta ibuku.


Lambat


laun mataku mulai terpejam,  tak kuasa


bagiku untuk terus menahan beratnya mataku,  kini aku benar – benar larut di dalam tidurku.


Yuki


menyapaku,  dan bersiap mengajakku untuk


bertualang lagi,  sebuah pemandangan


sekolah yang indah di depanku,  sebuah


halaman sekolah yang begitu luas dan penuh dengan pepohonan,  wanita muda itu lagi – lagi berdiri dengan


malu,  entah apa yang membuatnya


malu,  padahal dia begitu cantik dan


menawan,  bahkan dengan paras secantik


itu,  seharusnya tak ada rasa malu


baginya untuk bertemu dengan siapapun.


Pelan


– pelan wanita muda itu berjalan mengendap membawa seikat bunga,  berjalan menuju kepada seorang pria yang


sedang duduk sendiri. Belum selesai aku dengan cerita mimpiku,  lagi – lagi aku harus terbangun,  lagi – lagi adikku membangunkanku dengan cara


yang bagiku sungguh tidak sopan,  dia


memukulkan sapu lidi ke tubuhku,  aku


yang terkejut,  langsung melompat begitu


saja dari tempat tidurku.


“ Mau sekolah enggak ? “ Tanya


adikku dengan nada tinggi.


Aku


yang terkejut,  langsung melihat jam


dinding dikamarku,  dan benar saja,  waktu sudah menunjukkan jam setengah tujuh


pagi,  sedangkan sebelum jam tujuh aku


sudah harus sampai di sekolah,  tanpa


banyak bicara aku langsung mandi dan bersiap – siap berangkat ke sekolah.


Pagi


itu Rian sudah menungguku di depan halaman rumahku,  dia menungguku sejak jam 6 pagi,  saat aku keluar rumah,  aku terkejut melihatnya yang sudah bersiap di


depan rumahku.


“ Tumben nih tuan putri bangunnya


siang banget.” Ucap Rian sambil meledekku


“ Capek tahu,  oia,  kamu sudah lama disini tadi ?” tanyaku kepada Rian


“ Enggak kog,  baru jam 6 tadi aku sampai disini.” Jawab


Rian sambil melihat jam tangannya


“ Eh,  itu udah lama tahu,  maaf ya


Yan,  sudah buat kamu menunggu.”


“ Iya udah,  ayo buruan,  ntar kamu telat beneran lho Lin.”


Tanpa


basa – basi lagi,  segera aku membonceng


dan memakai helmku,  dengan secepat kilat


Rian mengantarku menuju ke sekolah.


“ Yan,  makasih ya sudah mau nganterin aku.”


“ Iya, sama – sama Lin,  selagi bensin masih ada,  aku pastikan bisa nganterin kamu kemana aja.”


” Oh iya Yan,  nanti sepulang sekolah ada yang ingin aku


bicarakan sama kamu.”

__ADS_1


Rian


memandangku penuh dengan Tanya,  lalu


tanpa jawaban yang keluar dari mulutnya,  dia menganggukkan kepalanya sembari pergi meninggalkanku.


Silvy


berlari histeris ke arahku,  entah setan


apa yang merasukinya.


“ Kamu kenapa Sil ?  kesambet ya ?”


“ Eh kamu tau nggak Lin,  besok minggu kita semua mau datang jadi


supporter kamu lho.”


“ Suporter apa Sil ?  emang siapa yang lagi main sepak bola ?”


“ Bukan sepak bola Lin,  tapi supporter buat audisi kamu jadi idol


group Lin.”


“ Pokoknya kamu harus jadi idol group


Lin.”


“ Ah,  ngaco kamu Sil,  dah lah,  yuk kita masuk.”


Hari


ini adalah pelajaran kesenian,  ibu Ghea


membagi tempat duduk kami sesuai dengan kelompok kami,  Monic duduk di sebelahku,  sedangkan Silvy berada bersama dengan


kelompok yang lain.


“ Baik anak – anak sekalian,  kali ini kita akan belajar seni musik.”


“ Dan hari ini kita akan belajar


instrument drum.”


“ Kita akan menuju ke lab musik,  dan kalian tetap duduk sesuai dengan kelompok


kalian masing – masing.”


Kami


semua berjalan beriringan menuju ke laboratorium musik sekolah kami,  lab musik sekolah kami tergolong


komplit,  karena hamper semua instrument


dari yang tradisional sampai yang modern.


Bu


Ghea kemudian memberikan pelajaran pertamanya,  mengenai tehnik memainkan drum dengan baik dan benar,  tanpa banyak bicara,  Bu Ghea lantas menunjukkan kebolehannya dalam


memainkan drum,  betapa luar biasanya


permainan drum Bu Ghea,  hingga membuat


Zahri yang merupakan pemain drum di kelas kami,  secara spontan berdiri dan memberikan standing applause kepada Bu Ghea.


Bu


Ghea kemudian menyuruh kami satu persatu,  untuk mencoba memukul drum berdasarkan pada tempo yang sudah di atur


oleh Bu Ghea sendiri.


Kini


tiba giliranku untuk mencoba,  dengan


ragu – ragu aku memainkan stick drum,  sehingga suaranya menjadi tidak enak di dengar,  kemudian Bu Ghea mendatangiku,  dan memberikanku sebuah tips,  untuk memikirkan sesuatu yang bisa


membangkitkan emosiku,  entah apa yang


bisa membangkitkan emosiku,  sejenak aku


berusaha memikirkan sesuatu.


Tanpa


sengaja,  Adit melintas melewati


laboratorium musik,  dan tiba – tiba aku


merasakan sesuatu yang membangkitkan emosiku,  tiba – tiba saja tanpa ragu aku memainkan stick drumku dengan


lepas,  pukulan – pukulan yang ku


hentakkan di atas senar drum,  seolah


memiliki jiwa dan rasa yang hidup begitu saja,  Bu guru terus memberikanku semangat,  dan teman – teman sekelasku seolah ikut terlarut dalam permainan Drumku.


Lesatan


semangat itu terus aku rasakan,  dalam


fikiranku mulai muncul sebuah cerita yang entah darimana asalnya,  seolah menggambarkan bagaimana emosi yang

__ADS_1


dirasakan oleh Adit,  dan itu berhasil menginspirasiku,  makin lama permainan drumku mulai tidak


beraturan,  beriringan dengan emosi yang


mulai memudar,  tiba – tiba badanku


terasa begitu lemas.


Bu


guru langsung menahan tubuhku yang mulai roboh,  akupun langsung di bawa ke Uks sekolah,  Silvy dan Monic memapah tubuhku yang sudah lemas tak berdaya,  aku teringat kalau tadi pagi sebelum


berangkat sekolah,  aku lupa belum


sarapan,  pantas saja setelah memainkan


drum dengan emosi yang meledak – ledak,  badanku langsung terasa lemah tak berdaya.


Saat


aku mulai bangkit tersadar,  Bapak Kepala


sekolah berada di ruang Uks,  beliau


menanyakan bagaimana kondisiku,  beliau


begitu khawatir dengan kondisiku,  karena


bagaimanapun juga aku akan membawa nama baik sekolah dalam seleksi idol group.


Bu


Ghea mengatakan kepadaku,  kalau aku


punya bakat bermain drum,  dan itu bisa


menjadi salah satu asetku di masa depan.


“ Pukulan Drum kamu begitu lepas


Lin,  begitu bertenaga dan seolah


memiliki jiwa.”


“ Ibu tidak pernah melihat


sebelumnya,  seseorang yang sedang belajar


bermain drum untuk pertama kali,  bisa


memiliki kemampuan bermain seperti itu.”


“ Ibu salut sama kamu,  teruskan ya Lin bakat kamu,  ibu yakin suatu saat nanti,  kamu bisa menjadi seorang musisi yang hebat.”  Puji Bu Ghea kepadaku.


“ Ah terima kasih bu atas


pujiannya,  tapi aku tidak sehebat


seperti yang ibu katakan.”


Silvy


dan Monic datang membawakanku jus buah,  serta membawakanku semangkuk bakso dari kantin.


“ Nih Lin,  dimakan ya Lin,  biar kamu cepat sembuh.” Ucap


Monic kepadaku.


“ Terima kasih ya Sil, Mon,  kalian memang sahabatku yang luar biasa.”


Segera


aku menghabiskan bakso dan jus buah yang di bawakan oleh mereka,  aku makan begitu lahap,  karena memang aku benar – benar merasa lapar.


Bel


pulang sekolah berbunyi,  segera aku


bereskan buku – bukuku kedalam tas,  dan


kubuka ponselku untuk menelpon Rian,  namun entah kenapa telponnya tidak aktif,  aku coba beberapa kali dan hasilnya masih


sama saja,  telponnya tidak aktif.


“ Ah,  mungkin batrenya habis,  aku


tunggu di depan sekolah sajalah.” Ucapku sambil berjalan


menuju ke depan sekolah.


Silvy


dan Monic datang menghampiriku yang sedang menunggu Rian di depan sekolah,


mereka mengajakku untuk pulang bersama,  namun aku menolaknya,  karena aku


sudah ada janji dengan Rian.


Tak


terasa sudah dua jam lebih ku menunggunya,  aku coba lagi untuk menelponya,  namun tetap saja teleponya masih belum aktif,  aku mulai merasa cemas dan khawatir,  apakah dia baik – baik saja,  atau memang dia lupa.


Tiba

__ADS_1


– tiba saja Tiara datang untuk menjemputku.


__ADS_2