
Lelah
dan bahagia, begitulah yang kurasakan
saat ini, sekedar kupandangi foto masa
muda ibuku, yang begitu cantik dan pasti
banyak laki – laki yang mengejar cintanya, sungguh beruntung ayahku berhasil mendapatkan cinta ibuku.
Lambat
laun mataku mulai terpejam, tak kuasa
bagiku untuk terus menahan beratnya mataku, kini aku benar – benar larut di dalam tidurku.
Yuki
menyapaku, dan bersiap mengajakku untuk
bertualang lagi, sebuah pemandangan
sekolah yang indah di depanku, sebuah
halaman sekolah yang begitu luas dan penuh dengan pepohonan, wanita muda itu lagi – lagi berdiri dengan
malu, entah apa yang membuatnya
malu, padahal dia begitu cantik dan
menawan, bahkan dengan paras secantik
itu, seharusnya tak ada rasa malu
baginya untuk bertemu dengan siapapun.
Pelan
– pelan wanita muda itu berjalan mengendap membawa seikat bunga, berjalan menuju kepada seorang pria yang
sedang duduk sendiri. Belum selesai aku dengan cerita mimpiku, lagi – lagi aku harus terbangun, lagi – lagi adikku membangunkanku dengan cara
yang bagiku sungguh tidak sopan, dia
memukulkan sapu lidi ke tubuhku, aku
yang terkejut, langsung melompat begitu
saja dari tempat tidurku.
“ Mau sekolah enggak ? “ Tanya
adikku dengan nada tinggi.
Aku
yang terkejut, langsung melihat jam
dinding dikamarku, dan benar saja, waktu sudah menunjukkan jam setengah tujuh
pagi, sedangkan sebelum jam tujuh aku
sudah harus sampai di sekolah, tanpa
banyak bicara aku langsung mandi dan bersiap – siap berangkat ke sekolah.
Pagi
itu Rian sudah menungguku di depan halaman rumahku, dia menungguku sejak jam 6 pagi, saat aku keluar rumah, aku terkejut melihatnya yang sudah bersiap di
depan rumahku.
“ Tumben nih tuan putri bangunnya
siang banget.” Ucap Rian sambil meledekku
“ Capek tahu, oia, kamu sudah lama disini tadi ?” tanyaku kepada Rian
“ Enggak kog, baru jam 6 tadi aku sampai disini.” Jawab
Rian sambil melihat jam tangannya
“ Eh, itu udah lama tahu, maaf ya
Yan, sudah buat kamu menunggu.”
“ Iya udah, ayo buruan, ntar kamu telat beneran lho Lin.”
Tanpa
basa – basi lagi, segera aku membonceng
dan memakai helmku, dengan secepat kilat
Rian mengantarku menuju ke sekolah.
“ Yan, makasih ya sudah mau nganterin aku.”
“ Iya, sama – sama Lin, selagi bensin masih ada, aku pastikan bisa nganterin kamu kemana aja.”
” Oh iya Yan, nanti sepulang sekolah ada yang ingin aku
bicarakan sama kamu.”
__ADS_1
Rian
memandangku penuh dengan Tanya, lalu
tanpa jawaban yang keluar dari mulutnya, dia menganggukkan kepalanya sembari pergi meninggalkanku.
Silvy
berlari histeris ke arahku, entah setan
apa yang merasukinya.
“ Kamu kenapa Sil ? kesambet ya ?”
“ Eh kamu tau nggak Lin, besok minggu kita semua mau datang jadi
supporter kamu lho.”
“ Suporter apa Sil ? emang siapa yang lagi main sepak bola ?”
“ Bukan sepak bola Lin, tapi supporter buat audisi kamu jadi idol
group Lin.”
“ Pokoknya kamu harus jadi idol group
Lin.”
“ Ah, ngaco kamu Sil, dah lah, yuk kita masuk.”
Hari
ini adalah pelajaran kesenian, ibu Ghea
membagi tempat duduk kami sesuai dengan kelompok kami, Monic duduk di sebelahku, sedangkan Silvy berada bersama dengan
kelompok yang lain.
“ Baik anak – anak sekalian, kali ini kita akan belajar seni musik.”
“ Dan hari ini kita akan belajar
instrument drum.”
“ Kita akan menuju ke lab musik, dan kalian tetap duduk sesuai dengan kelompok
kalian masing – masing.”
Kami
semua berjalan beriringan menuju ke laboratorium musik sekolah kami, lab musik sekolah kami tergolong
komplit, karena hamper semua instrument
dari yang tradisional sampai yang modern.
Bu
Ghea kemudian memberikan pelajaran pertamanya, mengenai tehnik memainkan drum dengan baik dan benar, tanpa banyak bicara, Bu Ghea lantas menunjukkan kebolehannya dalam
memainkan drum, betapa luar biasanya
permainan drum Bu Ghea, hingga membuat
Zahri yang merupakan pemain drum di kelas kami, secara spontan berdiri dan memberikan standing applause kepada Bu Ghea.
Bu
Ghea kemudian menyuruh kami satu persatu, untuk mencoba memukul drum berdasarkan pada tempo yang sudah di atur
oleh Bu Ghea sendiri.
Kini
tiba giliranku untuk mencoba, dengan
ragu – ragu aku memainkan stick drum, sehingga suaranya menjadi tidak enak di dengar, kemudian Bu Ghea mendatangiku, dan memberikanku sebuah tips, untuk memikirkan sesuatu yang bisa
membangkitkan emosiku, entah apa yang
bisa membangkitkan emosiku, sejenak aku
berusaha memikirkan sesuatu.
Tanpa
sengaja, Adit melintas melewati
laboratorium musik, dan tiba – tiba aku
merasakan sesuatu yang membangkitkan emosiku, tiba – tiba saja tanpa ragu aku memainkan stick drumku dengan
lepas, pukulan – pukulan yang ku
hentakkan di atas senar drum, seolah
memiliki jiwa dan rasa yang hidup begitu saja, Bu guru terus memberikanku semangat, dan teman – teman sekelasku seolah ikut terlarut dalam permainan Drumku.
Lesatan
semangat itu terus aku rasakan, dalam
fikiranku mulai muncul sebuah cerita yang entah darimana asalnya, seolah menggambarkan bagaimana emosi yang
__ADS_1
dirasakan oleh Adit, dan itu berhasil menginspirasiku, makin lama permainan drumku mulai tidak
beraturan, beriringan dengan emosi yang
mulai memudar, tiba – tiba badanku
terasa begitu lemas.
Bu
guru langsung menahan tubuhku yang mulai roboh, akupun langsung di bawa ke Uks sekolah, Silvy dan Monic memapah tubuhku yang sudah lemas tak berdaya, aku teringat kalau tadi pagi sebelum
berangkat sekolah, aku lupa belum
sarapan, pantas saja setelah memainkan
drum dengan emosi yang meledak – ledak, badanku langsung terasa lemah tak berdaya.
Saat
aku mulai bangkit tersadar, Bapak Kepala
sekolah berada di ruang Uks, beliau
menanyakan bagaimana kondisiku, beliau
begitu khawatir dengan kondisiku, karena
bagaimanapun juga aku akan membawa nama baik sekolah dalam seleksi idol group.
Bu
Ghea mengatakan kepadaku, kalau aku
punya bakat bermain drum, dan itu bisa
menjadi salah satu asetku di masa depan.
“ Pukulan Drum kamu begitu lepas
Lin, begitu bertenaga dan seolah
memiliki jiwa.”
“ Ibu tidak pernah melihat
sebelumnya, seseorang yang sedang belajar
bermain drum untuk pertama kali, bisa
memiliki kemampuan bermain seperti itu.”
“ Ibu salut sama kamu, teruskan ya Lin bakat kamu, ibu yakin suatu saat nanti, kamu bisa menjadi seorang musisi yang hebat.” Puji Bu Ghea kepadaku.
“ Ah terima kasih bu atas
pujiannya, tapi aku tidak sehebat
seperti yang ibu katakan.”
Silvy
dan Monic datang membawakanku jus buah, serta membawakanku semangkuk bakso dari kantin.
“ Nih Lin, dimakan ya Lin, biar kamu cepat sembuh.” Ucap
Monic kepadaku.
“ Terima kasih ya Sil, Mon, kalian memang sahabatku yang luar biasa.”
Segera
aku menghabiskan bakso dan jus buah yang di bawakan oleh mereka, aku makan begitu lahap, karena memang aku benar – benar merasa lapar.
Bel
pulang sekolah berbunyi, segera aku
bereskan buku – bukuku kedalam tas, dan
kubuka ponselku untuk menelpon Rian, namun entah kenapa telponnya tidak aktif, aku coba beberapa kali dan hasilnya masih
sama saja, telponnya tidak aktif.
“ Ah, mungkin batrenya habis, aku
tunggu di depan sekolah sajalah.” Ucapku sambil berjalan
menuju ke depan sekolah.
Silvy
dan Monic datang menghampiriku yang sedang menunggu Rian di depan sekolah,
mereka mengajakku untuk pulang bersama, namun aku menolaknya, karena aku
sudah ada janji dengan Rian.
Tak
terasa sudah dua jam lebih ku menunggunya, aku coba lagi untuk menelponya, namun tetap saja teleponya masih belum aktif, aku mulai merasa cemas dan khawatir, apakah dia baik – baik saja, atau memang dia lupa.
Tiba
__ADS_1
– tiba saja Tiara datang untuk menjemputku.