
Lonceng
jam berbunyi, waktu kini menunjukkan
lewat tengah malam, kini aku dan rasa
penasaranku semakin menjadi - jadi, perlahan kubuka ponselku dan ku cari nomer telepon Rian, antara iya dan tidak aku harus
menghubunginya.
‘
Siapa wanita itu, kenapa Rian harus
seperti itu saat aku menjawab pertanyaanya.’ Gumamku di dalam hati, semua rasa itu berputar – putar membuatku
sulit memejamkan waktu.
Mentari pagi menyambut, kali ini aku terpaksa
minta tolong kakakku untuk mengantarkanku ke sekolah, karena pagi ini aku bangun terlambat tidak
seperti biasanya, rasa penasaran ini
benar benar telah meracuni pikiranku.
Di
persimpangan jalan, sebuah motor sport
berwarna merah berdiri tepat di samping jendela mobilku, pengendara itu membuka kaca helmnya dan
terkejutlah aku, ternyata dia adalah
Rian, ingin ku sapa namun aku ragu, aku takut nanti akan terjadi kejadian aneh diluar
dugaanku lagi. Kuputuskan untuk berpura pura tidak tahu saja.
Aku
harus bertemu dengan Tiara, itu hal yang
akan aku lakukan hari ini, setidaknya
aku bisa sedikit memahami apa yang sebenarnya terjadi.
“ Hai Lin, kamu kenal Rian sudah lama ?” tiba
tiba Silvy bertanya kepadaku dari arah belakang
“ Ah enggak Sil, aku baru kenal juga sama dia, emang kenapa ?”
“ Oh iya, nanti sepulang sekolah, ajak aku bertemu dengan Tiara dong Sil” aku
menyambung jawabanku
“ Oh aku kira kamu sudah kenal
lama, kaget saja kemarin kamu bisa jalan
bareng ke kantin sama dia “
“ Boleh, nanti sepulang sekolah ya “ jawab
Silvy.
Kamipun
bergegas masuk kedalam kelas, hari ini
adalah pelajaran seni, kelas kami
kedatangan guru baru namanya adalah Ibu Ghea, dia adalah seorang guru yang masih muda, parasnya cantik dan bersih, rambutnya terurai panjang dan membuat semua
siswa dan siswi tak henti terpana memandangnya, dan hal yang membuat kami begitu takjub adalah beliau seorang musisi orchestra pemain biola, tentu hal ini
adalah sesuatu luar biasa bagi kami, tak segan –
segan beliau menunjukkan keahliannya dalam memainkan biolanya, tentu hal ini membuat kami merasa sangat
takjub kepada beliau.
Hari
itu Bu Ghea memberikan tugas kepada kami untuk membuat kelompok musik, Bu Ghea membagi kami menjadi beberapa
kelompok, aku dan Monic menjadi satu
kelompok bersama Daryl, Yulia dan Annet.
Sementara
Silvy kali ini bukan satu kelompok denganku, namun dia terlihat memohon kepada Bu Ghea untuk menjadi satu kelompok
bersamaku, tentu saja permohonan itu di
tolak oleh Bu Ghea, menurut beliau semua
kelompok sama saja.
Bel
istirahat berbunyi, kurapikan buku –
buku pelajaranku dan mulai kumasukkan kedalam tas, tiba – tiba saja ponselku berdering, terdengar suara Adit lewat telepon mengajakku
untuk bertemu di depan bekas perpustakaan belakang sekolah, aku bergegas memanggil Silvy dan mengajaknya
kesana untuk menemui Adit.
Betapa
terkejutnya kami, saat mendapati suasana
yang telah di sulap sangat berbeda seperti biasanya, kali ini bekas perpustakaan belakang sekolah
di hiasi oleh bunga bunga yang cantik dan indah, Adit dan teman – temannya sudah menunggu
kedatanganu disana.
Silvy
nampak takjub dan kebingungan dengan suasana yang dia lihat di depan matanya.
“ Wow luar biasa sekali tempat
ini, siapa yang telah merubah dan
menghiasinya ?” Tanya Silvy ke Adit.
Adit
__ADS_1
tersenyum sembari memberi isyarat kepada salah seorang temannya yang berada di
balik salah satu hiasan bunga untuk mulai memainkan irama musik klasik lewat
alunan biola yang begitu indah.
“ Semua ini aku sengaja persiapkan
untukmu Lin.” Jawab Adit dengan wajah penuh kebahagiaan.
Aku
pun terkejut bukan main, bingung
bercampur bahagia bersatu menjadi satu, sementara Silvy mulai menampakkan raut wajah cemburu mendengar ucapan
Adit
“ Entah apa maksud kamu Adit, aku bingung dengan semua ini.” Jawabku
sambil menatap bingung kepada Silvy.
Adit
mendekat dan mulai memegang tanganku, sembari berucap “ Aku ingin
mengutarakan perasaanku kepadamu Lin, sudah lama aku menyukaimu, maukah
engkau menjadi kekasihku.”
Aku
pun semakin tak karuan mendengar ucapan Adit, bingung, tak enak hati dengan
Silvy karena aku tahu Silvy lah yang mengharap kata – kata itu keluar dari
Adit. Silvy memandangku dengan wajah penuh cemburu dan amarah, kini matanya benar – benar memerah dan mulai
mengeluarkan air mata seolah tak percaya bahwa aku sahabatnya telah mengkhianatinya, padahal tidak ada sedikitpun rasa untuk aku
menaruh hati kepada Adit apalagi untuk mengkhianati sahabat terbaikku Silvy.
“ Maaf Adit, aku tidak bisa menerima semua ini, kuharap kamu bisa mengerti.” Jawabku
kepadanya sembari aku memegang tangan Silvy dengan erat.
“ Terimalah dia Lin, buatlah dia bahagia.” Ucap
Silvy kepadaku sambil tersenyum kecut
Tentu
saja hal ini tidak bisa aku terima begitu saja, karena bagaimanapun juga aku memang tidak memiliki perasaan apapun
kepada Adit, penasaranku masih untuk
Rian.
Tanpa
berbasa basi, akupun meninggalkan Adit
dan mengajak Silvy untuk berpaling pergi menuju ke ruang kelas kami.
“ Maafkan aku Sil, aku benar – benar tidak mengerti akan apa
yang terjadi pada Adit, sungguh aku
berusaha menjelaskan apa yang aku rasakan kepada Silvy.
Silvy
menganggukkan kepalanya berusaha untuk benar – benar memahami apa yang aku rasakan, “ Aku
berusaha jujur kepadamu Sil, kalau aku
saat ini sedang penasaran dengan Rian.” Silvy pun terkejut mendengar
ucapanku
Aku
pun memeluk Silvy dengan erat, karena
aku tidak mau kehilangan sahabat terbaik seperti Silvy.
Adit
berusaha menyusul kami ke kelas, dan
masih ingin berusaha memintaku untuk mau menjadi kekasihnya
“ Maaf Adit, jangan kamu menaruh hati kepadaku, karena Silvy lebih menyukaimu daripada aku.” Jawabku
untuk lebih meyakinkan Adit.
“ Siapakah laki – laki beruntung yang
nanti akan bisa menaklukkan hatimu Lin.” Akupun hanya
tersenyum dan menunduk seraya berpaling meninggalkan Adit
Hati
Adit seolah hancur mendengar jawabku, namun memang itulah yang aku rasakan, lebih baik menyakitinya daripada aku harus membohongi perasaanya dan
menyakiti Silvy.
Sesuai
dengan janji Silvy kepadaku, siang itu
sepulang sekolah aku menuju ke sekolah Rian bersama Silvy.
Tiara
sudah menunggu kami di depan pintu gerbang sekolahan, namun lagi lagi aku melihat perempuan yang
sama dengan yang ku lihat sebelumnya, perempuan itu melihat ke arahku dan tersenyum manis, sungguh cantik perempuan itu, setelah melambaikan tangan ke arahku
perempuan itu bergegas masuk ke sekolah Rian dengan ekspresi yang bahagia. Aku
tertegun sejenak dan tak memperdulikan Tiara yang sedari tadi mengajakku
bicara.
“ Hey kenapa engkau bengong seperti
itu, kayak lihat apa aja sih kamu.” Tegur
Tiara kepadaku
__ADS_1
“ Eh nggak ada apa apa kog, aku tadi Cuma lihat ada perempuan cantik di
gerbang sekolahan melambaikan tangan kepadaku.” Jawabku
Tiara
dan Silvy saling berpandangan satu sama lain kebingungan mendengar penjelasanku.
“ Emmmm, bolehkah aku mengganggumu sebentar
Tiara, aku ingin berbicara penting
denganmu.” Tanyaku kepada Tiara
“ Kalau boleh tahu tentang apa Lin ?”
Akupun
bingung harus bilang apa kepada Tiara, mungkin ini terlalu terburu buru atau memang ini sudah waktunya untuk
aku berbicara
“ Begini Ra, aku ingin bertanya tentang
Rian, karena ada sesuatu hal yang
membuatku menjadi bertanya – Tanya dan mengganggu dalam hidupku akhir – akhir
ini.”
Dengan
tatapan tajam Tiara memandangku
“ Bukankah aku sudah pernah bilang
kepadamu, dia adalah batu karang, jangan dekati dia atau kau akan terluka.” Ucap
Tiara meyakinkan
“ Aku hanya ingin tahu, siapa nama perempuan yang dekat dengan Rian
?” Tanyaku
kepadanya.
“ Aku tidak tahu Lin dia dekat dengan
siapa, yang aku tahu dia hanya mencintai
seorang wanita dan wanita itu telah tiada setahun yang lalu.” Terang
Tiara
Penjelasan
Tiara tiba – tiba membuatku menjadi merinding, mulai terbayang wajah perempuan yang bersama Rian kemarin dan yang tadi
melambaikan tangan kepadaku.
Tiara
kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Rian dengan almarhum
kekasihnya yang tersimpan di ponselnya. Betapa terkejutnya aku, bahwa wanita itu benar – benar wanita yang
aku lihat bersama Rian kemarin dan wanita yang melambaikan tangan tadi
kepadaku.
“ Ka kamu serius Ra, apakah wanita ini sudah meninggal ?” tanyaku
dengan gelagapan
“ Iya Lin, namanya Yuki, dia adalah kekasih Rian sejak mereka masih Smp dulu.”
“ Ceritanya panjang Lin, yang pasti sejak meninggalnya Yuki, Rian menjadi seseorang yang benar benar suka
menyendiri.” Tambah Tiara menjelaskan kepadaku
Penjelasan
dari Tiara cukup membuatku terkejut, karena aku benar benar melihat sosok mirip dengan almarhum Yuki berada
di sisi Rian.
Tak
lama kemudian Tiara meminta Rian untuk menemuiku, karena Tiara tak ingin terlalu ikut campur
dengan urusan pribadi yang menyangkut Rian.
Rian
datang menghampiriku dengan gayanya yang benar – benar dingin, dia memegang tanganku dan membawa aku ke
suatu tempat di belakang sekolah, disana
dia menunjukkan tempat duduk yang bertuliskan nama Rian dan Yuki terpampang
dengan jelas, dan saat itupun aku benar
benar melihat Yuki berdiri di dekat tempat duduk itu tersenyum padaku.
Aku
mulai merasa ketakutan dan ingin berlari menjauh, namun Rian memegangi tanganku dengan erat dan
melarang aku untuk pergi, dia mengatakan
kepadaku untuk tetap tenang, karena apa
yang aku lihat adalah benar – benar Yuki yang telah tiada.
“ Hanya orang – orang tertentu yang
bisa melihat arwah orang yang meninggal.” Tegas Rian
“ Dekatilah dia, dan katakanlah apa yang ingin kamu katakana.” Imbuh
Rian kepadaku
Akupun
menganggukkan kepalaku dengan sedikit keraguan aku melangkah mendekati Yuki
yang berada di depanku, Yuki tersenyum
melihatku dengan penuh keramahan dia memegang tanganku yang terasa begitu
dingin, bahkan lebih dingin dari es.
__ADS_1