CINTA YANG SEPERTI INI

CINTA YANG SEPERTI INI
Bab 4 Gadis itu bernama Yuki


__ADS_3

Lonceng


jam berbunyi,  waktu kini menunjukkan


lewat tengah malam,  kini aku dan rasa


penasaranku semakin menjadi - jadi,  perlahan kubuka ponselku dan ku cari nomer telepon Rian,  antara iya dan tidak aku harus


menghubunginya.



Siapa wanita itu,  kenapa Rian harus


seperti itu saat aku menjawab pertanyaanya.’ Gumamku di dalam hati,  semua rasa itu berputar – putar membuatku


sulit memejamkan waktu.


Mentari pagi menyambut,  kali ini aku terpaksa


minta tolong kakakku untuk mengantarkanku ke sekolah,  karena pagi ini aku bangun terlambat tidak


seperti biasanya,  rasa penasaran ini


benar benar telah meracuni pikiranku.


Di


persimpangan jalan,  sebuah motor sport


berwarna merah berdiri tepat di samping jendela mobilku,  pengendara itu membuka kaca helmnya dan


terkejutlah aku,  ternyata dia adalah


Rian,  ingin ku sapa namun aku ragu,  aku takut nanti akan terjadi kejadian aneh diluar


dugaanku lagi. Kuputuskan untuk berpura pura tidak tahu saja.


Aku


harus bertemu dengan Tiara,  itu hal yang


akan aku lakukan hari ini,  setidaknya


aku bisa sedikit memahami apa yang sebenarnya terjadi.


“ Hai Lin,  kamu kenal Rian sudah lama ?” tiba


tiba Silvy bertanya kepadaku dari arah belakang


“ Ah enggak Sil,  aku baru kenal juga sama dia,  emang kenapa ?”


“ Oh iya,  nanti sepulang sekolah,  ajak aku bertemu dengan Tiara dong Sil” aku


menyambung jawabanku


“ Oh aku kira kamu sudah kenal


lama,  kaget saja kemarin kamu bisa jalan


bareng ke kantin sama dia “


“ Boleh,  nanti sepulang sekolah ya “ jawab


Silvy.


Kamipun


bergegas masuk kedalam kelas,  hari ini


adalah pelajaran seni,  kelas kami


kedatangan guru baru namanya adalah Ibu Ghea,  dia adalah seorang guru yang masih muda,  parasnya cantik dan bersih,  rambutnya terurai panjang dan membuat semua


siswa dan siswi tak henti terpana memandangnya,  dan hal yang membuat kami begitu takjub adalah beliau seorang musisi orchestra pemain biola,  tentu hal ini


adalah sesuatu luar biasa bagi kami,  tak segan –


segan beliau menunjukkan keahliannya dalam memainkan biolanya,  tentu hal ini membuat kami merasa sangat


takjub kepada beliau.


Hari


itu Bu Ghea memberikan tugas kepada kami untuk membuat kelompok musik,  Bu Ghea membagi kami menjadi beberapa


kelompok,  aku dan Monic menjadi satu


kelompok bersama Daryl,  Yulia dan Annet.


Sementara


Silvy kali ini bukan satu kelompok denganku,  namun dia terlihat memohon kepada Bu Ghea untuk menjadi satu kelompok


bersamaku,  tentu saja permohonan itu di


tolak oleh Bu Ghea,  menurut beliau semua


kelompok sama saja.


Bel


istirahat berbunyi,  kurapikan buku –


buku pelajaranku dan mulai kumasukkan kedalam tas,  tiba – tiba saja ponselku berdering,  terdengar suara Adit lewat telepon mengajakku


untuk bertemu di depan bekas perpustakaan belakang sekolah,  aku bergegas memanggil Silvy dan mengajaknya


kesana untuk menemui Adit.


Betapa


terkejutnya kami,  saat mendapati suasana


yang telah di sulap sangat berbeda seperti biasanya,  kali ini bekas perpustakaan belakang sekolah


di hiasi oleh bunga bunga yang cantik dan indah,  Adit dan teman – temannya sudah menunggu


kedatanganu disana.


Silvy


nampak takjub dan kebingungan dengan suasana yang dia lihat di depan matanya.


“ Wow luar biasa sekali tempat


ini,  siapa yang telah merubah dan


menghiasinya ?” Tanya Silvy ke Adit.


Adit

__ADS_1


tersenyum sembari memberi isyarat kepada salah seorang temannya yang berada di


balik salah satu hiasan bunga untuk mulai memainkan irama musik klasik lewat


alunan biola yang begitu indah.


“ Semua ini aku sengaja persiapkan


untukmu Lin.” Jawab Adit dengan wajah penuh kebahagiaan.


Aku


pun terkejut bukan main,  bingung


bercampur bahagia bersatu menjadi satu,  sementara Silvy mulai menampakkan raut wajah cemburu mendengar ucapan


Adit


“ Entah apa maksud kamu Adit,  aku bingung dengan semua ini.” Jawabku


sambil menatap bingung kepada Silvy.


Adit


mendekat dan mulai memegang tanganku,  sembari berucap “ Aku ingin


mengutarakan perasaanku kepadamu Lin,  sudah lama aku menyukaimu,  maukah


engkau menjadi kekasihku.”


Aku


pun semakin tak karuan mendengar ucapan Adit,  bingung,  tak enak hati dengan


Silvy karena aku tahu Silvy lah yang mengharap kata – kata itu keluar dari


Adit. Silvy memandangku dengan wajah penuh cemburu dan amarah,  kini matanya benar – benar memerah dan mulai


mengeluarkan air mata seolah tak percaya bahwa aku sahabatnya telah mengkhianatinya,  padahal tidak ada sedikitpun rasa untuk aku


menaruh hati kepada Adit apalagi untuk mengkhianati sahabat terbaikku Silvy.


“ Maaf Adit,  aku tidak bisa menerima semua ini,  kuharap kamu bisa mengerti.” Jawabku


kepadanya sembari aku memegang tangan Silvy dengan erat.


“ Terimalah dia Lin,  buatlah dia bahagia.” Ucap


Silvy kepadaku sambil tersenyum kecut


Tentu


saja hal ini tidak bisa aku terima begitu saja,  karena bagaimanapun juga aku memang tidak memiliki perasaan apapun


kepada Adit,  penasaranku masih untuk


Rian.


Tanpa


berbasa basi,  akupun meninggalkan Adit


dan mengajak Silvy untuk berpaling pergi menuju ke ruang kelas kami.


“ Maafkan aku Sil,  aku benar – benar tidak mengerti akan apa


yang terjadi pada Adit,  sungguh aku


berusaha menjelaskan apa yang aku rasakan kepada Silvy.


Silvy


menganggukkan kepalanya berusaha untuk benar – benar memahami apa yang aku rasakan,  “ Aku


berusaha jujur kepadamu Sil,  kalau aku


saat ini sedang penasaran dengan Rian.” Silvy pun terkejut mendengar


ucapanku


Aku


pun memeluk Silvy dengan erat,  karena


aku tidak mau kehilangan sahabat terbaik seperti Silvy.


Adit


berusaha menyusul kami ke kelas,  dan


masih ingin berusaha memintaku untuk mau menjadi kekasihnya


“ Maaf Adit,  jangan kamu menaruh hati kepadaku,  karena Silvy lebih menyukaimu daripada aku.” Jawabku


untuk lebih meyakinkan Adit.


“ Siapakah laki – laki beruntung yang


nanti akan bisa menaklukkan hatimu Lin.” Akupun hanya


tersenyum dan menunduk seraya berpaling meninggalkan Adit


Hati


Adit seolah hancur mendengar jawabku,  namun memang itulah yang aku rasakan,  lebih baik menyakitinya daripada aku harus membohongi perasaanya dan


menyakiti Silvy.


Sesuai


dengan janji Silvy kepadaku,  siang itu


sepulang sekolah aku menuju ke sekolah Rian bersama Silvy.


Tiara


sudah menunggu kami di depan pintu gerbang sekolahan,  namun lagi lagi aku melihat perempuan yang


sama dengan yang ku lihat sebelumnya,  perempuan itu melihat ke arahku dan tersenyum manis,  sungguh cantik perempuan itu,  setelah melambaikan tangan ke arahku


perempuan itu bergegas masuk ke sekolah Rian dengan ekspresi yang bahagia. Aku


tertegun sejenak dan tak memperdulikan Tiara yang sedari tadi mengajakku


bicara.


“ Hey kenapa engkau bengong seperti


itu,  kayak lihat apa aja sih kamu.” Tegur


Tiara kepadaku

__ADS_1


“ Eh nggak ada apa apa kog,  aku tadi Cuma lihat ada perempuan cantik di


gerbang sekolahan melambaikan tangan kepadaku.” Jawabku


Tiara


dan Silvy saling berpandangan satu sama lain kebingungan mendengar penjelasanku.


“ Emmmm,  bolehkah aku mengganggumu sebentar


Tiara,  aku ingin berbicara penting


denganmu.” Tanyaku kepada Tiara


“ Kalau boleh tahu tentang apa Lin ?”


Akupun


bingung harus bilang apa kepada Tiara,  mungkin ini terlalu terburu buru atau memang ini sudah waktunya untuk


aku berbicara


“ Begini Ra, aku ingin bertanya tentang


Rian,  karena ada sesuatu hal yang


membuatku menjadi bertanya – Tanya dan mengganggu dalam hidupku akhir – akhir


ini.”


Dengan


tatapan tajam Tiara memandangku


“ Bukankah aku sudah pernah bilang


kepadamu,  dia adalah batu karang,  jangan dekati dia atau kau akan terluka.” Ucap


Tiara meyakinkan


“ Aku hanya ingin tahu,  siapa nama perempuan yang dekat dengan Rian


?” Tanyaku


kepadanya.


“ Aku tidak tahu Lin dia dekat dengan


siapa,  yang aku tahu dia hanya mencintai


seorang wanita dan wanita itu telah tiada setahun yang lalu.” Terang


Tiara


Penjelasan


Tiara tiba – tiba membuatku menjadi merinding,  mulai terbayang wajah perempuan yang bersama Rian kemarin dan yang tadi


melambaikan tangan kepadaku.


Tiara


kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Rian dengan almarhum


kekasihnya yang tersimpan di ponselnya. Betapa terkejutnya aku,  bahwa wanita itu benar – benar wanita yang


aku lihat bersama Rian kemarin dan wanita yang melambaikan tangan tadi


kepadaku.


“ Ka kamu serius Ra,  apakah wanita ini sudah meninggal ?” tanyaku


dengan gelagapan


“ Iya Lin,  namanya Yuki,  dia adalah kekasih Rian sejak mereka masih Smp dulu.”


“ Ceritanya panjang Lin,  yang pasti sejak meninggalnya Yuki,  Rian menjadi seseorang yang benar benar suka


menyendiri.” Tambah Tiara menjelaskan kepadaku


Penjelasan


dari Tiara cukup membuatku terkejut,  karena aku benar benar melihat sosok mirip dengan almarhum Yuki berada


di sisi Rian.


Tak


lama kemudian Tiara meminta Rian untuk menemuiku,  karena Tiara tak ingin terlalu ikut campur


dengan urusan pribadi yang menyangkut Rian.


Rian


datang menghampiriku dengan gayanya yang benar – benar dingin,  dia memegang tanganku dan membawa aku ke


suatu tempat di belakang sekolah,  disana


dia menunjukkan tempat duduk yang bertuliskan nama Rian dan Yuki terpampang


dengan jelas,  dan saat itupun aku benar


benar melihat Yuki berdiri di dekat tempat duduk itu tersenyum padaku.


Aku


mulai merasa ketakutan dan ingin berlari menjauh,  namun Rian memegangi tanganku dengan erat dan


melarang aku untuk pergi,  dia mengatakan


kepadaku untuk tetap tenang,  karena apa


yang aku lihat adalah benar – benar Yuki yang telah tiada.


“ Hanya orang – orang tertentu yang


bisa melihat arwah orang yang meninggal.” Tegas Rian


“ Dekatilah dia,  dan katakanlah apa yang ingin kamu katakana.” Imbuh


Rian kepadaku


Akupun


menganggukkan kepalaku dengan sedikit keraguan aku melangkah mendekati Yuki


yang berada di depanku,  Yuki tersenyum


melihatku dengan penuh keramahan dia memegang tanganku yang terasa begitu


dingin,  bahkan lebih dingin dari es.

__ADS_1


__ADS_2