
Bergegas
kami menurunkan beberapa perbekalan kami, Silvy tampak begitu kelelahan, aku segera memberinya segelas air, sedangkan Farhan menyalakan lampu darurat sebagai penerangan, Rian melarang kami membuat perapian, karena menurutnya, kita tidak akan berlama – lama beristirahat
di tempat ini.
Tak lama kemudian, tampak dari kejauhan sorot – sorot lampu senter mulai
menyerawang, rombongan pendaki yang lain tiba
di tempat kami beristirahat, mereka
berjumlah 6 orang.
Rian
menyambut mereka dengan suka cita, kelompok pendaki itupun juga mengatakan hal yang sama, bahwa mereka telah berjam – jam berjalan
berputar – putar di tempat yang sama, akhirnya Rian memutuskan untuk kami membuat kemah di tempat ini bersama
dengan rombongan pendaki yang lain.
Farhan
dan Agnes sibuk membuat perapian, Diyar
dan Yuli sibuk membuat tenda, Silvy dan
Adit mencari air di sungai, yang tidak
jauh dari tempat kami mendirikan tenda, Ken dan Monica sibuk menaburi garam di sekitar tempat perkemahan, Vera
dan Gerry mempersiapkan peralatan memasaknya, Tiara dan aku duduk dan mengamankan ransel yang berisi penuh perbekalan
kami, sedangkan Rian dan Siro sedang
sibuk memetakan arah jalan selanjutnya.
Suasana
malam itu sungguh dingin sekali, mungkin
karena aku yang baru pertama pergi mendaki gunung. Air sudah matang, perapian sudah jadi, kini kami berkumpul mengelilingi perapian
yang kami buat, ketua rombongan dari tim
pendaki yang baru saja tiba itu bernama Gana, dia dan lima orang lainnya mengaku bahwa hamper empat jam mereka hanya
berputar – putar di tempat yang sama.
Diantara
kelompok pendaki itu, ada dua orang
wanita, mereka adalah Lyla dan
Janet, wajah mereka tampak begitu dingin
pucat dan pasi, Agnes mencoba mengajak
ngobrol mereka, namun sorot mata mereka
begitu kosong, membuat Agnes menjadi
merinding ketakutan.
“ Lin, coba lihat wajah dua pendaki itu, seram banget wajahnya.” Ucap
Agnes membisikiku
“ Hush, jangan ngomong aneh – aneh deh Nes, ini kita lagi ada di gunung, kita harus ngejaga
ucapan dan fikiran kita tau.” Ucapku mengingatkan
Agnes, walaupun aku sendiripun juga
merasa merinding kalau ngelihat wajah dua pendaki itu.
“ Okey, bagaimana kalau kita menyanyi bersama.” Ucap
Ken sambil mengeluarkan ukulelenya.
“ Ide bagus itu.” Sambung
Monica menambahkan.
Ken
mulai memainkan ukulelenya, memecah
keheningan malam itu, semua mulai ikut
menyanyi, bahkan Janet yang sedari tadi
hanya diam memucat, kini mulai
menampakkan cahya di wajahnya, dan mulai
ikut menyanyi, disusul oleh Lyla yang
ternyata memiliki suara yang sangat merdu, membuat Agnes yang tadinya merinding ketakutan berubah menjadi begitu kagum kepada Lyla.
Rian
kini tampak begitu lega, jauh berbeda
dengan tadi saat kami harus berputar – putar mencari jalan yang benar, seolah dia telah menemukan jalan yang benar
akan jalur pendakian kita.
Malam
semakin larut, beberapa dari kami sudah
mulai merasakan ngantuk yang sangat. Gerry menganjurkan kepada kami semua untuk
beristirahat, karena besok pagi – pagi
sekali kita semua akan melanjutkan perjalanan.
Demikian
juga dengan Rian, yang menganjurkan kami
semua untuk beristirahat, aku, Monica
dan Silvy langsung menuju ke tenda kami, karena kami berada dalam satu tenda yang sama.
Malam
semakin larut, dan rasa dingin semakin menusuk
__ADS_1
ke tulang, sulit bagiku untuk bisa
memejamkan mata, perlahan aku buka
ponselku, dan tidak ada sinyal yang
tertangkap oleh ponselku, akhirnya aku
putuskan untuk mencari headsetku dan mendengarkan mp3 offline di ponselku, saat aku sibuk membongkar ranselku untuk
mencari headsetku, secara tidak sengaja
aku melihat Adit dan Rian sedang berbincang di luar tenda.
Aku
yang merasa penasaran, dengan sengaja
berusaha menguping apa yang mereka sedang bicarakan. mulai samar – samar terdengar apa yang mereka
bicarakan.
“ Kak
Rian, apa benar perasaanmu kepada Alina
?” Tanya Adit kepada Rian.
“ Apa maksud kamu Dit ?” Tanya
Rian
“ Sungguh kak, aku jatuh cinta kepada Alina, dan kuharap perasaan kakak kepada Alina
hanyalah sebatas teman.”
“ Adit, seharusnya engkau tanyakan sendiri kepada
Alina, bagaimana perasaannya kepadamu
dan kepadaku, karena aku tidak bisa
memaksakan perasaan seseorang.”
“ Tapi apakah kakak lupa dengan
Yuki, apakah kakak lupa dengan janji
kakak untuk tidak akan jatuh cinta lagi.” Sambung Adit
merengek kepada Rian
Aku
benar – benar terkejut, ketika Adit
memanggil Rian dengan sebutan kakak, apakah mungkin Rian adalah kakaknya Adit, ataukah hanya itu sebuah sebutan saja.
“ Jika memang Alina memang mempunyai
perasaan kepadamu, maka kakak akan
ikhlas merelakannya untukmu.”
“ Jika memang itu yang kakak
mau, maka jawabanya Alina pasti belum
punya perasaan kepadaku, karena kakak
“ Namun jika kakak tetap memilih
bersama Alina, maka kakak telah
mengecewakan Yuki.”
Rian
kini berdiri dan memandang Adit dengan tatapan tajam.
“ Apa yang engkau tahu, engkau tidak tahu apa – apa Dit, hanya aku dan Yuki yang tahu.”
Seraya
meninggalkan Adit sendirian mematung di luar tenda, Rian kini beranjak pergi menuju ke dalam
tendanya.
Aku
yang mendengar dan melihat percakapan mereka dari balik tenda, hanya bisa diam dan memikirkan tentang
perasaanku sendiri kepada Rian, apakah
benar aku telah jatuh cinta kepada Rian, ataukah ini hanya sebuah rasa penasaran, yang aku sendiri tidak tahu pasti.
Lambat
laun, mataku terasa berat, dan akhirnya akupun tertidur.
Tak
terasa waktu terus berjalan, rencana
kami yang akan melanjutkan perjalanan saat subuh, terpaksa harus tertunda, karena kami semua bangun kesiangan, tak terkecuali dengan Gana dan kelompoknya.
Matahari
mulai meninggi, Monica segera
membangunkan aku dan Silvy dengan kasar, sesegera dia membereskan barang – barangnya ke dalam ransel, begitupun dengan yang lainnya yang nampak
begitu terburu – buru.
“ Woy bangun !” teriak
Monica kepadaku yang masih tertidur pulas, begitupun dengan Silvy.
“ Apa sih Mon, berisik amat sih kamu.” Jawab
Silvy
“ Iya nih, sakit tau telingaku, pelan – pelan aja kenapa.” Sambungku
“ Woy udah jam berapa ini lihat, udah jam 7 tau.” Terang
Monica sambil melihat jam tangannya
Kamipun
langsung melihat jam tangan kami masing – masing, tentu saja aku terkejut bukan main, langsung aku melompat dari tidurku, dan segera membereskan semua barang –
__ADS_1
barangku ke dalam ransel.
Rian
sudah bersiap dengan perlengkapanya di depan tenda kami, sambil membawa secangkir kopi susu
panas, dia menyambutku dan menawariku
secangkir kopi susu panas yang sudah dia siapkan sebelum aku terbangun, aku begitu malu dengannya, seharusnya perempuan itu lebih rajin daripada
laki – laki, bukannya laki – laki yang
lebih rajin daripada perempuan, pikirku
sambil menyeruput kopi susu buatan Rian.
Silvy
dan Monica tampak begitu cemburu melihat perlakuan istimewa Rian kepadaku, tapi justru aku malah merasa bangga dan
bahagia melihat mereka cemburu.
Sesaat
kemudian kami sudah siap melanjutkan perjalanan, kali ini Gana dan Rian berada di depan
memimpin rombongan kami.
Tepat
di depan kami kini menjulang sebuah tebing yang tidak terlalu tinggi namun
cukup curam, setelah berunding cukup
lama, akhirnya kami memutuskan untuk
memanjat tebing itu, daripada kami harus
memutar arah, dan mungkin saja kami akan
tersesat kembali untuk kedua kalinya.
Aku,
Silvy dan Monic saling berpandangan, karena kami memang tidak punya pengalaman dalam hal panjat memanjat
tebing, Tiara yang begitu trampil, langsung saja menjadi orang pertama yang
mendaki, disusul Vera yang memang
seorang pecinta alam.
Sementara
itu Rian mendatangiku dan mengajarkan aku beberapa dasar memanjat tebing, yang menurutku tidak terlalu sulit untuk di
fahami.
Adit
mengajari Silvy, sedangkan Ken mengajari
Monic, dengan segenap keberanian, Silvy mencoba pertama kali, dan ternyata dia berhasil menggapai puncak
tebing, sedangkan Monic masih terlihat
ragu – ragu untuk mencobanya, akhirnya
aku beranikan diri untuk mencoba mendakinya, dengan segenap keberanian yang aku kumpulkan, aku berhasil mendaki sampai ke atas tebing.
Akhirnya
kami semua berada di atas tebing dan besiap melanjutkan perjalanan kami. Adit berjalan disampingku
“ Capek nggak Lin ?”
“ Enggak sih, tapi lumayan pegel juga sih Dit.”
“ Mau aku gendong Lin ?”
“ Eh, emang aku anak kecil apa minta di gendong.”
“ Tapi memang kamu masih kecil
Lin, wajah kamu aja masih imut – imut
kayak anak kecil.”
“ Eh apaan sih, aku tuh kakak kelas kamu Dit.”
“Iya sih emang, tapi usia kita kan sama, bahkan lebih tua aku beberapa bulan lho Lin.”
Kamipun
saling mengobrol untuk mengusir lelah, dan pada akhirnya perjalanan kami pun sudah hamper mencapai puncak.
“ Kamu tahu nggak Lin, kenapa Rian mengajak kita mendaki di gunung
ini ?”
“ Entahlah Dit, mana aku tahu, ini saja pengalaman pertamaku naik gunung
lho.”
“ Karena beberapa tahun silam, Yuki dan Rian pernah mendaki gunung ini
berdua.”
“ Iya kah Dit ? darimana kamu bisa
tahu ?”
“ Ya iyalah, kan aku adiknya Rian, gimana sih Lin, Rian itu kakakku.”
Terkejut
aku mendengar ucapan Adit, kini benar
apa yang menjadi pertanyaanku semalam, ternyata Rian dan Adit bersaudara, pantas saja mereka berdua selalu kelihatan bersama – sama.
“ Tapi kog wajah kamu sama Rian nggak
ada mirip – miripnya ?”
“ Aku sama Rian itu bukan saudara
kandung, tapi saudara tiri.”
Tentu
ini membuatku lebih terkejut lagi, karena akhirnya kini aku tahu, bahwa Adit dan Rian adalah saudara tiri, rasa penasaranku semakin tinggi kepada Rian, kini aku semakin bingung dengan perasaanku
__ADS_1
sendiri, lagi – lagi aku bingung dengan
yang kurasa.