CINTA YANG SEPERTI INI

CINTA YANG SEPERTI INI
Bab 9 Sebuah Jawaban


__ADS_3

Bergegas


kami menurunkan beberapa perbekalan kami,  Silvy tampak begitu kelelahan,  aku segera memberinya segelas air,  sedangkan Farhan menyalakan lampu darurat sebagai penerangan,  Rian melarang kami membuat perapian,  karena menurutnya,  kita tidak akan berlama – lama beristirahat


di tempat ini.


Tak lama kemudian, tampak dari kejauhan sorot – sorot lampu senter mulai


menyerawang,  rombongan pendaki yang lain tiba


di tempat kami beristirahat,  mereka


berjumlah 6 orang.


Rian


menyambut mereka dengan suka cita,  kelompok pendaki itupun juga mengatakan hal yang sama,  bahwa mereka telah berjam – jam berjalan


berputar – putar di tempat yang sama,  akhirnya Rian memutuskan untuk kami membuat kemah di tempat ini bersama


dengan rombongan pendaki yang lain.


Farhan


dan Agnes sibuk membuat perapian,  Diyar


dan Yuli sibuk membuat tenda,  Silvy dan


Adit mencari air di sungai,  yang tidak


jauh dari tempat kami mendirikan tenda,  Ken dan Monica sibuk menaburi garam di sekitar tempat perkemahan, Vera


dan Gerry mempersiapkan peralatan memasaknya,  Tiara dan aku duduk dan mengamankan ransel yang berisi penuh perbekalan


kami,  sedangkan Rian dan Siro sedang


sibuk memetakan arah jalan selanjutnya.


Suasana


malam itu sungguh dingin sekali,  mungkin


karena aku yang baru pertama pergi mendaki gunung. Air sudah matang,  perapian sudah jadi,  kini kami berkumpul mengelilingi perapian


yang kami buat,  ketua rombongan dari tim


pendaki yang baru saja tiba itu bernama Gana,  dia dan lima orang lainnya mengaku bahwa hamper empat jam mereka hanya


berputar – putar di tempat yang sama.


Diantara


kelompok pendaki itu,  ada dua orang


wanita,  mereka adalah Lyla dan


Janet,  wajah mereka tampak begitu dingin


pucat dan pasi,  Agnes mencoba mengajak


ngobrol mereka,  namun sorot mata mereka


begitu kosong,  membuat Agnes menjadi


merinding ketakutan.


“ Lin,  coba lihat wajah dua pendaki itu,  seram banget wajahnya.” Ucap


Agnes membisikiku


“ Hush,  jangan ngomong aneh – aneh deh Nes,  ini kita lagi ada di gunung, kita harus ngejaga


ucapan dan fikiran kita tau.” Ucapku mengingatkan


Agnes,  walaupun aku sendiripun juga


merasa merinding kalau ngelihat wajah dua pendaki itu.


“ Okey,  bagaimana kalau kita menyanyi bersama.” Ucap


Ken sambil mengeluarkan ukulelenya.


“ Ide bagus itu.” Sambung


Monica menambahkan.


Ken


mulai memainkan ukulelenya,  memecah


keheningan malam itu,  semua mulai ikut


menyanyi,  bahkan Janet yang sedari tadi


hanya diam memucat,  kini mulai


menampakkan cahya di wajahnya,  dan mulai


ikut menyanyi,  disusul oleh Lyla yang


ternyata memiliki suara yang sangat merdu,  membuat Agnes yang tadinya merinding ketakutan  berubah menjadi begitu kagum kepada Lyla.


Rian


kini tampak begitu lega,  jauh berbeda


dengan tadi saat kami harus berputar – putar mencari jalan yang benar,  seolah dia telah menemukan jalan yang benar


akan jalur pendakian kita.


Malam


semakin larut,  beberapa dari kami sudah


mulai merasakan ngantuk yang sangat. Gerry menganjurkan kepada kami semua untuk


beristirahat,  karena besok pagi – pagi


sekali kita semua akan melanjutkan perjalanan.


Demikian


juga dengan Rian,  yang menganjurkan kami


semua untuk beristirahat,  aku, Monica


dan Silvy langsung menuju ke tenda kami,  karena kami berada dalam satu tenda yang sama.


Malam


semakin larut,  dan rasa dingin semakin menusuk

__ADS_1


ke tulang,  sulit bagiku untuk bisa


memejamkan mata,  perlahan aku buka


ponselku,  dan tidak ada sinyal yang


tertangkap oleh ponselku,  akhirnya aku


putuskan untuk mencari headsetku dan mendengarkan mp3 offline di ponselku,  saat aku sibuk membongkar ranselku untuk


mencari headsetku,  secara tidak sengaja


aku melihat Adit dan Rian sedang berbincang di luar tenda.


Aku


yang merasa penasaran,  dengan sengaja


berusaha menguping apa yang mereka sedang bicarakan.  mulai samar – samar terdengar apa yang mereka


bicarakan.


 “ Kak


Rian,  apa benar perasaanmu kepada Alina


?” Tanya Adit kepada Rian.


“ Apa maksud kamu Dit ?” Tanya


Rian


“ Sungguh kak,  aku jatuh cinta kepada Alina,  dan kuharap perasaan kakak kepada Alina


hanyalah sebatas teman.”


“ Adit,  seharusnya engkau tanyakan sendiri kepada


Alina,  bagaimana perasaannya kepadamu


dan kepadaku,  karena aku tidak bisa


memaksakan perasaan seseorang.”


“ Tapi apakah kakak lupa dengan


Yuki,  apakah kakak lupa dengan janji


kakak untuk tidak akan jatuh cinta lagi.” Sambung Adit


merengek kepada Rian


Aku


benar – benar terkejut,  ketika Adit


memanggil Rian dengan sebutan kakak,  apakah mungkin Rian adalah kakaknya Adit,  ataukah hanya itu sebuah sebutan saja.


“ Jika memang Alina memang mempunyai


perasaan kepadamu,  maka kakak akan


ikhlas merelakannya untukmu.”


“ Jika memang itu yang kakak


mau,  maka jawabanya Alina pasti belum


punya perasaan kepadaku,  karena kakak


“ Namun jika kakak tetap memilih


bersama Alina,  maka kakak telah


mengecewakan Yuki.”


Rian


kini berdiri dan memandang Adit dengan tatapan tajam.


“ Apa yang engkau tahu,  engkau tidak tahu apa – apa Dit,  hanya aku dan Yuki yang tahu.”


Seraya


meninggalkan Adit sendirian mematung di luar tenda,  Rian kini beranjak pergi menuju ke dalam


tendanya.


Aku


yang mendengar dan melihat percakapan mereka dari balik tenda,  hanya bisa diam dan memikirkan tentang


perasaanku sendiri kepada Rian,  apakah


benar aku telah jatuh cinta kepada Rian,  ataukah ini hanya sebuah rasa penasaran,  yang aku sendiri tidak tahu pasti.


Lambat


laun,  mataku terasa berat,  dan akhirnya akupun tertidur.


Tak


terasa waktu terus berjalan,  rencana


kami yang akan melanjutkan perjalanan saat subuh,  terpaksa harus tertunda,  karena kami semua bangun kesiangan,  tak terkecuali dengan Gana dan kelompoknya.


Matahari


mulai meninggi,  Monica segera


membangunkan aku dan Silvy dengan kasar,  sesegera dia membereskan barang – barangnya ke dalam ransel,  begitupun dengan yang lainnya yang nampak


begitu terburu – buru.


“ Woy bangun !” teriak


Monica kepadaku yang masih tertidur pulas,  begitupun dengan Silvy.


“ Apa sih Mon,  berisik amat sih kamu.” Jawab


Silvy


“ Iya nih,  sakit tau telingaku,  pelan – pelan aja kenapa.” Sambungku


“ Woy udah jam berapa ini lihat,  udah jam 7 tau.” Terang


Monica sambil melihat jam tangannya


Kamipun


langsung melihat jam tangan kami masing – masing,  tentu saja aku terkejut bukan main,  langsung aku melompat dari tidurku,  dan segera membereskan semua barang –

__ADS_1


barangku ke dalam ransel.


Rian


sudah bersiap dengan perlengkapanya di depan tenda kami,  sambil membawa secangkir kopi susu


panas,  dia menyambutku dan menawariku


secangkir kopi susu panas yang sudah dia siapkan sebelum aku terbangun,  aku begitu malu dengannya,  seharusnya perempuan itu lebih rajin daripada


laki – laki,  bukannya laki – laki yang


lebih rajin daripada perempuan,  pikirku


sambil menyeruput kopi susu buatan Rian.


Silvy


dan Monica tampak begitu cemburu melihat perlakuan istimewa Rian kepadaku,  tapi justru aku malah merasa bangga dan


bahagia melihat mereka cemburu.


Sesaat


kemudian kami sudah siap melanjutkan perjalanan,  kali ini Gana dan Rian berada di depan


memimpin rombongan kami.


Tepat


di depan kami kini menjulang sebuah tebing yang tidak terlalu tinggi namun


cukup curam,  setelah berunding cukup


lama,  akhirnya kami memutuskan untuk


memanjat tebing itu,  daripada kami harus


memutar arah,  dan mungkin saja kami akan


tersesat kembali untuk kedua kalinya.


Aku,


Silvy dan Monic saling berpandangan,  karena kami memang tidak punya pengalaman dalam hal panjat memanjat


tebing,  Tiara yang begitu trampil,  langsung saja menjadi orang pertama yang


mendaki,  disusul Vera yang memang


seorang pecinta alam.


Sementara


itu Rian mendatangiku dan mengajarkan aku beberapa dasar memanjat tebing,  yang menurutku tidak terlalu sulit untuk di


fahami.


Adit


mengajari Silvy,  sedangkan Ken mengajari


Monic,  dengan segenap keberanian,  Silvy mencoba pertama kali,  dan ternyata dia berhasil menggapai puncak


tebing,  sedangkan Monic masih terlihat


ragu – ragu untuk mencobanya,  akhirnya


aku beranikan diri untuk mencoba mendakinya,  dengan segenap keberanian yang aku kumpulkan,  aku berhasil mendaki sampai ke atas tebing.


Akhirnya


kami semua berada di atas tebing dan besiap melanjutkan perjalanan kami.  Adit berjalan disampingku


“ Capek nggak Lin ?”


“ Enggak sih,  tapi lumayan pegel juga sih Dit.”


“ Mau aku gendong Lin ?”


“ Eh,  emang aku anak kecil apa minta di gendong.”


“ Tapi memang kamu masih kecil


Lin,  wajah kamu aja masih imut – imut


kayak anak kecil.”


“ Eh apaan sih,  aku tuh kakak kelas kamu Dit.”


“Iya sih emang,  tapi usia kita kan sama,  bahkan lebih tua aku beberapa bulan lho Lin.”


Kamipun


saling mengobrol untuk mengusir lelah,  dan pada akhirnya perjalanan kami pun sudah hamper mencapai puncak.


“ Kamu tahu nggak Lin,  kenapa Rian mengajak kita mendaki di gunung


ini ?”


“ Entahlah Dit,  mana aku tahu,  ini saja pengalaman pertamaku naik gunung


lho.”


“ Karena beberapa tahun silam,  Yuki dan Rian pernah mendaki gunung ini


berdua.”


“ Iya kah Dit ? darimana kamu bisa


tahu ?”


“ Ya iyalah,  kan aku adiknya Rian,  gimana sih Lin,  Rian itu kakakku.”


Terkejut


aku mendengar ucapan Adit,  kini benar


apa yang menjadi pertanyaanku semalam,  ternyata Rian dan Adit bersaudara,  pantas saja mereka berdua selalu kelihatan bersama – sama.


“ Tapi kog wajah kamu sama Rian nggak


ada mirip – miripnya ?”


“ Aku sama Rian itu bukan saudara


kandung,  tapi saudara tiri.”


Tentu


ini membuatku lebih terkejut lagi,  karena akhirnya kini aku tahu,  bahwa Adit dan Rian adalah saudara tiri,  rasa penasaranku semakin tinggi kepada Rian,  kini aku semakin bingung dengan perasaanku

__ADS_1


sendiri,  lagi – lagi aku bingung dengan


yang kurasa.


__ADS_2