
Pengumuman
peserta audisi yang lolos 50 besar, menjadi tajuk utama, surat kabar harian di
kotaku, kini semua orang di sekolahku
mengenalku, dan tak pernah berhenti
membicarakanku, bahkan tak jarang mereka
meminta dan mengajakku untuk berfoto.
Aku
yang memang pemalu, lebih banyak memilih
untuk bersembunyi, daripada aku harus
berfoto dengan orang – orang di sekolahku.
“ Kamu kenapa sih Lin, bukannya kamu malah ngenalin diri kamu ke
orang – orang, eh malah sembunyi
begini.” Kata Silvy kepadaku
“ Udah deh Sil, nggak usah protes dulu kenapa sih, aku tuh malu tau.”
“ Tapi kamu tuh kebanggan sekolah
Lin, kamu tuh idol.” Ucap
Monic meyakinkanku
“ Idol apaan, belum juga benar – benar lolos seleksi 24
besar.”
Ibu
Ghea dan ibu Yani datang menghampiriku, mereka berdua nampak begitu senang dan bangga kepadaku.
“ Selamat Lin, tinggal selangkah lagi, kamu akan benar –
benar mengharumkan nama sekolah kita, ibu yakin kamu pasti akan berhasil.” Ucap Ibu Yani
“ Mohon doanya ya bu, agar Alina tidak mengecewakan harapan ibu dan
teman – teman satu sekolahan.” Sahut Silvy
Akupun
menjadi semakin memiliki beban berat di pundakku.
Bel
tanda pulang sekolah berbunyi, aku
mengayuh sepedaku dan buru – buru pulang kerumah, karena sore ini, akan ada agenda pemusatan
latihan untuk seleksi tahap selanjutnya.
Dirumah
aku meminta saran kepada Ayahku, yang
kebetulan beliau sedang berada dirumah, Ayahku pun berucap bangga kepadaku, dan mengatakan bahwa apa yang aku lakukan itu akan membuat bangga ibuku.
“ Lakukan yang terbaik Lin, dan buatlah bangga ibumu di surga sana.” Ucap
ayah kepadaku
Akupun
mengangguk dengan bangga, kata – kata
ayah memberikanku motivasi yang luar biasa.
Rian
menelponku, dan memberitahuku kalau dia
sudah berada di depan rumahku, akupun
bergegas bersiap – siap berangkat, kali
ini aku memang meminta Rian untuk mengantarku.
“ Cie artis.” Ucap
Rian memujiku
“ Artis apaan sih, miris tau dengernya.” Jawabku
dengan nada jengkel
“ Kebayang nggak sih, orang – orang satu sekolah pada berebut minta
foto bareng, rasanya tuh aneh tau.”
“ Hahaha, sama dong kayak Tiara, jadi artis dadakan tuh di sekolahku.”
“ Iya kah ? terus Tiara gimana tuh
sikapnya ?”
“ Jadi lucu si Tiara, dari tadi ngumpet di bawah bangku.” Terang
Rian sambil mengekspresikan sikap Tiara.
“ Udah ah, ayo berangkat keburu
telat.” Ajakku kepada Rian
Tanpa
__ADS_1
banyak bicara, Rian langsung mengegas
motornya, dan dalam waktu sekejap kami
sudah tiba di lokasi tempat pemusatan latihan, tempat pemusatannya berada di ruang pertemuan salah satu hotel terbesar
di kota kami.
“ Dah dulu ya, nanti kalau butuh jemputan, tinggal calling aja, aku mau cabut dulu.” Ucap
Rian seraya mengusap rambutku
“ Okey siap, ntar aku calling deh, hati – hati di jalan ya jagan ngebut.”
Rian
pun langsung tancap gas meninggalkanku di depan hotel, tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat Lyla dan Janet yang baru saja
tiba, aku pun langsung mendekati dan
menyapa mereka.
Ternyata
Lyla dan Janet berasal dari sekolah musik yang sangat terkenal di kota
kami, pantas saja Lyla memiliki suara
yang sangat merdu, kamipun berjalan
bersama menuju ke dalam hotel. Di dalam hotel sudah banyak peserta yang
berkumpul dan mendaftarkan diri mereka kepada panitia di lobby hotel.
Tiara
datang menyusul dari arah belakang, dia
terlihat sangat cantik, lebih dari
biasanya.
“ Hay nona – nona cantik, are you ready.” Ucap
Tiara menyapa kami
“ Eh Ra, kamu tadi berapa lama sembunyi di bawah
bangku ?” tanyaku sambil meledeknya
“ Weh, pasti Rian yang cerita ya, wah bener – bener tuh orang.” Jawab
Tiara dengan nada jengkel
Kamipun
spontan tertawa, melihat ekspresi Tiara
yang begitu jengkel, terlihat tuan putri
cantik, berubah menjadi anak kecil yang
Waktu
yang ditunggupun tiba, setelah
mendapatkan pengarahan dari panitia acara, kami mendapatkan pelatihan – pelatihan khusus, mulai dari ketrampilan menyanyi, koreografi dan kemampuan berbahasa
berkomunikasi, para trainernya sendiri
adalah orang – orang yang benar – benar berpengalaman di bidangnya.
Panitia
pun mengumumkan, bahwa nantinya ke 24
peserta yang terpilih akan menjalani masa karantina selama satu minggu, dan akan mendapatkan fasilitas – fasilitas
khusus yang disediakan oleh panitia.
Setelah
itu, kami pun diberitahukan bahwa acara
berkunjung ke taman safari akan dimulai esok hari, jadi semua peserta yang ikut ke taman
safari, akan mendapatkan izin dispensasi
ke sekolah masing – masing. Tiara nampak begitu sumringah dan bahagia mendengar
pengumuman itu.
“ Yes, besok aku nggak ikut pelajaran Kimia.” Ucapnya
berbahagia
“ Ih bolos kog bangga, aku aja sedih kalau harus bolos.” Ucap
Janet dengan wajah sendu
“ Yaudah, kita nikmati moment jarang – jarang ini ya
kawan – kawan.” Imbuhku sembari menghibur Janet yang
tampak murung.
Memang
sih kelihatan banget, kalau Janet itu
anak yang rajin, dia adalah anak teladan
di sekolahnya, dan selama dia
bersekolah, dia selalu mendapatkan
__ADS_1
beasiswa.
Akupun
menelpon Rian, dan memintanya untuk
menjemputku, tak lama aku menunggu, Rian sudah berdiri di hadapanku, ternyata sedari tadi dia tidak kemana –
mana, dia menghabiskan waktunya bermain
bola basket bersama anak – anak di depan hotel.
Esok
pagi pun tiba, aku dan ke 50 finalis
bersama – sama mengunjungi taman safari, tampak kebahagiaan dan keceriaan meliputi kami semua, tak terkecuali Tiara yang begitu
bahagia, karena dia bisa membolos
pelajaran Kimia dengan cara yang terhormat.
Di
taman safari, banyak pengunjung yang
mengajak kami berfoto, mereka semua tahu
bahwa kami adalah 50 finalis idol group yang terpilih, serasa menjadi selebriti dadakan.
Lyla
dan Janet tampak bagaikan pinang di belah dua, begitu anggun dan cantiknya mereka berdua, membuat siapa saja yang melihatnya akan betah
berlama – lama memandangnya.
Di
tengah keceriaan itu, tiba – tiba Tiara
mendatangiku, dan mengajukan beberapa
pertanyaan yang membuatku sedikit tidak nyaman.
“ Bagaimana hubunganmu dengan Rian ?” Tanya
Tiara mengawali pembicaraan
“ Kami baik – baik saja kog Ra, memang kenapa ?”
“ Aku Cuma khawatir aja sama Adit Lin.”
“ Maksud kamu apa Ra ?” tanyaku
dengan nada sedikit jengkel
“ Kamu sudah tahu kan, Rian dan Adit itu bersaudara, ya walaupun mereka saudara tiri.”
“ Aku nggak terlalu tahu sih Ra, tapi Cuma sebatas informasi dari Adit memang
seperti itu.”
“ Terus hubungannya sama aku apa ?”
“ Hati si Adit hancur Lin, dia sering nggak pulang kerumah, Rian yang cerita ke aku.”
“ Hah, Rian cerita ke kamu ?, kenapa dia nggak pernah cerita ke aku.”
“ Ya iyalah Lin, mana mungkin dia nyeritakan hal kayak gitu ke
kamu, yang ada malah bikin Rian cemburu
sendiri tau.”
“ Maaf ya Ra, asal tahu aja, persahabatanku dengan Silvy jauh lebih
penting.”
“ Kebayang nggak sih Ra, gimana jadinya aku sama Silvy, kalau Adit terus ngejar – ngejar dan
ngedekatin aku.”
“ Iya juga sih Lin, aku juga kepikiran sama Silvy.”
“ Ya udah, kalau gitu kita nggak usah
mbahas tentang Adit disini ya Ra, jujur
aku takut mbayangin Adit ngejar – ngejar aku kayak gitu.” Ucapku
memohon kepada Tiara
Acara
berkunjung ke taman safari pun akhirnya berakhir, aku memutuskan untuk tidak ikut di dalam
rombongan keliling taman melihat hewan – hewan berkeliaran bebas, aku hanya duduk di taman kecil dekat pintu
masuk taman.
Aku
teringat akan kata – kata Ayahku, kalau
aku harus membuat bangga ibuku, dan membuatnya
tersenyum bahagia di surga, bagaimanapun
juga kini hanya ada aku dan ibuku, semangatku mengikuti acara seleksi idol group ini adalah demi ibuku.
Sebelum
pulang, panitia memberikan arahan kepada
para peserta, bahwa besok minggu akan
__ADS_1
diadakan seleksi tahap akhir, untuk
mencari ke 24 kontestan terakhir yang benar – benar akan menjadi idol group.