CINTA YANG SEPERTI INI

CINTA YANG SEPERTI INI
Bab 3 Rasa Yang bercampur


__ADS_3

Sejak


pertemuanku dengan Rian di malam itu,  aku  jadi selalu teringat dan


penasaran dengan jati dirinya,  perpaduan


antara sikap cuek dan wajah sedihnya saat dia memainkan lagu di gitarnya,  jelas ada suatu rahasia besar yang telah dia


simpan,  namun walaupun begitu,  kenapa jantungku harus berdebar kencang saat


bertemu dengannya.


Hari ini akan ada seleksi band,  yang akan


mewakili sekolahku untuk ikut berpatisipasi,  di acara Festival Band antar pelajar,  dari kejauhan Silvy dan Monic tampak berlari kecil ke arahku,  mereka mengajakku untuk ikut menonton event


tersebut,  namun aku bingung


memutuskannya,  karena aku sendiri juga


sudah ada janji bersama kakakku,  untuk membantu


mengerjakan tugas kuliahya.


“ Hay Alin.. nanti sore kita nonton yuk,  si Adit sama bandnya juga ikutan seleksi lho “


Silvy


dengan wajah memohon mengajakku untuk menemaninya nonton.


“ Maaf Sil,  Aku nggak bisa janji ya,  soalnya aku sudah ada janji sama kakakku buat


bantuin dia ngerjain tugasnya “ jawabku.


Monic


dan Silvy saling berpandangan mata,  sejurus kemudian giliran Monic merayu aku.


“ Ayolah Lin….  sebagai gantinya,  nanti aku traktir makan apa aja  yang kamu suka deh “ kata


Monic merayuku


Ponselku


berdering,  muncul panggilan dari nomer


yang tidak dikenal,  saat aku mengangkatnya,


ternyata itu adalah panggilan dari Adit,  aku heran darimana dia bisa tahu nomer teleponku. Dan dia juga mengajakku


untuk nonton acara itu,  ada satu hal


yang membuatku berfikir ulang untuk ikut nonton acara itu,  moment disaat Adit mengatakan,  bahwa Rian dan Bandnya akan datang juga di


acara seleksi nanti sebagai bantang tamu.


Tentu


saja hal itu membuat aku menjadi tiba – tiba bersemangat,  sekaligus langsung menerima ajakan Silvy dan


Monic.


“ Okey deh,  aku ikutan,  tapi nanti di traktir  beneran ya


“ ucapku


kepada mereka berdua


Kini


ekspresi wajah Monic sedikit berubah, karena Monic tadi membujukku dengan


rayuan akan mentraktirku. Disaat seperti itu,  Silvy malah meyakinkanku,  kalau nanti Monic akan jadi bos untuk


kita,  karena dia habis dapat kiriman


uang dari ibunya,  makin nggak karuan ekspresi


wajah Monic sekarang.


“ Siapa yang telpon kamu tadi Lin ? “  Tanya Silvy penasaran


“ Oh,  tadi Adit yang telepon,  dia


bilang kalau Rian dan Bandnya juga akan datang “  sontak Silvy dan Monic


saling berpandangan lagi dengan penuh rasa penasaran.


“ Rian ?....  siapa dia Lin ? “  Tanya mereka keheranan.


Kini


aku yang jadi kebingungan sendiri menjawab pertanyaan mereka,  entah apa yang harus aku katakan,  seakan semua suaraku terasa terkunci di dalam


tenggorokanku,  tiba – tiba senyum


mengembang di wajah Silvy dan Monic,  sembari


menatap wajahku begitu dekat.


“ Yeay !!!!.... akhirnya… tuan putri


bisa jatuh hati juga “  ucap


mereka kompak,  akupun tidak bisa berkata


apa - apa lagi,  kecuali hanya tersenyum


dan salah tingkah.


Siang


berganti menjadi sore,  akhirnya waktu


yang kami tunggu - tunggu pun tiba,  di


halaman sekolahku,  kini tampak mulai


ramai para siswa dan siswi yang berlalu lalang ikut audisi,  dan tampak almameter dari sekolahan lain pun


juga bercampur dengan siswa - siswi sekolahku,  mereka semua membaur di halaman sekolah. Aku baru tahu, bahwa acara


seleksi di sekolahku itu sengaja dibuka untuk umum,  sekaligus sebagai ajang komunikasi antar


sekolah Sma di kotaku.


Rian


dengan jas merahnya juga terlihat datang,  bersama dengan beberapa teman - temanya yang mungkin itu adalah band

__ADS_1


nya,  tampak teman - teman Rian itu tiba –


tiba di kerubungi oleh ratusan siswa dan siswi,  mereka berteriak histeris menyambut kedatangan mereka. Namun lagi - lagi


Rian terlihat begitu dingin dan tidak antusias dengan kejadian itu,  dia berada di belakang sendiri dengan topi


dan masker,  walau begitu aku tetap tahu


bahwa itu adalah Rian.


Cindy


datang tepat berada di sebelahku,  diapun


juga ikut berteriak histeris kepada teman – teman bandnya Rian, “ Chemistry !!!!!.... Waw Chemistry Band “  teriaknya berkali kali


“ Siro… Gerry…. Diyar…. Ken…. Rian…..


!!!! Wooowwww… “  Fania


berteriak sekeras - kerasnya seperti orang kesurupan,  aku sendiri hanya diam tertegun melihat kejadian itu,  kenapa banyak orang yang kenal dengan sosok


Rian dan bandnya, ‘ apakah mereka memang se tenar itu.’ Gumamku di dalam hati.


Kuturuni


anak tangga dan kudekati Fania,  kemudian


aku tanyakan kepadanya tentang apa yang dia ketahui dengan Chemistry Band.


“ Fan,  kamu tahu mereka ? “ tanyaku


penasaran.


“ Ya tahulah Lin,  mereka itu chemistry band.. yang sudah 2


tahun ini ngejuarai Festival Band pelajar tingkat nasional “


“ Tuh vokalisnya yang paling cakep


namanya Siro,  drummernya yang paling


keren Diyar,  bassistnya Gerry cowok


tajir,  keyboardistnya Ken si anak sultan,  terus si paling cool dan misterius


gitaristnya tuh namanya Rian “


Aku


terkejut mendengar pernyataan Fania,  yang begitu hafal dengan karakter masing masing personil Chemistry band.


“ Apa kamu nggak tahu mereka Lin ? ”  Tanya Fania dengan


tatapan menempel serius di wajahku.


“ Eh….. aku nggak faham begituan


Fan,  ngapain juga aku nyari tahu


begituan,  nggak penting “ ucapku


padanya


Fania


“ Eh Lin,  kayaknya Rian dari tadi merhatiin kita terus


deh “ ucap Fania seraya menunjuk ke arah Rian yang sedari


tadi memandangi kami dari tempatnya.


“ Dia itu inspirasi dari chemistry


band lho,  bahkan dia sering nyiptakan


lagu yang di pakai sama band - band besar yang udah professional “ terang


Fania


“ Tapi sayang “ ucap


Fania.


“ Sayang kenapa Fan ? “  tanyaku penasaran.


“ Dia kayaknya nggak suka sama cewek


Lin,  terlalu dingin dan kaku,  kayaknya dia penyuka sesame jenis deh “ kata


Fania dengan ekspresi wajah berfikir.


Aku


memandang wajah Fania dengan tatapan kosong, ‘ apakah benar apa yang di katakan


oleh Fania ?’ Sejurus kemudian seorang gadis dengan wajah tertutup topi dan


dengan pakaian yang sangat berbeda dengan model seragam sekolah di kota


kami,  datang menghampiri Rian dan mereka


terlihat berbincang satu sama lain.


Tak


lama kemudian,  Rian dan wanita itu


memandang ke arahku,  membuat aku merasa


begitu merinding dan salah tingkah,  dan


Rian tampak dengan perlahan berjalan mendekat ke arahku,  membuat aku semakin bingung dan salah tingkah.


“ Hai,  ternyata kamu disini “  Ucap Rian menyapaku ramah


“ I…..iya,  ini kelasku ada disini… apakah  kamu mau nge band nanti ? “  ku jawab dengan perasaanku yang tak karuan.


“ Nggak,  aku nggak nge band,  entah aku juga bingung kenapa aku di undang


datang kesini sama sekolahmu “  ucap


Rian penuh wibawa.


“ Anterin aku ke kantin yuk,  aku lapar,  tadi belum sempat makan “ucap Rian dengan


ekspresi manja,  membuat aku makin salah


tingkah.

__ADS_1


Aku


dan Rian berjalan beriringan menuju ke kantin sekolah,  tiba – tiba semua mata jadi memandang ke


arahku,  se isi sekolahan jadi


memandangku dengan tatapan bermacam - macam,  Silvy juga tak luput memandangku dengan tatapan penuh rasa penasaran.


“ Maaf, tadi teman kamu dimana ? “  kuberanikan diri untuk bertanya kepada Rian.


“ Teman yang mana ? “  Tanya Rian.


“ Teman kamu yang wanita tadi,  yang pakai topi hitam kaos putih,  aku tadi ngelihat kamu sama dia waktu kamu


masih di halaman sekolah “


Ekspresi wajah Rian,  kini berubah menjadi tegang


sambil memandang wajahku,  dia mematung


hingga gelas yang dia pegang terjatuh dan membuat kaget se isi kantin,  tiba tiba saja matanya mulai meneteskan air


mata. Aku pun bingung dan terkejut,  entah apakah salah pertanyaanku tadi.


“ Apakah kamu benar benar melihatnya


? “  Tanya Rian kepadaku dengan wajah sedih.


“ Iya aku benar benar


melihatnya,  wajahnya cantik,  putih,  rambutnya panjang terikat,  mancung,  dan tingginya sebahu


kamu kan “  jawabku


mencoba menjelaskan.


“ Kamu pasti bercanda,  sekali lagi aku Tanya kepada kamu,  apakah kamu benar benar melihatnya ? “  Tanya Rian memastikan dengan tatapan yang tajam


namun berlinang air mata,  membuat aku


benar benar bingung harus berkata apa kali ini.


Suasana kantin kini berubah menjadi hening, seolah hanya ada aku dan Rian yang saling berhadapan dengan tatapan penuh


pertanyaan besar.


“ Iya,  aku melihatnya,  sumpah demi apapun aku melihatnya !”  ku pertegas pernyataanku kepadanya.


Rian


tak bertanya lagi,  dan kemudian berlalu


pergi begitu saja meninggalkanku di kantin sendiri.


Aku


bingung sekarang,  apakah aku salah,  atau aku terlalu berani bertanya,  mungkin saja perempuan itu tadi adalah


pacarnya dan mereka sedang ada masalah,  atau mungkin dia adalah temannya yang dia sedang tidak ingin membicarakannya,  entah apa itu aku kini jadi bingung sendiri.


Aku


terduduk di kantin,  dan masih terus


berfikir,  namun semakin aku memikirkan


hal itu,  malah aku yang menjadi semakin


bingung.


Audisipun


akhirnya dimulai,  kali ini aku


tahu,  bahwa chemistry band sengaja


diundang oleh Osis sekolah kami untuk menjadi juri,  sekaligus bintang tamu bagi band sekolah


kami.


Namun


kini kursi yang seharusnya di isi oleh Rian,  nampak kosong tak terisi,  kemana perginya Rian menjadi pertanyaan baru


bagiku,  hal ini semakin membuatku


menjadi bingung dan penasaran kepada Rian.


Akupun


mencari Adit dan menanyakan keberadaan Rian,  namun Adit pun menjawab tak tahu,  bahkan dia kini juga kebingungan mencari Rian,  karena nomernya pun juga tiba tiba tidak


aktif. Ku beranikan diri untuk meminta nomer Rian kepada Adit,  namun Adit enggan untuk memberikannya


kepadaku,  dan nampak kurang senang saat


aku terlalu penasaran kepada Rian.


Ku


beranikan diriku untuk meminta nomer Rian kepada teman - teman bandnya


Rian,  saat itu Ken memberikan nomer


telepon Rian kepadaku,  tentunya setelah


aku bersusah payah merayunya.


Antara


ragu dan yakin,  aku coba untuk menelponnya,  namun rasa ragu lebih kuat bercampur


malu,  akhirnya aku putuskan untuk tidak


menghubunginya dahulu.


Sore


beranjak menjadi malam,  kini aku harus


segera pulang karena teringat akan janjiku kepada kakakku untuk membantu dia


menyelesaikan tugas-tugasnya.


Di


dalam perjalanan pulang,  aku kayuh


sepedaku sambil terus bertanya di dalam hatiku,  tentang semua hal yang tadi terjadi.

__ADS_1


__ADS_2