
Sejak
pertemuanku dengan Rian di malam itu, aku jadi selalu teringat dan
penasaran dengan jati dirinya, perpaduan
antara sikap cuek dan wajah sedihnya saat dia memainkan lagu di gitarnya, jelas ada suatu rahasia besar yang telah dia
simpan, namun walaupun begitu, kenapa jantungku harus berdebar kencang saat
bertemu dengannya.
Hari ini akan ada seleksi band, yang akan
mewakili sekolahku untuk ikut berpatisipasi, di acara Festival Band antar pelajar, dari kejauhan Silvy dan Monic tampak berlari kecil ke arahku, mereka mengajakku untuk ikut menonton event
tersebut, namun aku bingung
memutuskannya, karena aku sendiri juga
sudah ada janji bersama kakakku, untuk membantu
mengerjakan tugas kuliahya.
“ Hay Alin.. nanti sore kita nonton yuk, si Adit sama bandnya juga ikutan seleksi lho “
Silvy
dengan wajah memohon mengajakku untuk menemaninya nonton.
“ Maaf Sil, Aku nggak bisa janji ya, soalnya aku sudah ada janji sama kakakku buat
bantuin dia ngerjain tugasnya “ jawabku.
Monic
dan Silvy saling berpandangan mata, sejurus kemudian giliran Monic merayu aku.
“ Ayolah Lin…. sebagai gantinya, nanti aku traktir makan apa aja yang kamu suka deh “ kata
Monic merayuku
Ponselku
berdering, muncul panggilan dari nomer
yang tidak dikenal, saat aku mengangkatnya,
ternyata itu adalah panggilan dari Adit, aku heran darimana dia bisa tahu nomer teleponku. Dan dia juga mengajakku
untuk nonton acara itu, ada satu hal
yang membuatku berfikir ulang untuk ikut nonton acara itu, moment disaat Adit mengatakan, bahwa Rian dan Bandnya akan datang juga di
acara seleksi nanti sebagai bantang tamu.
Tentu
saja hal itu membuat aku menjadi tiba – tiba bersemangat, sekaligus langsung menerima ajakan Silvy dan
Monic.
“ Okey deh, aku ikutan, tapi nanti di traktir beneran ya
“ ucapku
kepada mereka berdua
Kini
ekspresi wajah Monic sedikit berubah, karena Monic tadi membujukku dengan
rayuan akan mentraktirku. Disaat seperti itu, Silvy malah meyakinkanku, kalau nanti Monic akan jadi bos untuk
kita, karena dia habis dapat kiriman
uang dari ibunya, makin nggak karuan ekspresi
wajah Monic sekarang.
“ Siapa yang telpon kamu tadi Lin ? “ Tanya Silvy penasaran
“ Oh, tadi Adit yang telepon, dia
bilang kalau Rian dan Bandnya juga akan datang “ sontak Silvy dan Monic
saling berpandangan lagi dengan penuh rasa penasaran.
“ Rian ?.... siapa dia Lin ? “ Tanya mereka keheranan.
Kini
aku yang jadi kebingungan sendiri menjawab pertanyaan mereka, entah apa yang harus aku katakan, seakan semua suaraku terasa terkunci di dalam
tenggorokanku, tiba – tiba senyum
mengembang di wajah Silvy dan Monic, sembari
menatap wajahku begitu dekat.
“ Yeay !!!!.... akhirnya… tuan putri
bisa jatuh hati juga “ ucap
mereka kompak, akupun tidak bisa berkata
apa - apa lagi, kecuali hanya tersenyum
dan salah tingkah.
Siang
berganti menjadi sore, akhirnya waktu
yang kami tunggu - tunggu pun tiba, di
halaman sekolahku, kini tampak mulai
ramai para siswa dan siswi yang berlalu lalang ikut audisi, dan tampak almameter dari sekolahan lain pun
juga bercampur dengan siswa - siswi sekolahku, mereka semua membaur di halaman sekolah. Aku baru tahu, bahwa acara
seleksi di sekolahku itu sengaja dibuka untuk umum, sekaligus sebagai ajang komunikasi antar
sekolah Sma di kotaku.
Rian
dengan jas merahnya juga terlihat datang, bersama dengan beberapa teman - temanya yang mungkin itu adalah band
__ADS_1
nya, tampak teman - teman Rian itu tiba –
tiba di kerubungi oleh ratusan siswa dan siswi, mereka berteriak histeris menyambut kedatangan mereka. Namun lagi - lagi
Rian terlihat begitu dingin dan tidak antusias dengan kejadian itu, dia berada di belakang sendiri dengan topi
dan masker, walau begitu aku tetap tahu
bahwa itu adalah Rian.
Cindy
datang tepat berada di sebelahku, diapun
juga ikut berteriak histeris kepada teman – teman bandnya Rian, “ Chemistry !!!!!.... Waw Chemistry Band “ teriaknya berkali kali
“ Siro… Gerry…. Diyar…. Ken…. Rian…..
!!!! Wooowwww… “ Fania
berteriak sekeras - kerasnya seperti orang kesurupan, aku sendiri hanya diam tertegun melihat kejadian itu, kenapa banyak orang yang kenal dengan sosok
Rian dan bandnya, ‘ apakah mereka memang se tenar itu.’ Gumamku di dalam hati.
Kuturuni
anak tangga dan kudekati Fania, kemudian
aku tanyakan kepadanya tentang apa yang dia ketahui dengan Chemistry Band.
“ Fan, kamu tahu mereka ? “ tanyaku
penasaran.
“ Ya tahulah Lin, mereka itu chemistry band.. yang sudah 2
tahun ini ngejuarai Festival Band pelajar tingkat nasional “
“ Tuh vokalisnya yang paling cakep
namanya Siro, drummernya yang paling
keren Diyar, bassistnya Gerry cowok
tajir, keyboardistnya Ken si anak sultan, terus si paling cool dan misterius
gitaristnya tuh namanya Rian “
Aku
terkejut mendengar pernyataan Fania, yang begitu hafal dengan karakter masing masing personil Chemistry band.
“ Apa kamu nggak tahu mereka Lin ? ” Tanya Fania dengan
tatapan menempel serius di wajahku.
“ Eh….. aku nggak faham begituan
Fan, ngapain juga aku nyari tahu
begituan, nggak penting “ ucapku
padanya
Fania
“ Eh Lin, kayaknya Rian dari tadi merhatiin kita terus
deh “ ucap Fania seraya menunjuk ke arah Rian yang sedari
tadi memandangi kami dari tempatnya.
“ Dia itu inspirasi dari chemistry
band lho, bahkan dia sering nyiptakan
lagu yang di pakai sama band - band besar yang udah professional “ terang
Fania
“ Tapi sayang “ ucap
Fania.
“ Sayang kenapa Fan ? “ tanyaku penasaran.
“ Dia kayaknya nggak suka sama cewek
Lin, terlalu dingin dan kaku, kayaknya dia penyuka sesame jenis deh “ kata
Fania dengan ekspresi wajah berfikir.
Aku
memandang wajah Fania dengan tatapan kosong, ‘ apakah benar apa yang di katakan
oleh Fania ?’ Sejurus kemudian seorang gadis dengan wajah tertutup topi dan
dengan pakaian yang sangat berbeda dengan model seragam sekolah di kota
kami, datang menghampiri Rian dan mereka
terlihat berbincang satu sama lain.
Tak
lama kemudian, Rian dan wanita itu
memandang ke arahku, membuat aku merasa
begitu merinding dan salah tingkah, dan
Rian tampak dengan perlahan berjalan mendekat ke arahku, membuat aku semakin bingung dan salah tingkah.
“ Hai, ternyata kamu disini “ Ucap Rian menyapaku ramah
“ I…..iya, ini kelasku ada disini… apakah kamu mau nge band nanti ? “ ku jawab dengan perasaanku yang tak karuan.
“ Nggak, aku nggak nge band, entah aku juga bingung kenapa aku di undang
datang kesini sama sekolahmu “ ucap
Rian penuh wibawa.
“ Anterin aku ke kantin yuk, aku lapar, tadi belum sempat makan “ucap Rian dengan
ekspresi manja, membuat aku makin salah
tingkah.
__ADS_1
Aku
dan Rian berjalan beriringan menuju ke kantin sekolah, tiba – tiba semua mata jadi memandang ke
arahku, se isi sekolahan jadi
memandangku dengan tatapan bermacam - macam, Silvy juga tak luput memandangku dengan tatapan penuh rasa penasaran.
“ Maaf, tadi teman kamu dimana ? “ kuberanikan diri untuk bertanya kepada Rian.
“ Teman yang mana ? “ Tanya Rian.
“ Teman kamu yang wanita tadi, yang pakai topi hitam kaos putih, aku tadi ngelihat kamu sama dia waktu kamu
masih di halaman sekolah “
Ekspresi wajah Rian, kini berubah menjadi tegang
sambil memandang wajahku, dia mematung
hingga gelas yang dia pegang terjatuh dan membuat kaget se isi kantin, tiba tiba saja matanya mulai meneteskan air
mata. Aku pun bingung dan terkejut, entah apakah salah pertanyaanku tadi.
“ Apakah kamu benar benar melihatnya
? “ Tanya Rian kepadaku dengan wajah sedih.
“ Iya aku benar benar
melihatnya, wajahnya cantik, putih, rambutnya panjang terikat, mancung, dan tingginya sebahu
kamu kan “ jawabku
mencoba menjelaskan.
“ Kamu pasti bercanda, sekali lagi aku Tanya kepada kamu, apakah kamu benar benar melihatnya ? “ Tanya Rian memastikan dengan tatapan yang tajam
namun berlinang air mata, membuat aku
benar benar bingung harus berkata apa kali ini.
Suasana kantin kini berubah menjadi hening, seolah hanya ada aku dan Rian yang saling berhadapan dengan tatapan penuh
pertanyaan besar.
“ Iya, aku melihatnya, sumpah demi apapun aku melihatnya !” ku pertegas pernyataanku kepadanya.
Rian
tak bertanya lagi, dan kemudian berlalu
pergi begitu saja meninggalkanku di kantin sendiri.
Aku
bingung sekarang, apakah aku salah, atau aku terlalu berani bertanya, mungkin saja perempuan itu tadi adalah
pacarnya dan mereka sedang ada masalah, atau mungkin dia adalah temannya yang dia sedang tidak ingin membicarakannya, entah apa itu aku kini jadi bingung sendiri.
Aku
terduduk di kantin, dan masih terus
berfikir, namun semakin aku memikirkan
hal itu, malah aku yang menjadi semakin
bingung.
Audisipun
akhirnya dimulai, kali ini aku
tahu, bahwa chemistry band sengaja
diundang oleh Osis sekolah kami untuk menjadi juri, sekaligus bintang tamu bagi band sekolah
kami.
Namun
kini kursi yang seharusnya di isi oleh Rian, nampak kosong tak terisi, kemana perginya Rian menjadi pertanyaan baru
bagiku, hal ini semakin membuatku
menjadi bingung dan penasaran kepada Rian.
Akupun
mencari Adit dan menanyakan keberadaan Rian, namun Adit pun menjawab tak tahu, bahkan dia kini juga kebingungan mencari Rian, karena nomernya pun juga tiba tiba tidak
aktif. Ku beranikan diri untuk meminta nomer Rian kepada Adit, namun Adit enggan untuk memberikannya
kepadaku, dan nampak kurang senang saat
aku terlalu penasaran kepada Rian.
Ku
beranikan diriku untuk meminta nomer Rian kepada teman - teman bandnya
Rian, saat itu Ken memberikan nomer
telepon Rian kepadaku, tentunya setelah
aku bersusah payah merayunya.
Antara
ragu dan yakin, aku coba untuk menelponnya, namun rasa ragu lebih kuat bercampur
malu, akhirnya aku putuskan untuk tidak
menghubunginya dahulu.
Sore
beranjak menjadi malam, kini aku harus
segera pulang karena teringat akan janjiku kepada kakakku untuk membantu dia
menyelesaikan tugas-tugasnya.
Di
dalam perjalanan pulang, aku kayuh
sepedaku sambil terus bertanya di dalam hatiku, tentang semua hal yang tadi terjadi.
__ADS_1