
Dingin
namun terasa begitu bahagia, itu yang
kurasakan saat tangan Yuki memegang tanganku, aku serasa terbawa ke dalam dunia nya yang tergambar jelas di dalam alam
bawah sadarku, disitu Yuki menceritakan
apa yang dia rasakan dengan caranya dan menceritakan apa yang dia alami.
Sesosok
bayangan seorang laki – laki yang dia cintai tampak jelas di depan mataku, dan tentu sosok itu tak lain dan tak bukan
adalah Rian, namun ada sesosok wanita
lain yang muncul secara samar, belum
sempat aku mengejarnya tiba - tiba saja aku terbangun di ruang UKS sekolah.
Ternyata
aku tadi tak sadarkan diri cukup lama, saat tersadar aku melihat sekelilingku dan mencari Yuki, namun tak tampak sedikitpun di sekitarku, Rian mendatangiku dan mulai bertanya kepadaku
tentang keadaanku, dia menjelaskan
kepadaku bahwa tadi saat dia datang tiba tiba saja aku jatuh pingsan di depannya
Tiara dan Silvy.
Akupun
bingung, bukankah Rian tadi mengajakku
ke belakang sekolah, namun kenapa Rian
mengatakan bahwa aku terjatuh pingsan saat dia menemuiku.
“ Aku Pingsan ? bukankah engkau tadi mengajakku ke belakang
sekolah Rian ?” tanyaku penuh penasaran.
Rian
pun hanya bengong memandangiku dan nampak kebingungan dengan pertanyaanku.
“ Bagaimana mungkin Rian mengajakmu
kebelakang sekolah, sedangkan dia lah
yang memapahmu ke Uks sekolah Lin.” Tegas Silvy menjelaskan
kepadaku.
Kini
aku hanya terdiam memikirkan semua yang baru saja terjadi, tentang pertemuanku dengan Yuki dibelakang
sekolah dan tentang sesosok bayangan wanita yang melintas di saat pertemuanku
dengan Yuki.
Aku
menatap Rian dan mencoba untuk memberinya isyarat agar aku bisa berbicara empat
mata dengannya, Rian menganggukkan
kepalanya dan bergegas menyuruh yang lain untuk keluar, saat itu di ruang Uks hanya ada aku dan Rian.
“ Aku melihat Yuki, dan aku berbicara dengannya.” Ucapku
kepada Rian.
Namun
Rian justru kebingungan dengan apa yang aku ucapkan, dengan wajah kebingungan tak percaya dia
mulai mendekat dan menatapku serius.
“ Apakah yang kamu lihat itu benar –
benar Yuki ?” Tanya
Rian kepadaku
Akupun
menganggukkan kepalaku seraya aku mengangkat salah satu tanganku dan meletakkannya
di atas kepalaku sebagai bukti bahwa apa yang aku katakan semua adalah benar.
__ADS_1
Rian
tiba tiba duduk tersungkur dan air mata mulai keluar dari matanya, tentu saja aku bingung akan apa yang harus
aku lakukan untuk menghiburnya, Rian
tersenyum sambil menenangkan dirinya, diapun mulai bercerita sekilas tentang Yuki.
“ Tak terasa setahun lebih dia
meninggalkanku, andai saja hari itu dia
tidak datang, pasti aku akan bersamanya
saat ini.” Rian memulai ceritanya, akupun mulai serius mendengarkan ceritanya.
“ Aku telah bersamanya sejak kami
masih duduk dikelas 7 Smp.”
“ Bagaimanapun juga dia adalah
semangat yang memberikan aku banyak inspirasi.”
“ Saat – saat yang indah walau dalam
kekurangan, saling mengisi satu sama
lain.”
“ Perkenalan yang tidak disengaja
yang berakhir menjadi sebuah rasa.”
Tiba
– tiba Rian menghentikan ceritanya, dan
dia mengingatkan aku untuk segera bergegas pulang, karena memang waktu sudah menunjukkan
menjelang malam.
Aku
yang mulai merasa nyaman dengan ceritanya, ingin sekali tahu lebih dalam lagi tentang bagaimana sosok Yuki yang
sebenarnya, namun benar apa yang
dikatakan oleh Rian, saat aku menengok
tak terjawab dari kakakku yang mungkin sudah mulai merasa cemas.
Lekas
aku bersiap – siap untuk pulang, saat
aku hendak menghampiri Silvy tiba – tiba Adit datang menghampiriku, dengan cemas dia bertanya kepada Silvy dan
Rian tentang keadaanku, tentu saja aku
terkejut karena Adit tahu bahwa aku berada di sekolah Rian.
Adit
menghampiriku untuk memastikan keadaanku, dia membawakanku jus buah dan beberapa vitamin untukku, hal ini tentu membuat suasana hati Silvy
menjadi tidak menentu, perlahan ku lirik
Silvy yang berada tidak jauh dari tempatku berada, dengan wajah kesal penuh cemburu, Silvy berlalu pergi begitu saja
meninggalkanku, aku berusaha mengejarnya
namun Adit menghalangiku, dengan wajah
kesal aku menatap Adit dan memperingatkannya untuk tidak lagi mendekatiku
ataupun mengharapkan perasaannya padaku.
Namun
Silvy sudah berlalu pergi, saat aku
mencoba untuk menelponnya menggunakan ponselku, tampak panggilanku sudah tidak bisa lagi menyambung kepadanya, kali ini kupastikan Silvy benar – benar kesal
kepadaku.
Tiara
yang seolah mengerti keadaanku kali ini menghampiriku dan mengatakan padaku
untuk tetap tenang, “ Biarkan aku yang akan menenangkan Silvy, aku sudah faham apa yang terjadi di antara
__ADS_1
kalian.” Ucap Tiara padaku, akupun
mengangguk lega.
Akhirnya
akupun tiba di rumah setelah Tiara mau mengantarku pulang kerumah, sesampai dirumah ponselku berdering dan kali
ini panggilan dari Rian, saat aku angkat
panggilan telepon itu Rian mengajak aku untuk hadir di acara festival band
pelajar lusa, aku pun meng iyakan ajakan
Rian.
Kali ini jantungku rasanya berdebar – debar penuh dengan rasa penasaran yang sangat
kuat saat Rian mengajakku untuk menghadiri acara festival band bersama.
Di
dalam kamar aku berusaha untuk menenangkan diriku, tugas tugas sekolah yang menumpuk, belum lagi tugas kesenian yang diberikan oleh
ibu Ghea, sementara aku sendiri tidak bisa
bermain alat musik, entahlah.
Bayangan
yuki jelas – jelas masih terbayang dengan jelas dan membuatku cukup merinding
saat teringat, entah apa yang sebenarnya
terjadi kepadaku, apakah semua ini
memang benar adanya atau aku hanya sedang bermimpi dan tidak sadarkan diri, namun ucapan dari Yuki masih teringat jelas
dan rasa dingin yang aku rasakan saat Yuki menjabat tanganku itu benar – benar
terasa nyata bagiku, walaupun semua
orang pun tahu bahwa kenyataanya aku pingsan saat Rian datang mendekatiku.
Aku
teringat kepada Silvy, entah bagaimana
perasaannya sekarang kepadaku dan apa yang harus aku lakukan kepada Adit agar
dia berhenti mengejar perasaannya kepadaku
Sebuah
pena seolah memanggilku dan tanpa aku sadari membawaku untuk mulai menulis
seluruh peristiwa hari – hari yang aku alami ke dalam sebuah cerita, inilah pelarianku manakala aku bingung dan
bimbang dengan keadaanku, mulai ku
tuliskan kisah – kisahku dan kebingunganku di atas kertas dan kurubah semua
menjadi suatu cerita.
Kini
secara perlahan, semua kebingungan yang
aku alami perlahan – lahan mulai menghilang dan melebur menjadi sebuah cerita
yang semua orang bisa membacanya, perasaanku kepada Rian, kebingunganku kepada Yuki, kebingunganku kepada Adit dan apa yang aku rasakan kepada Silvy.
Saat
aku tersadar, Mentari pagi menunjukkan
sinarnya membangunkan aku yang tertidur pulas di atas meja belajarku, “
Astaga, jam berapa ini, aku pasti sudah kesiangan.” Aku terkejut
saat aku terbangun, buru – buru aku
melihat jam di dinding kamarku, waktu
menunjukkan pukul enam pagi, “ untunglah, aku kira aku telah terlambat.”
Segera
aku bereskan buku pelajaranku dan bersiap – siap untuk segera berangkat ke
sekolah, kali ini aku meminta kakakku
__ADS_1
lagi untuk mengantarkan aku ke sekolah, karena jika aku mengendarai sepedaku pasti aku akan terlambat sampai di
sekolah.