CINTA YANG SEPERTI INI

CINTA YANG SEPERTI INI
Bab 5 Menjadi suatu Cerpen


__ADS_3

Dingin


namun terasa begitu bahagia,  itu yang


kurasakan saat tangan Yuki memegang tanganku,  aku serasa terbawa ke dalam dunia nya yang tergambar jelas di dalam alam


bawah sadarku,  disitu Yuki menceritakan


apa yang dia rasakan dengan caranya dan menceritakan apa yang dia alami.


Sesosok


bayangan seorang laki – laki yang dia cintai tampak jelas di depan mataku,  dan tentu sosok itu tak lain dan tak bukan


adalah Rian,  namun ada sesosok wanita


lain yang muncul secara samar,  belum


sempat aku mengejarnya tiba - tiba saja aku terbangun di ruang UKS sekolah.


Ternyata


aku tadi tak sadarkan diri cukup lama,  saat tersadar aku melihat sekelilingku dan mencari Yuki,  namun tak tampak sedikitpun di sekitarku,  Rian mendatangiku dan mulai bertanya kepadaku


tentang keadaanku,  dia menjelaskan


kepadaku bahwa tadi saat dia datang tiba tiba saja aku jatuh pingsan di depannya


Tiara dan Silvy.


Akupun


bingung,  bukankah Rian tadi mengajakku


ke belakang sekolah,  namun kenapa Rian


mengatakan bahwa aku terjatuh pingsan saat dia menemuiku.


“ Aku Pingsan ?  bukankah engkau tadi mengajakku ke belakang


sekolah Rian ?” tanyaku penuh penasaran.


Rian


pun hanya bengong memandangiku dan nampak kebingungan dengan pertanyaanku.


“ Bagaimana mungkin Rian mengajakmu


kebelakang sekolah,  sedangkan dia lah


yang memapahmu ke Uks sekolah Lin.” Tegas Silvy menjelaskan


kepadaku.


Kini


aku hanya terdiam memikirkan semua yang baru saja terjadi,  tentang pertemuanku dengan Yuki dibelakang


sekolah dan tentang sesosok bayangan wanita yang melintas di saat pertemuanku


dengan Yuki.


Aku


menatap Rian dan mencoba untuk memberinya isyarat agar aku bisa berbicara empat


mata dengannya,  Rian menganggukkan


kepalanya dan bergegas menyuruh yang lain untuk keluar,  saat itu di ruang Uks hanya ada aku dan Rian.


“ Aku melihat Yuki,  dan aku berbicara dengannya.” Ucapku


kepada Rian.


Namun


Rian justru kebingungan dengan apa yang aku ucapkan,  dengan wajah kebingungan tak percaya dia


mulai mendekat dan menatapku serius.


“ Apakah yang kamu lihat itu benar –


benar  Yuki ?” Tanya


Rian kepadaku


Akupun


menganggukkan kepalaku seraya aku mengangkat salah satu tanganku dan meletakkannya


di atas kepalaku sebagai bukti bahwa apa yang aku katakan semua adalah benar.

__ADS_1


Rian


tiba tiba duduk tersungkur dan air mata mulai keluar dari matanya,  tentu saja aku bingung akan apa yang harus


aku lakukan untuk menghiburnya,  Rian


tersenyum sambil menenangkan dirinya,  diapun mulai bercerita sekilas tentang Yuki.


“ Tak terasa setahun lebih dia


meninggalkanku,  andai saja hari itu dia


tidak datang,  pasti aku akan bersamanya


saat ini.” Rian memulai ceritanya,  akupun mulai serius mendengarkan ceritanya.


“ Aku telah bersamanya sejak kami


masih duduk dikelas 7 Smp.”


“ Bagaimanapun juga dia adalah


semangat yang memberikan aku banyak inspirasi.”


“ Saat – saat yang indah walau dalam


kekurangan,  saling mengisi satu sama


lain.”


“ Perkenalan yang tidak disengaja


yang berakhir menjadi sebuah rasa.”


Tiba


– tiba Rian menghentikan ceritanya,  dan


dia mengingatkan aku untuk segera bergegas pulang,  karena memang waktu sudah menunjukkan


menjelang malam.


Aku


yang mulai merasa nyaman dengan ceritanya,  ingin sekali tahu lebih dalam lagi tentang bagaimana sosok Yuki yang


sebenarnya,  namun benar apa yang


dikatakan oleh Rian,  saat aku menengok


tak terjawab dari kakakku yang mungkin sudah mulai merasa cemas.


Lekas


aku bersiap – siap untuk pulang,  saat


aku hendak menghampiri Silvy tiba – tiba Adit datang menghampiriku,  dengan cemas dia bertanya kepada Silvy dan


Rian tentang keadaanku,  tentu saja aku


terkejut karena Adit tahu bahwa aku berada di sekolah Rian.


Adit


menghampiriku untuk memastikan keadaanku,  dia membawakanku jus buah dan beberapa vitamin untukku,  hal ini tentu membuat suasana hati Silvy


menjadi tidak menentu,  perlahan ku lirik


Silvy yang berada tidak jauh dari tempatku berada,  dengan wajah kesal penuh cemburu,  Silvy berlalu pergi begitu saja


meninggalkanku,  aku berusaha mengejarnya


namun Adit menghalangiku,  dengan wajah


kesal aku menatap Adit dan memperingatkannya untuk tidak lagi mendekatiku


ataupun mengharapkan perasaannya padaku.


Namun


Silvy sudah berlalu pergi,  saat aku


mencoba untuk menelponnya menggunakan ponselku,  tampak panggilanku sudah tidak bisa lagi menyambung kepadanya,  kali ini kupastikan Silvy benar – benar kesal


kepadaku.


Tiara


yang seolah mengerti keadaanku kali ini menghampiriku dan mengatakan padaku


untuk tetap tenang,  “ Biarkan aku yang akan menenangkan Silvy,  aku sudah faham apa yang terjadi di antara

__ADS_1


kalian.” Ucap Tiara padaku,  akupun


mengangguk lega.


Akhirnya


akupun tiba di rumah setelah Tiara mau mengantarku pulang kerumah,  sesampai dirumah ponselku berdering dan kali


ini panggilan dari Rian,  saat aku angkat


panggilan telepon itu Rian mengajak aku untuk hadir di acara festival band


pelajar lusa,  aku pun meng iyakan ajakan


Rian.


Kali ini jantungku rasanya berdebar – debar penuh dengan rasa penasaran yang sangat


kuat saat Rian mengajakku untuk menghadiri acara festival band bersama.


Di


dalam kamar aku berusaha untuk menenangkan diriku,  tugas tugas sekolah yang menumpuk,  belum lagi tugas kesenian yang diberikan oleh


ibu Ghea,  sementara aku sendiri tidak bisa


bermain alat musik,  entahlah.


Bayangan


yuki jelas – jelas masih terbayang dengan jelas dan membuatku cukup merinding


saat teringat,  entah apa yang sebenarnya


terjadi kepadaku,  apakah semua ini


memang benar adanya atau aku hanya sedang bermimpi dan tidak sadarkan diri,  namun ucapan dari Yuki masih teringat jelas


dan rasa dingin yang aku rasakan saat Yuki menjabat tanganku itu benar – benar


terasa nyata bagiku,  walaupun semua


orang pun tahu bahwa kenyataanya aku pingsan saat Rian datang mendekatiku.


Aku


teringat kepada Silvy,  entah bagaimana


perasaannya sekarang kepadaku dan apa yang harus aku lakukan kepada Adit agar


dia berhenti mengejar perasaannya kepadaku


Sebuah


pena seolah memanggilku dan tanpa aku sadari membawaku untuk mulai menulis


seluruh peristiwa hari – hari yang aku alami ke dalam sebuah cerita,  inilah pelarianku manakala aku bingung dan


bimbang dengan keadaanku,  mulai ku


tuliskan kisah – kisahku dan kebingunganku di atas kertas dan kurubah semua


menjadi suatu cerita.


Kini


secara perlahan,  semua kebingungan yang


aku alami perlahan – lahan mulai menghilang dan melebur menjadi sebuah cerita


yang semua orang bisa membacanya,  perasaanku kepada Rian,  kebingunganku kepada Yuki,  kebingunganku kepada Adit dan apa yang aku rasakan kepada Silvy.


Saat


aku tersadar,  Mentari pagi menunjukkan


sinarnya membangunkan aku yang tertidur pulas di atas meja belajarku,  “


Astaga,  jam berapa ini,  aku pasti sudah kesiangan.” Aku terkejut


saat aku terbangun,  buru – buru aku


melihat jam di dinding kamarku,  waktu


menunjukkan pukul enam pagi,  “ untunglah,  aku kira aku telah terlambat.”


Segera


aku bereskan buku pelajaranku dan bersiap – siap untuk segera berangkat ke


sekolah,  kali ini aku meminta kakakku

__ADS_1


lagi untuk mengantarkan aku ke sekolah,  karena jika aku mengendarai sepedaku pasti aku akan terlambat sampai di


sekolah.


__ADS_2