CINTA YANG SEPERTI INI

CINTA YANG SEPERTI INI
Bab 7 Rasa Sakit Yang Telah Mati


__ADS_3

Aku


dan Rian berboncengan menyusuri jalan,  mengelilingi


setiap tempat yang penuh dengan kenangannya bersama Yuki dulu,  di setiap tempat itu dia selalu berhenti,  walau hanya sekedar untuk sedikit mengenang


dan mengirimkan doa.


Begitu


dalam perasaannya kepada Yuki,  itulah


yang aku rasakan,  namun kini tak nampak


lagi wajah sedih yang terpancar, dari raut wajahnya seperti hari – hari


sebelumnya,  di saat pertama kali aku mengenalnya.


Akhirnya


kami berhenti di sebuah rumah sakit,  Rian mengambil tempat di bawah pohon yang sangat rindang, sembari


memesan dua mangkuk es buah kepada penjual es keliling, yang ada di sekitar


rumah sakit itu.


“ Pesan dua mangkuk es buah ya pak.”


“ Oh iya mas,  di tunggu sebentar ya mas.” Kata


bapak penjual es dengan ramah.


Aku


mengambil posisi tepat di sebelah Rian,  dan Rian bersandar di pundakku sembari mulai bercerita tentang Yuki. Aku


begitu terkejut ketika kepalanya menyentuh pundakku.


Kembali


ke masa sekarang,  aku yang tengah


bersantai menuliskan semua cerita masa laluku di atas kertas,  di kejutkan oleh suara petir yang tiba – tiba


saja mengkilatkan cahaya,  bergegas aku


membereskan barang – barangku dan berlari segera menuju tempat yang lebih


teduh.


Di


ujung taman sebuah warung kopi nampak begitu bersih dan menarik,  ku putuskan untuk melanjutkan menulisku di


warung kopi tersebut.


“ Permisi bu,  mau pesan kopi susu ada ?”


“ Oh ada,  silahkan duduk dulu mbak.”



Mbak ! ‘  kataku di dalam hati membuatku


terkejut bukan main,  bagaimana mungkin


seorang perempuan yang tidak lagi muda seperti aku ini masih di panggil mbak,  tapi ya sudahlah setidaknya menandakan bahwa


aku adalah orang yang awet muda.


Mulai


ku ambil posisi terbaikku sembari kucoba menikmati elemen suasana di sekitarku


dan mulai kutulis lagi kisah masa laluku di atas kertas.


Ku


masuki ruang masa laluku dan teringat kembali saat Rian mulai menceritakan


bagaimana perasaannya ketika Yuki telah tiada.


“ Aku tak pernah menyangka,  hari itu adalah hari terakhirku bertemu


dengan Yuki,  andai saja aku tak pernah


memberitahunya kalau aku lolos audisi,  pasti


dia akan tetap ada disini saat ini.”


Rian


menghela nafas panjang dan melanjutkan ceritanya sembari menatap langit dan


sesekali air mata keluar tanpa di harapkan.


“ Yuki mengidap kanker darah dan


kelainan pada jantung.”


“ Selama bertahun – tahun dia


berjuang melawan penyakit itu,  bersama –

__ADS_1


sama kami berjuang dan saling menguatkan.”


“ Dia adalah anak semata wayang yang


hidup di dalam keluarga yang tidak baik – baik saja,  ibunya memilih untuk menikah lagi sedangkan


ayahnya pergi entah kemana.”


“ Dia selalu menemaniku membuat


lagu,  membuatku bersemangat kembali di


saat aku sudah patah semangat bermain musik dan membuatku mahir matematika.”


“ Hingga pada hari dimana dia di


panggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,  saat


itu penyakitnya kambuh dan dia di bawa ke rumah sakit yang ada di depan kita


ini.”


“ Bukan oleh orang tuanya,  namun oleh tetangganya yang membawanya menuju


ke rumah sakit.”


“ Sementara saat itu juga,  aku dinyatakan lolos audisi oleh pihak


rekaman untuk lagu ciptaanku.”


“ Aku memutuskan untuk membiarkan


audisi itu terlewati dan lebih memilih menemani Yuki yang lebih membutuhkanku


di rumah sakit.”


“ Namun Yuki memaksaku untuk aku


berangkat audisi,  dan dia terus


memaksaku dengan tangisnya yag tak bisa aku lawan.”


“ Sungguh berat bagiku untuk bisa


memutuskan apa yang harus aku lakukan pada saat itu,  apakah aku harus mengejar cita – citaku atau


aku harus berada di samping cintaku.”


Es


pesanan kami pun datang,  dan sejenak


Rian menghentikan ceritanya sembari mempersilahkan aku untuk menyantap es yang


Namun


aku lebih memilih haus akan cerita yang akan disampaikan oleh Rian daripada


haus yang harus aku basuh dengan air minum.


“ Terus bagaimana setelah itu ?” tanyaku


kepada Rian dengan penuh rasa penasaran.


Rian


tersenyum padaku seraya meletakkan mangkuk es nya dia melanjutkan kembali


ceritanya.


“ Dia berpura – pura sembuh,  saat aku pergi keluar sebentar untuk membeli


pulsa dan menghubungi pihak penyelenggara audisi,  di saat itulah Yuki mempersiapkan sandiwara


seolah dia sudah di perbolehkan pulang.”


“ Aku yang bingung bercampur bahagia


setelah mengetahui kondisi Yuki yang dinyatakan telah sehat kembali,  tanpa piker panjang segera mengajaknya ke


tempat studio audisi.”


“ Tanpa rasa curiga sedikitpun,  aku menyuruhnya untuk menemaniku ber jam –


jam lamanya.”


“ Hingga waktunya tiba


giliranku,  Yuki memilih untuk menunggu


di luar dan tidak ikut masuk ke dalam studio.”


“ Dan setelah selesai audisi,  aku terkejut luar biasa,  Yuki sudah tidak ada ditempatnya dan telah


kembali ke rumah sakit.”


“ Disaat terakhirnya itu lah,  Yuki menghembuskan nafas terakhirnya di dalam


pangkuanku.”


Rian


mengakhiri ceritanya dengan menyeka air mata yang keluar di pipiku,  tak terasa air mata mengalir deras di

__ADS_1


mataku,  aku yang begitu terharu dengan


kisah cinta mereka tak bisa berkata apa – apa selain hanya bisa menangis haru.


Sebuah


rasa sakit yang di anggap mati demi besarnya perasaan cintanya kepada orang


yang di cintainya,  sungguh  luar biasa apa yang dilakukan Yuki,  gumamku di dalam hati.


“ Eh yan,  bagaimana kalau kita lanjutin perjalanan


yuk,  aku mau ada acara di rumah nih.”


“ lagian suasana udah mulai mendung.”


Rian


menganggukkan kepala seraya membayar dua es buah yang kita makan kepada


penjualnya.


Singkatnya


kami tiba di depan halaman rumahku,  tanpa banyak bicara Rian langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan


setelah menurunkanku dari motornya.


“ Terima kasih atas waktunya Rian !.” teriakku


sambil melambaikan tanganku kepadanya,  walaupun entah dia dengar atau tidak.


Tak


terasa kopi susu yang ada di depanku sudah mulai dingin,  perlahan ku letakkan pena dan bukuku dan


mulai kunikmati kopi susu yang memikat di depanku.


“ Bu,  sudah lama jualan disini ?” tanyaku kepada ibu


penjual warung kopi


“ Sudah mbak,  sudah tiga puluh tahun lebih ibu dan keluarga


hidup dari jualan kopi di warung ini mbak.” Jawab ibu penjual


warung kopi


“ Kalau boleh tahu,  si mbak ini orang mana dan habis darimana ? “ tanya


si ibu penjual kopi kepadaku.


“ Oh saya orang sini saja kog


bu,  rumah saya tidak jauh dari sini.”


“ Kog baru kelihatan mbak selama ibu


jualan di warung sini belum pernah melihat wanita secantik mbak.”


Aku


merasa malu bercampur bangga,  ternyata


aku masih menarik juga di usiaku yang tidak muda lagi seperti ini.


“ Sudah menikah mbak ?”


“ Belum bu,  masih belum ada yang cocok di hati.”


Ibu


itu mendekatiku dan duduk disebelahku,


“ Lho kenapa belum menemukan dengan


yang sesuai di hati neng,  menikahlah dan


kamu pasti akan menemukan yang sesuai di hati.”


Akupun


hanya menganggukkan kepala,  sembari


menyeruput kopi susu buatan ibu penjual warung.


“ Berapa usiamu sekarang neng ?.”


“ Coba ibu tebak berapa usia saya


sekarang ?”


Si


Ibu berfikir sejenak sembari mengamatiku dari atas ke bawah,  lalu ibu itu tersenyum


“ Usiamu 26  tahun ya neng.”


Akupun


terkejut dengan jawaban ibu itu,  karena


usiaku tidak semuda seperti apa yang di ucapkan oeh ibu itu.

__ADS_1


__ADS_2