
Aku
dan Rian berboncengan menyusuri jalan, mengelilingi
setiap tempat yang penuh dengan kenangannya bersama Yuki dulu, di setiap tempat itu dia selalu berhenti, walau hanya sekedar untuk sedikit mengenang
dan mengirimkan doa.
Begitu
dalam perasaannya kepada Yuki, itulah
yang aku rasakan, namun kini tak nampak
lagi wajah sedih yang terpancar, dari raut wajahnya seperti hari – hari
sebelumnya, di saat pertama kali aku mengenalnya.
Akhirnya
kami berhenti di sebuah rumah sakit, Rian mengambil tempat di bawah pohon yang sangat rindang, sembari
memesan dua mangkuk es buah kepada penjual es keliling, yang ada di sekitar
rumah sakit itu.
“ Pesan dua mangkuk es buah ya pak.”
“ Oh iya mas, di tunggu sebentar ya mas.” Kata
bapak penjual es dengan ramah.
Aku
mengambil posisi tepat di sebelah Rian, dan Rian bersandar di pundakku sembari mulai bercerita tentang Yuki. Aku
begitu terkejut ketika kepalanya menyentuh pundakku.
Kembali
ke masa sekarang, aku yang tengah
bersantai menuliskan semua cerita masa laluku di atas kertas, di kejutkan oleh suara petir yang tiba – tiba
saja mengkilatkan cahaya, bergegas aku
membereskan barang – barangku dan berlari segera menuju tempat yang lebih
teduh.
Di
ujung taman sebuah warung kopi nampak begitu bersih dan menarik, ku putuskan untuk melanjutkan menulisku di
warung kopi tersebut.
“ Permisi bu, mau pesan kopi susu ada ?”
“ Oh ada, silahkan duduk dulu mbak.”
‘
Mbak ! ‘ kataku di dalam hati membuatku
terkejut bukan main, bagaimana mungkin
seorang perempuan yang tidak lagi muda seperti aku ini masih di panggil mbak, tapi ya sudahlah setidaknya menandakan bahwa
aku adalah orang yang awet muda.
Mulai
ku ambil posisi terbaikku sembari kucoba menikmati elemen suasana di sekitarku
dan mulai kutulis lagi kisah masa laluku di atas kertas.
Ku
masuki ruang masa laluku dan teringat kembali saat Rian mulai menceritakan
bagaimana perasaannya ketika Yuki telah tiada.
“ Aku tak pernah menyangka, hari itu adalah hari terakhirku bertemu
dengan Yuki, andai saja aku tak pernah
memberitahunya kalau aku lolos audisi, pasti
dia akan tetap ada disini saat ini.”
Rian
menghela nafas panjang dan melanjutkan ceritanya sembari menatap langit dan
sesekali air mata keluar tanpa di harapkan.
“ Yuki mengidap kanker darah dan
kelainan pada jantung.”
“ Selama bertahun – tahun dia
berjuang melawan penyakit itu, bersama –
__ADS_1
sama kami berjuang dan saling menguatkan.”
“ Dia adalah anak semata wayang yang
hidup di dalam keluarga yang tidak baik – baik saja, ibunya memilih untuk menikah lagi sedangkan
ayahnya pergi entah kemana.”
“ Dia selalu menemaniku membuat
lagu, membuatku bersemangat kembali di
saat aku sudah patah semangat bermain musik dan membuatku mahir matematika.”
“ Hingga pada hari dimana dia di
panggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, saat
itu penyakitnya kambuh dan dia di bawa ke rumah sakit yang ada di depan kita
ini.”
“ Bukan oleh orang tuanya, namun oleh tetangganya yang membawanya menuju
ke rumah sakit.”
“ Sementara saat itu juga, aku dinyatakan lolos audisi oleh pihak
rekaman untuk lagu ciptaanku.”
“ Aku memutuskan untuk membiarkan
audisi itu terlewati dan lebih memilih menemani Yuki yang lebih membutuhkanku
di rumah sakit.”
“ Namun Yuki memaksaku untuk aku
berangkat audisi, dan dia terus
memaksaku dengan tangisnya yag tak bisa aku lawan.”
“ Sungguh berat bagiku untuk bisa
memutuskan apa yang harus aku lakukan pada saat itu, apakah aku harus mengejar cita – citaku atau
aku harus berada di samping cintaku.”
Es
pesanan kami pun datang, dan sejenak
Rian menghentikan ceritanya sembari mempersilahkan aku untuk menyantap es yang
Namun
aku lebih memilih haus akan cerita yang akan disampaikan oleh Rian daripada
haus yang harus aku basuh dengan air minum.
“ Terus bagaimana setelah itu ?” tanyaku
kepada Rian dengan penuh rasa penasaran.
Rian
tersenyum padaku seraya meletakkan mangkuk es nya dia melanjutkan kembali
ceritanya.
“ Dia berpura – pura sembuh, saat aku pergi keluar sebentar untuk membeli
pulsa dan menghubungi pihak penyelenggara audisi, di saat itulah Yuki mempersiapkan sandiwara
seolah dia sudah di perbolehkan pulang.”
“ Aku yang bingung bercampur bahagia
setelah mengetahui kondisi Yuki yang dinyatakan telah sehat kembali, tanpa piker panjang segera mengajaknya ke
tempat studio audisi.”
“ Tanpa rasa curiga sedikitpun, aku menyuruhnya untuk menemaniku ber jam –
jam lamanya.”
“ Hingga waktunya tiba
giliranku, Yuki memilih untuk menunggu
di luar dan tidak ikut masuk ke dalam studio.”
“ Dan setelah selesai audisi, aku terkejut luar biasa, Yuki sudah tidak ada ditempatnya dan telah
kembali ke rumah sakit.”
“ Disaat terakhirnya itu lah, Yuki menghembuskan nafas terakhirnya di dalam
pangkuanku.”
Rian
mengakhiri ceritanya dengan menyeka air mata yang keluar di pipiku, tak terasa air mata mengalir deras di
__ADS_1
mataku, aku yang begitu terharu dengan
kisah cinta mereka tak bisa berkata apa – apa selain hanya bisa menangis haru.
Sebuah
rasa sakit yang di anggap mati demi besarnya perasaan cintanya kepada orang
yang di cintainya, sungguh luar biasa apa yang dilakukan Yuki, gumamku di dalam hati.
“ Eh yan, bagaimana kalau kita lanjutin perjalanan
yuk, aku mau ada acara di rumah nih.”
“ lagian suasana udah mulai mendung.”
Rian
menganggukkan kepala seraya membayar dua es buah yang kita makan kepada
penjualnya.
Singkatnya
kami tiba di depan halaman rumahku, tanpa banyak bicara Rian langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan
setelah menurunkanku dari motornya.
“ Terima kasih atas waktunya Rian !.” teriakku
sambil melambaikan tanganku kepadanya, walaupun entah dia dengar atau tidak.
Tak
terasa kopi susu yang ada di depanku sudah mulai dingin, perlahan ku letakkan pena dan bukuku dan
mulai kunikmati kopi susu yang memikat di depanku.
“ Bu, sudah lama jualan disini ?” tanyaku kepada ibu
penjual warung kopi
“ Sudah mbak, sudah tiga puluh tahun lebih ibu dan keluarga
hidup dari jualan kopi di warung ini mbak.” Jawab ibu penjual
warung kopi
“ Kalau boleh tahu, si mbak ini orang mana dan habis darimana ? “ tanya
si ibu penjual kopi kepadaku.
“ Oh saya orang sini saja kog
bu, rumah saya tidak jauh dari sini.”
“ Kog baru kelihatan mbak selama ibu
jualan di warung sini belum pernah melihat wanita secantik mbak.”
Aku
merasa malu bercampur bangga, ternyata
aku masih menarik juga di usiaku yang tidak muda lagi seperti ini.
“ Sudah menikah mbak ?”
“ Belum bu, masih belum ada yang cocok di hati.”
Ibu
itu mendekatiku dan duduk disebelahku,
“ Lho kenapa belum menemukan dengan
yang sesuai di hati neng, menikahlah dan
kamu pasti akan menemukan yang sesuai di hati.”
Akupun
hanya menganggukkan kepala, sembari
menyeruput kopi susu buatan ibu penjual warung.
“ Berapa usiamu sekarang neng ?.”
“ Coba ibu tebak berapa usia saya
sekarang ?”
Si
Ibu berfikir sejenak sembari mengamatiku dari atas ke bawah, lalu ibu itu tersenyum
“ Usiamu 26 tahun ya neng.”
Akupun
terkejut dengan jawaban ibu itu, karena
usiaku tidak semuda seperti apa yang di ucapkan oeh ibu itu.
__ADS_1