CINTA YANG SEPERTI INI

CINTA YANG SEPERTI INI
Bab 2 Di Persimpangan Jalan


__ADS_3

Kususuri jalan setapak kecil di belakang rumahku,  meringkas sebuah kenangan saat - saat yang tak mungkin bisa terulang.


Ku langkahkan kakiku, menuju hamparan rumput yang hijau nan luas,  mulai ku rentangkan taplak kain sebagai alas,


kupejamkan sejenak mataku dan kurasakan aliran kisah mengalir bersama desiran


darah,  menuntun langkah jemari tanganku


untuk memegang pena.


Dua puluh enam tahun masih menjadi awal yang indah,  sebuah perjalanan hidup yang tak akan aku lupa dengan suka dan


luka,  dan kini aku mulai larut kembali


di dalam kisah masa laluku.


Tibalah aku di bangku kelasku,  Silvy dan


Monic dengan wajah masam tampak berjalan ke arahku.


“Hey Lin,  ternyata kamu habis jalan sama cowok yang


kemarin ya,  ternyata kalian sudah saling


kenal ya ? “


Aku


hanya tersenyum menatap Silvy yang sudah tampak masam kepadaku. “ Namanya Adit,  dia anak kelas sepuluh,  masih adik kelas kita…. Tapi usianya seumuran


kita,  karena dia anak pindahan. “


Silvy


mulai tersenyum manis setelah mendengar ucapanku,  dia mulai mendekatiku dan kembali bersikap


baik kepadaku.


“ Terus – terus apalagi yang kamu


tahu tentang dia ? “Tanya Silvy dengan wajah penuh maksud.


“ Iya,  dia dulu sekolah di Australia,  terus baru sebulan dia pindah kesini,  ya begitulah ceritanya.”Jawabku menyelesaikan ceritaku


Bel


tanda istirahat berbunyi,  aku menatap keluar jendela


kelas yang tampak begitu ramai, dengan kerumunan anak - anak osis disana,  membuatku menjadi penasaran dan ingin mencari


tahu.


Tampak


selembar kertas pengumuman acara Festival Band Pelajar Tahunan terpampang di


mading sekolahan,  “ Hmm…  apakah kamu ingin pergi


melihat acara itu bersamaku ? ”  Tanya


Adit yang tiba – tiba saja sudah berada di belakangku.


Aku


hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalaku, saat itu aku tertuju pada foto


seseorang yang menjadi background di selebaran itu,  membuat jantungku tiba tiba berdebar tak


seperti biasanya. Aku kemudian beranjak pergi meninggalkan Adit dan papan mading.


Silvy


menghampiriku yang sedang duduk di depan kelas,  dia mengajakku untuk pergi ke Sma 1 sepulang sekolah,  dia memintaku untuk menemaninya bertemu


dengan teman karibnya di Sma 1,  akupun


menerima ajakannya.


Bel


sekolah tanda pulang sekolah berbunyi,  aku dan Silvy bergegas mengayuh sepeda kami menuju ke Sma 1,  yang jaraknya tidaklah terlalu jauh dari


sekolahku.


Tampak


para siswa dan siswi dengan seragam jas biru berlalu lalang di depan Sma


1,  yang merupakan ciri khas dari Sma 1,  jelas berbeda dengan seragam sekolahku yang


memakai jas putih.


Dian


Tiara Rarasati,  panggilanya adalah Tiara  dia adalah sahabat karib Silvy dari Sma


1,  dia menunggu kami di depan gerbang


sekolah,  dan bergegas mengajak kami


untuk masuk ke dalam lingkungan sekolahnya. Aku begitu takjub melihat konsep


sekolah Tiara,  yang begitu megah namun


tetap asri mempertahankan banyak pepohonan hijau nan rindang disana.

__ADS_1


Kini


giliranku yang terpana,  saat secara tak


sengaja aku melihat seorang siswa laki – laki, sedang duduk sendiri sambil


memainkan gitarnya,  suaranya sangat


merdu dan permainan gitarnya benar - benar membuatku terpesona. Tiara yang ternyata


sedari tadi sudah memperhatikanku lantas menegurku.


“Oh,  dia namanya Rian,  dia adalah musisi


hebat di sekolah ini,  bahkan di kota ini


” Ucap


Tiara


Aku


pun terkejut mendengar pernyataan dari Tiara yang seolah tahu apa yang sedang


mengganggu pikiranku.


Namun


aku merasa,  seolah Rian juga sedang


memperhatikanku dengan tatapan yang tidak biasa,  entah hanya perasaanku saja atau memang


begitu kenyataanya,  namun aku merasakan


hal yang lain dari tatapan matanya kepadaku.


Kini


aku telah berada di ruang kelas Tiara,  begitu bersih dan rapi ruang kelas Tiara. Saat kami sedang asyik


berbincang,  tiba tiba saja gerombolan


siswa laki -laki masuk ke ruang kelas dan membuat gaduh,  Armando adalah yang terlihat paling menonjol


di antara gerombolan itu.


“Wah ada bidadari cantik dari sekolah


model nih “  ucap


Armando sambil cekikikan kepada teman temannya.


“Sudah pergi sana kalian !....  jangan membuat gaduh disini”  bentak Tiara kepada


“Ah !.. memangnya engkau siapa ?  aku tidak bermaksud mengganggumu,  aku hanya ingin berkenalan dengan nona nona


cantik ini “


Dari


luar pintu, Rian langsung menggelandang masuk ke dalam kelas Tiara,  tanpa basa – basi dia memerintah Armando dan


teman temannya untuk pergi dan tidak mengganggu kami,  hanya cukup dengan ayunan tangan saja,  Armando dan gengnya langsung pergi begitu


saja.


“ Maaf,  jika aku mengganggu kalian.. aku tidak


sengaja lewat kelas ini,  dan kulihat


Armando mengganggu kalian “ Ucapnya Rian sembari beranjak pergi meninggalkan


kami di dalam kelas.


Sungguh


pemandangan yang membuatku takjub,  membuatku semakin penasaran tentang siapa Rian sebenarnya.


Kuberanikan


diriku untuk bertanya kepada Tiara,  namun Tiara enggan berbicara banyak tentang Rian,  hanya ada satu kalimat yang dia ucapkan


tentang Rian.


“ Dia adalah batu karang,  jangan dekati dia atau kau akan tersakiti “


Ucapan Tiara bukan membuatku menjadi takut,  namun membuatku semakin menjadi penasaran,  siapa dia sebenarnya,  kenapa jantungku


berdebar tidak karuan saat menatap atau berada di dekatnya.


Sore


terlewati,  malam mulai menunjukkan


masanya,  kini aku sudah berada di rumah


bersama dengan adikku. Entah kakakku pergi kemana,  karena biasanya dia akan berada dirumah


sebelum malam tiba. Tiba - tiba Telepon rumah berdering,  aku bergegas mengangkatnya.


Linda


mengabariku,  bahwa dia dan temannya akan


bermain kerumahku,  akupun mempersilahkan

__ADS_1


dia dan temannya untuk datang kerumahku,  namun aku berpesan agar jangan terlalu malam bertamu dirumahku,  karena aku tidak ingin tetangga – tetanggaku berprasangka


buruk kepada kami sekeluarga.


Tak


berselang lama kemudian, Linda datang kerumahku bersama dengan Adit dan Yuna,  aku pun mempersilahkan mereka untuk masuk.


“Eh Rian nggak disuruh masuk juga ?” Tanya  Linda kepada Adit.


Mendengar


nama itu,  membuatku tiba tiba merasa


gugup,  bergegas aku mengintip lewat


jendela ruang tamu,  dan ternyata benar


dia adalah Rian yang aku jumpai di sekolah Tiara tadi,  bagaimana mungkin Rian sekarang berada


disini,  ini seperti mimpi buatku.


Adit


memanggil Rian untuk masuk,  namun Rian


tampak menolak ajakan Adit,  dan lebih


memilih untuk menunggu di luar.


“ Siapakah Rian itu ?” tanyaku


kepada Linda


“ Dia adalah sopir si Adit “,  jawab Linda kepadaku


“ Ngawur !....  dia adalah saudara tiriku Lin,  dan dia adalah pemain gitar yang hebat “ Ucap


Adit menerangkan kepada Linda.


Jantungku


tiba – tiba terasa semakin berdebar kencang,  saat mendengar namanya disebut.


Akupun


segera menawarkan minuman kepada Linda,  Adit dan Yuna,  tak lupa aku pun


juga menanyakan kepada Adit,  untuk


menawarkan minuman kepada Rian yang masih ada di luar,  aku meminta kepada adikku untuk membuatkan


kami minuman.


Tak lama setelah adikku keluar membawa minuman,  aku pun langsung mengambil segelas minuman untuk Rian, dan


mengantarkannya sendiri keluar.


“ Terima kasih ya Rian,  tadi kamu udah nyegah Armando dan teman -


temannya untuk mengganggu kami “,  Rian


hanya tersenyum dan mengangguk tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.


“ Kenapa kamu tidak mau masuk kedalam


Rian,  masuklah “,  ajakku kepadanya,  namun lagi lagi dia hanya tersenyum dan


menggeleng seraya pergi begitu saja meninggalkanku menuju ke mobil yang


terparkir di luar.


Aku


hanya terpaku melihat Rian yang begitu dingin,  seolah ada sesuatu rahasia besar yang dia sembunyikan sendiri.


Tak lama setelah itu,  Linda pun mengajak


Adit dan Yuna untuk berpamitan untuk pulang,  tak terasa waktu sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam,  bersamaan dengan kakakku yang baru saja


datang.


Rian


pergi begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berpamitan kepadaku,  hanya dengan isyarat lambaian tangan dan


senyuman manis


Kini


aku merasa berada di persimpangan jalan perasaanku,  apakah perasaanku ini antara penasaran dengan


Rian,  atau aku sedang jatuh hati


kepadanya,  apa yang harus aku lakukan


?  haruskah aku tidak peduli


dengannya,  atau aku harus beradaptasi


dengan caranya,  karena sikapnya yang cukup


dingin,  tidak seperti orang – orang pada


umumnya.

__ADS_1


__ADS_2