
Kususuri jalan setapak kecil di belakang rumahku, meringkas sebuah kenangan saat - saat yang tak mungkin bisa terulang.
Ku langkahkan kakiku, menuju hamparan rumput yang hijau nan luas, mulai ku rentangkan taplak kain sebagai alas,
kupejamkan sejenak mataku dan kurasakan aliran kisah mengalir bersama desiran
darah, menuntun langkah jemari tanganku
untuk memegang pena.
Dua puluh enam tahun masih menjadi awal yang indah, sebuah perjalanan hidup yang tak akan aku lupa dengan suka dan
luka, dan kini aku mulai larut kembali
di dalam kisah masa laluku.
Tibalah aku di bangku kelasku, Silvy dan
Monic dengan wajah masam tampak berjalan ke arahku.
“Hey Lin, ternyata kamu habis jalan sama cowok yang
kemarin ya, ternyata kalian sudah saling
kenal ya ? “
Aku
hanya tersenyum menatap Silvy yang sudah tampak masam kepadaku. “ Namanya Adit, dia anak kelas sepuluh, masih adik kelas kita…. Tapi usianya seumuran
kita, karena dia anak pindahan. “
Silvy
mulai tersenyum manis setelah mendengar ucapanku, dia mulai mendekatiku dan kembali bersikap
baik kepadaku.
“ Terus – terus apalagi yang kamu
tahu tentang dia ? “Tanya Silvy dengan wajah penuh maksud.
“ Iya, dia dulu sekolah di Australia, terus baru sebulan dia pindah kesini, ya begitulah ceritanya.”Jawabku menyelesaikan ceritaku
Bel
tanda istirahat berbunyi, aku menatap keluar jendela
kelas yang tampak begitu ramai, dengan kerumunan anak - anak osis disana, membuatku menjadi penasaran dan ingin mencari
tahu.
Tampak
selembar kertas pengumuman acara Festival Band Pelajar Tahunan terpampang di
mading sekolahan, “ Hmm… apakah kamu ingin pergi
melihat acara itu bersamaku ? ” Tanya
Adit yang tiba – tiba saja sudah berada di belakangku.
Aku
hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalaku, saat itu aku tertuju pada foto
seseorang yang menjadi background di selebaran itu, membuat jantungku tiba tiba berdebar tak
seperti biasanya. Aku kemudian beranjak pergi meninggalkan Adit dan papan mading.
Silvy
menghampiriku yang sedang duduk di depan kelas, dia mengajakku untuk pergi ke Sma 1 sepulang sekolah, dia memintaku untuk menemaninya bertemu
dengan teman karibnya di Sma 1, akupun
menerima ajakannya.
Bel
sekolah tanda pulang sekolah berbunyi, aku dan Silvy bergegas mengayuh sepeda kami menuju ke Sma 1, yang jaraknya tidaklah terlalu jauh dari
sekolahku.
Tampak
para siswa dan siswi dengan seragam jas biru berlalu lalang di depan Sma
1, yang merupakan ciri khas dari Sma 1, jelas berbeda dengan seragam sekolahku yang
memakai jas putih.
Dian
Tiara Rarasati, panggilanya adalah Tiara dia adalah sahabat karib Silvy dari Sma
1, dia menunggu kami di depan gerbang
sekolah, dan bergegas mengajak kami
untuk masuk ke dalam lingkungan sekolahnya. Aku begitu takjub melihat konsep
sekolah Tiara, yang begitu megah namun
tetap asri mempertahankan banyak pepohonan hijau nan rindang disana.
__ADS_1
Kini
giliranku yang terpana, saat secara tak
sengaja aku melihat seorang siswa laki – laki, sedang duduk sendiri sambil
memainkan gitarnya, suaranya sangat
merdu dan permainan gitarnya benar - benar membuatku terpesona. Tiara yang ternyata
sedari tadi sudah memperhatikanku lantas menegurku.
“Oh, dia namanya Rian, dia adalah musisi
hebat di sekolah ini, bahkan di kota ini
” Ucap
Tiara
Aku
pun terkejut mendengar pernyataan dari Tiara yang seolah tahu apa yang sedang
mengganggu pikiranku.
Namun
aku merasa, seolah Rian juga sedang
memperhatikanku dengan tatapan yang tidak biasa, entah hanya perasaanku saja atau memang
begitu kenyataanya, namun aku merasakan
hal yang lain dari tatapan matanya kepadaku.
Kini
aku telah berada di ruang kelas Tiara, begitu bersih dan rapi ruang kelas Tiara. Saat kami sedang asyik
berbincang, tiba tiba saja gerombolan
siswa laki -laki masuk ke ruang kelas dan membuat gaduh, Armando adalah yang terlihat paling menonjol
di antara gerombolan itu.
“Wah ada bidadari cantik dari sekolah
model nih “ ucap
Armando sambil cekikikan kepada teman temannya.
“Sudah pergi sana kalian !.... jangan membuat gaduh disini” bentak Tiara kepada
“Ah !.. memangnya engkau siapa ? aku tidak bermaksud mengganggumu, aku hanya ingin berkenalan dengan nona nona
cantik ini “
Dari
luar pintu, Rian langsung menggelandang masuk ke dalam kelas Tiara, tanpa basa – basi dia memerintah Armando dan
teman temannya untuk pergi dan tidak mengganggu kami, hanya cukup dengan ayunan tangan saja, Armando dan gengnya langsung pergi begitu
saja.
“ Maaf, jika aku mengganggu kalian.. aku tidak
sengaja lewat kelas ini, dan kulihat
Armando mengganggu kalian “ Ucapnya Rian sembari beranjak pergi meninggalkan
kami di dalam kelas.
Sungguh
pemandangan yang membuatku takjub, membuatku semakin penasaran tentang siapa Rian sebenarnya.
Kuberanikan
diriku untuk bertanya kepada Tiara, namun Tiara enggan berbicara banyak tentang Rian, hanya ada satu kalimat yang dia ucapkan
tentang Rian.
“ Dia adalah batu karang, jangan dekati dia atau kau akan tersakiti “
Ucapan Tiara bukan membuatku menjadi takut, namun membuatku semakin menjadi penasaran, siapa dia sebenarnya, kenapa jantungku
berdebar tidak karuan saat menatap atau berada di dekatnya.
Sore
terlewati, malam mulai menunjukkan
masanya, kini aku sudah berada di rumah
bersama dengan adikku. Entah kakakku pergi kemana, karena biasanya dia akan berada dirumah
sebelum malam tiba. Tiba - tiba Telepon rumah berdering, aku bergegas mengangkatnya.
Linda
mengabariku, bahwa dia dan temannya akan
bermain kerumahku, akupun mempersilahkan
__ADS_1
dia dan temannya untuk datang kerumahku, namun aku berpesan agar jangan terlalu malam bertamu dirumahku, karena aku tidak ingin tetangga – tetanggaku berprasangka
buruk kepada kami sekeluarga.
Tak
berselang lama kemudian, Linda datang kerumahku bersama dengan Adit dan Yuna, aku pun mempersilahkan mereka untuk masuk.
“Eh Rian nggak disuruh masuk juga ?” Tanya Linda kepada Adit.
Mendengar
nama itu, membuatku tiba tiba merasa
gugup, bergegas aku mengintip lewat
jendela ruang tamu, dan ternyata benar
dia adalah Rian yang aku jumpai di sekolah Tiara tadi, bagaimana mungkin Rian sekarang berada
disini, ini seperti mimpi buatku.
Adit
memanggil Rian untuk masuk, namun Rian
tampak menolak ajakan Adit, dan lebih
memilih untuk menunggu di luar.
“ Siapakah Rian itu ?” tanyaku
kepada Linda
“ Dia adalah sopir si Adit “, jawab Linda kepadaku
“ Ngawur !.... dia adalah saudara tiriku Lin, dan dia adalah pemain gitar yang hebat “ Ucap
Adit menerangkan kepada Linda.
Jantungku
tiba – tiba terasa semakin berdebar kencang, saat mendengar namanya disebut.
Akupun
segera menawarkan minuman kepada Linda, Adit dan Yuna, tak lupa aku pun
juga menanyakan kepada Adit, untuk
menawarkan minuman kepada Rian yang masih ada di luar, aku meminta kepada adikku untuk membuatkan
kami minuman.
Tak lama setelah adikku keluar membawa minuman, aku pun langsung mengambil segelas minuman untuk Rian, dan
mengantarkannya sendiri keluar.
“ Terima kasih ya Rian, tadi kamu udah nyegah Armando dan teman -
temannya untuk mengganggu kami “, Rian
hanya tersenyum dan mengangguk tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
“ Kenapa kamu tidak mau masuk kedalam
Rian, masuklah “, ajakku kepadanya, namun lagi lagi dia hanya tersenyum dan
menggeleng seraya pergi begitu saja meninggalkanku menuju ke mobil yang
terparkir di luar.
Aku
hanya terpaku melihat Rian yang begitu dingin, seolah ada sesuatu rahasia besar yang dia sembunyikan sendiri.
Tak lama setelah itu, Linda pun mengajak
Adit dan Yuna untuk berpamitan untuk pulang, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam, bersamaan dengan kakakku yang baru saja
datang.
Rian
pergi begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berpamitan kepadaku, hanya dengan isyarat lambaian tangan dan
senyuman manis
Kini
aku merasa berada di persimpangan jalan perasaanku, apakah perasaanku ini antara penasaran dengan
Rian, atau aku sedang jatuh hati
kepadanya, apa yang harus aku lakukan
? haruskah aku tidak peduli
dengannya, atau aku harus beradaptasi
dengan caranya, karena sikapnya yang cukup
dingin, tidak seperti orang – orang pada
umumnya.
__ADS_1