CINTA YANG SEPERTI INI

CINTA YANG SEPERTI INI
Bab 14 Pilihan ?


__ADS_3

“Kemana Rian?” tanyaku cemas.


“Rian kecelakaan,  sudah ayo aku antar kamu pulang kerumah.”


Aku terkejut mendengar berita itu,  lututku terasa begitu lemas tak berdaya,  aku terduduk dengan lemas.


Tiara menguatkanku,  dan berusaha mengangkat tubuhku yang begitu lemas tak berdaya.


“Antarkan aku menemuinya Ra,  aku ingin ketemu Rian.” Ucapku memohon.


“Kamu yakin kuat  mau ketemu Rian dalam kondisinya yang begini?” ujar Tiara.


Aku menganggukkan kepalaku,  namun Tiara meyakinkanku lagi dengan pertanyaan yang sama,  dan akupun masih menganggukkan kepala dan bergegas duduk di jok motor Tiara.


Tiara pun tidak bisa menolak permintaanku,  kami segera bergegas menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi Rian.


Sesampainya di rumah sakit,  aku sangat terkejut,  ternyata bukan hanya Rian yang berada di ruangan UGD,  tapi juga Adit dan seorang anak perempuan,  aku yang masih bingung kemudian bertanya kepada Tiara,  tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Tiara masih enggan menjelaskan apa yang terjadi,  dia hanya mengatakan,  bahwa anak perempuan itu adalah Sinta,  dia adalah adik kandung dari Rian,  dan Sinta juga ikut lolos dalam audisi 50 besar idol group.


Sontak hal itu membuatku benar-benar terkejut dan tak tahu harus berkata apa,  aku juga masih bingung bagaimana mungkin Rian, Adit dan Sinta berada di rumah sakit dalam waktu yang bersamaan.


Tiba-tiba Tiara mengambil nafas panjang,  sambil menatapku penuh dengan amarah,  dia menarik tanganku dan membawaku keluar ruangan.


“Asal tahu saja Lin,  semua ini gara-gara kamu.” Ucapnya kesal.


“Gara-gara aku,  apa maksudnya Ra?” jawabku bingung


“Iya!, Rian kecelakaan gara-gara kamu,  sedangkan Adit dan Sinta kecelakaan gara-gara Rian.” Bentak Tiara dengan ekspresi kecewa.


Aku semakin tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Tiara,  aku meminta Tiara untuk tenang dan menceritakan kejadian yang sebenarnya.


“Apakah kamu lupa Lin,  hari ini adalah hari penampilan Rian?” Tanya Tiara.


“Penampilan apa Ra? aku nggak tahu.” jawabku bingung.


“Begitu tidak pedulinya kamu Lin kepada Rian,  pernahkah kamu bertanya kabar Rian,  apa yang sedang dia lakukan,  agenda apa yang akan dia lakukan,  pernah nggak kamu bertanya?” ujar Tiara sambil mengarahkan telunjuknya ke wajahku.


Akupun hanya bisa terdiam,  aku memang tidak pernah bertanya tentang semua hal itu kepada Rian,  aku terlalu egois dengan diriku sendiri.

__ADS_1


Kini aku tersadar,  bahwa keputusanku menerima perasaan Rian adalah suatu kesalahan besar,  karena apa yang aku rasakan hanyalah rasa penasaran saja,  bukan perasaan suka atau sayang kepada Rian.


“Hari ini Rian ada jadwal tampil di acara pernikahan,  tapi demi memenuhi janjinya untuk bertemu denganmu,  dia


tadi memaksakan diri untuk menjemputmu Lin.” Ujar Tiara yang benar-benar membuatku merasa bersalah.


“Dia ngebut,  dan sampai di lampu merah tiba-tiba saja remnya blong,  sampai akhirnya dia ditabrak mobil yang


melintas.” Ujar Tiara sambil menangis


“Sinta dan Adit yang tahu kakaknya kecelakaan,  bergegas ke rumah sakit Lin,  tapi sayang,  meraka berdua juga mengalami nasib yang sama.” Ujar Tiara lagi


Tiba-tiba seorang laki-laki dewasa dengan panik,  datang dengan tergesa dan bergegas masuk ke ruang UGD.


“Bagaimana keadaan Adit?”  tanya laki-laki itu kepada Tiara


“Mereka masih belum sadar om,  tapi yang paling kritis adalah Rian.” Jawab Tiara kepada lelaki itu.


Lelaki itu kemudian masuk ke dalam ruang UGD,  aku pun penasaran dengan laki-laki itu,  dan kutanyakan kepada Tiara tentang lelaki itu.


“Siapa lelaki itu Ra?... kenapa dia hanya menanyakan kabar Sinta dan Adit saja?” ucapku heran


“Rian dan Sinta adalah saudara kandung dari ibunya,  dulu ibu kandung Rian meninggalkan ayahnya dan memilih menikah lagi dengan Ayahnya Adit,  saat Sinta masih kecil.” Terang Tiara sambil mengusap air mata di pipinya


Sungguh rumit memang hubungan keluarga Rian dan keluarganya,  akupun baru mengetahui semua ini dari Tiara,  karena memang Rian terlalu pendiam dan tidak pernah menceritakan apa-apa kepadaku.


“Begitulah Lin,  memang terkadang sebuah pilihan itu akan terasa sulit,  namun setiap manusia selalu di hadapkan pada suatu pilihan di dalam hidupnya.”


“Andai saja tidak pernah ada pilihan,  pasti semua kehidupan akan berjalan lurus dan kosong.” Gumam tiara kepadaku.


Memang ada benarnya yang dikatakan oleh Tiara,  setiap manusia pasti akan di hadapkan pada suatu pilihan di dalam hidupnya,  dan andai tidak pernah ada pilihan,  pasti kehidupan ini hanya berjalan lurus dan kosong,  karena setiap pilihan hidup pasti akan mempunyai konsekuensinya sendiri.


Ken dan personil chemistry band yang lain,  akhirnya datang dan membuat suasana di pavilion tempat Rian dirawat


menjadi begitu riuh.


Aku yang hanya termenung di lorong rumah sakit,  merenungkan semua yang terjadi,  sambil aku berdoa agar Rian segera di berikan kesembuhan,  aku menghubungi kakakku bermaksud untuk mengabarinya,  kalau aku tidak akan pulang,  namun kakakku melarangku menginap di rumah sakit,  dia mengatakan akan menjemputku segera.


Akupun  duduk di sebelah Rian,  dan berbisik di sebelahnya bahwa semua akan baik-baik saja,  dan aku mengatakan akan kembali besok untuk menjenguknya kembali,  namun dia tidak menjawab sepatah katapun,  dia tetap tertidur disamping Kasur Sinta adiknya yang sedang tidak sadarkan diri juga.

__ADS_1


Tak lama kemudian,  kakakku datang menjemputku,  akupun berpamitan kepada Ayah tiri Rian dan juga kepada teman-teman Rian yang lain.


Malam itu aku tidak bisa tidur,  perasaan sedih bercampur dengan bingung membaur menjadi satu,  dalam fikiranku kini hanya memikirkan bagaimana hubunganku dengan Rian,  dan bagaimana aku bisa memberikan yang terbaik untuk ibuku.


Ayahku mendatangi kamarku,  beliau tahu bagaimana perasaanku dan keadaanku,  perlahan ayah mengusap rambutku dengan lembut,  seraya memberikanku semangat untuk tetap berusaha melakukan yang terbaik,  sesuai


dengan apa yang dikatakan oleh isi hatiku.


Besok sepulang sekolah,  aku dengan sepedaku berangkat pergi menuju ke rumah sakit,  saat aku tiba di rumah sakit,  perawat memberitahuku kalau Rian mengalami gagar otak,  dia lupa akan ingatannya,  keterangan perawat itu semakin membuatku terpukul.


Kini Rian benar-benar tidak mengenaliku,  bahkan Tiara yang sedari tadi sudah berada di samping Rian,  tak henti-hentinya menangis,  semua personil chemistry band hanya bisa terdiam sedih,  aku semakin merasa bersalah.


“Semua gara-gara aku,  semua gara-gara aku.” ucapku sambil menangis penuh penyesalan.


“Enggak Lin,  semua bukan karena kamu,  semua memang terjadi sesuai dengan takdirnya.” Ucap Adit yang tiba-tiba berdiri di belakangku.


“Adit,  bagaimana keadaan kamu,  apakah kamu sudah baik-baik saja?”  tanyaku kepadanya.


“Seperti yang kamu lihat sendiri Lin,  aku baik-baik saja.” Ucap Adit sambil memperlihatkan kondisi badannya yang baik-baik saja.


“Biarkan Rian dengan keadaanya yang sekarang,  percayalah suatu saat nanti,  dia akan kembali seperti dulu.” Terang Adit sambil memegangi pundakku.


“Yang penting,  kamu sekarang yang semangat ya,  ingat besok kamu ikut audisi... tunjukkan yang terbaik ya Lin.” Tutur Adit kepadaku memberikanku semangat.


Aku tidak bisa berkata apa-apa,  hanya saja aku merasa setiap ucapan Adit begitu menenangkan hatiku,  dan memberiku semangat baru.


Tiara begitu kecewa kepadaku,  dia memandangku dengan tatapan penuh kebencian dan permusuhan,  seolah-olah semua ini adalah kesalahanku.


“Puas kamu Lin,  lihatlah sekarang,  apa yang bisa kamu perbuat!” Tiara berkata penuh dengan emosi.


“Rian jadi hancur,  semenjak engkau hadir di dalam hidupnya.” Teriaknya lagi


Ken kemudian berdiri dan menenangkan Tiara,  sementara Diyar dan Gerry mengajakku untuk keluar ruangan.


“Semua ini bukan salahmu Lin,  semua itu memang sudah suratan takdir.” Ucap Diyar kepadaku


“Yang sabar ya Lin,  jangan dengarkan ucapan Tiara,  dia memang begitu orangnya.” Ucap Gerry


Aku lagi-lagi tak bisa berucap apa-apa,  selain hanya bisa mengangguk dan meneteskan air mata.

__ADS_1


__ADS_2