Cintai Aku Tuan Ceo

Cintai Aku Tuan Ceo
BERKELAHI


__ADS_3

Usai makan malam Ziana masuk kamar terlebih dahulu, dia tak menyapa sang suami sama sekali dan tak berniat basa-basi pada pria itu, Sementara Bara. Pria itu usai menemani Mertuanya ngobrol bersama Bayu ia menyusul sang istri yang dari tadi tak berbicara sama sekali padanya.


Bara masuk kedalam kamar Ziana tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ziana menoleh sekilas pada Bara kemudian kembali acuh.


"kenapa kau tak izin dulu jika ingin menginap disini."


Gadis itu tetap diam bahkan seakan tak mendengarkan Bara sama sekali


"ana, jawab aku."


"ada apa denganmu?'


"kau marah karena aku tak pulang?"


Ziana masih betah dengan kebisuannya, kemudian gadis itu berdiri beranjak dari ranjang, Bara mencekal tangan sang istri sebelum wanita itu pergi.


"mau kemana kau?'


"aku mau tidur dikamar Luna."


"jangan coba-coba mencari masalah ana." Ucap bara dingin


"Sudahlah mas, aku tak ingin kita ribut." Ziana menghempaskan Tangan bara kasar, ia perlahan berjalan kearah pintu kamar tapi Bara dengan cepat menghadang langkah sang istri, ia mengangkat paksa tubuh sang istri, Ziana tak berani berteriak karena kamar mereka tak memiliki peredam suara.


Bara menghempaskan Tubuh Ziana keranjang milik Sang istri, Ia menghimpit tubuh Ziana, menatap tajam raut cantik sang istri.


"menyingkirlah dari tubuhku, apa kau tidak takut jatuh cinta padaku tuan bara." Oceh Ziana


Sejujurnya Ziana gugup kali ini, karena baru kali ini ia sedekat ini bersama sang suami, ia bisa melihat hidung mancung dan bulu-bulu halus yang menempel di sekitar wajah sang suami, bola mata coklat milik sang suami sangat indah, tubuhnya kekar karena pria ini sangat menjaga tubuhnya dengan rutin berolahraga setiap Minggu di ruangan khusus gym dalam mansion mereka.


"kenapa kau tak melihatku, apa kau sudah jatuh cinta padaku." Bara meraih dagu sang istri ketika wanita itu menolehkan kepalanya.


Kali ini Ziana mendengar pria itu tak sedingin tadi, suaranya berubah lembut tapi bara tak kunjung beranjak dari atas tubuhnya.


Ziana bisa lihat ada tatapan aneh yang dipancarkan bara, Jantung gadis itu berdegup kencang tak karuan.


"lepas mas, aku mau pergi." Ziana berusaha mendorong tubuh bara tapi pria itu sangat kuat


Bara seolah tak memperdulikan berontakan dari sang istri, ia menyusuri raut cantik Ziana dengan jari nya, membelai setiap sisi halus dari wajah Ziana.


"mas minggir." Ulang Ziana


Bara semakin mendekatkan wajahnya, ia menatap lembut benda kenyal yang sedari tadi berbicara tanpa henti, Ranum dan tampak menggoda.


Bara menyesap Bibir sang istri, Ziana membelalakkan mata shock, ini adalah ciuman pertama nya dan pria yang berstatus suaminya itu telah mengambilnya begitu saja.

__ADS_1


Meski ini bukanlah sebuah kesalahan karena ia dan bara sudah sah menjadi suami istri.


Ziana terengah-engah, nafasnya seolah sesak karena pria ini tak membiarkan ia bernafas, Ziana sedikit larut dalam buaian Cumbuan Bara tapi kemudian ia menggelengkan kepala.


"tidak, pria ini menciumku mengunakan nafsu bukan dengan cintanya."


Ziana kembali meronta, Ia tau laki-laki kebanyakan bisa melakukan percintaan meski tidak mencintainya lawannya tapi tidak dengan perempuan, Laki-laki kebanyakan menggunakan nafsu sementara Wanita pakai perasaan kecuali para wanita pekerja s**s, kebanyakan mereka terpaksa demi tuntutan kehidupan. benarkah begitu?


Ziana menangis, ia tak ingin menjadi budak nafsu sang suami disaat ia menyadari bahwa ia tak memiliki tempat dihati bara sama sekali bahkan ia tak memiliki nomor ponsel sang suami.


Bara masih larut dalam cumbuan kali ini ia berpindah ke leher sang istri.


Tubuh Ziana bergetar hebat, ia menggelengkan kepala kuat seolah mengusir ******* yang ingin ia keluarkan, tubuhnya seakan menikmati hal ini.


Ziana benar-benar tak bisa membiarkan hal ini terjadi, ia ingin bara menyentuhnya disaat pria itu mencintainya, salahkah itu?


Dengan tangan gemetar, Ziana mendorong kuat tubuh tegap bara dari atas tubuhnya.


Pria itu terjungkal kebelakang, ia menatap shock dan tak percaya akan apa yang dilakukan sang istri.


"apa yang kau lakukan?" Tanya bara sembari memegang bokongnya yang sakit


"Jangan menyentuhku." Ujar Ziana tanpa basa-basi, gadis itu menangis pilu


"kenapa? kau juga menikmati bukan?" Ucap bara dingin dan tajam


"apa kau tidak takut jatuh cinta padaku tuan bara yang terhormat kemudian melanggar sumpahmu?"


Degg


Jantung bara seolah berhenti berdetak mendengar ucapan sang istri.


'dari mana dia tau ucapan itu' batin bara


"kau bingung kan darimana aku tau sumpahmu itu? aku mendengar semua pembicaraanmu dan Elang beberapa waktu lalu." Ucap Ziana dingin


flashback on


Siang itu ketika para karyawan sibuk berkutat Dengan Pekerjaan mereka.


"Ana, aku minta tolong. Antarkan berkas ini pada tuan bara kemudian minta tanda tangannya." Ujar Kepala divisi


Jantung Ziana berdetak kencang, Kali ini Ia akan bertatap muka dengan sang suami, sudah Dua hari pria itu tak pulang karena sibuk mungkin?


Ia menaiki lift kelantai tempat ruangan bara berada sesampainya Dilantai tersebut, Ziana hendak mengetuk pintu ruangan sang suami tapi ia mengurungkan niat ketika mendengar pembicaraan Bara dan elang.

__ADS_1


"Bar, loe pulang kan nanti?" Tanya elang


"gak, gue gak bisa El."


"kenapa? kasian bini loe bar."


"gue gak bisa El, loe tau kan kenapa gue menghindari Ana."


"tapi bar, loe harus move on, kasian Ziana, dia berhak di cintai."


" sampai kapanpun aku tak akan bisa mencintai istriku El, aku sudah bersumpah untuk tidak mencintainya."


"loe egois bro."


Ziana bergetar mendengarnya


Apa mas bara, mencintai gadis lain?


Ziana mengurungkan langkahnya untuk masuk, ia kembali ke divisi dimana lantai nya berada, kemudian menyuruh Joe saja yang kesana tanpa memberi alasan apapun.


Flashback off


"aku..." Lidah bara seolah keluh mendengar ucapan Ziana


"dengerkan aku tuan bara, Seperti kau yang berjanji untuk tidak mencintaiku, maka aku juga berjanji untuk tidak membiarkan kau menyentuhku." Ujat Ziana dingin


'kecuali disaat kau mencintaiku' Lanjut Ziana dalam hati


Mendengar ucapan sang istri, ada rasa sakit dihati bara, Ini kali pertama ia ditolak wanita dan itu adalah istrinya sendiri.


Ia tak menyangka ucapannya akan membawa bumerang Seperti ini, tapi tak bisakah mereka menjalani rumah tangga seperti biasa karena menurut bara cinta tak begitu penting didalamnya yang penting ia bertanggung jawab secara lahir dan batin pada sang istri.


pria itu sungguh tak mengerti konteks menafkahi secara lahir dan batin yang sesungguhnya.


Nafkah secara lahir bisa berupa materi seperti Sandang, pangan dan papan yang mungkin bisa bara penuhi mengingat pria ini sangat mapan sementara nafkah batin tak hanya sekedar hubungan in**m saja. ada yang tak kalah penting dari itu, Seperti cinta, kasih sayang dan perhatian yang berhak didapatkan pasangan kita.


Itulah yang belum dipahami bara sama sekali.


***


heii jangan **lupa hadiah nya dan vote ya guys,like dan commen juga


mampir juga di karya baru aku**


__ADS_1


__ADS_2