
Bara memeluk erat Ziana yang memunggungi nya, ia mengelus lembut Surai rambut sang istri, Bara merasa sangat istri sudah tidur.
"Kau sangat cantik, kau tau?" Bisik Bara ditelinga sang istri.
"Aku berharap kau jangan mencintaiku, karena aku tidak akan mencintai mu."
Bara pun kemudian terlelap dengan posisi memeluk Ziana.
Air mata berjatuhan dipipi Ziana, ia belum tidur ternyata. Ziana mendengar dengan jelas apa yang dikatakan bara, Rupa nya Ziana hanya berpura-pura tidur.
"ya ampun, sakit sekali hatiku." Ziana melepaskan perlahan pelukan bara di pinggangnya.
Hingga tanpa ia sadari karena lelah menangis wanita itu tertidur juga pada akhirnya.
******
Sinar mentari menyeruak memasuki celah jendela kamar, Ziana mematut dirinya didepan cermin, ia sepertinya selesai mandi. Wanita itu menatap lekat raut wajahnya, matanya bengkak karena menangis begitu lama.
Ia membubuhkan berbagai jenis make up untuk menutupi bengkak Dimata nya.
Menyisir rambutnya dan mengikatnya ekor kuda.
Usai berdandan Ziana menoleh ke ranjang, bara masih tertidur sangat nyenyak.
" menyebalkan, tidur lah kau sepuasnya.' batin Ziana
Ia tak berniat sama sekali membangunkan pria egois itu, melangkahkan kaki keluar kamar untuk membantu menyiapkan sarapan pagi.
__ADS_1
"pagi sayang." Sapa Karina
"pagi ma."
Karina tersenyum lembut pada sang menantu.
"kemana bara?" Tanya Saddam
"mas bara lagi bersiap-siap pa ma." jawab Ziana.
Saddam hanya mengangguk.
Usai menghidangkan sarapan Ziana melirik jam dipergelangan tangannya.
"ma pa, Ziana pergi duluan ya, ada janji dengan Rekan kantor hari ini, sepertinya gak sempet sarapan." Ucap Ziana, ia tak sepenuhnya berbohong, hari ini ia memang ada pekerjaan yang perlu diselesaikan dengan rekan se divisinya.
"maaf ma, lain kali Ziana janji akan kesini lagi."
Karina menghela nafas.
"gak diantar suami kamu nak."
"gak ma, Ziana buru-buru soalnya."
Karina sebenarnya ingin sang menantu berhenti bekerja tapi ia tak ingin mengekang hidup sang menantu, toh menurut nya selagi Ziana belum punya anak maka biarkan lah wanita itu bekerja dulu.
Usai berpamitan pada mertua nya, Ziana pergi menggunakan Taksi online.
__ADS_1
Tak lama bara muncul dengan stelan rapi, ia menghampiri meja makan.
"Loh mana istri bara ma?" Tanya bara ketika tak melihat keberadaan sang istri.
"loh, dia gak pamit sama kamu? katanya ada pekerjaan yang harus di urus mendadak." Ujar Karina
"kalian ada masalah?" Tanya Saddam penuh selidik
apa istri nya masih marah? bisa-bisanya sang istri pergi tanpa pamit Pada nya.
" bara lupa tadi Ziana udah izin." Alibi bara, ia tak ingin memperpanjang masalah, untuk saat ini Biarkan lah ia sedikit berbohong.
"kalian baik-baik saja kan nak?" Tanya karina
Ia merasa ada yang tak beres dengan rumah tangga putra nya.
"iya ma, tenang saja." Jawab bara singkat
"kalau Istri mu bikin kesal, jangan di kasarin bar, ingat kau terlahir dari seorang wanita, perempuan itu hatinya lembut dan sensitif, papa berharap kau mengerti itu." Saddam berusaha menasihati putranya.
Bara hanya mengangguk mengiyakan, ia akan berusaha melakukan apapun untuk sang istri tapi tidak dengan mencintai nya.
Pagi ini bara hanya meminum teh hijau dan sepotong roti bakar, pria itu pun bergegas kekantor, ia sedikit kesal pagi ini, bisa-bisanya Ziana pergi tanpa pamit pada nya.
Bara merasa tak dihargai sebagai suami, menurut Bara, Ziana sungguh kekanak-kanakan
*****
__ADS_1