Cintai Aku Tuan Ceo

Cintai Aku Tuan Ceo
MENGINAP


__ADS_3

  Sepulang dari kantor, Ziana dan Bara sama-sama terdiam didalam mobil, tidak ada yang berani memulai pembicaraan, Bara tentu saja memiliki gengsi yang tinggi, pria itu memiliki ego yang cukup besar.


Begitu juga dengan Ziana, ia merasa tak perlu membicarakan apapun pada bara, lebih tepatnya ia malas bicara apapun pada pria yang merenggut paksa kesuciannya itu.


Selama dalam perjalanan menuju mansion Utama kedua insan itu hanya diam tak bersuara. Ziana sibuk dengan ponselnya sementara Bara diam dengan tatapan dingin tak terbaca.


"hmm." Elang yang bertindak sebagai supir sekaligus asisten bara berdehem Seperti ingin mencairkan suasana.


"kalian sakit gigi?" Tanya elang


Sepasang suami istri yang sedari tadi tak bersuara itu menatap elang dingin, Ziana seakan tak peduli sama sekali.


"mau aku antar periksa gigi?"


"fokuslah menyetir."Ucap bara dingin.


Elang menghela nafas berat, ia serasa berada dia dua kubu yang terlibat pertarungan sengit dan seakan tak ada yang mau mengalah.


'begini nih kalau jadi kacung.' batin elang


Elang melirik sepasang suami istri itu dari spion mobil, Mereka seperti dua kubu yang saling mempertahankan benteng masing-masing.


"Nona, kau sakit gigi?"


Ana menghentikan aktivitasnya bermain ponsel, ia melirik kearah elang.

__ADS_1


"aku gak sakit gigi pak elang."


"jangan memanggilku pak nona."


"kenapa? kalau begitu jangan memanggilku Nona, aku tak suka." Ucap ana.


"baiklah, kau mau aku panggil siapa? Dek, sayang atau honey." Rayu elang seakan, bara yang sedari tadi diam mendengarkan tiba-tiba menendang kuat kursi kemudi sahabat sekaligus asisten yang merangkap menjadi asisten nya itu.


"aww, kau kejam sekali, ini kekerasan dalam pekerjaan namanya." Pekik elang terkejut akan apa yang dilakukan Bara.


"panggil saja Anna, aku bisa memanggil mu kakak kan?"


"bisa ana, apapun untuk wanita secantik dirimu." Elang seakan sengaja memancing emosi bara, lihatlah wajah pria itu sudah tampak memerah menahan emosi.


'cih munafik,cemburu juga kau! lama-lama juga cinta sama bininya' Batin elang melirik sahabatnya itu kesal


"Dengan ku saja tak begini.' Batin bara dongkol


******


Empat puluh menit kemudian mereka telah sampai di mansion, Ziana turun lebih dulu tanpa menunggu sang suami, didepan pintu mansion, ia bisa melihat karina tersenyum menyambut menantu beserta putranya.


"Sayang, apa kabar?" Karina membentangkan tangan memeluk menantu tunggalnya itu.


"Ana baik ma." Ziana membalas pelukan mertuanya.

__ADS_1


Kedua generasi beda umur itu saling memeluk dan menggoyangkan tubuh mereka, melepaskan rindu yang sudah lama tertahan terutama Karina.


"apa kabar son?" Sapa Saddam yang notabenenya memiliki karakter sama seperti bara, sedikit dingin tapi bara tak sedingin papanya pria ini bisa hangat tapi hanya pada sahabat serta orang terdekatnya.


"aku baik pa."


Saddam menepuk pundak Putranya itu, Mereka saling tersenyum.


Elang yang mengikuti bara dan Ziana dari belakang tersenyum Ramah pada orang tua sahabatnya itu


"hai El, apa kabar?" Sapa Saddam


"baik om." Angguk elang.


Pria itu sudah terbiasa dengan keluarga bara, bahkan dulu ia sering menginap disini bersama Marvel dan tak jarang mereka menghabiskan waktu untuk bermain game, itu ketika mereka masih dibangku SMA karena ketika bara memasuki bangku kuliah, temannya itu memutuskan untuk serius belajar karena ia adalah pewaris tunggal di Erlangga company, tak ada lagi cucu laki-laki dari kakeknya selain bara, semua perempuan jadi dia lah yang harus melanjutkan kerajaan bisnis Yang sudah berdiri puluhan tahun ini.


"Yuk masuk sayang, kamu harus membersihkan diri dulu, mama sudah memasakkan menu spesial untuk mantu mama." Karina merangkul sang menantu memasuki mansion diikuti ketiga pria dibelakangnya.


Sebenarnya Ziana sedikit canggung karena ini kali pertama ia berkunjung kemansion keluarga Erlangga.


Dan ini juga kali pertama ia seintim ini dengan sang mertua.


"kalian harus nginap." Ujar karina tegas ia seolah tak ingin dibantah dan lihatlah bara tak pernah bisa menolak permintaan wanita yang sangat ia cintai dan hormati itu.


Bara mengangguk lesu sementara Ziana menarik nafas lemah, itu berarti ia harus tidur sekamar dengan Bara api didepannya, tapi meskipun Ziana dirumah, apakah ia bisa meminta pisah ranjang dari bara? jawabannya adalah tidak karena ia tak ingin mengambil resiko akan hal mesum yang dilakukan sang suami.

__ADS_1


****


Jangan lupa singgah di cinta sendiri ya guys.


__ADS_2