Cintai Aku Tuan Ceo

Cintai Aku Tuan Ceo
KEPILUAN


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang lantang, Ziana terbangun dari tidurnya, ia merenggangkan tubuhnya. Bisa Ziana rasakan seluruh tubuhnya seakan remuk.


Ziana kaget ketika ia bangun dalam keadaan tidak memakai busana dan hanya memakai selimut.


"astaga, apa yang telah terjadi?"


Pikiran Ziana berjalan mundur untuk mengingat peristiwa yang terjadi hingga ia bisa dalam keadaan seperti ini.


"tidak." Ia menangis, membenamkan kepalanya pada kedua lututnya.


Semuanya kini jelas, Bara memper***a nya, ya pria itu memper***a Ziana.


"pria bajingan, mama hiks..hiks mama."


Bara memang suami nya dan pria itu memang berhak atas diri Ziana tapi cobalah lihat kemana pria itu? kamar ini tampak kosong tanpa keberadaan pria yang sudah dengan keji Memaksakan kehendaknya.


Ziana meratapi nasibnya, Ia harus terjebak dalam lingkaran pernikahan tanpa cinta seorang Bara.


Dan lebih buruknya lagi, pria itu merenggut kesucian Ziana disaat ia berikrar untuk tidak mencintai Sang istri.


" Aww."


Ziana bisa merasakan Nyeri dipangkal pahanya.


Air mata meleleh tanpa henti dipipi Ziana, ia berjalan terseok-seok menuju kamar mandi, Sesampainya dikamar mandi, Ziana menghidupkan shower dan kembali menangis dalam derasnya air yang mengalir.


Ia menggosok kuat setiap bekas kemerahan yang tergambar di bagian tubuhnya.


"mama hiks... hiks mama."


"kenapa ini semua harus terjadi pada ana ma? Ana hanya ingin bertemu dan menikah dengan pria yang ana cintai, seandainya papa tidak sakit seperti ini, mungkin ana tidak akan melangkah sejauh ini pa."


Tangis pilu dan teriakan Ziana terdengar jelas di telinga bara, ya pria itu memutuskan untuk tidur diruang kerjanya, ia menyesali cara kasarnya dalam memperlakukan sang istri.


Ada denyut dan rasa sakit dilubuk hati bara mendengar raungan pilu sang istri.


Pria itu tersungkur didepan pintu kamar mandi, menjambak kuat rambutnya. air mata menetes tanpa sadar dipipi bara.


pria itu kemudian menatap sprei dan ranjang yang berantakan, noda merah melekat pada sprei yang berwarna cerah tersebut.

__ADS_1


Bara berdiri, ia berinisiatif mengganti sprei dengan yang baru. membereskan kekacauan didalam kamar tersebut.


"maafkan aku Zi." lirih Bara


****


20 menit kemudian Ziana keluar dari kamar mandi, ia bersiap-siap untuk melakukan sholat subuh, meski pangkal pahanya masih terasa nyeri tapi gadis itu tetap memaksakan untuk melakukan aktivitas.


Ziana tampak tercengang melihat kamar yang semula Seperti kapal pecah kini tampak rapi dan bersih, sprei juga sudah diganti.


'siapa yang sudah mengganti nya? apa mungkin bik Jum? tapi gak mungkin, apa pria itu?' Ziana seakan bergelut dengan pemikirannya sendiri.


Tak ingin larut dalam kebingungan, Ziana memakai busananya dan kemudian melakukan shalat subuh.


Didalam Ibadahnya, Ziana menangis pilu mengadukan semua yang terjadi pada sang pencipta.


Ziana tahu tidak seharusnya ia bersikap seperti ini, bara memang berhak atas dirinya tapi Ziana juga berhak untuk menentukan pilihannya, apalagi bara tak pernah mencintai sang istri.


Mengapa pria menganggap semua hal begitu remeh? mereka terlalu mengutamakan akal dan nafsu hingga melupakan Perasaan yang harus diutamakan terlebih dahulu.


Bara meminta haknya tiba-tiba tanpa alasan yang jelas ia mengutamakan egonya, tapi begitulah pria. Mereka memiliki ego yang tinggi, ingin didengarkan tapi enggan mendengarkan, ingin dihormati tapi tak pernah menghormati Setiap keputusan pasangannya.


Usai sholat kini Ziana beralih memakai make up tipis diwajahnya, hingga terdengar decitan pintu kamar, bara muncul dengan handuk di pinggangnya. Sepertinya pria itu baru selesai mandi dikamar sebelah.


Seusai sholat kini Ziana tampak cantik, dengan turtleneck lengan panjang warna hitam dan rok model A line abu yang panjangnya sebetis.


Ziana terpaksa memakai turtleneck untuk menutupi bekas kemerahan di lehernya, dan ia juga sengaja menggerai rambutnya


"Zi, maafkan aku." Bara mendekati sang istri, memegang kuat jemari Ziana, ia menatap wajah Ziana dan gadis itu sengaja memalingkan wajahnya.


Bara memegang lembut dagu Ziana.


"tatap aku Zi, jika ingin marah pukullah aku. Kau berhak melakukannya."


"minggir aku mau pergi." Ucap Ziana dingin dan menyentak kasar tangan Bara.


Bara menghela nafas sendu, ia bingung apa yang harus dilakukan.


****

__ADS_1


Ziana sengaja tidak memasak sarapan pagi ini, ia pun memilih memesan taksi online, Tujuannya adalah rumah Vian, jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, terlalu cepat bila ia langsung kekantor.


Jalanan sudah cukup ramai dan padat, untung saja ia tak butuh waktu lama untuk sampai dikediaman Vian yang berada tak jauh dari kantor.


Rumah sederhana milik keluarga Vian, Rumah ini tidaklah semewah mansion bara tapi Ziana tahu didalamnya tersirat kebahagiaan dan kedamaian.


Penghuni didalamnya saling mencintai satu sama lain, Tidak pernah bertindak egois Deni mementingkan diri sendiri. Hal ini yang membuat Ziana betah berteman dengan Vian.


Dahulu Keluarganya juga begini, harta yang cukup, penuh cinta sebelum ayahnya mengalami musibah kemalangan ditipu salah seorang temannya hingga menyebabkan perusahaan ayahnya mengalami kerugian.


"assalamualaikum." Ziana mengetuk pintu rumah


Tak lama muncullah Seorang wanita paruh baya dari dalam.


"waalaikumusalam, eh ana, mari masuk nak, pagi sekali, mau bertemu Vian ya?" Tanya wanita itu.


"Iya Tante." Ziana menyalami jemari ibu Vian.


"masuk nak." Ucap wanita itu lembut


Ziana pun berlalu kekamar Vivian, ia sudah biasa kerumah ini hingga tau seluk beluk rumah sahabatnya itu.


Tanpa mengetuk pintu kamar Ziana masuk kedalam kamar gadis itu.


"Vi." Ujar Ziana lirih.


Vian terlonjak kaget melihat kedatangan sang sahabat secara tiba-tiba. gadis itu tampak sudah rapi dan cantik.


"ya ampun ana, ada apa loe datang sepagi ini?"


"Vian, gue.." Ziana menangis pilu dan berbicara terbata-bata.


Melihat Ziana yang menangis, Vian berinisiatif memeluk Sang sahabat.


"ada apa?"


Ziana hanya butuh pelukan saat ini, ia butuh waktu untuk menceritakan serta berbagi kisahnya pada sang sahabat.


Ia menangis tersedu-sedu didalam pelukan Sahabatnya itu.

__ADS_1


Vian mengusap lembut kepala Ziana, mencoba menenangkan gadis itu.


*****


__ADS_2