
mengingat permintaan sang mertua Ziana merasa ada ketulusan dan harapan didalam ucapan kecil wanita paruh baya itu. Ucapan kecil tapi berimbas besar bagi keberlangsungan hati dan pikiran Ziana.
Ziana berdiri di balkon kamar, sementara Bara tadi mengobrol diruang kerja bersama papanya dan elang, mungkin membicarakan pekerjaan.
Ziana menatap bintang yang bertaburan di langit, Malam ini sangat indah, bintang berkilauan dan seakan saling berlomba memancarkan cahayanya tentu saja yang paling terang adalah bulan. Seusai makan malam yang penuh ketegangan tadi bagi Ziana, Sang mertua yang mendadak mengharapkan kehadiran cucu dan harapan Karina itu tidaklah salah.
"ah seandainya saja mama tau, mengenai hubungan ini?" lirih Ziana.
Ziana larut dalam lamunan ditemani sejuknya angin malam yang berhembus.
"apa yang kau lakukan sendirian disini?"
Bara tiba-tiba muncul dari belakang Ziana, wanita itu terkejut kemudian menoleh keasal suara.
Ia melirik sekilas ke arah bara kemudian kembali sibuk menatap langit tanpa memperdulikan pria itu.
'sial dia mengacuhkan aku.'
Bara mengepalkan tangan kesal, melihat bahwa sang istri tak memperdulikan dia sama sekali.
"kau masih marah?"
Bara berdiri disamping Ziana, menatap sang istri seksama.
Ziana tampak menghembuskan nafas kesal
"menurutmu tuan?" Tanya Ziana datar dan dingin
"jangan memanggilku tuan?"
" baiklah boss." Ucap Ziana.
"panggil aku mass Seperti biasa." ucap Bara kesal.
Ziana hanya diam tak bersuara, kembali mengacuhkan pria itu.
"Aku gak tau salah ku apa? katakanlah, aku bukan peramal yang bisa menebak isi pikiranmu."
__ADS_1
"ya kau memang bukan peramal tapi kau dukun santet." Ucap Ziana sarkas
"dukun santet? maksud mu? aku bukan dukun santet." Jawab pria itu protes tak terima dengan tuduhan sang istri, yang benar saja seorang CEO setampan dirinya disamakan dengan dukun santet.
Ziana mengeram kesal, ia bingung apakah suaminya ini bodoh atau memang gak peka hingga tidak mengetahui kesalahannya.
"ya kau memang bukan dukun santet tuan tapi akulah yang dukun santet, aku akan menyantetmu sampai kau menyadari kesalahanmu." Ziana menatap bara nyalang.
Mendengar ucapan tuan kembali terulang. Bara kembali kesal, ingatkan bara untuk sabar hari ini saja, di diamkan sang istri sungguh tak enak rasanya.
Sementara Ziana Sendiri berusaha menahan kekesalannya, apalagi melihat wajah tidak bersalah dari sang suami.
"hei apa maksudmu, sejak kapan kau menjadi dukun?" Bara memanggil sang istri yang beranjak masuk kedalam kamar, pria itu ikut menyusul tapi Ziana keburu masuk kedalam kamar mandi.
Ingatkan Ziana bahwa ternyata pria tampan didepannya ini sedikit tulalit dan sejak kapan pria ini menjadi seperti ini? apa ia salah makan?
Bara merenungi kesalahannya, dan tak henti mencari dimanakah gerangan kesalahannya.
"apa karena peristiwa itu? tapi itukan hakku."
Cukup lama bara menunggu Ziana keluar dari kamar mandi, pria itu berdiri didepan pintu.
ia akan benar-benar menjadi dukun santet bila pria itu semakin membuatnya kesal.
Usai melakukan aktivitasnya, Ziana keluar dari kamar mandi tapi sang suami yang membuatnya kesal tiba-tiba memeluk Ziana erat, hembusan nafas bara terasa di tengkuk Ziana.
Ziana meremang, ia sedikit was-was, takut bara akan kembali mengulang kejadian kemarin.
'aku harus waspada, gak bisa dibiarin, aku harus cari cara biar gak hamil dulu.' Batin Ziana
"sekarang aku tau kenapa kamu marah?" bisik bara lembut ditelinga sang istri.
jujur bara juga berdebar tapi sekuat mungkin ia menghalau perasaan yang ada dihatinya, hadirnya cinta hanya akan menyakiti bara lebih dalam jadi lebih baik begini.
"lepaskan, jangan macam-macam kau tuan?" Ziana berusaha memberontak tapi tentu saja tenaga bara jauh lebih kuat, pria itu makin mengeratkan dekapannya.
Bara beralih memegang jemari sang istri, menuntun nya duduk ditepi ranjang.
__ADS_1
Ziana duduk ditepi ranjang sementara bara berjongkok dilantai dengan tangan menopang pada lutut Ziana.
"kau marah? Aku tak mau minta maaf, karena itu bukanlah kesalahan, aku suami mu bukan? aku berhak atas dirimu, aku tau caraku salah dan untuk ucapan kasar ku malam itu, maka maafkan aku." Bara menatap dalam sorot mata Ziana.
Sedari tadi Ziana berusaha untuk tidak menatap mata sang suami tapi pria itu tentu saja tak membiarkan hal itu, bara memegang lembut dagu sang istri, berbicara dengan lembut dan tulus.
Tak mungkin rasanya Ziana tak luluh akan sikap sang suami.
"kau mau memaafkan aku?"
"baiklah, aku akan memaafkanmu dengan satu syarat?"
"apa itu?" Ada binar diwajah Bara.
"Jangan menyentuhku lagi." ujar Ziana
Mendengar permintaan sang istri bara sungguh tak habis pikir, kekonyolan apa yang diucapkan sang istri, tak tau saja bahwa semenjak malam itu bara rasanya ingin mengulang kembali kenikmatan yang sama, memikirkannya saja sudah cukup membuat bara oleng dan berdenyut.
"APA-APAAN KAU INI." Bentak bara tanpa sadar
Mendengar bentakan bara, sontak saja Ziana menjadi takut, menyadari sang istri takut padanya, bara meredam kuat emosinya.
"jika kau tak mau, maka aku takkan memaafkanmu." Ziana memanyunkan bibir kesal.
"tidak usah memaafkan aku kalau begitu, aku yang akan memaksa mu, itu hakku kau tak berhak menolakku."
"tapi ini tubuhku, kau tak mencintaiku jadi kau tak boleh menyentuhku lagi."
"akh persetan dengan cinta, peduli apa aku tentang cinta, ada atau tidak adanya cinta kau tak boleh menolak fakta bahwa aku adalah suamimu." Bara sedikit berteriak dongkol
"egois kau." Ziana melempar bantal kearah bara.
Kalau saja tidak teringat ini dirumah sang mertua maka Ziana akan mengusir pria ini dari dalam kamar atau dia yang akan tidur dikamar lain, Ziana harus sedikit menjaga nama baiknya bukan? untung saja kamar ini kedap suara kalau tidak malu lah sudah mereka.
Ziana membenamkan dirinya dalam selimut, menangis terisak disana, melihat sang istri menangis ada rasa iba dihati bara, pria itu beranjak berbaring disebelah sang istri, memeluk erat wanita yang kini menjadi istrinya itu.
"kau cengeng sekali." Bara mengusap lembut kepala sang istri yang tertutup selimut.
__ADS_1
*****