
Sudah dua Minggu berlalu dari pernikahan mereka tapi tidak ada yang berubah, hubungan keduanya masih terasa kaku dan cenderung tidak menunjukkan perkembangan, Bara sibuk akan pekerjaannya dan tak jarang pulang selalu larut bahkan pria itu terkadang memilih menginap di kantor, dikamar pribadi miliknya.
Sementara Ziana lebih memilih tidak protes sama sekali, ia jarang berinteraksi atau sekedar bersenda gurau dengan sang suami.
Tidak ada hubungan yang intim dan hangat layaknya pasangan baru umumnya.
Jika berpapasan dikantor keduanya akan bersikap layaknya orang asing satu sama lain,
Ziana tampak segar usai mandi dan membersihkan diri, ia memilih untuk turun kedapur menyiapkan makan malam.
"malam bik." Sapa gadis itu ramah pada bik Jumi selaku kepala asisten mansion Bara
"malam non."
"masak apa bik, gak usah banyak ya bik, kayaknya Ana makan sendiri lagi malam ini." Ujar Ziana menarik nafas sendu
"Tuan gak pulang lagi non?"
"entahlah bik, padahal besok weekend." Ziana memilih duduk disalah satu kursi dekat dapur, ada rasa nyeri dihatinya ketika pernikahan yang ia jalani terasa hambar dan seolah bara berusaha menghindari Ziana.
Dan benar saja, malam ini sendok dan garpu Ziana bergerak lamban kemulut gadis itu, ia seakan tak bersemangat sama sekali.
Bik Jumi mengintip iba dari balik pintu dapur, Ia yang paling tau perkembangan hubungan kedua majikannya itu, Bik Jumi berharap suatu saat hubungan keduanya bisa berjalan indah.
Ziana mendadak tak berselera makan,Ia memberhentikan aktivitas makannya kemudian meraih ponsel yang tergeletak disisi kanannya.
"Hallo bay."
"iya kak, kenapa?"
"kamu kerja?"
"gak kak, hari ini dan kedepannya Bayu ngambil cuti karena lagi nyari tempat buat magang."
"udah dapat, dimana?"
"udah kk, di perusahaan suami kakak."
"loh kok disana sih bay?"
"kenapa kak?" Tanya bayu heran
"gak ada."Ziana berusaha menahan mulutnya, ia takut sebenarnya hubungannya yang buruk kelak akan diketahui bayu dan membuat pria muda itu menjadi tau penyebab Ziana menikahi Bara. Ziana mengeleng takut.
"kenapa kak, ini kampus yang milih bukan Bayu kak."
"ya udah deh, oh ya dek bisa jemput kakak gak, malam ini kakak mau nginap dirumah aja."
"loh Suami kakak mana?"
"dia sibuk dek, mungkin gak pulang." Alibi Ziana
__ADS_1
"kak, pernikahan kakak baik-baik aja kan?"
Ziana berusaha terkekeh akan lontaran pertanyaan Dari adiknya Bayu, yang memiliki sifat peka akan hal menyangkut Sang kakak.
"kamu ini, curigaan Mulu, udah jemput kakak ah, kakak rindu mama dan papa."
"iya tunggu disana."
****
Tak lama kemudian suara motor matic milik Bayu memasuki mansion milik Bara kakak iparnya. Pria muda itu menyapa penjaga yang menjaga Mansion mewah tersebut.
Ziana yang tahu kedatangan sang adik, menghampiri bik jumi yang tampak membersihkan beberapa benda Du ruang keluarga.
"bik, ana pamit ya.Mau nginap dirumah orang tuanya ana."
"loh non, kalau Den bara pulang gimana?"
"bibik bilang aja aku dirumah orang tua ku, ana kesepian buk, dimansion seluas ini sendirian."
"tapi kan ada bibik."
"iya sih, ada bibik dan yang lain tapi kan ana butuh teman ngobrol ,bibik sibuk Mulu."
"ya mau gimana non, kalau bibik ngobrol Mulu ntar dipecat den bara." Bik Jumi tertawa kecil
menggaruk tengkuknya yang tak gatal
"bik, nanti kalau mas bara pulang bilang Ana kerumah orang tua ana ya."
"kenapa gak kasih tau lewat chat atau telepon aja non?"
Gak mungkin Ziana menelpon atau sekedar chat karena pada nyatanya Mereka saling tidak memiliki kontak masing-masing, jadi bagaimana ingin saling mengabari.
"Mas bara sibuk kayaknya bik." alibi Ana
"oh ya udah non, ntar bibik kasih tau."
Tak lama Bayu muncul, ia menyalami bik Jumi sebagai bentuk rasa hormat pada yang lebih tua.
"yuk kak."
"bye bibik."
"hati-hati non, den." Ucap bik Jumi mengantarkan kedua kakak beradik tersebut hingga kedepan pintu mansion
Ketika berada diatas motor bayu tampak mengajak kakaknya berbincang.
"kak, sayang ya, mansion Segede itu penghuninya cuma kalian berdua."
"mau gimana lagi dek, emang kamu mau tinggal bareng kakak."
__ADS_1
"gak ah, bayu mau mandiri." Tolak halus Bayu
Ziana menggeleng, gadis itu sangat paham karakter mandiri sang adik, Bayu memiliki cita-cita yang tinggi yaitu membangun kembali perusahaan sang ayah, entahlah apakah mimpinya ini bakal terwujud mengingat besarnya modal yang harus dikumpulkan dan dibutuhkan untuk memulai kembali bisnis yang sudah gulung tikar itu.
****
Ditempat lain Bara masih saja tak bergerak dari kursi kebesarannya, sebenarnya tak banyak pekerjaan yang harus ia handle tapi Bara begitu enggan untuk pulang karena Bara tau, semakin terus-terusan muncul dan berdekatan dengan sang istri, Bara takut Ana akan mencintainya atau ia sendirilah yang akan jatuh cinta pada Gadis cantik tersebut kemudian melanggar sumpahnya sendiri.
"bro pulang sana, loe kan udah gak ada kerjaan lagi."
"gue mau disini aja El." Ujarnya pada elang
"sumpah ya bro, gue tu heran sama loe, kalau loe gak suka sama Istri loe lebih baik loe tinggalin aja daripada loe giniin, punya suami tapi berasa jomblo." Cecar elang
"gak semudah itu El."
"jangan bilang ini karena mami loe?"
"salah satunya." Ucap bara
"Bar, gini ya gue tau gue gue masih jomblo dan gak punya pengalaman cinta sepahit loe, tapi menurut gue gak ada salahnya, loe buka hati buat istri loe, dia berbeda men dari mantan loe." Elang menasihati dan mencoba memberi masukan
"Gue trauma El, gue takut disakitin lagi."
"loe tau kan sakitnya disakitin kayak apa? dengan begini yang ada loe sama saja memberi rasa sakit yang sama kayak yang loe rasain ke bini loe." Elang berbicara bijak dan tidak mengerti akan jalan pikiran sahabatnya, pria itu sudah seperti seorang konseling pernikahan.
"tapi gue gak selingkuh El."
"yang loe lakuin ini lebih sakit dari diselingkuhi."
"benarkah?" Lirih Bara, ia merenung panjang kemudian menarik nafas dalam
"loe pulang bro, kasih kesempatan bini loe."
"oke gue pulang, tapi untuk bisa mencintai Ana, gue gak bisa El."
"bukan gak bisa bro, tapi belum, bini loe gadis baik-baik bro, gue yakin itu."
Bara kembali menghela nafas, kemudian ia menatap tajam dan dingin pada elang, ia baru menyadari bahwa asisten sekaligus Sahabatnya itu sedari tadi berlaku sok bijak, ia menatap sinis pada elang.
"loe Sik bijak banget mblo." Bara melempar gumpalan kertas pada Elang kesal
Elang menghindar kemudian menyengir hingga menampakkan gigi miliknya.
"pulang sana, ntar bini loe di Embat Marvel, tau rasa loe" Ujar elang
"sialan loe."
******
makasih udah singgah, jangan lupa baca karya author yang lain ya, Cinta sendiri
__ADS_1