
Bara menggeram kesal ketika tau bahwa istrinya tidak berada dimansion mereka, menurut bik Jumi isteri nya tersebut menginap dirumah sang mertua, orang tua dari Ziana sendiri.
"kenapa dia tidak memberitahuku langsung." Bara memukul dashboard mobil miliknya
Dan disini lah dia berada sekarang, dirumah sederhana milik keluarga Prayoga. Rumah ini tampak mungil namun ternyata rapi dan bersih, dengan taman didepan rumah sebelah kanan, berbagai bunga tertata indah dan subur. Ada ayunan besi diantara bunga-bunga yang bermekaran indah.
Didepan rumah terdapat pohon mangga yang rindang, Rumah ini sangat asri dan nyaman sekali, Bara memberhentikan mobilnya didepan rumah sang mertua.
Ia melangkah masuk kedalam, mengendurkan dasi dan menenteng jas di bahunya.
Sebenarnya dia malas pulang hari ini, Entah mengapa berada dekat-dekat dengan sang istri membuat jantung pria itu berdetak tak karuan, dan ia takut jatuh cinta lagi tapi ia tak bisa selalu menghindari Ziana dan harus menghadapi sendiri kenyataan ini.
"Assalamualaikum." Bara mengetuk pintu rumah mertuanya
Tak lama kemudian muncullah seorang wanita paruh baya membukakan pintu.
"eh nak bara, mari masuk nak."
"ma." Bara menyalami tangan sang ibu mertua
"Ana adakan ma?"
"ada nak, mari duduk dulu, Ana lagi menyiapkan makan malam." wanita paruh baya itu mempersilahkan sang menantu untuk duduk.
"mama mau kedapur dulu ya, nanti papa sama bayu bakalan nemanin disini." Ucap Hesti
Bara mengangguk sopan, ia menelisik setiap sudut rumah sederhana ini, meski ini kali kedua ia kemari tapi baru kali ini ia benar-benar melihat detail Rumah secara langsung.
Didinding terpajang photo Sang istri serta yang lainnya, Mulai dari photo Ziana wisuda hingga ia ketika kecil. Kemudian mata bara tampak tertuju pada bocah perempuan dengan bikini serta kaca mata dan topi ala pantai, berpose centil.
"itu kak Ana bg, mungkin waktu umur 4 tahunan. kata papa dia sudah centil sejak dini." Bayu muncul seolah memberi Jawaban dari pertanyaan yang muncul dari benak bara. pria muda itu terkekeh.
"iya kan pa." Sambung Bayu, bertanya pada pria paruh baya yang duduk di kursi roda yang ia dorong, Dimas tersenyum lembut dan mengangguk. Membenarkan ucapan Bayu. Pria paruh baya itu tampak jauh lebih segar dari biasanya, Tangannya sudah bisa bergerak dan sudah bisa sedikit berbicara, sekarang ia lagi dalam tahap Therapy berjalan.
"mari duduk kak." Sopan Bayu
"Kakak dari kantor?"
"iya, kata bik Jumi, ana kemari makanya aku menyusul." Jawab bara
__ADS_1
"kak ana, gak ngabarin kakak?"
Bara menggeleng
"mungkin lupa." Bela bara
"ck keterlaluan kak ana." Decak Bayu kesal
"udah gak apa-apa." Bara menenangkan adik iparnya
Tak lama berselang, Ana muncul dengan piyama tidur sejenis dress berwarna pink dengan corak barbie, baju selutut itu tampak cantik dipakai Ziana. Kepalanya tampak memakai bando berwarna pink dengan corak senada dengan piyama lengan pendek yang ia pakai. rambutnya tergerai lurus dan dia Sangat cantik tanpa polesan make up sama sekali. Bara seakan setuju dengan ucapan Marvel sang sahabat selama ini bahwa sang istri benar-benar cantik bahkan lebih cantik dari mantan pacarnya dahulu.
Bara terpaku dalam pesona sang istri, Ziana yang ditatap bara seperti singa kelaparan menjadi kikuk apalagi ada Bayu dan sang ayah.
"kak bara." Bayu mengejutkan lamunan kakak iparnya. Bara tersentak kaget dan berusaha bersikap wajar, ia tampak malu setelah terpergok Bayu.
*****
Ziana POV
Aku sangat senang sekali bisa menginap dirumah orang tua ku, setelah hidup terkekang selama beberapa Minggu akhirnya aku bebas juga.
Malam ini aku yang akan memasak makan malam dibantu mama sementara Aluna, gadis manja itu dari tadi tidak keluar dari kamarnya. Entah apa yang ia lakukan didalam sana.
"ha, siapa ma?" Aku belum terlalu nyambung dengan ucapan mama karena sibuk mengaduk sup didalam panci.
"Bara kak, ada berapa suami kamu? " Ketus mama kesal
"biarin aja ma." Ujarku akhirnya tapi mama malah memukul lenganku
"aww sakit ma." Lenguhku kesakitan
"sana panggil buat makan malam, mama tau dia pasti belum makan."
"tapi ana sudah makan malam ma, lagian mama, tumben jam segini baru makan malam."
"kamu ini, perutnya sendiri yang dipikirkan, Nak bara pasti lapar."
"sana." Usir mama
__ADS_1
lagian kenapa sih tu orang tumben-tumbennya nyusulin, biasanya gak peduli juga istri dirumah atau dimana.
Sekalian aja gak usah pulang, anggap aja gak ada istri sama sekali.
Sumpah aku benar-benar kesal akan Tuan bara bere alias tuan Kobaran api itu.
Sesampainya diruang tamu, aku lihat dia tampak terpaku bisu dan sorot mata nya terlihat dalam menatapku, dia memindai ku dari atas sampai bawah. Menatapku seperti singa kelaparan.
"kurang ajar, pria mesum ini." Lirih ku kesal
Untung saja Bayu menyadarkan pria itu, dan lihatlah sepertinya dia malu setelah terpergok Bayu, rasain loe, mesum sih lagian aku tau kok aku cantik.
ZIANA POV END
****
Malam ini semuanya makan dengan damai kecuali aku tentunya karena aku sudah makan malam tadi dimansion.
"kamu beneran gak makan kak?" Tanya mama
"gak ma, Ana udah makan SENDIRIAN tadi di mansion, dia mah bang Toyib." Jawab Ziana memperjelas kata sendirian untuk menyindir bang Toyib didepannya
Bara yang merasa disindir, mengaruk tengkuknya yang seolah merentang akan kata-kata pedas sang istri apalagi tatapan sinis Ziana
"kakak ipar jarang pulang?" Tanya Aluna, gadis itu keluar sendiri dari sarangnya seolah tau bahwa semuanya akan bersiap makan malam.
Bara yang ditanya secara frontal oleh adik iparnya mendadak kaku dan keluh, seolah tak bisa berkata-kata.
"kok jarang pulang sih lun." Tanya Bayu heran
"itu kata kak ana bang Toyib."
Ziana yang mendapat tatapan tajam dan mengintimidasi dari keluarganya hanya menyengir duduk disebelah sang suami.
"gak gitu tau, bang Toyib karena dia lembur mulu." Alibi Ziana tak masuk akal
"kamu ini ada-ada saja." Geleng Hesti sang mama
"kakak aneh." Cibir Luna yang memakai baju serupa dengan sang kakak dengan motif dan warna yang sama juga dengan bando serupa, Luna seperti kembaran Ziana, bak pinang dibelah dua
__ADS_1
*****
Makasih ya guys udah baca