
Setelah sarapan semua keluarga Ziana tampak duduk santai di ruang keluarga termasuk Bara, pria itu sesekali melirik sang istri yang enggan berdekatan apalagi membalas lirikannya.
"bay, gimana kuliah kamu?" Tanya bara memulai percakapan
"lancar kak."
"udah magang belum?"
"rencananya aku mau magang di perusahaan kakak, kampus juga merekomendasikan itu tapi." Bayu berhenti bicara, ia tampak ragu melanjutkan ucapannya, pria muda itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"kenapa bay?" Tanya bara penasaran
"hmm Surat persetujuannya belum di ACC pemilik perusahaannya kak." Ujar Bayu lirih sedikit segan karena bara lah pelaku yang belum menandatangani kontrak persetujuan itu.
Bara melototkan mata kaget, ia cukup kaget mendengarkan ucapan adik iparnya.
'kenapa elang gak ngasih tau?' pikir Bara cukup tak enak hati
Elang tau seorang Bara paling malas jika berurusan dengan mahasiswa magang oleh karena itu perusahaan miliknya jarang bahkan tak pernah menerima mahasiswa magang.
"Magang tempat lain aja dek, banyak kok perusahaan yang lebih bagus." Ujar Ziana frontal menyindir, gadis itu masih terlihat kesal
"Kakak ada masalah apa sama kakak ipar?" Tanya Luna apalagi Melihat wajah sinis dan tak bersahabat sang kakak pada Bara.
Untung saja sang ibu dan ayahnya berada di teras rumah untuk berjemur kalau tidak bisa habis Ziana dicecar pertanyaan.
Ziana hanya mengangkat bahu acuh sementara Aluna mendecak kesal karena pertanyaan nya tak dijawab sang kakak.
Bayu memicingkan mata penasaran dari semalam dia sedikit penasaran tentang hubungan pernikahan sang kakak.
__ADS_1
Lain lagi bara, pria itu menghela nafas melihat tingkah aneh sang istri, ia meraih ponselnya dan menelpon sang asisten.
"El, segera bawa berkas Persetujuan mahasiswa magang, gue akan menandatangani nya."ujar bara ringkas
Elang yang masih baru bangun tidur, menguap menutup mulutnya, ia masih setengah sadar.
"antar kemana?"
"rumah mertua gue."
"ohoo baiklah." Jawab elang masih menguap
"bay, kamu tau gak ada perusahaan yang lebih bagus dari perusahaan kakak, kamu bisa baca majalah bisnis untuk tahu pebisnis nomor satu tahun ini." Ucap bara sedikit sombong yang sebenarnya lebih ke ingin menunjukkan pada sang istri betapa hebatnya bara.
Bayu hanya mengangguk tersenyum begitu juga Luna, ia berbinar kala tahu betapa kaya dan suksesnya sang kakak ipar berbeda dengan Ziana yang mengerucutkan bibir kesal mendengar keangkuhan sang suami.
"Wah kakak ipar yang terbaik, kakak ipar cariin Luna yang kaya seperti kakak ipar juga dong." Tukas Luna dengan wajah berbinar.
"sakit kak." kelu Aluna
"dek jangan mikir jauh ah, kamu itu masih kecil. sekolah yang benar dulu. lagian kamu itu harus menikah dengan pria yang mencintai kamu karena harta bukanlah segalanya dek." Ziana menasihati Luna lembut tapi tegas.
Bara tampak diam tak bersuara, ia masih menatap wajah polos tanpa make up sang istri.
"itu benar Lun." Bayu menyetujui
"Luna bercanda aja kok." Luna tampak kesal
"Lagian Luna juga mau kayak kakak, kerja terus nikah sama orang yang mencintai kita meski kakak dijodohkan tapi Luna tau kakak dan kakak ipar pasti saling mencintai." Ucapan polos Luna seketika membuat bara dan Ziana mematung diam.
__ADS_1
Seandainya Luna dan yang lainnya tau bagaimana hubungan Ziana dan bara entah apa reaksi yang akan tunjukkan, Ziana menghela nafas panjang, wajahnya tertunduk kemudian ia mengangkat wajahnya kembali, bara seketika langsung merasa bersalah.
"Kakak ipar, Bayu berharap kakak ipar bisa menerima kakak Bayu dengan baik, mencintai dan melindunginya, Kak ana adalah harta keluarga kami. Jika kakak tidak bisa mencintai dan menerima nya, tolong kembalikan pada kami, katakan saja pada Bayu karena sekarang Bayu lah pelindung Keluarga ini." Ucap bayu Sendu, Ziana yang mendengarkan ucapan adiknya, menghambur memeluk sang adik yang sangat dewasa, ia menangis memeluk Bayu.
"kakak sayang kamu dek."lirih Ziana
"kami juga sayang kakak." Balas Bayu
Bara cukup tersentuh akan ucapan dewasa yang dimiliki bayu, pria itu jauh lebih muda darinya tapi karakter nya sangat peka dan dewasa.
Ada rasa nyeri dihati bara, Ia tau saat ini ia tak bisa mencintai sang istri, hatinya begitu kekeh dah keras untuk tidak mencintai gadis lain lagi, entah bagaimana masa lalu pria ini hingga membuatnya begitu Trauma.
"kak bayu tenang aja, Luna tau gak ada yang bisa menolak pesona kakaknya Luna, kak Zico aja sampai sekarang masih nungguin Kak ana, kalau dia tau kak ana udah nikah gimana ya?" Aluna berbicara tanpa henti dan jeda.
Ziana tampak kesal dengan mulut frontal sang adik, Bayu juga ikut kesal.
"Zico siapa itu?" Tanya bara penasaran
"sahabat kak ana kak." Jelas Bayu Singkat dan cepat, ia khawatir Bara akan cemburu dan ribut dengan kakaknya.
"Kak Zico itu sahabat kak ana, dia keren tampan, dan kaya juga kak, dia seorang selebriti, pemain film dan penyanyi, masa kakak ipar gak tau, kayaknya dulu dia pernah jadi model iklan produk perusahaan kakak ipar." Aluna masih ngoceh dan tak mempan dengan kode yang ditunjukkan Bayu, sementara Ziana mendengar ucapan Aluna, mendadak ia merindukan pria satu itu, sudah beberapa bulan ini Zico tak ada kabar karena harus syuting untuk film terbarunya disebuah pelosok Indonesia yang memang minim Sinyal.
"Zico Austin." Tebak Bara
"nah benar kak, kak ana punya dua sahabat kak yang setia dari dulu, Kak Vian sama kak Zico."
Entah kenapa Bara tak suka mendengar nama pria itu disebut, ada rasa jengkel dan kesal bercampur menjadi satu dalam hatinya.
"Luna, udah."bisik Bayu ketika melihat wajah tak bersahabat Bara.
__ADS_1
Sementara Ziana masih larut dalam kerinduan pada Zico sang sahabat, ia menghela nafas panjang, Seandainya saja Ada Zico pasti ia bisa berbagi perasaan pada pria itu dan entah bagaimana nanti perasaan Zico ketika tau pernikahan Ziana.
*****