
Ziana pergi pagi sekali dari rumah mertuanya, Wanita itu memilih singgah dulu di mini market 24 jam. Membeli roti dan sebotol minuman, ia terduduk dengan mata yang berkaca-kaca dan hati yang masih terasa nyeri.
"Bara sialan, awas kau."
"terkutuk kau."
Sedari tadi ia mengumpati sang Suami sembari mengunyah roti yang ia beli. Ziana sangat lapar. Setelah merebut dengan paksa kesuciannya kini pria itu meminta untuk tidak mencintai nya, bukankah itu sialan namanya?
"apa-apaan ini." Umpat nya lagi.
Hingga tak terasa hampir setengah jam ia duduk sendirian disini, pegawai mini Market yang kebetulan seorang pria muda memandang heran entah kasihan pada Ziana yang sedari tadi tak berhenti mengomel dan memukul meja, sesekali ia lihat wanita itu menangis kemudian tertawa.
'sayang cantik-cantik tapi mental nya terganggu.' pikir pria muda itu
Akhirnya ia memutuskan untuk berangkat kekantor tapi tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat didepannya.
"Hai cantik, bengong aja pagi-pagi."
Ziana mengangkat kepalanya, seorang pria dengan mata nya sipit dan kulit putih bak bintang Korea muncul didepannya dengan senyuman sumringah.
"eh mas Joe, ngapain mas?"
"aku yang seharusnya nanya, ngapain kamu pagi-pagi disini?"
"biasa mas cari minum." Ucapan Ziana sembari menunjuk botol ditangannya.
"Ini jauh loh na dari rumah kamu."
Ziana mendadak gugup dan tak bisa berkata-kata.
"Anu mas."
"anu anu.. anu apaan? gue jadi curiga, ada yang loe sembunyikan dari kita ya."
"ish mas Joe, gak lah." Ziana berusaha tertawa untuk mengalihkan kegugupan nya.
"udah yuk bareng." Tawar Joe
"beneran ya, gratis tapi."
"Bayar dong tapi pakai cinta nya dek Luna." Seloroh Joe.
Ziana sontak memukul pelan bahu Joe kesal dan duduk dibelakang pria itu.
"loe kasar banget, pantesan aja gak ada yang naksir, preman gini."
"biarin, udah ayo jalan." Ziana menepuk bahu Joe agar pria itu segera melajukan motornya.
"beneran ya, tapi deketin aku sama Luna ya."
Motor milik Joe perlahan pergi meninggalkan Pelataran mini Market, pria muda yang menjadi kasir, mengurutkan tangannya ke dada, ia merasa lega melihat kepergian gadis Cantik itu.
__ADS_1
"syukurlah kalau dia pergi, cantik banget loh tapi kasian ya, masalahnya pasti berat. Semoga cepat sembuh deh."
Di perjalanan Ziana menggeplak helm di kepala Joe kala rekannya itu melontarkan Candaan yang garing menurut Ziana, Joe mengaduh kesakitan.
Kemudian dua orang itu tampak tertawa dan saling melempar candaan.
"Nah mas lihat itu, merah artinya berhenti. Jadi berhentilah menganggu adikku.."
"ish kau ini, pelit sekali."
Mereka pun berhenti kala lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.
Tanpa Ziana sadari seorang pria menatap nyalang dan menggepalkan tangannya geram melihat kebersamaan istrinya bersama seorang pria tertawa bersama di atas motor.
"sialan, jadi karena ini dia pergi pagi sekali." Wajah bara memerah
Elang melihat bara dari kaca spion, pria itu menghela nafas, ia bisa melihat pria itu cemburu melihat istrinya bersama pria asing.
"kau cemburu?"
"Omong kosong apa yang kau katakan?"
"Dia itu teman baiknya ana, tekan sedivisi nya, jadi kau tidak usah khawatir."
"aku tidak meminta penjelasanmu."
Elang menyebikkan bibir jengkel pada pria sok gengsian itu.
'ala ngomongnya aja gak cinta.' batin elang
Sesampainya dikantor, Bara segera mengerjakan dan menandatangani beberapa file penting, tapi pikiran nya tidak tenang dan gelisah.
"dia sangat cantik kalau tertawa lepas Seperti itu, denganku saja tidak pernah." Bara memijit pelan pelipisnya.
Ia mengambil telepon kantor miliknya dan menghubungi seseorang.
"Suruh dia segera menemui ku." Tutur bara dingin.
Disisi lain Ziana yang semula Fokus pada pekerjaannya tiba-tiba saja dipanggil manajer begitu saja.
"ada apa? loe bikin masalah?" Bisik Vian
"jangan-jangan loe mau dipecat?" Visya semakin menakuti Ziana.
"Mulut loe Jahat banget." Vian menatap sinis pada Visya yang dibalas balik gadis itu.
Ziana menatap jengah pada tim dan Jerry itu, ia berjalan gusar memasuki ruangan manajer.
"Duduk Ana, langsung saja ya. Pak CEO meminta mu untuk menemui nya, ada masalah apa yang kau buat? aku ingatkan kau ya, jangan mencari perkara yang akan menimbulkan masalah untuk divisi kita ini."
Wanita itu Begitu cerewet
__ADS_1
Ziana menghela nafas, ia menatap kearah sang manajer.
"jadi untuk apa, ibu memanggil saya kesini?"
"Temui pak CEO segera."
"baiklah Bu." Ziana tampak menurut, ia sangat malas mendengarkan mulut cerewet sang manajer.
Ziana berpikir kira-kira kenapa ya Bara memanggilnya?
Joe, Vian dan Visya menatap wajah sendu Ziana yang baru saja keluar dari ruangan manajer, mereka bertanya tanpa suara tapi Ziana tampak diam dan melangkah keluar menuju lift untuk keruangan bara.
Sesampainya disana, ia melihat Elang tengah fokus pada pekerjaan nya.
"Pak elang."
Elang menoleh dan tersenyum manis pada istri boss nya itu.
"eh Bu boss, mau bertemu bara?"
Shutt
Ziana memberi kode agar pria itu memelankan suaranya, ia mencelinguk kiri dan kanan, takut ada yang mendengar mereka.
"Masuk aja Bu boss." bisik elang.
Ziana masuk dengan perasaan dongkol, ia malas kalau harus bertemu pria egois itu.
"ada apa?" Tanya Ziana ketus
"sopan lah sedikit." Bara mengangkat wajahnya kearah Ziana, ia menatap sang istri dingin dan lihatlah mengapa dengannya wajah Ziana tak seperti wajah yang ia lihat di lampu merah tadi.
Tidak ada senyuman lepas yang ia tunjukkan tadi.
"duduk disini." Bara menepuk pahanya
Ziana melototkan mata nya, apa maksud pria ini, jadi dia disuruh kesini hanya untuk duduk dipaha bara, keterlaluan.
"Aku tidak mau, ada apa kau memanggilku?"
Bara menghela nafas melihat kelakuan istri nya.
"Kau kenapa meninggalkan ku sendirian tadi?" Tanya Bara, pria itu masih berusaha sabar.
"apa peduli mu? aku ada urusan."
Nada bicara sang istri yang selalu ngotot membuat bara kesal akhirnya. Ia berdiri menghampiri sang istri, mencengkram pergelangan Ziana kuat.
"kau berselingkuh?" Tuduh bara.
Ziana tentu saja terkejut tapi sebisa mungkin ia mengkondisikan hatinya.
__ADS_1
"kau cemburu? tenang saja, aku tak semurahan itu." Ujar Ziana menyeringai tapi hatinya sedikit sakit mendengarkan tuduhan yang dilontarkannya bara.
****