
Ziana tampak segar usai mandi, Karina ternyata menyediakan beberapa pakaian lengkap dengan tas dan sepatu Keluaran terbaru khusus untuk sang menantu, untung saja, karena Ziana tidak membawa pakaian ganti sama sekali.
"Segarnya." Ziana memakai dress santai dengan motif polos, ia menggosok-gosokkan rambutnya dengan handuk tanpa menyadari bahwa sang suami, menatap Ziana intens kaca mata baca bertengger dihidung mancung bara.
Sesekali Ziana bernyanyi kecil, Dering ponsel menyadarkan Wanita itu.
Drett drett
Tertera nama Vivian dilayar ponselnya.
"Assalamualaikum cantik." Sapa Ziana tersenyum lepas, Ia tak menyadari seraut senyuman itu telah membuat jantung bara berdetak tak karuan, keberadaannya seakan gaib bagi sang istri atau memang wanita itu memang tak sadar sama sekali.
"waalaikumusalam Beb, loe ngapain?"
"Aku habis mandi, ada apa nelpon?"
"ish kok ada apa sih? aku tuh mau ngasih tau sesuatu."
"apaan?"
"loe gak baca chat di grup?"
"grup yang mana vi, kebanyakan grup jadi aku sampai lupa grup apaan?" Ziana terkekeh, yang ia katakan memang benar Terlalu banyak grup di aplikasi hijau miliknya, grup sekolah dulu, grup kampus juga, grup kantor dan grup yang hanya berisi mereka bertiga, Vian, Zico serta Ziana sendiri dan beberapa grup lainnya.
"ish loe kebiasaan deh, grup kita bertiga."
"ouh yang itu, ada apa emang?"
"esok Si curut pulang, dia minta kita jemput dibandara."
Mendengar kata sicurut otak ziana langsung terpikir pada pria berwajah tampan dengan rambut gondrong menggoda, kulit putih dan hidung mancung, senyumannya sangat manis membuat hati wanita mana saja meleleh terpesona kecuali Ziana dan Vivian tentunya.
"gak mau ah, pasti banyak media, ntar kena gosip lagi kita, diserang fans brutalnya untuk kesekian kali, kamu gak kapok." Ziana masih teringat bagaimana brutal dan bar-bar nya fans fanatik dari pria tampan yang menjadi sahabat mereka itu.
"ya iya sih, tapi gue udah terlanjur janji, dan loe tau kan gimana kalau kita nolak."
Ziana menghela nafas panjang, seolah setuju dengan ucapan Vivian, Seandainya saja para fans fanatiknya tau gimana kelakuan idola mereka.
"ntar aku kabarin, udah dulu ya."
"oke bye beb."
Ziana meletakkan ponselnya di nakas yang berada dekat sudut kamar tak jauh dari kamar mandi. Ia membalikkan badannya, mata Ziana langsung tertuju pada sosok pria yang menatapnya serius.
Deg.
__ADS_1
Jantung Ziana berdetak ribuan kali lipat, mengapa sang suami jauh terlihat sangat tampan malam ini, kemeja nya ia lipat kesiku, dua kancing kemeja teratas sengaja terbuka begitu saja.
Sorot matanya tajam dan menuntut meski bibirnya tak bicara tapi Ziana seakan mengerti bahwa sang suami ingin bertanya siapa gerangan buang ditelpon sang istri.
'cih kenapa dia harus tau, dasar pria mesum pemaksa.' Batin Ziana, ia memutar mata kesal dan tak memperdulikan tatapan menuntut bara.
Sementara Bara, ia menghembuskan nafas lemah, ia bisa melihat sang istri masih enggan bicara padanya, haruskah ia minta maaf? tapi untuk apa? bukankah ia tak salah sama sekali, jadi untuk apa ia meminta maaf.
Ziana mengeringkan rambutnya kemudian menyisirnya, ia seolah tak peduli dengan bara sama sekali bahkan tak menatap bara, lelah akan permusuhan yang dilakukan sang istri, bara beranjak dari ranjang ia memasuki kamar mandi dan memutuskan untuk mandi saja.
*****
Ziana kini berada didapur, ia melihat aktivitas para pelayan yang sibuk memasak makan malam.
"selamat malam bik."
"eh non, kok kedapur? non perlu sesuatu?"
"masak apa bik, aku bantuin ya."
"kesukaan den bara non."
"hmm aku bantu ya."
"gak usah non."
"Tapi lebih dulu kakak saya non, kalau non mau tau tentang Den bara tanya aja sama beliau."
Ziana hanya tersenyum, menurutnya gak ada yang perlu ia cari tau dari pria mesum Seperti suaminya.
Tak lama usai memasak, Semua menu telah terhidang dimeja makan.
"Nak kamu tadi bantuin bibik?" Tanya Karina
"iya ma."
"makasih ya sayang, tadi mama ada kerjaan sedikit."
"iya ma gak apa-apa."
Saddam dan Karina telah duduk dimeja makan tak terkecuali Elang yang diminta Karina untuk menginap disana oleh Karina.
"bara mana?" Tanya Saddam ketika tak melihat keberadaan sang putra.
"Loh iya, suami kamu mana nak?"
__ADS_1
"Mungkin masih dikamar ma."
Tak lama bara pun muncul dengan penampilan santainya.
"aku disini."
Pria itu duduk dibangku kosong sebelah kiri sang ayah tepatnya disamping sang istri.
Ziana mengambilkan makanan untuk sang suami, meski ia marah pada bara tapi ia harus tetap menjaga imagenya.
"ana sayang, gimana kamu udah isi?"
Mendengar pertanyaan sang Mertua Ziana mengernyit heran, tak mengerti akan apa yang dibicarakan mertuanya itu, sementara bara sibuk dengan menu makan malamnya.
"ini Ana lagi mau isi perut ma." Jawab Ziana polos.
Elang yang mengerti ucapan Karina, menahan tawanya agar tak lepas, pria itu sangat mengerti apa yang dibicarakan Karina.
"bukan isi nasi sayang tapi isi bayi." Karuna tersenyum menggoda
uhukkk
Bara tersedak mendengar ucapan frontal ibunya, pria itu dengan cepat meminum air putih didepannya sementara Ziana mendadak berubah ekspresi.
'bayi?' Pikir Ziana
sang mertua benar, bagaimana kalau ia hamil? tapi kemudian wanita itu menggeleng kuat, gak mungkin rasanya ia bisa hamil secepat ini.
"gak mungkin ya, aku hamil secepat ini, setelah ini aku gak akan biarin si bara api nyentuh aku lagi." tekad Ziana kuat
"doakan aja ma." Ujar bara
"benar Tante, mereka udah proses kok." Elang berbicara frontal
uhukkk
kali ini Ziana yang tersedak, bara menyodorkan air pada sang istri, tapi Ziana menolak, ia menatap tajam pada bara.
Mendapatkan tatapan sinis dan tajam dari istrinya, pria itu mendadak takut, ingatkan bara untuk mengutuk mulut bocor asisten sekaligus sahabatnya itu.
"jangan ditunda ya nak, kamu tau kan anak mama cuma bara aja, mama pengen segera punya cucu dari kalian, mama kesepian apalagi kalau papa sibuk." Karina berbicara sendu dan menundukkan kepalanya seolah apa yang ia katakan berasal dari hatinya paling dalam.
Melihat raut wajah sang mertua ada rasa tak tega dihati Ziana tapi bagaimana pun kehadiran seorang anak haruslah diiringi rasa cinta terlebih dahulu diantara kedua orangtuanya, kalau ia dan bara tak saling mencintai bagaimana mereka bisa menciptakan kebahagiaan untuk keluarga kecil mereka dan pada akhirnya anak akan menjadi korban dari keegoisan orang tua mereka.
Salahkah Ziana jika saat ini ia berharap untuk tidak hamil? setidaknya sampai bara bisa menerima kehadiran dirinya sebagai istri.
__ADS_1
****
Makasih udah setia, tinggalkan jejak ya.