Cintai Aku Tuan Ceo

Cintai Aku Tuan Ceo
MENOLAK


__ADS_3

Ziana menenggelamkan dirinya dalam selimut, ia berpura-pura tidur tapi sejujurnya dia menangis pilu disana, gadis itu tak berani bersuara. Ia takut Keluarganya yang lain mendengar Tangisnya sementara Bara pria itu terduduk lesu di sofa, ia ingin sekali Memeluk dan merangkul sang istri sembari mengucapkan maaf tapi kenapa lidahnya seolah kaku dan berat untuk mengucapkan.


Ia menoleh kearah sang istri yang mengurung diri dalam selimut, tampak tubuh Ziana bergetar, bara tau Istrinya menangis tapi bodohnya ia tak bisa melakukan apapun.


Bara beberapa kali menghela nafas panjang dan meraup wajah kasar. Ini kali pertama ia ditolak perempuan biasanya para wanita akan datang secara suka rela padanya tapi kali ini ia ditolak sang istri.


Pandangannya tak bisa lepas dari sang istri ketika ia melihat gadis itu tampak cantik dengan piyama yang ia pakai. Marvel benar bahwa sang istri memang cantik bahkan lebih cantik dari mantannya dahulu.


Bara membaringkan tubuhnya di sofa yang bahkan tak cukup menampung tubuhnya, mencoba memejamkan mata tapi sepertinya ia tak bisa, pria itu menendang kuat bantal guling yang berada dikakinya, kembali mencoba memejamkan mata hingga ia terlelap tanpa sadar.


*****


Sinar mentari menyeruak memasuki celah jendela kamar sederhana milik Ziana, gadis itu sudah bangun dari tadi dan memilih untuk tidak tidur lagi selepas solat subuh, Jam masih menunjukkan pukul 05.30.


Ziana menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, memainkan ponselnya dan membalas chat di grup divisinya.


Joe


bangun loe pada


Vian


pagi-pagi udah berisik aja nih knalpot bajai


Visya


visya cantik udah bangun dong, emang Vian jam segini masih molor, ish eyouu


Vian


Loe bisa gak, gak usah bawa-bawa nama gue, jangan cari perkara loe pagi-pagi


Joe


Ladies, stop, mas Joe tau mas Joe tampan jadi jangan saling berebut, nanti kita nonton bareng aja, mumpung weekend.


Vian


ish, ogah gue ngerebutin loe, sama Visya aja loe sono, sorry selera gue Pak bara.


Visya

__ADS_1


Maaf, selera gue minimal pak elang, Joe sorry loe bukan level gue


Ana


please pagi-pagi jangan bicarain manusia aneh berdua itu, ngerusak mood aja


Ana benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa para wanita dikantornya bisa mengagumi sang suami begitu saja, kalau mereka tau buruknya perilaku boss mereka yang mereka anggap tampan itu maka Ziana yakin para perempuan itu akan berubah haluan.


Ziana menoleh kearah sofa, dimana sang suami meringkuk menekuk lututnya, mungkin karena dingin karena pria itu tak memakai selimut, Ziana tersenyum jahil ia sangat kesal pada pria itu, ia meraih remote AC yang berada dinakas samping ranjang, menambah suhu agar semakin dingin.


"rasain loe bara api, beku deh loe sekalian." Sahut Ziana tajam sembari mendengus kesal


Ziana berdiri kemudian merapikan ranjang, ia melangkah keluar dengan ponsel di tangannya, melenggang kedapur. Bau harum masakan menyeruak menusuk hidungnya.


"mama, pagi-pagi udah masak aja. masak apaan sih? cantiknya aku ini" Ziana memeluk erat sang ibu dari belakang membuat wanita paruh baya itu kaget, ia mencium pipi Sang ibu sekilas


"kak, kamu ini udah punya suami tapi masih manja, mending bantu mama deh, gorengkan telur itu buat nasi goreng." Ucapnya lembut dan melepaskan pelukan putrinya.


"ish mama, kapan lagi coba kakak bisa manja-manja gini sama mama." Dengus ana pura-pura kesal


"mending kamu manjain suami kamu kak, biar mama cepat punya cucu." Goda Hesti


'boro-boro punya cucu, disentuh orangnya aja gue gak sudih, enak aja, belum cinta tapi udah main belai-belai, entar yang ada gue ditinggal.' Ziana berdialog dengan batinnya


"kamu gak nolak suami kan kak, dosa loh." Ujar Hesti seolah mengerti akan apa yang dipikirkan putrinya


Ziana membelalakkan mata, terkejut akan apa yang diucapkan sang ibu.


'kok bisa mama tau ya?' pikir Ziana


Ziana hanya diam sembari mengaruk tengkuk yang tak gatal.


"aku goreng telurnya ya ma." Gadis itu seolah mengalihkan pembicaraan, ia bergegas mengambil wajan.


Hesti kembali fokus dengan masakannya dan sesekali mencicipi rasa.


*****


"kak, bangunin suami kamu gih, sama Luna juga."


Ziana mengangguk, ia tak akan membangunkan pria itu, biar saja dia bangun sendiri, sampai saat ini ia masih sangat kesal pada sang suami.

__ADS_1


Ziana berjalan kekamar Luna, mengetuk pintu kamar tapi tak kunjung ada suara, Ziana bisa menebak adik bungsu nya itu masih tidur, ia memutar handle pintu dan berjalan pelan.


Sesampainya didalam kamar, Ziana mendengus kesal melihat Luna masih tidur dengan posisi kacau balau, selimutnya tampak terjatuh dilantai dan bantal guling pun begitu, gadis itu tertidur dengan posisi terlentang dengan tangan serta kaki terbuka lebar.


"dek bangun." Ziana menggoyangkan tubuh Luna tapi dalam beberapa kali percobaan Sang adik belum juga terjaga.


"Dek, bangun ada V BTS didepan." Bisik Ziana ditelinga luna, ia tau adiknya tergila-gila pada pria berkulit putih itu.


Aluna yang notabene memang pecinta K-Pop sejati, sontak terlonjak bangun gelagapan.


"mana V nya, babang V. Ini istri mu datang." Aluna menghambur dari ranjang


"ck, giliran V aja bangun, kamu ini dek jangan terlalu fanatik, udah bangun saja, cuci muka gosok gigi, kamu bau jigong." Ziana berjalan kearah pintu dengan tangan bersidekap di dada.


"kakak, becanda nya gak lucu, kayak kakak gak suka aja, kakak kan juga pecinta Drakor." Aluna mendengus kesal, gadis itu berlalu menuju kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.


Lima belas menit kemudian, semua sudah terkumpul dimeja makan minus Bara.


"loe kak, mana suami kamu?"tanya Hesti menanyakan menantu nya


"kelaut ma." Ujar Ziana asal


"kak, kok ngomong gitu, kakak ada masalah?" Bayu yang notabene memang lebih dewasa secara karakter dari kakaknya bertanya sembari memicingkan mata curiga


Ziana gelagapan ditanya begitu Apalagi ditatap penuh intimidasi oleh mama nya dan bayu.


"aku disini." Bara muncul dengan wajah yang segar, ia sangat tampan dengan penampilan habis mandi, celana pendek selutut dan kaos putih pendek.


"wah kak bara, pagi-pagi udah mandi aja nih, kok kak Ana masih kucel." Aluna yang berkata


"pagi-pagi tu memang harus gitu dek, kakak kamu kalau weekend gini mana mandi kecuali mau pergi baru mandi." Tukas Hesti


Ziana hanya diam, bibirnya mengerucut kesal, ia sesekali menatap bara tajam, Berbeda dengan bara yang menatap sendu sang istri yang mulai mengibarkan bendera permusuhan diantara mereka.


Bara tak mengerti kenapa perempuan itu sangat ahli dalam hal mengingat dan mengungkit, Jika marah mereka bisa mendiamkam pasangannya hingga dalam jangka waktu yang lama tapi kali ini bara bingung apa yang harus ia lakukan, Ia tak bisa mencintai gadis manapun lagi karena ia takut hatinya akan terluka lebih dalam dan kejadian dulu terulang lagi dan membuat hatinya kembali terpuruk.


*****


**bara api, gimana sih kamu? makanya gak usah sok trauma2 segala 🤣


Makasih udah mampir guys ya, vote, hadiah dan likenya**

__ADS_1


__ADS_2