
Ziana mendumel kesal, ia melirik pria tampan yang fokus menyetir di sampingnya, alasannya untuk menginap lebih lama lagi terpaksa batal karena kehadiran bara api yang mendadak menyusulnya.
Keduanya tampak saling membisu tanpa ada yang bersuara.
"Kenapa repot-repot menjemputku? Bukankah kau senang jauh dariku?" Ujar Ziana frontal
Barra melirik sang istri, ia menghela nafas panjang, stok sabarnya memang harus diperbanyak jika berurusan dengan perempuan, karena sifat dasar perempuan memang begitu menurut Bara.
"kenapa tak mau pulang, kau mau menunggu zijo itu?" Ucap Bara sinis
Ziana lantas berfikir Siapa itu Zijo
"Zijo? siapa itu?"
" ck, itu teman artis mu ?" Jawab bara kesal
"Namanya Zico bukan Zijo."
"Terserahlah,kau istriku. Jadi jangan coba-coba untuk mendekati pria lain."
"kau mengatur ku?"
"kau harus mematuhi aturanku, kalau tidak aku akan memecatnya sebagai karyawan, biar kau dirumah saja."
"pecat saja, aku akan bekerja bersama Zico kalau begitu, dia menawarkanku jadi model."
Bara memandang penuh kesal pada sang istri, wanita ini selalu punya jawaban untuk menjawab ucapan bara.
"jangan coba-coba, kau istriku."
"kau masih ingat punya istri, selama ini Kemana aja kau?"
"jangan membantahku ana." Ujar bara dingin
Ziana seolah tak takut sama sekali pada sang suami, ia benar-benar kesal pada bara, tiba-tiba datang menyusul Ziana dan mengacaukan weekend Ziana yang tadinya ingin ia habiskan bersama keluarganya.
Kehadiran Bara sungguh merusak mood gadis itu.
Dua insan itu kembali diam usai saling adu mulut didalam mobil, Ziana lebih memilih memainkan ponselnya mengecek grup aneh divisi mereka.
Ana
Guys weekend kalian habiskan ngapain?
Joe
mas Joe tentu saja kencan bareng ayank
Vian
Cih, dasar Playboy
Visya
Aku dong, nyalon biar makin kece
Vian
__ADS_1
sok banget loh, baru nyalon aja bangga
visya
Vian, loe ada masalah apa sama gue? Bikin kesel loe sumpah
Vian
Gue tu gak suka sama loe, berisik, kang gosip, centil lagi
Visya
Kurang ajar banget mulut loe, gak nyadar banget loe sama kelakuan loe sendiri
Dan begitulah grup Divisi aneh Ziana, gadis itu menghela nafas. Lelah akan tingkah Tom dan Jerry tersebut.
Ziana kembali menoleh kearah luar jendela, Ia Seperti enggan untuk berdebat ataupun menoleh lagi pada sang suami.
****
30 menit kemudian mobil milik bara telah sampai dimansion pria itu. Ziana turun dari mobil tanpa memperdulikan Bara sama sekali, Bara menghela nafas panjang, ia mengacak rambut frustasi dan tak tau harus berbuat apa untuk meluluhkan gadis itu, haruskah ia pura-pura mencintai Ziana, untuk menaklukkan Sang istri agar tunduk pada apapun perintahnya.
Ziana melenggang masuk kedalam Mansion.
Bik jumi yang melihat kedatangan majikannya sontak menyapa.
"loh non, kok cepat banget pulangnya, bibik pikir non nginap lama dirumah orang tua non."
"mau gimana lagi bik, Kobaran api itu ngajak pulang, terpaksa deh aku pulang, padahalkan aku mau lebih lama sama keluarga aku."
"kobaran api? siapa non?" Bik Jumi bertanya heran
"Den bara?"
Ziana mengangguk
"ya udah bik, aku kekamar dulu, nanti biar aku yang masak makan malam."
"iya non."
Ziana berlalu kedalam kamar, sesampainya didalam kamar, ia menghempaskan tubuh diranjang, tak lama kemudian Bara muncul dan ikut duduk disamping sang istri yang tengah berbaring.
Ziana menatap jengah dan sinis pada bara.
"apa lagi, kamu masih marah?" Bara bertanya lembut, ia benar-benar tengah berusaha mengontrol emosinya yang bisa meledak kapan saja.
"aku mau kita pisah kamar." Ujar Ziana
"jangan kekanakan Zi, gak ada pisah-pisah kamar, kita suami istri sekarang."
"kalau kita suami istri, kemana aja kamu beberapa hari ini?"Ziana berbicara sedikit keras.
"kamu merindukan aku?"
Bara tiba-tiba menghimpit tubuh sang istri, ia menindih tubuh ramping Ziana.
Jantung Ziana berdetak kencang, ia mendadak bisu dan gagu.
__ADS_1
Bara menatap mata Ziana, gadis itu terlihat salah tingkah.
"kau sudah mulai menyukai suami mu ini?" Ucap bara sedikit menggoda Ziana dengan semakin mendekatkan wajah mereka.
"jangan geer kau." Ujar ziana gugup, ia tak berani menatap sang suami
Tanpa Bara sadari jantungnya juga berdetak hebat, nafasnya memburu, begitu juga hasratnya yang semakin memuncak.
"kenapa memalingkan wajahmu, aku benar bukan?"
"Jangan mimpi kau." Ziana masih saja berdalih, ia meronta kuat tapi dekapan pria itu sangat kuat, ia takut kejadian semalam kembali terulang.
"ingat tidak ada, pisah kamar, jika kau berani melakukannya, maka jangan salahkan aku jika kau hamil secepatnya."
"kau menantangku tuan bara." Ziana masih saja tak mau kalah
"oho, kau mau aku buat hamil? aku sih setuju-setuju saja." Bara tak gencar menggoda sang istri.
"ingat janjimu, tidak akan mencintaiku berarti tidak akan ada sentuh menyentuh dalam pernikahan konyol ini."
Mendengar ucapan sang istri, Bara otomatis menyingkir dari atas tubuh Ziana.
"kenapa kau tak lupa kan?"
"jangan mengingatnya lagi Zi, atau aku akan benar-benar memperkosa mu, aku tak peduli kau membenciku setelah itu."
"kau egois Tuan bara, lepaskan aku jika kau memang tak mencintaiku dan tak mengharapkan kehadiranku sebagai istrimu." Teriak Ziana dengan air mata berlinang
Bara yang terduduk disisi ranjang, menarik rambut kesal, ia membenamkan wajahnya pada kedua tangannya.
"Tidak akan ada perceraian, jika kau mau bercerai dariku, bayar dulu utang mu, bukankah mama ku telah membeli mu." Bara kalut dan tak sadar apa yang telah ia ucapkan
Ziana menegang, tubuhnya bergetar.
"apa maksudmu?" Ucap Ziana
"aku benar bukan? kau pikir aku tak tau, kau menikahi ku karena hutangmu bukan? kau sama saja seperti perempuan lain, mur***n dan ja***g."
plakkkk
Ziana yang gemetar, Menampar pipi Bara kencang.
Bara memegang pipinya yang terasa nyeri, Ia menatap nyalang gadis yang menangis didepannya.
"kau sudah sangat lancang hari ini, Kau harus ingat jati dirimu." Ujar bara dingin
Bara menarik dan menghempaskan tubuh sang istri diranjang, mencum** paksa Ziana, ia menahan kuat tangan gadis itu agar tidak berontak, lelehan air mata Ziana seolah tidak mempengaruhi Bara sama sekali.
Ia mencabik dress yang dipakai sang istri, tangannya sudah bergerilya kemana-mana.
Ziana tak berhenti memberontak, ia tak ingin pria ini merebut secara paksa kehormatannya, meski itu sudah menjadi hak bara tapi Ziana bertekad untuk menjaga apa yang ia banggakan ini untuk orang yang benar-benar mencintainya.
"jan..gan." Tangis Ziana pilu.
Bara tentu saja sudah berkabut gairah.
Dan akhirnya apa yang dibanggakan Ziana hilang begitu saja, ia tak kuasa melawan kuatnya kekuatan Bara.
__ADS_1
Bara tak menyesal sama sekali atas apa yang ia paksakan hari ini, yang ia sesalkan adalah ucapan kasar yang tentu saja menyakiti Ziana tadi, percayalah Bara tak berniat buruk sama sekali.
*****