
Fathir sedang menunggu jawaban Diandra yang masih bimbang menentukan pilihan. Fathir memang baik tapi itu belum cukup baginya memutuskan menerima cintanya. Seandainya saja Fathir melakukan hal ini 3 tahun lalu pasti tidak ada keraguan dihatinya untuk langsung menerima Fathir sebagai pacarnya.
Kini keadaan Diandra tidak sama lagi, status sosial juga menjadi alasan utama baginya untuk tidak menerima cinta Fathir. Diandra tidak mau orang orang berpikir kalau dia mau memanfaatkan Fathir untuk membantu ekonomi keluarganya apalagi ibunya sedang sakit dan memerlukan biaya pengobatan yang besar.
Setelah diam beberapa saat Diandra mengumpulkan semua keberaniannya dan menjawab pertanyaan Fathir.
"Aku tidak bisa putuskan sekarang, beri waktu untukku memikirkan karena ini bukanlah hal yang mudah. Banyak yang harus kupikirkan dan demikian juga dengan kamu banyak yang harus dipertimbangkan." Kata Diandra.
"Aku serius dengan perasaanku Diandra." Kata Fathir menyakinkannya.
"Aku tahu Fathir, tapi aku tidak mau kamu gegabah dalam mengambil keputusan. Aku bukan gadis yang tepat untukmu, perbedaan kita terlalu banyak." Kata Diandra mencoba menguji keyakinan Fathir.
"Hanya kamu yang pantas untukku, tidak ada yang lain." Kata Fathir tetap yakin.
"Begini saja, sebelum memutuskan menjadi pacarmu atau tidak bagaimana kalau kita jalani dulu masa penjajakan selama sebulan biar kita sama sama yakin." Kata Diandra.
Fathir tampak berpikir sebentar kemudian menyetujui permintaan Diandra.
"Aku setuju, toh tidak akan ada bedanya hari ini ataupun sebulan kemudian rasa cintaku padamu tetaplah sama." Kata Fathir yang membuat Diandra terharu.
Fathir meminta izin pada Diandra untuk memeluknya dan Diandra mengizinkannya. Fathir memeluk Diandra dihadapan semua pengunjung cafe yang disambut tepuk tangan meriah dan doa agar mereka berjodoh.
Alfa yang memilih keluar cafe memandang kemesraan Diandra dan Fathir dari jauh. Entah mengapa ada perasaan dongkol dan tidak senang yang berkecamuk didalam hatinya.
Seseorang menepuk pundak Alfa yang sedang melamun. Alfa berbalik dan menatap orang itu.
"Aurel!" Kata Alfa terkejut tidak menyangka akan bertemu dengannya dicafe itu.
"Alfa sayang." Sebut Aurel kemudian memeluk dan memberikan ciuman dipipinya.
"Kamu jahat banget yah, masa ke cafe tidak ngajak ngajak aku yang masih pacarmu." Kata Aurel protes pada Alfa.
Alfa melihat Diandra dan Fathir sudah kembali ke meja mereka. Alfa mengajak Aurel untuk masuk kedalam cafe dan duduk bareng Diandra dan Fathir.
Diandra sedikit terkejut melihat Alfa yang datang bersama seseorang. Diandra menatap Aurel dengan seksama dan harus diakuinya Aurel tampil sangat cantik dan modis sangat berbeda dengan dirinya yang berpenampilan berantakan dan terkesan tidak terurus.
"Kenalkan ini Aurel." Kata Alfa pada Diandra dan Fathir.
"Aku pacarnya Alfa." Kata Aurel yang sengaja dia tujukan pada Diandra.
__ADS_1
Alfa menatap Aurel sedikit gusar tapi bagaimana lagi Aurel terlanjur bicara. Alfa dapat melihat ada perubahan pada wajah Diandra berbeda dengan Fathir yang sepertinya sangat bahagia.
"Aku Fathir dan ini Diandra, pacarku." Kata Fathir tak mau kalah.
Kali ini Diandra yang terkejut karena Fathir mengakui sesuatu yang belum mereka sepakati. Alfa pun tampak terkejut tapi buru buru diatasinya dengan tersenyum.
"Wah akhirnya ada juga yang suka sama Mak lampir. Selamat yah." Kata Alfa dengan nada menghina.
"Sayang kita cari tempat yang lain dong." Kata Aurel pada Alfa.
"Kita tetap disini saja." Kata Alfa kemudian duduk berhadapan dengan Diandra. Dengan terpaksa Aurel pun duduk berhadapan dengan Fathir. Suasana hening tercipta diantara mereka sampai pelayan cafe datang dan menanyakan pesanan mereka.
Mereka berempat kemudian makan dengan pikiran masing masing. Beberapa kali Alfa melihat wajah Diandra yang ternyata juga terkadang melihat wajahnya. Saat bertemu pandang keduanya serentak membuang muka.
Selesai makan Fathir mengajak Diandra untuk nonton dibioskop dan Alfa pun tidak mau kalah mengajak Aurel untuk nonton juga. Tentu saja Aurel senang sekali karena baru kali ini Alfa mengajaknya nonton.
Di bioskop mereka pun duduk berdampingan. Tempat duduk Alfa berdekatan dengan Diandra sementara Fathir dan Aurel masing masing disamping mereka. Film yang mereka pilih adalah film horror. Semakin lama adegan filmnya semakin menakutkan dan pada satu kesempatan ada adegan yang sangat menyeramkan dan tanpa sadar Diandra memeluk Alfa karena takut.
Fathir jengkel sekaligus cemburu melihat Diandra yang lebih memeluk Alfa dibandingkan dirinya. Diandra yang baru menyadari situasinya melepaskan pelukannya dan meminta maaf.
"Maaf yah aku tidak sengaja." Kata Diandra pada Alfa sekaligus pada Fathir.
Diandra dan Alfa tidak berbicara satu katapun. Mereka lebih memilih diam tanpa menjelaskan apa apa lagi.
"Bilang aja lagi modus." Kata Aurel yang ditujukannya untuk Diandra.
Fathir kemudian bertukar tempat dengan Diandra dan kini dia yang duduk berdampingan dengan Alfa.
Fathir menatap Alfa dengan cemburu sementara Alfa cuek saja seolah Fathir tidak di sampingnya.
Mereka melanjutkan menonton film sampai film berakhir tidak ada pelukan lagi antara Diandra dan Fathir ataupun Alfa dan Aurel.
Kini mereka bersiap untuk pulang. Alfa bersikeras untuk mengantarkan Diandra pulang walau Aurel sudah melarangnya.
"Kamu tidak usah mengantarku. Aku pulang dengan Fathir saja." Kata Diandra menolak permintaan Alfa.
"Kita pergi bareng berarti pulangnya juga harus bareng." Kata Alfa tetap bersikeras.
"Tidak mesti seperti itu, lagipula ada Aurel yang harus kamu antar, dia pacar kamu dan aku tidak mau mengganggu kalian." Kata Diandra.
__ADS_1
"Iya, biar aku yang antar Diandra pulang. Mulai sekarang dia tanggung jawabku karena Diandra adalah pacarku." Kata Fathir semakin menekankan.
"Iya sayang, kita pulang berdua saja. Aku juga akan memberikan sesuatu yang spesial untukmu." Kata Aurel genit.
Akhirnya Alfa pulang dengan Aurel walaupun dengan rasa dongkol. Sementara Diandra juga pulang dengan perasaan tidak tenang seperti memikirkan sesuatu.
Sepanjang perjalanan Alfa mendiamkan Aurel dan membuatnya uring uringan.
"Siapa sih Diandra itu? Kok sepertinya kamu perduli banget sama dia." Kata Aurel dengan suara sedikit keras.
Alfa tidak menjawab dan memilih cuek dan semakin membuat Aurel semakin marah.
"Kamu suka yah sama dia? Sepertinya kamu tidak suka melihat dia bersama Fathir." Kata Aurel penuh kebencian pada Diandra.
"Kamu diam saja karena kamu tidak tahu apa apa?" Kata Alfa setengah kesal.
"Apa sih yang membuat kamu tertarik sama dia? Cantikan juga aku, aku juga lebih seksi dari pada dia." Kata Aurel menyandarkan tubuhnya pada bahu Alfa.
Alfa membiarkannya saja termasuk saat tangan Aurel mulai merayap masuk kedalam kemeja Alfa dan mempermainkan putingnya disana.
Merasa mendapat angin Aurel semakin berani dan tangannya berpindah dari dada Alfa kini menjalar turun dan sampai diselangkangan Alfa.
Alfa terkejut tak menyangka Aurel akan seberani itu. Apalagi kedua tangannya sedang ada disetir mobil.
"Kamu mau apa?" Tanya Alfa.
"Aku ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk kamu yang seharusnya aku berikan saat balapan liar dulu tapi kamu tidak datang." Kata Aurel.
Alfa ingat waktu itu memang pernah janjian dengan Aurel tapi tidak jadi karena harus menjalankan hukuman dari ibunya.
"Spesial, maksud kamu?" Tanya Alfa masih belum mengerti.
"Aku akan memberikan ****** untuk benda pusaka kamu sebagai tanda aku mencintaimu." Kata Aurel yang sukses membuat Alfa terkejut.
Alfa memang nakal tapi selama ini soal **** Alfa masih bisa menahan diri. Hal terjauh yang pernah dilakukannya cuma berciuman dan meremas ***** para pacar pacarnya yang dulu.
Untuk berhubungan intim belum pernah sekalipun dilakukannya karena Alfa tahu resikonya. Alfa tidak ingin ambil resiko kalau pacarnya hamil dan dia harus menikah diusia muda.
Alfa masih berpikir saat tangan Aurel sudah membuka resleting celananya dan menyentuh adik kecilnya yang masih terbungkus celana dalam dan boxer.
__ADS_1
Bersambung !!!!