
Diandra masih shock dengan yang baru dialaminya. Seumur hidup baru kali ini melihat cowok telanjang bulat didepan matanya. Dia adalah gadis normal yang juga memiliki birahi yang jelas bergejolak melihat cowok sekeren Alfa sedang memamerkan seluruh tubuhnya walau tidak sengaja tapi tetap saja begitu berkesan untuknya.
Diandra bahkan tak bisa melupakan sesuatu yang tergantung manja diselangkangan Alfa dengan ukuran yang aduhai. Diandra bergidik saat memikirkan benda sebesar itu masuk ke organ wanitanya.
"Kamu lihat apa?" Suara bentakan Alfa menyadarkan Diandra dari imajinasi liarnya.
"Maaf saya tidak sengaja. Saya tidak tahu kalau kamu sedang telanjang didalam kamar." Kata Diandra.
"Stop. Sekarang kamu keluar. Jangan ganggu aku." Kata Alfa sambil menyeret Diandra keluar kamarnya.
Alfa membanting pintu kamar saat Diandra sudah ada diluar kamarnya.
Diandra masih menunggu Alfa didepan pintu kamarnya. Dia berharap Alfa akan membukakan pintu untuknya.
Lama menunggu pintu kamar itu tidak terbuka. Diandra memberanikan diri mengetuk. Awalnya dengan lembut tapi karena kesal ketukannya menjadi kasar.
"Pergi dari sini. Aku tidak mau berurusan sama kamu." Teriak Alfa dari dalam kamarnya.
Bukannya mengendorkan ketukannya. Diandra menambah kencang ketukannya membuat Alfa jadi marah dan membuka pintu.
"Kamu budeg yah. Aku tidak tahu kamu siapa dan ada urusan apa disini tapi sudah berani menggangguku." Kata Alfa kasar.
"Saya Diandra guru privat kamu." Kata Diandra yang membuat Alfa seperti tak percaya.
Alfa melihat Diandra dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rasa tidak percaya menghiasi wajah tampannya.
"Kamu yakin kamu guru privat untukku." Tanya Alfa dengan nada mencibir.
"Iya, saya diminta ibu Yulia untuk membantu kamu memberi pelajaran tambahan." Kata Diandra.
"Tau gak kamu itu tidak pantas jadi guru privat. Pantasnya jadi Mak lampir saja." Kata Alfa menghina Diandra.
"Dimana mana, guru privat itu harus cantik agar bisa menarik perhatian siswanya. Lah..kalo tampilan begini yang ada siswanya pada kabur." Kata Alfa yang semakin mengejek Diandra.
"Hei...anak manja. Aku sini untuk mengajar cowok bodoh sepertimu. Aku bukan mau ikut foto model jadi untuk apa harus cantik." Kata Diandra membalas kata kata Alfa.
Alfa merasa tersinggung mendengar kata kata Diandra. Selama ini tidak ada yang berani menghinanya. Apalagi mengatainya bodoh.
"Jaga bicara kamu yah. Kamu disini dibayar oleh mamaku untuk jadi guru privat ku. Kalau aku tidak mau kamu mau apa." Ancam Alfa.
"Aku dibayar oleh ibu Yulia, jadi aku hanya akan mendengarkan beliau." Kata Diandra tegas.
"Kalau aku tidak mau kamu mau apa?" Tantang Alfa.
__ADS_1
"Aku akan memaksamu." Kata Diandra.
"Sekarang kamu pulang, aku tidak mau kamu menjadi guru privat ku." Kata Alfa menyeret dan mendorong Diandra kembali keluar dari kamarnya.
Alfa mengunci pintu dan memutar musik dengan volume kencang. Sehingga tidak mendengar Diandra yang kembali menggedor pintu kamarnya.
Cukup lama Diandra menggedor pintu kamar Alfa tapi tidak ada tanda tanda pintu itu akan terbuka.
Diandra terduduk lesu dengan bersandar di pintu kamar Alfa. Seluruh tenaganya sepertinya habis untuk menggedor pintu.
Diandra memutuskan pulang karena sepertinya hari ini akan sia sia saja. Alfa tidak akan membuka pintu kamarnya.
Diandra menghembuskan nafas berat beberapa kali. Kini bertambah lagi masalahnya. Diandra harus mencari cara agar Alfa mau menerimanya menjadi guru privat.
Di Rumah Diandra.
Diandra sedang istirahat dan mencoba tidur sejenak sebelum ke cafe dan melaksanakan pekerjaannya sebagai pelayan cafe. Karena kelelahan Diandra tertidur pulas.
Alfa mendekati Diandra dan memojokkannya ke dinding kamar. Diandra tak bisa menolak saat Alfa tiba tiba saja menyosor bibirnya. Diandra menghindar tapi tentu saja tidak bisa karena tangan kekar Alfa memegang wajahnya sehingga tak bisa lagi bergerak saat bibir Alfa ******* bibirnya.
Cukup lama Alfa menciumi Diandra dan melepaskan ciumannya saat hampir kehabisan nafas.
Alfa mendorong tubuh Diandra sehingga terlentang diranjang. Alfa tidak memberi Diandra kesempatan untuk menghindar. Alfa kini menidih tubuh Diandra. Diandra tidak bisa menolak saat Alfa mulai menggerayangi tubuhnya yang masih berbungkus baju.
Gerakan Diandra semakin liar dan tidak terkendali karena sentuhan Alfa yang membuatnya melayang.
"Aduh......" Diandra meringis kesakitan karena jatuh dari ranjang.
Rupanya Diandra bermimpi. Mimpi yang sangat aneh namun mendebarkan. Mimpi bermesraan dengan Alfa. Seseorang yang baru dikenalnya hari ini.
Diandra tidak habis pikir bagaimana cowok sebrengsek Alfa bisa masuk dimimpinya. Cowok yang sama sekali tidak ada romantisnya. Cowok yang bahkan tidak berperikemanusiaan. Cowok sombong angkuh yang tidak bisa menghargai orang.
Diandra duduk ditepi ranjang. Sekelebat mimpi mesumnya bersama Alfa melintas dipikirannya. Ingatan tentang benda tumpul panjang dan besar itu terbayang dipikirannya. Diandra menyentuh bibirnya. Ciuman itu seperti nyata.
Di Cafe
Setelah memakai seragam Diandra bergabung dengan teman temannya.
"Gimana Diandra, siswa privat kamu, ganteng gak?" Tanya Sisil teman kerja Diandra.
"Ganteng sih tapi asli bikin kesal. Sikapnya kasar, arogan dan tak punya perasaan." Kata Diandra menjelaskan dengan kesal.
"Wah.. jadi penasaran seganteng apa sih.?" Tanya Sisil menggoda Diandra.
__ADS_1
Diandra tidak menanggapi kata kata Sisil. Mereka kemudian bekerja melayani pengunjung cafe yang mulai ramai. Cafe tempat Diandra bekerja memang salah satu cafe favorit dikota itu. Banyak remaja remaja yang menjadikan cafe tersebut untuk kencan.
Makanan yang disajikan juga enak. Berbagai macam menu disiapkan di cafe itu.
Malam ini cafenya cukup ramai. Dari tadi Diandra bolak balik mengantarkan pesanan pengunjung. Tidak ada waktu bagi Diandra dan teman temannya untuk bersantai.
Rombongan remaja masuk ke cafe dan duduk di meja yang terletak dipojok cafe.
Semua pelayan sedang melayani pengunjung cuma Diandra yang sedang tidak melayani. Diandra mendekati rombongan remaja itu.
Dengan senyuman ramah dan manis Diandra menyapa rombongan remaja itu.
Diandra terkejut saat melihat salah seorang diantara remaja itu ada seseorang yang dikenalnya. Orang itu adalah Alfa. Siswa privatnya yang sore tadi masuk dalam mimpinya dan berbuat mesum dengannya.
Diandra dan Alfa sama sama terkejut.
"Kamu." Kata Alfa dan Diandra bersamaan.
"Wah Mak lampir ternyata kerja disini juga." Ejek Alfa ke Diandra.
Diandra tidak membalas ejekan Alfa. Diandra sadar bahwa saat ini dia sedang menjadi pelayan di cafe. Dan sudah kewajibannya harus ramah pada pengunjung cafe walaupun kurang ajar.
"Mau pesan apa mas?" Tanya Diandra seramah mungkin.
"Hei.. kamu pikir kami mas mas penjual bakso." Kata Alfa membentak Diandra.
Teman teman Alfa heran melihat Alfa yang sepertinya tidak menyukai pelayan cafe ini.
"Kamu harus panggil aku sayang baru kami mau pesan." Kata Alfa.
"Mana bisa seperti itu. Tolong jangan buat saya dalam masalah." Pinta Diandra kepada Alfa.
"Berarti kami tidak jadi pesan apa apa disini. Ayo teman teman kita tinggalkan cafe ini." Kata Alfa mengajak teman temannya.
Alfa dan teman temannya sudah berdiri dari kursinya. Diandra dilema karena dengan membiarkan pengunjung pergi maka dia akan mendapat teguran dari manager cafe tapi dengan mengikuti permintaan Alfa maka dia akan merendahkan harga dirinya.
Diandra sedang bingung memutuskan keputusan apa yang akan diambilnya. Alfa dan teman temannya sudah hampir keluar dari cafe saat Diandra berteriak.
"Oke aku setuju." Kata Diandra sambil mendekati Alfa dan teman temannya.
"Baiklah aku setuju. Tolong kalian duduk kembali. Please." Pinta Diandra.
Alfa dan teman temannya kemudian duduk kembali. Alfa memandang Diandra dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Diandra.
__ADS_1
Bersambung...