Cintaku Tak Terbatas Waktu

Cintaku Tak Terbatas Waktu
Part 5 : Sebuah Syarat


__ADS_3

Diandra sudah berada didepan kamar Alfa. Dia masih menggunakan seragam dari penerbit buku. Ada kekesalan dihatinya karena permintaan bodoh cowok monster itu. Mestinya dia masih harus ke sekolah yang lain untuk promo buku tapi harus dibatalkannya karena monster bodoh dan sombong itu.


Tanpa mengetuk pintu Diandra langsung masuk ke kamar Alfa dan menemukan cowok itu sedang tiduran diranjangnya. Alfa sedang bertelanjang dada dan tidak berusaha untuk menutup tubuhnya saat Diandra masuk dan berdiri dekat dari ranjangnya.


"Halo Mak lampir." Kata Alfa menyapa.


"Bangun kamu. Kita mulai pelajarannya. Gara gara kamu aku harus menunda pekerjaanku." Gerutu Diandra.


Alfa yang masih malas malasan tidak bergeming dari ranjangnya membuat Diandra tambah kesal. Diandra mendekati Alfa dan bermaksud menariknya. Alfa yang tahu maksud Diandra malah lebih dulu menarik Diandra hingga jatuh menimpa tubuhnya.


Jatuh ditubuh atletis Alfa membuat Diandra sejenak terbuai perasaan. Aroma tubuh Alfa yang khas membuatnya melayang untuk beberapa saat.


Saat kesadarannya kembali lagi Diandra buru buru mengangkat tubuhnya dan memarahi Alfa.


"Kamu pasti sengaja melakukan ini agar aku batalkan bimbingan hari ini." Kata Diandra.


"Aku mau makan dulu tapi harus dibuatkan oleh kamu baru aku mau bicara tentang belajar." Kata Alfa.


"Kenapa harus aku? dasar monster kerjanya merepotkan saja." Kata Diandra.


Akhirnya Diandra mengikuti kemauan Alfa. Sekarang dia lagi sibuk memasak sesuatu untuk Alfa. Diam diam Alfa tersenyum melihat Diandra melakukan permintaanya dengan bersungut-sungut.


Nasi goreng itu sudah jadi dan sekarang sudah ada dihadapan Alfa. Diandra heran karena Alfa tidak memulai untuk makan.


"Ayo buruan makan, setelah itu kita mulai pelajarannya." Kata Diandra.


"Aku mau kamu cobain dulu nasi goreng ini, aku takut kamu menaruh sesuatu didalamnya untuk membalas dendam padaku." Kata Alfa.


"Heh aku bukan manusia seperti itu, aku tak seperti kamu yang tak punya perasaan menindas orang yang lemah." Kata Diandra.


"Jadi tak keberatan kan kalau kamu coba duluan nasi goreng ini?" Tanya Alfa.


Diandra akhirnya memakan nasi goreng itu untuk membuktikan pada Alfa kalau dia tak memasukkan sesuatu seperti yang dituduhkan.


Diandra yang memang sedang lapar menikmati nasi goreng itu tapi tak ingin terlihat lapar dimata Alfa.


"Ini sudah aku buktikan dan tidak terjadi apa apa." Kata Diandra.


"Baiklah aku percaya, tapi nasi goreng sebanyak itu tak bisa aku habiskan sendiri, jadi kamu harus bantu aku untuk menghabiskannya." Kata Alfa.


"Maksudnya." Tanya Diandra bingung.

__ADS_1


"Kita makan berdua. Kamu suapin aku sambil kamu juga makan. Aku tahu kamu belum makan dan aku tak mau kamu pingsan di rumahku." Kata Alfa yang membuat Diandra hanya melongo.


"Tapi aku." Diandra tak melanjutkan kata-katanya karena Alfa sudah memotongnya.


"Tanpa protes, tanpa kata dan tidak pakai lama." Kata Alfa kemudian membuka mulutnya dan menunggu untuk disuapi.


Diandra tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan Alfa. Dalam hati Diandra sebenarnya senang karena dia juga bisa ikut makan. Ada perasaan aneh yang bergejolak didalam hati Diandra. Diandra tak mau banyak berpikir dan menganggap perasaan yang bergejolak itu adalah lapar.


Secara bergantian Diandra menyuapi Alfa dan dirinya. Beberapa kali mereka bertemu pandang dan selalu Diandra yang memalingkan wajah terlebih dahulu.


Nasi goreng itu sudah habis dan sekarang Diandra sudah berdiri berhadapan dengan Alfa.


"Sekarang tak ada alasan lagi. Kita mulai belajarnya." Kata Diandra.


Alfa menguap dihadapan Diandra.


"Aku ngantuk mau tidur dulu." Kata Alfa yang beranjak dari hadapan Diandra dan bermaksud untuk tidur.


Diandra tak membiarkan Alfa berlalu dengan menarik tangannya agar tetap ditempatnya.


"Kamu benar benar brengsek yah. Kamu tak punya perasaan. Kamu sengaja mempermainkan aku. Aku sudah mengorbankan waktuku untuk kamu tapi kamu seenaknya saja begini." Kata Diandra dengan kemarahan.


"Dasar cowok monster. Pokoknya kamu harus belajar aku tak mau datang percuma saja kesini." Kata Diandra memaksa.


Alfa memegang kedua pundak Diandra dan menatapnya tajam.


"Aku tidak mau." Kata Alfa.


"Kamu harus mau." Jawab Diandra.


"Oke aku mau tapi ada syaratnya." Kata Alfa.


"Apa syaratnya?" Tanya Diandra.


"Gampang kok dan kamu pasti bisa melakukannya." Ucap Alfa.


"Katakan cepat biar aku lakukan." Kata Diandra.


"Aku mau dibimbing oleh kamu asalkan kamu mau mencium aku dibibir setiap kali mau mulai pelajaran." Kata Alfa yang membuat Diandra terkejut sekaligus shock.


"Gila, kamu cowok gila. Mana ada persyaratan seperti itu." Kata Diandra.

__ADS_1


"Cuma itu persyaratannya kalau kamu sanggup lakukan maka aku akan ikut semua permintaanmu." Kata Alfa.


"Apa syaratnya tak bisa diganti, itu terlalu berat untukku." Kata Diandra memohon.


"Masa ciuman berat, justru itu yang paling mudah dari pada aku suruh kamu yang lain." Kata Alfa.


"Kamu benar benar monster yah." Kata Diandra.


Alfa tak menggubris lagi kata kata Diandra. Alfa sudah menuju ke ranjang dan bersiap untuk tidur.


"Pulanglah pikirkan syarat yang kuberikan kalau kamu sanggup silahkan datang dan mulai pekerjaan kamu." Kata Alfa.


"Please, ganti yang lain yah. Aku bisa melakukan apa saja asal jangan berciuman." Pinta Diandra memelas.


Alfa hanya menggeleng dan tak memberi pilihan lain lagi untuk Diandra.


Alfa tersenyum melihat Diandra yang seperti orang kebingungan.


Dirumahnya Diandra sedang memikirkan persyaratan Alfa. Rasa marah menguasai pikiran Diandra. Diandra tak menyangka cowok monster itu akan memberi persyaratan yang menurutnya sangat berat.


Mungkin bagi cewek lain berciuman itu gampang saja apalagi yang dicium adalah cowok sekeren Alfa yang menjadi idola gadis gadis. Tak bisa dipungkiri diam diam Diandra mengagumi ketampanan Alfa tapi itu tak cukup sebagai alasan untuk mencium cowok itu. Bagi Diandra ciuman itu sesuatu yang spesial dan tak bisa diberikan untuk sembarang orang.


Diandra pernah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ciuman pertamanya akan diberikan untuk cowok yang menjadi suaminya nanti. Cowok yang bisa menerima segala kekurangannya dan bisa membuatnya bahagia.


Lamunan Diandra terhenti saat hp nya berdering dan telepon itu dari seseorang


Diandra mendadak sedih setelah berbicara dengan orang itu.


Dirumah sakit Diandra sudah berada didekat ibunya yang semakin kurus. Ibunya sakit dan sudah berkali kali keluar masuk rumah sakit. Sebenarnya ibunya tak mau dirawat dirumah sakit tapi Diandra bersikeras.


Keadaan ibunya semakin memprihatinkan. Dokter sudah memvonis umur ibunya tak lama lagi. Tapi Diandra tak pernah berhenti berharap akan ada keajaiban untuk ibunya.


Diandra murung setelah menemui dokter. Kesedihan terpancar dari wajahnya. Sepertinya dokter memberi kabar buruk untuknya.


Diandra menangis menatap ibunya yang terbaring lemah dan kini sedang tertidur. Diandra menyentuh tangan ibunya dengan lembut.


"Jangan tinggalkan Diandra, Bu. Diandra tak punya siapa siapa lagi kalau ibu meninggalkan Diandra." Bisik Diandra dalam hatinya.


Air matanya semakin deras membasahi pipinya. Beberapa saat Diandra larut dalam kesedihan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2