Cintaku Tak Terbatas Waktu

Cintaku Tak Terbatas Waktu
Part 9 : Monster Bodoh


__ADS_3

Diandra menghapus air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya. Dia sangat sedih karena prinsip yang sudah dipegang nya selama ini harus dilanggarnya karena cowok monster tidak berperasaan itu.


Diandra menyuruh Alfa duduk dan memintanya mengeluarkan buku buku pelajarannya. Alfa tidak bisa menolak karena terikat perjanjiannya. Diandra memeriksa semua buku pelajaran Alfa dan terkejut sekaligus miris melihat nilai nilai yang didapatkan cowok monster itu.


"Ganteng ganteng bodoh!" Kata Diandra pada Alfa.


Alfa hanya cemberut mendengar sindiran sekaligus hinaan pada dirinya.


Bisa dikatakan Alfa memang termasuk siswa yang bodoh untuk ukuran siswa SMA. Nilai nilainya selalu dibawah standar KKM sehingga selalu ikut kelas remedial tapi tetap saja hasilnya mengecewakan.


Setiap tahun Alfa selalu naik kelas dengan nilai minimal bahkan saat naik kelas tiga naik dengan status percobaan. Hal itu membuat mamanya malu dan berkeras untuk memberinya pelajaran privat.


"Yah ampun... monster, kamu memang bodoh yah, masa soal begini gampangnya kamu juga dapat nilai merah." Kata Diandra terus mengejek Alfa.


"Mak lampir, kamu disini untuk mengajariku jadi tidak usah banyak bicara apalagi menghinaku." Kata Alfa mulai kesal mendengar ocehan Diandra.


Diandra yang melihat wajah tampan Alfa yang cemberut menjadi kasihan. Diandra kemudian mulai mengajarinya. Mula mula Diandra menanyakan perkalian pada Alfa dan ternyata dia betul betul payah pada mata pelajaran matematika.


"Modal untuk belajar matematika itu adalah perkalian, kalau kamu tidak hafal maka tidak akan tahu apa apa." Kata Diandra tegas.


"Kamu cerewet banget sih, guru disekolah saja tidak sekejam kamu." Kata Alfa protes.


"Itu karena mereka tidak perduli sama kamu mungkin mereka pikir walau belajar, kamu akan tetap seperti itu." Kata Diandra masih menyindir Alfa.


Alfa mulai menghafal perkalian seperti anak SD. Diandra diam diam menertawakan Alfa yang sangat lucu dan menggemaskan melebihi anak SD. Setiap kali salah Diandra akan memarahi Alfa dan menyuruhnya mengulang kembali.


Alfa bisa saja menghajar Diandra karena memperlakukannya seperti anak SD tapi dia adalah tipikal cowok yang konsisten dengan kata katanya. Dia sudah berjanji akan menuruti semua perkataan Diandra kalau bisa memenuhi persyaratan yang diberikannya. Dan Diandra sudah mencium bibirnya, walau ciuman itu hanya menempel saja tapi dia harus konsisten dengan perjanjian mereka.


Setengah jam berlalu perkalian Alfa sudah lancar dan membuat Diandra senang.


"Itu kamu sudah bisa." Kata Diandra sedikit memuji Alfa.


Diandra kemudian mengajari Alfa matematika tentang mencari volume bangun ruang. Diandra menggambar bangun ruang pada papan tulis dan meminta Alfa menyebutkan nama dan ciri cirinya. Tentu saja Alfa tidak bisa karena memang tidak tahu.


Diandra hanya menggeleng melihat kebodohan si monster. Diandra kemudian menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh Alfa. Awalnya Alfa ogah-ogahan mendengar penjelasannya tapi lama kelamaan dia mulai menyukai cara Diandra mengajarinya sangat berbeda dengan yang selama ini didapatkan disekolah.

__ADS_1


Diam diam Alfa mengagumi Diandra yang menurutnya pintar. Beberapa kali Alfa terpaku melihat Diandra dan sadar saat Diandra menegurnya.


"Mak lampir, kenapa kamu tidak mengajar disekolah saja? Kamu pintar dan cara mengajar kamu unik." Kata Alfa yang secara tidak sadar memuji Diandra.


"Aku tidak mau apalagi kalau ketemu siswa bodoh sepertimu bisa bisa aku mati muda karena selalu marah marah." Kata Diandra yang membuat Alfa cemberut lagi.


"Aku memang bodoh tapi apa harus kamu ungkit terus?" Kata Alfa mulai kesal.


Diandra kemudian memberikan beberapa soal latihan pada Alfa. Baru melihat soalnya saja Alfa sudah mengeluh dan minta diganti dengan soal lain. Diandra tidak memperdulikan Alfa dan terus memaksanya mengerjakan soal itu.


Alfa kemudian membaca soal yang diberikan Diandra dan memang sulit untuknya. Diandra mendekati Alfa dan duduk di sampingnya. Diandra mengajarinya dan membantu menyelesaikan soalnya. Alfa yang awalnya tidak bisa tapi karena bimbingan Diandra akhirnya mulai bisa mengenal rumus rumus bangun ruang termasuk mencari luas dan volumenya.


Dari 10 soal yang diberikan Diandra 4 soal sudah dikerjakan Alfa dengan benar sementara yang lainnya masih belum sempurna tapi tidak sepenuhnya salah.


Alfa protes saat Diandra memberinya nilai 60 pada pekerjaannya. 


"Kok 60 doang, itukan tidak salah banget." Kata Alfa.


"Tapi tetap aja salah, matematika itu tidak ada istilah salah sedikit atau salah banyak. Kalau salah yah salah aja." Kata Diandra.


"Yah sudah aku beri kamu kesempatan lagi untuk memperbaiki, tapi tidak boleh bertanya sama aku." Kata Diandra.


Alfa kemudian mengerjakan ulang soalnya. HP Diandra berbunyi dan ternyata ada pesan dari Fathir. Diandra segera membaca pesan dari Fathir dan tersenyum manis penuh arti.


Alfa jadi curiga melihat Diandra yang tersenyum. Rasa penasaran Alfa timbul.


"Mak lampir yang tadi itu pesan dari siapa?" Tanya Alfa kepo.


"Mau tahu aja, sekarang selesaikan tugas kamu karena setelah ini aku mau pergi, lagian ini sudah sore dan waktu les privat nya juga sudah selesai." Kata Diandra tanpa memperdulikan rasa penasaran Alfa.


Alfa semakin penasaran melihat mak Lampir yang selalu tersenyum bahagia. Alfa menyerahkan pekerjaannya pada Diandra untuk diperiksa.


Hasilnya lumayan nilainya sudah 75 bahkan seingatnya itu adalah nilai tertinggi yang didapatnya bahkan di sekolah sama sekali. Alfa juga tidak menyangka dia bisa menyelesaikan soal matematika sesusah itu.


"Kamu sudah lumayan dan sudah bisa mengerjakan soal matematikanya. Berarti aku bisa pulang yah. Aku ada janji sama orang." Kata Diandra meminta persetujuan Alfa.

__ADS_1


"Sama siapa?" Tanya Alfa masih penasaran.


"Kok kamu jadi kepo sih, lagian aku tidak punya kewajiban melaporkan semua kegiatanku padamu. Aku mau bertemu siapa itu tak perlu kamu tahu." Kata Diandra yang membuat Alfa terdiam.


"Tapi aku masih mau belajar sama kamu." Kata Alfa mencoba merayu Diandra.


"Kenapa mendadak mau belajar tadi saja kamu minta berhenti. Kamu pasti punya rencana jahat padaku yah." Kata Diandra.


"Mumpung suasana hatiku lagi bagus." Kata Alfa beralasan.


"Aku ada urusan jadi belajarnya sampai disini saja!" Kata Diandra tidak mau menuruti permintaan Alfa.


"Ayolah mak Lampir. Besok aku ada ulangan harian jadi butuh kamu untuk membantuku." Kata Alfa tetap membujuk Diandra.


Diandra tetap bersikukuh untuk mengakhiri pelajaran privat hari ini.


"Aku pinjam toilet kamu dulu." Kata Diandra.


Diandra melangkah ke toilet dan lupa membawa HP nya. Alfa yang dari tadi penasaran siapa yang menelpon Diandra melihat HP Diandra. Diandra tidak menerapkan pola kunci pada HP nya sehingga dengan mudah Alfa dapat melihat pesan di HP Diandra.


Alfa tahu kalau hari ini Diandra ada janji bertemu dengan Fathir. Alfa merasa tidak suka dan berniat menggagalkan pertemuan mereka. Alfa segera menaruh HP Diandra saat mendengar langkah kaki Diandra dari toilet.


"Kamu janjian sama siapa sih?" Tanya Alfa masih mencoba memancing Diandra untuk bercerita.


"Aku mau pergi sama Fathir, dia ingin mengatakan sesuatu padaku." Kata Diandra akhirnya.


"Aku ikut yah, aku bosan dirumah." Kata Alfa.


"Masa' kamu mau ikut, nanti kamu bikin masalah." Kata Diandra.


"Pokoknya aku harus ikut kalau tidak aku tidak mau ikut pelajaran privat besok." Ancam Alfa pada Diandra.


"Dasar monster. Kenapa sih harus selalu memaksakan kehendak." Kata Diandra kesal.


Alfa tidak perduli dan terus memaksa agar bisa ikut. Diandra masih berpikir keputusan apa yang akan diambilnya. Melarang Alfa ikut dengan resiko tidak mau lagi ikut pelajaran privat atau mengizinkan Alfa ikut dengan resiko akan mengganggu pertemuannya dengan Fathir.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2