Cintaku Tak Terbatas Waktu

Cintaku Tak Terbatas Waktu
Part 6 : Perhatian Fathir


__ADS_3

Diandra terkejut saat merasakan ada yang menyentuh pundaknya dengan lembut. Diandra menoleh dan melihat Fathir sedang tersenyum manis kepadanya.


Fathir duduk disamping Diandra yang menatapnya penuh pertanyaan. Selama ini Diandra tidak pernah membicarakan masalah yang dihadapinya termasuk tentang penyakit ibunya kepada siapapun jadi tidak seorangpun yang tahu kalau ibunya dirawat dirumah sakit.


"Kamu bukan malaikat Diandra! kamu juga perlu seseorang untuk berbagi cerita jadi biarkan aku menghibur dan menyayangimu." Kata Fathir tulus.


Entah karena sedang sedih atau karena hal lain Diandra menyandarkan kepalanya di pundak Fathir sambil menangis dan tak menolak saat Fathir membelai rambutnya.


"Kalau kamu butuh teman ngobrol aku siap mendengarkan." Kata Fathir sendu.


"Fathir, Kenapa kamu tetap baik padaku? Padahal aku selalu bersikap kasar kepadamu." Tanya Diandra diantara isak tangisnya.


"Aku sayang kamu sejak pertama kali bertemu dulu, waktu ospek dulu kamu memberiku minum mungkin kamu sudah lupa tapi aku takkan pernah lupa, karena sejak saat itu kamu telah menghuni hatiku." Kata Fathir yang membuat Diandra diam terpaku.


Diandra baru tahu kalau Fathir sudah menyukainya sejak lama. Sebenarnya Diandra pun menyukai Fathir tapi tak pernah lebih dari teman. Padahal pada awalnya dia pernah naksir Fathir tapi rasa itu berhenti sendiri karena rasa minder yang dimilikinya.


Fathir mengantar Diandra pulang dengan mobilnya. Karena kecapaian Diandra tertidur dalam perjalanan. Fathir memelankan laju mobilnya karena ingin lama lama menatap wajah Diandra yang selama ini jarang bisa dia lihat dengan bebas dan dalam jarak yang dekat ketika Diandra sedang terjaga.


Fathir menggeser kepala Diandra agar bisa bersandar di bahunya. Fathir merasakan kebahagiaan yang dalam saat kepala Diandra bersandar disana.


"Sudah lama aku menantikan saat seperti ini Diandra." Bisik Fathir dalam hatinya.


Beberapa kali Fathir melirik wajah Diandra yang tampak letih sekali karena beban hidup yang harus ditanggungnya tapi tetap dapat membuat hatinya bergetar.


Fathir memegang pipi Diandra lembut untuk membangunkannya. Diandra membuka matanya dan segera memperbaiki duduknya setelah sadar posisinya bersandar pada bahu Fathir.


"Maaf yah, aku pasti merepotkan kamu." Kata Diandra tidak berani menatap Fathir.


"Tidak apa apa kok. Aku mengerti kamu pasti capek sekali makanya tertidur." Balas Fathir lembut.


Diandra kemudian masuk kerumahnya tapi heran karena Fathir ikut masuk.


"Aku sekalian antarin kamu ke cafe biar tidak terlambat." Kata Fathir.

__ADS_1


Diandra sudah menolak tapi Fathir bersikeras untuk melakukannya. Akhirnya Diandra mengalah dan membiarkan Fathir menunggunya didalam rumah.


"Aku buatkan teh untuk kamu dulu yah." Kata Diandra.


Fathir hanya tersenyum saja. Tak lama Diandra datang membawa teh dan kue.


"Terimakasih Diandra. Mestinya kamu tidak perlu repot-repot begini." Kata Fathir.


"Itu sebagai ucapan terimakasih atas semua kebaikanmu." Kata Diandra.


"Aku ikhlas membantu kamu. Kamu tidak perlu merasa hutang budi padaku." Kata Fathir.


Diandra hanya tersenyum saja.


"Fathir, aku mandi dulu yah, sebentar lagi juga mau berangkat ke cafe." Kata Diandra.


Fathir hanya melihat Diandra yang melangkah masuk ke kamarnya. Fathir memperhatikan rumah Diandra yang baru kali ini dia singgahi. Semasa kuliah dulu Diandra tidak pernah memberi izin kalau dia mau singgah.


Fathir tersenyum saat melihat fotonya bersama Diandra dan teman teman kuliahnya dulu ada terpajang dirumah Diandra. Wajah mereka masih unyu unyu pada waktu itu.


Fathir mengantar Diandra ke cafe. Sepanjang perjalanan beberapa kali Fathir mencuri pandang ke Diandra dan tersenyum setelahnya.


Malam ini Alfa dan teman temannya tidak datang. Fathir senang karena tidak ada yang menggangu Diandra lagi. Fathir bersikeras menunggu Diandra dan ingin mengantarkannya pulang tapi Diandra menolak dan menyuruh Fathir pulang saja.


Akhirnya Fathir pulang walau dengan berat hati.


Diandra selalu menengok ke pintu masuk cafe seperti sedang manantikan seseorang. Sisil yang melihat itu jadi heran.


"Kamu lagi nungguin siapa sih. Jangan bilang kamu nunggu monster tampan itu!" Kata Sisil menggoda Diandra.


"Siapa yang nungguin dia. Amit amit." Kata Diandra kemudian membereskan meja yang sudah tidak ada pelanggannya.


Cafe cukup ramai malam itu. Diandra dan pegawai lainnya lumayan capek bolak balik melayani pelanggan.

__ADS_1


Kini Diandra sedang menunggu angkutan umum untuk pulang. Sisil dan teman temannya sudah pulang tinggal dia sendiri yang belum pulang. Angkutan umum yang biasanya lewat dari tadi tidak melintas. Diandra sudah gelisah karena malam semakin larut.


Diandra memutuskan berjalan kaki sambil menunggu angkutan umum yang sekiranya lewat. Dingin malam semakin membuat suasana hati Diandra semakin takut.


Tiba di persimpangan jalan Diandra melihat segerombolan pemuda yang sedang nongkrong sepertinya sedang minum minum alkohol. Sejenak Diandra berhenti sepertinya bahaya bila dia melintas disana.


Diandra memberanikan diri karena biar bagaimanapun dia tetap harus lewat jalan itu. Diandra menarik nafas kemudian melangkah dengan ragu ragu. Diandra sudah melewati gerombolan pemuda itu saat tiba tiba seorang dari mereka tiba tiba memanggil.


"Hey kamu tunggu." Teriak salah seorang dari mereka.


Diandra terkejut dan tanpa menunggu lagi lari sekuat tenaga.


Pemuda pemuda yang sepertinya sedang mabuk mengejar Diandra. Merasa dikejar Diandra mempercepat larinya. Malang bagi Diandra karena kakinya tersandung dia terjatuh dan terkejar oleh pemuda pemuda mabuk itu.


Diandra kini dikelilingi oleh pemuda pemuda mabuk. Diandra merasa dirinya sedang dalam bahaya.


"Mau apa kalian. Jangan ganggu saya." Kata Diandra ketus kepada pemuda pemuda mabuk.


"Kamu tambah cantik kalau lagi marah. Teman teman malam ini kita akan berpesta ditemani gadis cantik ini." Kata salah seorang dari pemuda mabuk itu.


Diandra sedang berpikir bagaimana caranya dia bisa lari dari kepungan pemuda pemuda mabuk ini. Diandra berusaha untuk pergi dari tempat itu berbagai cara dilakukannya menendang, memukul mencakar tapi tetap tidak bisa lepas dari pemuda pemuda mabuk itu.


Salah seorang dari pemuda itu menangkap tangan Diandra dan berusaha menyeretnya dari tempat itu. Diandra berusaha melawan tapi tentu saja tak berhasil.


Diandra menendang ******** pemuda yang memegang tangannya dengan keras. Pemuda itu mengaduh dan pegangannya terlepas. Diandra tidak membuang kesempatan itu untuk kabur dan berlari secepat yang dia bisa.


Menyadari tangkapannya kabur pemuda pemuda mabuk itu tidak tinggal diam dan mengejar Diandra yang mulai menjauh. Diandra yang tadi sempat terjatuh dan lecet lecet dikakinya tidak bisa berlari kencang. Sedikit lagi pemuda pemuda mabuk itu bisa menangkapnya.


Sebuah mobil melintas dan hampir menabrak Diandra. Diandra tidak perduli dan masih terus berlari.


Sejauh jauhnya Diandra tetap saja terkejar dan benar saja Diandra tertangkap lagi dan kini tidak bisa melawan lagi karena tenaganya yang sudah habis.


Saat Diandra akan dibawa oleh pemuda pemuda mabuk itu sebuah mobil berhenti dengan lampu sorot yang tajam membuat pemuda pemuda mabuk itu silau. Pintu mobil terbuka dan seorang laki laki turun dari mobil itu.

__ADS_1


Diandra tidak dapat melihat wajah laki laki itu karena pengaruh lampu sorot mobil yang menyilaukan mata.


Bersambung ...


__ADS_2