
Diandra tertunduk salah tingkah karena tahu tante Salma sedang memperhatikannya dengan seksama. Salma mendekati Diandra dan mengangkat dagunya yang sedang menunduk kemudian menatap Fathir dengan wajah mencibir.
"Apa selera kamu sudah begitu rendahnya sehingga memilih perempuan gembel seperti ini menjadi pacar." Kata Salma begitu menusuk perasaan.
Fathir dan Diandra terkejut mendengar kata kata Salma yang begitu sadis.
"Jaga ucapan tante, Fathir tidak suka tante bicara seperti itu tentang Diandra." Kata Fathir dengan emosi yang mulai tersulut.
"Tidak apa Fathir, tante kamu benar, tidak seharusnya kamu mengenal apalagi berteman dengan gembel sepertiku." Kata Diandra tegas tapi begitu menusuk dihati Fathir.
Fathir tahu kalau Diandra terluka oleh kata kata tantenya.
"Baguslah kalau kamu sadar sendiri, gembel selamanya gembel tak perlu bermimpi jadi Cinderella." Kata Salma semakin menjadi.
Diandra mencoba bersabar dan menahan diri agar tidak menangis didepan Fathir dan keluarganya. Tapi pada akhirnya Diandra sudah tidak tahan lagi.
"Fathir aku pulang saja. Aku tidak pantas ada disini. Lupakan saja kalau kamu pernah mengenalku." Kata Diandra langsung berlalu dari hadapan Fathir dan keluarganya.
Saat ini yang diinginkan Diandra hanya pergi dari rumah Fathir agar tidak mendengar lagi semua penghinaan tante Salma.
"Dasar tidak sopan, pergi begitu saja." Kata Salma tetap menyalahkan Diandra.
"Tante keterlaluan. Menyakiti Diandra berarti tante telah menyakiti Fathir." Kata Fathir ketus pada tantenya.
Fathir mengejar Diandra yang sudah ada diluar tapi dia tidak menemukan Diandra lagi. Fathir bingung akan mencari Diandra kemana.
Diandra ternyata kembali ke dermaga yang tadi didatanginya bersama Fathir. Diandra duduk sambil menjulurkan kakinya ditepi dermaga. Suasana dermaga yang sunyi membuat Diandra leluasa menumpahkan semua kesedihannya. Hinaan tante Salma sungguh melukai perasaan terdalamnya. Hidupnya memang susah dan hina tapi apa harus dipermalukan seperti itu.
Tangisan Diandra semakin deras mengalir dari kedua matanya. Diandra terkadang mengeluh dalam hati mengapa hidupnya seperti tidak pernah terlepas dari masalah. Terkadang Diandra ingin protes pada yang maha Kuasa atas beban hidup yang ditanggungnya.
Diandra sedang larut dalam kesedihan saat seseorang tiba tiba duduk disampingnya dan ikut menjulurkan kakinya persis yang dia lakukan. Diandra menoleh melihat orang itu dan terkejut saat mengetahui orang itu adalah monster.
"Kenapa kamu ada disini?" Tanya Diandra heran.
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu malam malam datang di tempat sepi ini menangis seperti orang gila." Kata Alfa.
"Apa ada larangan aku datang disini?" Kata Diandra berusaha menutupi kesedihan yang dialaminya.
"Aku tahu, kamu mak Lampir wanita kuat tapi bahaya bila kamu sendirian di tempat seperti ini bagaimana kalau ada preman seperti waktu itu." Kata Alfa.
__ADS_1
"Justru aku yang harus bertanya kenapa kamu ada disini? Apa kamu mengikuti ku?" Tanya Diandra penuh selidik.
Gantian Alfa yang kelabakan mencari alasan mengapa ada di tempat itu. Tidak mungkin Alfa jujur pada Diandra kalau dia memang mengikuti Diandra sampai ke rumah Fathir. Alfa tidak ingin terlihat lemah dimata Diandra.
"Kebetulan aja aku lagi lewat disini, lagian aku sering kesini kok. Ini tempat umum jadi siapapun bebas kesini." Kata Alfa beralasan.
"Ku pikir kamu mengikuti ku." Kata Diandra.
"Kamu kenapa menangis disini? Apa si brengsek itu melakukan sesuatu yang buruk padamu?" Tanya Alfa.
Diandra tidak menjawab malah menangis lagi. Alfa jadi bingung apa yang harus dilakukannya. Dalam kebingungannya Alfa menarik kepala Diandra agar bersandar di bahunya. Alfa pernah melihat di film salah satu cara untuk menenangkan seseorang adalah menyandarkannya di bahu agar mereka merasa ada yang perduli.
Cara yang dilakukan Alfa berhasil. Diandra mulai tenang setelah menangis beberapa saat. Diandra yang biasanya tidak sembarangan bersandar pada orang juga merasa heran kenapa dia mau saja mengikuti kemauan Alfa.
"Monster, terimakasih kamu sudah membuatku lebih tenang." Kata Diandra tulus.
"Tapi kenapa kamu menangis? Apa yang dilakukan si gerandong itu padamu?" Tanya Alfa lembut.
Diandra bahkan tidak pernah mendengar monster bicara selembut ini padanya. Tapi Diandra merasa lucu juga saat mendengar Alfa menyebut Fathir dengan gerandong.
"Gerandong?" Tanya Diandra.
Mau tidak mau Diandra tertawa juga melihat kelakuan Alfa yang tidak bisa diduga kadang menyebalkan tapi bisa mendadak jadi super baik seperti malam ini.
"Ini masalahku, kamu tidak perlu tahu. Aku bisa menyelesaikannya sendiri." Kata Diandra menolak memberi tahu Alfa.
"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita, tapi kalau kamu butuh bantuan untuk menghajar si gerandong aku siap untuk membantu." Kata Alfa menawarkan bantuan.
Suasana malam yang dingin dan tiupan angin sepoi membuat suasana hening dan terkesan romantis. Alfa menatap wajah Diandra tajam dan kali ini Diandra tidak membuang muka tapi membalas menatap wajah monster yang dibawah sinar bulan begitu mempesona.
Perlahan wajah Alfa mendekat ke wajah Diandra dan Diandra tidak menghindar sampai akhirnya bibir Alfa mendarat dibibir Diandra. Awalnya hanya menempel saja tapi karena Diandra diam saja membuat Alfa memberanikan diri untuk ******* bibir Diandra dan mempermainkan lidahnya didalam rongga mulut Diandra. Beberapa saat Diandra terbuai rasa indah tapi kemudian mendorong tubuh Alfa saat kesadarannya kembali lagi.
"Kamu kurang ajar yah, memanfaatkan situasi." Kata Diandra marah.
Alfa juga baru menyadari kalau perbuatannya sudah berlebihan.
"Maaf mak Lampir, aku tidak bisa menahan diri, entah mengapa aku ingin sekali menciummu." Kata Alfa meminta maaf.
"Kamu sama saja dengan cowok lain yang selalu akan mengambil kesempatan dalam kesempitan." Kata Diandra.
__ADS_1
"Maaf, mak Lampir, aku sungguh tidak bermaksud kurang ajar padamu." Kata Alfa merasa bersalah.
Diandra berdiri dan berniat meninggalkan Alfa, Alfa ikut berdiri dan mencoba menahan Diandra. Diandra refleks melepaskan tangan Alfa dan mendorongnya dan sialnya Alfa tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya dan tercebur kedalam laut.
Gantian Diandra yang khawatir karena saat melihat kedalam laut Alfa tidak kelihatan sama sekali. Diandra mulai panik dan memanggil manggil nama Alfa.
"Monster ... monster ... kamu dimana?" Panggil Diandra.
Tidak ada jawaban dan makin membuat Diandra cemas. Diandra terus mengedarkan pandangannya kedalam laut mencari keberadaan Alfa.
" Monster... jangan bercanda begini dong. Jangan buat aku takut." Kata Diandra yang mulai menangis.
"Monster... monster... Cukup jangan buat aku panik begini. Aku minta maaf, aku tidak marah kok soal ciuman yang tadi, tapi kamu harus muncul sekarang." Kata Diandra yang ditujukannya untuk Alfa.
Diandra kini menangis karena Alfa tidak juga muncul. Diandra merasa bersalah karena dia yang sudah mendorong Alfa hingga tercebur ke laut dan sekarang menghilang.
Diandra terduduk menangis menanti kemunculan Alfa. Diandra tidak bisa bayangkan kalau Alfa benar benar tenggelam di laut karena perbuatannya. Bu Yulia pasti akan menjebloskannya ke penjara karena telah membuat anak satu satunya tenggelam di laut.
"Monster... Tolong jangan lakukan ini padaku, masalahku sudah banyak jangan tambah lagi. Aku tidak mau dipenjara karena kamu tenggelam." Kata Diandra pada dirinya sendiri.
"Mak Lampir."
Diandra mendengar sebuah suara memanggil namanya. Diandra menganggap itu hanya suara angin.
"Mak Lampir. "
Diandra kembali mendengar seseorang memanggilnya dan kali ini ini Diandra yakin memang ada yang memanggilnya. Diandra berbalik dan menemukan seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya bersimpuh.
"Monster." Panggil Diandra saat melihat orang itu adalah Alfa yang berdiri dengan basah kuyup.
Diandra berdiri dan berlari mendekat dan langsung memeluk Alfa dengan bahagia. Diandra tidak perduli bajunya basah karena memeluk Alfa yang sedang basah kuyup.
"Syukurlah kamu selamat, aku cemas sekali." Kata Diandra tanpa melepaskan pelukannya ditubuh Alfa.
"Sampai kapan kamu akan memelukku seperti ini." Kata Alfa menyadarkan Diandra.
Diandra melepaskan pelukannya malu malu. Alfa tersenyum puas telah mengerjai Diandra.
Bersambung ....
__ADS_1