
Aku langsung memasuki kamar dan menguncinya, dengan perasaan kesal yang sudah tak karuan kukepalkan tangan kananku dan kuhantamkan ke tembok yang sudah mengerti apa yang sedang kulakukan seperti orang gila.
" aghhhh bangs*t! Apa yang harus kulakukan hah? Ini salah itu salah? Semua orang hanya bisa menyuruhku ini itu saja memangnya mereka tau kalau aku juga bisa capek! Aku juga ingin dianggap ada"
Tubuh kembali meringkik memeluk kedua kakiku, mataku menyorot gambar diri yang berada didalam cermin.
Perlahan mata ini beralih mengamati tangan yang sudah memerah dan sedikit memiliki goresan, nafas yang tadinya tak beraturan akhirnya juga kembali mendapat ketenangan setelah melampiaskannya pada benda mati.
Setelah aku merasa tenang maka fikiranku akan sedikit memelankan bunyi bunyi berisiknya yang luar biasa.
" selamat malam dunia, aku akan tetap berada diatas tanah ini jikalau Aku masih mempercayai bahwa semua akan indah pada waktunya, meskipun tak tau waktu itu akan tiba kapan"
Kurebahkan tubuh ini diatas kasur dan kunyalakan kipas yang akan mengurangi rasa perih pada luka lukaku yang masih basah ini. Kecuali luka yang ada tepat didalam hati.
Hingga mata ini tertutup rapat dan kini jiwaku akan memasuki dunia mimpi
Pagi hari telah kembali, matahari hari ini sepertinya tak akan hilang karena cuaca hujan, jadi aku bisa lebih tenang karena tidak akan menghawatirkan hujan akan turun. Ya itu karena hari ini aku harus terpaksa berjalan kaki ke sekolah, aku belum memperbaiki ban sepedaku yang sepertinya bocor.
Gedoran pintu yang pastinya dari bapak membuat diri ini merasa sesak saja karena harus terburu buru membukakan pintu untuknya
" lama banget buka pintunya! Pasti kamu tadi enak enakan tidurkan?"
" bapak semalam tidur dimana? Kenapa bapak gapulang kerumah? Kan citra udah masakin buat bapak"
" aghh udah gausa banyak tanya lebih baik kamu ikut bapak, katanya mau kerja"
" loh tapi pak citra harus sekolah sekarang, lagipun citra sekarang ada ujian akhir semester"
Jawabku pada bapak untuk menghentikan ajakannya
" agh udah sekarang izin aja dulu, gitu aja repot! Bilang aja sakit atau lagi ada kepentingan keluarga, toh gaada kamu ujian disekolah gabakal berhenti kok"
" iya pak tapi kan.. "
" brukkk"
Belum sempat aku menjawab pernyataan bapak yang menurutku salah, tangan yang mengepal menghantam meja ruang tamu. Ntah berapa banyak lagi masalah yang akan menimpaku.
" kau ingin keluar dari rumah ini atau kau akan bekerja untuk membayar semua biaya yang sudah aku keluarkan untuk membesarkanmu"
__ADS_1
Hari ini untuk pertama kalinya bapak memperhitungkan semua yang sudah ia keluarkan untuk membiayaiku, tapi jika memang itu yang sudah bapak katakan apa yang bisa seorang anak yang hidup dibawah atap yang bocor dengan kalimat kalimat kotor dan juga beberapa kata perendahan diri karena tak bisa membuat bangga.
" baik pak citra ikut"
Aku hendak pergi kedalam kamar untuk mengganti pakaianku
" eh tunggu tunggu kamu pakai baju ini saja lalu pakai jaket okey, jangan sampai orang sini ada yang melihat baju kamu"
Aku menerima sebuah kantong plastik berwarna hitam, kuangkat selembar kain yang kurasa baju didalamnya tapi baju itu terlihat sangat kotor dengan beberapa sisa noda seperti tanah serta beberapa robekan di beberapa sisi
" pak kenapa bajunya harus buruk seperti ini pak?"
" katanya mau cari uang?"
" tapi citra akan memungut botol plastik pak bukan memulung, baju ini akan terlihat sangat menyedihkan bagi citra"
" eh eh eh berani sama bapak? Cepat ganti baju dulu baru bapak jelasin apa yang harus kamu pungut dari jalanan"
Aku hanya bisa diam terheran heran saat memikirkan apa maksud tujuan dari bapak.
" kamu mau tetap diam begitu?"
Buyar sudah lamunanku tentang apa yang akan terjadi setelah ini
" iya cepatlah sana, gausah mandi!"
Lekas lekas aku meneruti perkataan bapak dan segera keluar kamar untuk tidak membuat bapak marah karena terlalu lama menunggu diriku
Kami menaiki motor tua yang satu satunya bapak miliki, angin sepoi sepoi menyingkap rambutku yang tergerai.
Bapak berhenti tepat didepan ruko kosong yang terlihat kosong dan jauh dari keramaian, hatiku semakin bertanya tanya apa yang akan bapak lakukan ditempat ini?
" sekarang cepat buka jaket kamu dan ambil tanah basah ini lalu kamu usapkan ke wajah dan lengan kamu kalo perlu seluruh tubuh kamu harus penuh dengan noda ini"
" untuk apa pak?
Aku berani menanyakan untuk menjawab teka teki yang ada didalam fikiranku.
" aghh kamu terlalu banyak bertanya ya? Baiklah bapak akan jelaskan, jadi kamu akan menyamar sebagai anak malang tapi lebih tepatnya kamu memang anak malang yang tidak memiliki ibu dan bahkan penampilanmu yang buruk akan membuat semua orang yang melihat mu merasa kasian
__ADS_1
" tapi pak citra lebih baik menjadi seorang pemulung pak dari pada citra harus menjadi pengemis, citra tidak mau pak citra masih kuat untuk mencari uang untuk kita"
" udah udah kamu gausa sok soan bisa ngelakuin itu, kalo kamu mulung kamu cuma akan dapat sampah tapi kalau kamu ngemis kamu akan mendapatkan uang yang lebih banyak untuk bapak"
Kenapa malah menjadi seperti ini nasibku, aku tak masuk sekolah dan sekarang aku malah harus menjadi seorang pengemis yang menjijikan bagi diriku sendiri. Aku tak mau meminta minta seperti ini
" apa? Apalagi yang kamu fikirkan? Sekarang bawa wadah ini dan terus berjalan mencari orang orang yang berpenampilan kaya okey! Bapak akan menunggu kamu dirumah, dan ingat ketika uang yang kamu kumpulkan sudah banyak kamu bisa menghubungi bapak dengan ini"
Bapak menyerahkan sebuah handphone jadul kepadaku
" baik pak citra akan berangkat sekarang "
" eh eh tunggu dulu, inget ini kalau ada yang mengajakmu ngobrol dan bertanya tentang keluarga ataupun pendidikanmu kamu harus menjawabnya dengan sedikit jawaban yang dramatis. Kamu paham?"
" iya pak citra paham kok"
Dengan langkah kaki yang berat untuk menjalani fase kehidupan kali ini aku harus terpaksa menuruti kemauannya
Aku menyusuri jalan raya yang besar dan penuh dengan kendaraan yang berlalu lalang, sekejap aku memejamkan kedua mataku meyakinkan diriku bahwa aku harus bisa menjalani ini
" cit kamu harus buang rasa malu kamu ini, dan lekaslah mencari uang supaya kamu bisa cepat pulang"
Aku memilih untuk berdiam diri ditepi jalan sembari menunggu lampu rambu lalu lintas berubah menjadi warna merah.
Setelah apa yang kutunggu sudah tiba aku mulai menghampiri satu persatu kendaraan yang berhenti, tanpa rasa malu aku mencoba untuk mulai memasang muka melas agar mereka lebih merasa iba kepadaku
" bu tolong bu, saya lapar.. Saya belum makan dari kemarin tolong bu"
Terlihat wajahnya mulai ikut merasa iba padaku, ia mulai merogoh tas yang sedang ada didalam pangkuannya.
Ia mulai menaruh selembar uang 20 ribu kedalam wadah kotor yang kubawa
Sedikit aneh bagiku karena untukku ini adalah perbuatan yang memalukan. Karena aku masih kuat untuk mencari uang dengan membanting tulang, tapi aku? Aku malah berusaha meminta minta untuk dikasihani oleh orang orang.
" ini kamu makan ya setelah ini"
" makasih bu.."
Aku kemudian berpindah pada kendaraan kendaraan lain yang ada dibelakangnya, tapi tak jarang beberapa orang enggan untuk memberikanku uang.
__ADS_1
Ya tak jarang juga seseorang melirik tubuhku menyorotku dari ujung kaki hingga ujung akar rambutku
Hingga lampu merah berganti menjadi hijau, aku kemudian bergegas menepi dan kembali menunggu lampu merah itu tiba secara terus menerus hingga akhirnya aku merasa pusing..