Citra

Citra
bagian 18


__ADS_3

" woi citra! Ayo bangun! Kamu mau sekolah apa mau tidur terus"


Seseorang membangunkan diriku dengan menggoyang goyangkan meja dengan cara menendang meja yang sedang kutiduri.


" kak sita?"


Untuk apa dia datang menemuiku, apa karena masalah sepatunya yang tak sengaja kuinjak itu?


" a- ada apa ya kak?"


Tanyaku gelagapan pada kak sita yang memasang wajah tak ramah dan suara ketus


" lu itu bisa sadar diri gasi! Nih temen gua ada yang lihat kalau lo turun dari mobil danil! Emangnya lo siapa? Sampe sampe berani ngedeketin pacar gua?"


" maaf kak sita, tapi danil bukan siapa siapanya aku kok"


" nah itu tau kalo lu tau danil itu bukan siapa siapa lu gausah sok keganjenan buat deketin danil. Lu gangaca sama wajahlu? Hah? Matalu gabisa difungsiin buat liat bayangan dicermin? Ngaca woi ngaca lu tuh gacantik, gapinter miskin lagi! Ya gak guys"


Tanyanya pada keempat temannya yang juga ikut mengerubungiku


" yoilah ta, mana bisa dia jadi sainganlu"


" maaf kak, aku gaada niat untuk ngerebut danil dari kakak kok. Sumpah"

__ADS_1


" ya terserah sih lagian lu itu gabakalan juga dapetin hatinya, dia itu kasar dan dingin sama cewek dan satu lagi dia juga alergi sama cewe jelek kaya lu"


Ia kembali menendang meja yang berada di depan tubuhku, sementara seisi kelasku hanya memperhatikanku tanpa suara dan aku, malah hanya bisa tertuntul lesu bagai tak lagi memeliki nafsu


Satu persatu dari mereka mulai menghilang dari balik pintu tak kuasa lagi aku menahan malu berada dikelas ini tak mungkin lagi aku memulai tangisku hingga sesegukanku terlihat lagi di depan mereka.


Aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi saja, dengan wajah yang menahan semua rasa malu dan marah seakan aku tak ingin lagi mau untuk berada di sekolah ini.


Dengan berlari ke toilet beberapa pasang mata menatapku dengan serius ya mungkin mereka berfikir cewe jelek yang cengeng dan pasti saja sangat lemah terhadap omongan mereka


Seperti yang biasa kulakukan, sebuah jarum yang sudah kupersiapkan untuk siaga dalam keadaan tak lagi bisa mengendalikan emosi pasti saja aku membutuhkan ini


Aku melukis lagi dengan benda lancip ini, kulukis dengan warna merah dengan motif seperti barcode.


" hai citra, kamu masih hidup saja? Masih kuat sama dunia yang hanya membuat luka? Lihat diri kamu sekarang. Gaada lagi orang yang mau sama kamu, kalopun ada itu semua cuma karena ngeliat kamu dengan rasa kasian aja"


Sebuah pantulan diri di dalam cermin seolah membuatku semakin sadar tentang tak bergunanya lagi hidup ini.


" aghhh udah cukup jangan ganggu akuuuuu"


*brukkk


Tangan yang mengepal tak lagi dapat tertahankan, sebuah cermin yang sudah berani memperburuk suasana akhirnya pecah berkeping keping di lantai.

__ADS_1


Tak lama setelah pecahan kaca itu membuat keributan sayup sayup mulai kudengar suara langkah kaki dari beberapa orang menuju ke depan kamar mandi yang kutempati


" siapa didalam?"


Suara dari luar kelas semakin membuat fikiranku kacau balau, tak ingin lagi aku keluar dari kamar mandi jika harus bertemu dengan banyak wajah yang akan menyorotku


Sekarang suara ketukan pintu juga mulai terdengar serta suara suara menjengkelkan menyebut nyebut nama citra juga sudah ramai,


" citra ayo keluar cit! Buka pintunya"


Aku mengambil pecahan cermin yang berserakan di lantai, menatapnya dengan kebingungan


" hai cit, udah sakit belum? Belum kan? Jangan cuma jarum aja! Ayo gores!"


Setelah ucapanku keluar tanpa memikirkan apapun yang akan terjadi cermin yang berada dalam genggamanku tadi mulai ku gunakan untuk melukis untuk mewarnainya lebih terang


"1"


"2"


"3"


" awww perih juga yaaa, padahal baru aja tiga garis yang kulukis masa tangan ini udah ngerasa lemes sih"

__ADS_1


__ADS_2