Citra

Citra
bagian 19


__ADS_3

" citra ayo keluar cit! Buka pintunya"


Aku mengambil pecahan cermin yang berserakan di lantai, menatapnya dengan kebingungan


" hai cit, udah sakit belum? Belum kan? Jangan cuma jarum aja! Ayo gores!"


Setelah ucapanku keluar tanpa memikirkan apapun yang akan terjadi cermin yang berada dalam genggamanku tadi mulai ku gunakan untuk melukis untuk mewarnainya lebih terang


"1"


"2"


"3"


" awww perih juga yaaa, padahal baru aja tiga garis yang kulukis masa tangan ini udah ngerasa lemes sih"


Tubuh ini merasa tak lagi memiliki tenaga sedikitpun hingga akhirnya tubuh ini terhuyung dan jatuh duduk di lantai kamar mandi.


Dalam keadaan yang sudah lunglai dan wajah yang pucat pasi berada dalam pecahan cermin, ingin rasa ini meminta sesuatu sekali saja


" nek bawa citra ke surga, dunia udah gamau lagi ngasih citra bahagia"

__ADS_1


" citra buka ga pintunya!"


Suara danil menyadarkanku yang hampir saja menutup mata. Sebelum mata ini menutup sempurna kusadari tubuh danil sudah berada didekatku.


" danil, aku mau pulang"


" iya iya cit kita pulang kerumah ya"


Suara danil terdengar samar ditelingaku


" aku ingin pulang ke surga saja"


Pov danil


" ayo danil cepat bawa citra ke UKS"


" ga bu lukanya sudah sangat parah, citra harus segera dibawa kerumah sakit. Ayo bu"


Danil terlihat sangat cemas memandangi wajah citra yang sudah pucat pasi, lengan kirinya yang penuh dengan lumuran darah membuat danil menangis sejadi jadinya di dalam mobil salah satu gurunya. Dengan penuh penyesalan danil merasa bersalah karena dirinya yang menjadi faktor kenapa citra menjadi seperti ini.


" maaf cit jika hari itu aku tidak memulai untuk memperlakukanmu dengan buruk, mungkin semua orang tidak akan ikut ikutan menyakitimu, dan tentang hari ini teman sekelasku dan juga sita aku bodoh cit, aku malah hanya menatapmu dari kejauhan karena aku merasa kalau mereka akan mengejekku sebagai pasanganmu"

__ADS_1


Danil merasa marah pada dirinya sendiri, bagaimana ia bisa sebodoh itu karena tak bertanggung jawab pada hidup citra, karena semalam ia sudah memberinya rumah dan juga seorang ibu yang ia tidak miliki


Tapi sekarang danil malah ingin merenggut nyawa dan menambah beban hidup citra yang meskipun dia tak tau seluruhnya tapi dengan tak memiliki ayah dan ibu serta rumah pasti dia merasa sangat tertekan


" apa yang kulakukan, hanya karena keegoisanku dan sikapku yang tak bisa mengontrol emosi karena masalah motor saja aku membuatnya turun dijalan"


Sesampainya dirumah sakit seorang perawat langsung mengambil alih tubuh citra, seorang guru yang menemani danil juga ikut khawatir jika sampai muridnya kenapa kenapa. Karena nyatanya citra sekolah di SMP nusa huda, sekolah yang mendapat julukan sekolah favorit.


Citra bisa masuk ke sekolah itu karena kakeknya sebelum meninggal sudah mengurus semua biaya pendidikan citra dan dimana dia akan bersekolah.


Kakeknya hanya bisa mengurus pendidikannya saja, meskipun ia kaya ibunya menjadi faktor penghalangnya. Bagaimana tidak? Jika hubungannya dengan bapaknya masih belum ia restui sampai ia menutup usia.


Danil terlihat mondar mandir didepan pintu kamar citra dirawat, dirinya khawatir dan terus saja mengutuki dirinya.


Karena sejatinya danil juga anak yang lahir dari keluarga yang kekurangan kasih sayang tapi ia masih punya ibu dan juga rumah mewah yang ia tinggali


" maaf cit, aku membawamu kerumah untuk berniat membuatmu merasa lebih disayangi. Karena jika aku bisa aku tak mau orang lain merasakan apa yang kurasakan saat melihat ayahku berselingkuh"


Setelah beberapa menit mereka menunggu dokter keluar dari kamar citra danil sontak langsung mendekati tubuh dokter dan melirik ke dalam kamar untuk memastikan kondisi citra


" dok bagaimana kondisi citra? Dia baik baik saja kan?"

__ADS_1


__ADS_2