Citra

Citra
bagian 15


__ADS_3

Aku melepas helm yang tadi kupakai di kepalaku, tapi rasanya aneh. Kenapa tidak bisa kubuka? Rasanya sulit sekali membukanya, aku terus mencoba menarik nariknya supaya lekas terlepas


" mau aku bantuin ngelepasnya?"


" ga gausa aku pasti bisa kok, udah jangan anggap aku remeh ini cuma masalah kecil"


Ucapku pada danil karena masalah sekecil ini saja sudah akan meminta pertolongan.


" uda sini citra... Kamu gausa naikin gengsi kek gitu"


Ia mulai mengambil alih pengunci keselamatan helmku


" jadi kamu tuh tekan dulu yang ini baru kamu tarik citra, jangan ditarik terus gabakal bisa yang ada tangan kamu sakit nanti. Sini liat tangan kamu"


Ia melihat telapak tanganku dengan mengerutkan dahinya


" nih lihat udah merah kan apa aku bilang"


" eh gapapa ko itu cuman kaya gitu sebentar lagi udah sembuh"


" kamu pulang sama siapa dan?"


Suara wanita cantik dengan sekitar usia kepala 4 menarik perhatianku


" eh ibu, ini citra bu temen danil"


Danil yang sudah menyalimi tangan ibunya akhirnya aku ikut juga menyalimi tangannya


Tanpa banyak basa basi ibu danil mengajakku masuk ke dalam rumah yang besar dan luas ini, dan menyuruhku untuk duduk terlebih dahulu di atas sofa yang sangat empuk dan mewah seperti yang ada di dalam film film bertemakan sebuah kerajaan


" mau minum apa nak? Mau jus yang hangat atau yang dingin?"


" eh gausa tante citra jadi ngerepotin kalo gitu lagipun citra sebentar lagi udah mau pulang kok tan"


Tak mungkin aku merepotkan lagi tadi aja danil udah nraktir aku, masa sekarang aku akan membuatnya mengeluarkan dana lagi hanya karena aku.


" ini bu, pesanan ibu tadi"


" ibu kirain udah lupa dan nongkrong nongkrong lagi sama temen temen kamu atau ga nginep lagi"


" ih ibu ya gakla bu gimana danil bisa lupain pesanan ibu kalo ibu kepengen banget sama itu"


Terlihat kebersamaan mereka yang sangat harmonis, ibunya menciumi pipi kanan dan kiri danil tanpa rasa malu dan gengsi karena ada aku disana.


" andai saja aku juga memiliki orang tua yang seperti ini, salah satunya aja gapapa kok. Tapi gaguna juga semuanya udah mikirin pasangan masing masing"


Aku hanya bisa menggerutu tak karuan didalam hati ini


" tunggu disini ya cit, aku sama ibu ke belakang dulu sebentar"


" iya nil"


Pov danil


" bu, danil boleh minta sesuatu ga sama ibu? Kali ini aja"


" untuk sekian lama kamu mau meminta sesuatu lagi sama ibu, bukannya dari dulu kamu hanya meminta sesuatu sama ayah kamu"

__ADS_1


" ihihi ibu nih malah bikin danil canggung aja, kali ini danil cuma mau ibu ngeizinin citra tinggal dirumah ini sementara waktu dulu bu. Kalo ibu sedikit keberatan gimana kalo citra tinggal di kost kostan milik ibu. Masih ada yang kosong kan bu?"


" mmm gimana ya dan, bukannya ibu gamau tapi ibu harus tau juga kenapa tiba tiba kamu meminta hal seperti ini. Dan ibu juga sedikit terkejut karena kamu bawa seorang gadis malem malem kaya gini"


Ya ibuku selalu saja cemas, makanya aku tak mau membawa gadis manapun kerumah ini. Lagipun umurku masih 14 tahun dan masih duduk di sekolah menengah pertama, dengan terlambat masuk 1 tahun karena harus nekat menyelidiki keegoisan ayah diluar kota.


" citra itu kabur dari rumahnya bu, tapi bukan karena citra anak yang gabaik dia baru aja diusir oleh orang tuanya"


" astaga, kamu beneran dan? Tega sekali orang tua itu mengusir darah daging mereka sendiri"


" jadi gimana bu? Ibu bisakan kali ini bantu danil?"


" emangnya citra mau tinggal disini? Ntar kalo dia ngerasa gaenak gimana? Pasti itu terjadi dan, jadi kita harus membuat cara lain untuk dia tinggal disini"


Aku mengerutkan dahi dan berfikir apa yang harus kulakukan untuk tidak membuat citra merasa gaenak ya? Apalagi citra adalah orang yang gaenakan banget sama orang


" ibu punya ide"


" apa bu?"


Tegasku pada ibu yang sudah menyiratkan sebuah senyuman padaku


" kita buat citra bekerja disini saja"


" hah? Apa yang ibu katakan? Bagaimana bisa dia bekerja dengan tubuh yang sekecil itu"


" udah ayo kita kembali ke ruang tamu saja, kita bahas disana"


Pov citra


Ibu danil menyodorkan segelas jus jeruk padaku


" citra"


Panggil ibu danil padaku


" iya bu?"


" ibu mau ngomong sesuatu sama kamu"


" apa bu?"


Terlihat kini danil juga ikut kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan dan sebuah piring diatasnya, apa lagi yang rumah ini akan suguhkan kepadaku.


" nih sambil makan dulu"


Sebuah piring berisi makanan ringan ia sodorkan kepadaku


" makasih nil"


" jadi cit, tadi danil udah cerita semuanya sama ibu tentang kamu, kamu gausa malu jawabnya. Anggap aja ibu ini adalah ibu kamu juga, jangan anggap orang asing okey "


" baik bu"


Jika saja aku menganggap ibu danil adalah ibuku, mungkin aku akan mulai merasa membenci diri ini lagi karena harus teringat adegan kemarin yang sangat menguras emosi diri


" kamu gapunya tempat tinggal?"

__ADS_1


Perasaanku sudah tak karuan lagi mendengar pertanyaan itu tapi aku harus bisa mengontrolnya karena aku tidak mau hilang kendali. Apalagi ini bukan rumahku, aku mulai mencoba menenangkan diri menahan tangis ini pecah dengan menarik nafas dalam dalam dan menghempaskannya


" ngga bu"


" kalo ibu boleh membantu kamu bisa kok tinggal dirumah ini."


" eh gausa bu, citra bisa cari kontrakan dulu kok"


Aku tak mungkin mengiyakan apa yang ibu danil tawarkan. Bagaimana mungkin aku orang yang baru danil kenal sudah beraninya tinggal dirumahnya.


" kamu gausa khawatir cit, jika kamu memang tidak mau karena kamu merasa sungkan. Kamu boleh bekerja dirumah ini, bagaimana?"


Aku berfikir lagi tentang tawaran yang baru saja ia katakan


" ayolah nak, kamu jangan menolak ibu sebenarnya ibu juga sangat menginginkan anak perempuan dari dulu"


Belum sempat aku menjawab ibu danil kembali mengatakan sesuatu


" tapi ibu beneran gakeberatan kalo citra tinggal disini"


" tentu saja tidak nak"


" baik bu citra mau tinggal disini"


Ibu danil yang mendengar jawabanku terlihat tertawa dan mengucap rasa syukur hingga akhirnya tubuhnya mendekati tubuhku dan benar aku merasa hal yang tak pernah kudapatkan lagi sebelum aku menginjak dewasa


Sebuah pelukan hangat dari seorang ibu yang bahkan ibuku sendiri tak bisa memberinya padaku, aku merasa sangat terharu dan tak bisa lagi membendung air mata ini


" sekarang kamu ibu anggap anak ibu sendiri, dan kamu harus menganggap ibu sebagai ibu kamu sendiri"


" makasih bu, setelah sekian lama citra tidak bisa merasakan pelukan dari seorang ibu"


" stttt"


Ibu menghentikan pelukanku dan juga menghentikan suaraku yang baru saja kukeluarkan.


" kenapa kamu menangis cit?"


" gapapa ko bu citra cuma ngerasa senang aja"


Akhirnya setelah kehilangan keluarga aku mendapat keluarga baru meskipun aku tau ini semua akan terasa berbeda dan akan sedikit canggung


" yasudah ini sudah larut malam, lebih baik kamu pergi ke kamar kamu. Danil antarkan citra ke kamarnya"


Danil mengangguk dan tersenyum pada kami


Langkah kakiku dan danil perlahan menapaki anak tangga yang harus kami lalui.


Aku merasa sangat canggung dan malu berada disini apalagi ketika melihat sekeliling yang tentunya seperti bukan tempat yang pantas untuk kutinggali.


" nah ini kamar kamu sekarang"


" aku pergi dulu"


Tegas danil padaku


" tunggu dulu nil, ada yang ingin aku tanyakan"

__ADS_1


__ADS_2