
" udah ya cit, gabole ngeluarin air mata lagi. Kamu pasti kuat ngejalaninnya okey! Gaboleh nyerah pokoknya gaboleh meskipun kamu lelah, kaka pamit pulang dulu ya dek. See u next time"
Ya begitulah hidupku, aku hanya bisa memeluk erat tubuhku sendiri, meyakinkanku bahwa semua akan baik baik saja diwaktunya seperti yang orang katakan, meskipun aku tak tau kapan waktu itu akan tiba kepadaku.
Aku mengayuh kembali sepedaku untuk kembali kerumah tak ada lagi tangis yang membasahi pipiku karena aku sudah mengeluarkan semuanya ditempat itu
Sesampainya dirumah aku menangkap bapak berada diteras rumah, dengan ditemani rokok yang masih menyala
" tapi apakah bapak sudah berhenti bekerja?"
Ah ntahlah aku tidak akan mendapat jawabannya jika terus menerka nerka seperti ini
Aku berjalan ke arah ayah, dimana sorot mata ayah mengikuti langkahku yang semakin dengan menujunya
" kenapa datang terlambat? Apa kau akan membuat bapakmu kelaparan? Atau aku harus makan batu karena menunggumu terlalu lama?"
" ma- maaf pak tadi citra masih mampir ke makam adek"
" apa aja yang kamu lakukan disana? Hah? Kamu mau ikut nyusul adek kamu itu? Atau kamu memang ingin adek kamu yang menjemput kematianmu?"
Aku tak akan menjawabnya dan mungkin akan terus seperti itu, untuk apa aku akan menjawabnya jika sebuah tamparan akan hinggap menyakiti pipiku.
" baiklah pak, citra akan masak nasi dulu. Lalu citra akan pergi ke pasar untuk membeli lauk pauk untuk malam ini dan besok pagi"
Ayah mengangguk dengan sebatang rokok yang masih menempel di katupan bibirnya
Aku bergegas kedapur mencuci beras dan langsung menanaknya dalam penanak nasi otomatis, tanpa mengganti seragamku dulu dengan pakaian biasa aku langsung pergi menemui bapak untuk meminta uang.
" pak, citra mau minta uang untuk membeli lauk pauk dipasar"
" uang? Darimana bapak mendapatkan uang cit? Bapak aja udah berhenti dari pekerjaan bapak"
Akhirnya aku sudah mendapat jawaban dari salah satu pertanyaanku, tapi kini aku semakin bingung untuk menjalani hidup ini. Jika bapak tidak bekerja lagi lantas uang sakuku dan juga biaya tagihan listrik siapa yang dapat melunasinya, apa aku harus bekerja mulai sekarang? Ah ntahlah yang didepan mata saja belum aku temukan jawabannya, dari mana aku akan mendapatkan lauk pauk jika aku tidak memiliki uang
" tapi pak didapur tidak ada lauk sama sekali, apa bapak akan makan dengan kecap saja malam ini? Mulai besok citra akan mengumpulkan botol plastik selesai sekolah dan membeli lauk untuk kita makan bersama pak"
" apa? Kau akan menjadi pemulung? Apa kau tidak malu? Kau akan membuat malu bapak kalau begitu!"
" tapi pak? Bagaimana kita akan membayar tagihan listrik atau apapun? Bukankah kita perlu pemasukan juga?"
Ayah terdiam sekejap, seperti sedang memikirkan hal besar.
__ADS_1
" ya ya ya, kau benar tapi aku yang akan mengantarkanmu dan menunggumu di taman kota"
Aneh rasanya mendengar pernyataan dari bapak tapi apa yang harus kutentang bukankah tadi aku sendiri yang mengatakan bahwa aku akan mengumpulkan botol plastik.
" yasudah kamu pergi ke warung depan saja, ambil tahu dan tempe atau ambil saja apa yang kita butuhkan untuk makan. Bilang saja besok kita akan membayarnya"
" baik pak, citra akan berangkat sekarang"
Aku langsung melangkahkan kakiku menuju warung yang biasa kami beli"
" pak saya boleh ngutang dulu ga?"
" mau ngutang apa neng? Dan kira kira kapan mau bayar? Soalnya saya harus memutar balikan modal"
" kalo ada rezeki besok kok pak langsung saya bayar"
" oh yasudah ini plastik dan juga buku. Kamu bisa mencatat apa yang kamu ambil disini dan juga tanggalnya"
" baik pak"
Percakapan kami tak berlangsung lama, penjual warung itu baik sekali karena mau memberiku hutangan. Atau kalau tidak aku tidak akan bisa memasak makanan yang layak untuk bapak
Aku langsung bergegas menuju rumah dan memasak tahu dan tempe dengan bahan seadanya saja
Teriak bapak yang masih berada di teras rumah. Mendengarnya aku tak bisa membuat keinginannya tersebut, aku pergi menemui bapak dan menjelaskan tentang gula yang juga habis
" apa habis? Kenapa kamu gangutang juga tadi?"
" tapi pak citra malu untuk kembali lagi ke warung itu, apalagi citra harus mengambil gula itu dengan hutang"
Jawabku jujur pada bapak tanpa rasa takut
" malu itu kalo kamu gapakai apa apa! Orang kamu masih pakai baju lengkap kaya gitu"
Iya apa yang bapak katakan memang benar tapi apa dayaku, aku juga memiliki rasa malu ntah ini adalah malu atau hanya gengsi semata yang biasa dikatakan anak muda. Tapi aku merasa benar-benar malu jika harus kembali ke warung itu dengan maksud tujuan yang sama
" mau buatkan kopi atau kamu keluar dari rumah ini?"
" bapak ngusir citra?"
Dengan mata berkaca kaca, aku bisa menanyakan hal yang membuat hatiku terluka, meskipun biasanya aku hanya bisa terdiam ketika mendengan hal yang menyakitkan bagi hatiku.
__ADS_1
" iya bapak ngusir kamu! Tapi itu adalah pilihan bagi kamu! Buat apa kamu ada dirumah bapak kalau kamu cuma bisa nyusahin bapak apalagi kamu gabisa apa apa dan gabisa banggain bapak seperti adek kamu! Harusnya kamu aja yang mati! Bukan adek kamu"
" blekkkk"
Seakan hatiku hancur berkeping keping karena terkena peluru yang paling mematikan yang ada didunia ini
Mataku kembali berkaca kaca, tapi kali ini aku tak bisa lagi menanyakan apa aku setidak berguna itu dimatanya? Mungkin saja ucapan itu benar tapi apakah bapak pantas mengatakan hal seperti itu padaku? Atau kali ini aku lagi yang salah? Karena menjadi manusia yang terlalu perasa? Aku tak tau aku bingung dengan isi kepalaku sendiri. Aku terlalu lelah bertengkar dengan isi kepalaku yang selalu saja mengganggu, andai saja aku bisa sedikit berani menghadapi dunia mungkin aku tidak akan selemah ini.
" mau tetap berada disini atau kamu siapin apa yang bapak mau?"
Tanya bapak kepadaku dengan suara tinggi dan dengan mata yang melebar menebarkan ketakutan pada diri ini
Tak perlu dengan jawaban kata kata aku langsung bergegas kembali ke warung tadi untuk memenuhi permintaan dari bapak, meskipun masih tetap saja rasa maluku melumuri diri
Dengan mata yang masih berkaca kaca yang terkadang saja air mata ini menetes membasahi pipiku, tak kubiarkan ia sampai diketahui oleh orang lain.
Aku mengusap kedua pipiku yang masih basah dan kemudian mempercepat langkah kaki yang tadinya hanya berjalan dengan ritme yang lambat karena terlalu memikirkan ucapan bapak yang akan terus menyakiti hatiku
" pak saya boleh ngutang gula ga?"
" loh kamu lagi dek? Bukannya tadi udah kesini ya? Yang tadi ketinggalan?"
Untung saja pria itu tak membuat diri ini semakin malu. Dan bahkan ia menyambutnya dengan hati yang menurutku lapang dada.
" hehe iya nih pak saya lupa gulanya"
Jawabku singkat tanpa lupa melukis senyum dibibir ini untuk menutupi luka yang sudah dijelaskan oleh mataku yang sembab
" mau berapa neng? Sekilo?"
Duh kalo sekilo nanti utangnya bakal lebih banyak dong nominalnya, mending aku ngutang setengah aja biar kalo ada rezeki baru aku akan langsung membeli banyak untuk stok dirumah.
" setengah kilo aja deh pak"
Bapak itu tersenyum dan memberi gula yang aku pinta, serta kulihat ia sedang menulis mungkin ia sedang menambah total hutangku pada toko ini
" udah ditulis pak? Gulanya?"
" eh iya neng udah"
" kalo gitu citra pamit ya pak, makasih"
__ADS_1
Dengan begitu aku langsung melangkahkan kakiku lagi untuk kembali menuju rumah.
Kutatapi langit yang sudah tampak gelap berada diatas tubuhku, warna gelap adalah warna yang indah bagiku. Karena bagiku gelap dan sepi adalah teman paling indah....