
" andai aja aku punya uang sendiri, aku bisa membeli kaos kaki baru, sepatu baru, seragam baru dan membeli apapun yang membuat tubuhku wangi serta membeli perawatan wajah untuk mengurangi jerawatku"
Aku berbicara sendiri seolah akan ada yang mendengarkan permintaanku.
" lebih baik aku mencari pekerjaan saja, agar aku bisa sedikit memenuhi keperluanku, serta mengurangi beban bapak"
Aku melangkahkan kakiku ke tempat parkir, terlihat sudah banyak motor yang sudah hilang. Sudah pasti mereka pulang tapi beberapa motor dari mereka membuatku memiliki keinginan baru.
" aku ingin memiliki motor juga tapi tak apa aku akan bekerja keras untuk memenuhi semua impianku yang masih jauh dari genggaman tanganku"
Aku kembali mendekati sepedaku dan menggiringnya, tapi ntah kenapa ada sesuatu yang berbeda dari sepedaku
" bannya kempes? Kenapa bisa? Aku tak memiliki uang sedikitpun sekarang apa yang harus aku lakukan...."
Terpaksa aku harus mendorong sepedaku sampai rumah, tak mungkin aku berhutang untuk mengisi angin di bengkel
Saat dalam perjalanan melewati sebuah cafe tak sengaja mataku menangkap sebuah wajah yang selama ini kucari cari
" ibu? Ibu ada disini? Aku akan pergi menemui ibu"
Aku tergesa gesa melangkahkan kaki menemui ibu yang sepertinya sudah hampir menaiki mobil hitam didepannya.
" i- ibu.. Ibu tunggu.."
Wanita yang kusebut ibu itu menoleh kebelakang tepat kearah tubuh ini menemuinya, tapi ntah kenapa tubuhnya menunjukan seperti sedang terburu buru dan semakin tergesa gesa mengemasih semua bawaannya kedalam mobil.
Akhirnya beberapa langkah lagi tubuhku sudah akan berada tepat di depan ibu, tapi sebelum aku melangkahkan lagi kedua kakiku terpaksa aku hentikan niatku menemui ibu
Seorang pria berjas hitam layaknya orang orang yang bekerja kantoran menyusul tubuh ibu ke dalam mobil, aku terpaku tak tau harus apa yang harus kulakukan.
Fikiranku sudah berkecamuk tak karuan karena pemandangan yang ada didepan mataku
" ibu tunggu..."
Pria yang nyaris memasukkan tubuhnya kedalam mobil melihat ke arahku.
" ibu.. Ibuuu.. Ibuu ayo kita pulang"
__ADS_1
Ajakku pada wanita yang sudah duduk dibagian kursi belakang.
" anak kamu?"
" iya mas"
Jawab ibu pada pria itu
" kamu mau pilih dia atau aku? Kalau kamu memang masih ingin bersamaku tinggalkan anakmu yang buruk rupa ini"
" ibu jangan tinggalkan citra bu, bapak juga sudah berubah dengan citra bu, citra mohon pulanglah... Citra akan bangun pagi dan mengemasi rumah serta citra akan mencari uang yang banyak supaya ibu tidak usah bekerja lagi, citra mohon bu..."
Aku memelas dihadapan ibu menyimpuhkan tubuhku untuk semakin meyakinkan ibu bahwa aku dan bapak benar-benar butuh sosok ibu sekarang dan bahkan selamanya.
" dasar tukang ngemis!"
Pekik lelaki itu kepadaku
" ibu..."
" ibuu ayo kita pulang sekarang"
Aku menggenggam pergelangan tangan ibu dan kemudian menariknya untuk mengajak ibu pulang kerumah.
Tapi tubuh ibu seakan membeku, tak membiarkanku bisa sedikit menggerakkan tubuh ibu
" ibuu.. Ayo kita pulang! Jangan tinggalin citra bu, bapak juga pasti menunggu ibu dirumah"
Sebuah tangan melepas tanganku yang sedang menarik tangan ibu. Tak lain tangan itu adalah tangan ibu sendiri
Aku menatap wajah ibu tapi seperti tak ada rasa yang tersisa untuk kami
" kalau kamu mau pulang, pulang aja sendiri gausa ngajak ngajak ibu pulang juga! Udah cukup beberapa tahun ibu hidup pas pasan sama bapak kamu yang keras kepala dan juga pemarah itu, udah cukup banget! Pergi sana ibu gamau juga liat muka kamu"
" tapi kenapa ibu ninggalin citra? Kan citra udah usahain nurutin semua yang ibu mau? Citra mau ikut ibu"
Seruku pada ibu, karena aku takut jika tinggal dengan bapak aku akan menjadi bahan pelampiasan amarahnya lagi, apalagi bapak sudah berani meminum minuman keras.
__ADS_1
" iuh kamu bilang apa? Kamu bilang ingin pergi dengan ibu kamu? Ngaca dulu kamu itu jelek saya malu kalau sampai keluarga, teman teman saya atau bahkan orang sekalipun menertawakan saya karena punya anak angkat yang buruk rupa kaya kamu! Ayo sayang kita berangkat, pesawat kita akan berangkat sebentar lagi jangan sampai kita ketinggalan pesawat"
Lelaki yang bersama itu mencemoohku habis habisan didepan ibu, tapi ibu hanya mematung saja didepanku tak bereaksi apapun. Dan apa yang pria itu katakan ia akan pergi naik pesawat dengan ibu? Ia akan pergi kemana sebenarnya
" ibu citra mohon buu..jangan tinggalin citra "
Aku tetap memohon pada ibu memelas sambil memeluk betis kiri ibu untuk menahannya masuk kedalam mobil. Tapi tak kusangka kaki itu menyakiti dadaku, sontak kaki itu seakan menendangku dengan kekuatan yang tak biasa
Tak lama kemudian aku menatap kedua orang itu masuk kedalam mobil hingga mobil itu, perlahan meninggalkanku ditepi jalan dengan banyak pasang mata menyorotku tapi tak ada satupun yang bisa mengerti perasaanku.
Dengan penuh perasaan malu aku bangkit dari hadapan beberapa orang dan mengambil kembali sepeda yang kutinggalkan tadi dan mengayuh sekencang kencangnya.
Panas matahari masih terik tetapi rasa panasnya tak terasa dikulitku tapi terasa didalam hatiku, terasa sangat menyegit. Aku menepi sebentar, disebuah pemakaman tempat dimana adikku berada, gundukan tanah ini membuatku semakin kacau balau. Dan seperti yang biasa kulakukan satu satunya tempat yang bisa menerima semua keluh kesahku adalah disini
" aghhhhh! Kenapa semua orang buat aku jadi orang gila kaya gini? Hah kenapa semuanya gaada yang bisa ngertiin aku, keadaan aku apa keinginan aku. Aku juga mau seperti anak lainnya aku juga mau jadi manusia yang gatakut kalau bertemu sama orang baru, jangankan orang baru dengan teman sekelasku saja aku enggan menanyakan sesuatu. Apa? Apa yang terjadi padaku?"
Aku semakin menangis tersedu sedu di samping gundukan tanah ini, meskipun tak ada manusia yang bernafas disekeliling area ini aku tetap merasa bisa didengarkan
" dek kalau bisa kenapa ga Kamu aja yang lanjut hidup? Bukannya dulu kamu jadi kebanggaan ibu? Wajah kamu mulus cantik lagi bapakpun suka sama kamu karena kamu pintar, kamu bisa membanggakan orang tua kita. Tapi kenapa kamu malah ninggalin kakak dek, ayo jemput kakak! Kakak udah gakuat lagi berada disini"
Air mataku terus saja mengalir bak air terjun yang sangat deras, sambil melihat kekanan dan kekiri memastikan tidak ada satupun yang mendengar tangisku, karena aku tau dan sudah cukup dicap manusia lemah oleh yang paling kuat menjalani hidup.
Tanpa mengeluarkan suara lagi, aku hanya bisa menatapi gundukan ini. Seolah mengeluarkan suara dengan hati meskipun air mata masih membasahi pipi. Hingga terik matahari tak lagi menyengat
Aku harus pulang kerumah, meskipun bapak akan pulang kerja malam hari
Aku mengusap air mata yang membasahi seluruh wajahku, menenangkan fikiranku dan terakhir memasang topeng baik baik saja dengan memberikan senyuman pada diriku sendiri.
" udah ya cit, gabole ngeluarin air mata lagi. Kamu pasti kuat ngejalaninnya okey! Gaboleh nyerah pokoknya gaboleh meskipun kamu lelah, kaka pamit pulang dulu ya dek. See u next time"
Ya begitulah hidupku, aku hanya bisa memeluk erat tubuhku sendiri, meyakinkanku bahwa semua akan baik baik saja diwaktunya seperti yang orang katakan, meskipun aku tak tau kapan waktu itu akan tiba kepadaku.
Aku mengayuh kembali sepedaku untuk kembali kerumah tak ada lagi tangis yang membasahi pipiku karena aku sudah mengeluarkan semuanya ditempat itu
Sesampainya dirumah aku menangkap bapak berada diteras rumah, dengan ditemani rokok yang masih menyala
" tapi apakah bapak sudah berhenti bekerja?"
__ADS_1