Citra

Citra
bagian 9


__ADS_3

" pak saya boleh ngutang gula ga?"


" loh kamu lagi dek? Bukannya tadi udah kesini ya? Yang tadi ketinggalan?"


Untung saja pria itu tak membuat diri ini semakin malu. Dan bahkan ia menyambutnya dengan hati yang menurutku lapang dada.


" hehe iya nih pak saya lupa gulanya"


Jawabku singkat tanpa lupa melukis senyum dibibir ini untuk menutupi luka yang sudah dijelaskan oleh mataku yang sembab


" mau berapa neng? Sekilo?"


Duh kalo sekilo nanti utangnya bakal lebih banyak dong nominalnya, mending aku ngutang setengah aja biar kalo ada rezeki baru aku akan langsung membeli banyak untuk stok dirumah.


" setengah kilo aja deh pak"


Bapak itu tersenyum dan memberi gula yang aku pinta, serta kulihat ia sedang menulis mungkin ia sedang menambah total hutangku pada toko ini


" udah ditulis pak? Gulanya?"


" eh iya neng udah"


" kalo gitu citra pamit ya pak, makasih"


Dengan begitu aku langsung melangkahkan kakiku lagi untuk kembali menuju rumah.


Kutatapi langit yang sudah tampak gelap berada diatas tubuhku, warna gelap adalah warna yang indah bagiku. Karena bagiku gelap dan sepi adalah teman paling indah....


" huh akhirnya sampai juga dirumah, ya meskipun hanya beberapa langkah saja jarak rumah ini ke warung depan tapi kalau sampai bolak balik sama aja capek"


Begitu gerutuku saat menginjakkan kaki pertamaku di area teras rumah.


Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya lagi dengan mengharap sebuah ketenangan


" oke citra gaboleh nangis lagi, gaboleh difikirin lagi okey, kamu harus kuat cit! Pasti kamu kuat"


Aku memasuki rumah ku dan langsung menuju dapur untuk membuat kopi yang tadinya menjadi bahan permasalahan antara aku dan bapak hingga sampai mengeluarkan suara untuk keluar dari rumah.


" ini pak kopinya udah citra kasi 2 sendok gula seperti yang biasa ibu buatin buat bapak"


" duduk dulu sebentar ada yang mau bapak tanyain sama kamu soal ibu kamu"


" bapak mau tanya apa?"

__ADS_1


Tadi pagi bapak menolak membahas masalah ibu tapi sekarang tiba tiba ia ingin membahasnya. Tapi tak apa aku ingin sekali mendengar lebih jelas hubungan mereka, meskipun akan membuatku terluka


" kamu udah tau kalau bapak dan ibu akan bercerai?"


Aku sedikit menghela nafas untuk segera menjawab pertanyaan bapak


" udah kok pak"


Jawabku singkat dan tetap berusaha tenang agar tangisku tak kembali pecah


" darimana kamu tau? Bukannya kamu hanya mendengar pertengkaran terakhir kemarin?"


Aku tersenyum meskipun hati ini tak seperti apa yang kutunjukan sekarang.


" iya citra udah tau pas baju baju ibu udah gaada didalam lemari, dan tadi siang aku juga bertemu dengan ibu bersama dengan seorang lelaki yang sepertinya kalangan orang kaya raya"


" hah apa? Dimana kamu bertemu dengan ibu kamu? Kenapa kamu tidak membawanya pulang?"


Nada bicara bapak semakin meninggi saja karena mendengar jawabanku. Ntah apa yang terjadi pada bapak dia bisa berubah kasar kapan saja.


" citra udah nyoba bujuk ibu tapi ibu gamau lagi pulang sama citra"


" hah sudah pasti karena dia tergoda dengan harta laki laki itu, bapak udah tau sama perangai ibu kamu. Dia itu cuma mau hidup mewah aja! Gamau hidup susah apalagi sama bapak, dasar emang bener bener wanita murahan"


Ketika bapak bersamaku ia akan membicarakan keburukan ibu, dan begitupun juga sebaliknya ibu akan memberi tahuku keburukan bapak ketika kami hanya duduk berdua.


" pak citra ke kamar dulu, citra mau belajar untuk ujian besok"


Bapak sedikit mengernyitkan dahinya serta menaikkan kedua alisnya seperti orang keheranan ketika mendengar ucapanku tadi


" kenapa pak citra buat salah lagi ya?"


" kalo kamu belajar bisa jadi juara kelas itu sepadan! Kalo kamu belajar tapi cuma buang buang waktu mending kamu pijetin kaki bapak. Toh kamu dapet pahalakan? Gausa berusaha keras yang pinter itu cuma adik kamu"


Sedikit menyengit tapi aku bisa apa semua yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran yang tak bisa kupungkiri.


Kaki bapak kini telah berada diatas meja, sembari digerak gerakan menujukan kode untuk segera aku melakukan apa yang ia perintahkan kepadaku.


" baik pak citra akan pijetin bapak"


" eh tunggu tunggu, bapak akan sambil tiduran saja dilantai. Jadi kalau bapak belum lelap tertidur kamu tidak boleh berhenti memijat bapak! Denger? Kalo ga siap siap aja kamu berdosa"


" i- iya pak citra pasti lakukan apa yang bapak perintahkan"

__ADS_1


Ucapku dengan nada lesu


Aku tak bisa melawan bapak, kenapa keadaan semakin membuatku seperti ini, aku sudah tidak punya ibu.


Dan bahkan aku harus membanting tulangku sendiri mulai besok


Aku mulai memijati betis bapak sampai ujung jari kakinya dengan berharap bapak akan lekas terlelap dalam tidurnya, karena biasanya hampir sejam bapak baru terlelap. Dan jika itu benar maka aku akan terlambat untuk belajar mata pelajaran yang akan diujikan besok


30 menit berlalu tangan bapak masih bergerak dengan menggeser geser beranda facebook yang ia miliki.


Tanganku sudah merasakan akan membeku dan seperti merasakan kesemutan juga, tapi apa dayaku aku tidak bisa berhenti. kecuali kali ini aku harus memberanikan diri untuk meminta izin karena akan tidur


" pak citra boleh tidur ga?"


" tidur? Bapak aja belum tidur dari pagi! Udah gausa banyak ngeluh, dulu bapak mijetin kaki orang tua bapak sampai berjam jam tapi bapak gaperna ngeluh"


Ingin rasanya menjawab iyadeh iya si paling lama mijetnya, tapi itu semua hanya dalam hayalanku saja karena mana mungkin seorang citra mampu memiliki keberanian melawan bapak.


Mataku terus saja menggagguku karena sudah mulai merasa kantuk yang berat, karena dari tadi aku belum mengistirahatkan tubuhku sama sekali. Dan sekarang jam sudah menunjukan tepat di angka 20.15, aku sudah terbiasa tak tidur tengah malam. Karena fikiranku akan semakin mengganggu kenyamanan malamku.


" heii"


Ucapan bapak mengagetkan diri ini


" iya pak ada apa?"


" kamu bisa gasih jangan tidur bisa bisanya saat kamu berbakti sama orang tua kamu malah kamu ketiduran apalagi kamu dalam posisi duduk, udah kaya gapernah tidur setahun ajah! Dasar anak pemalas gaguna banget kamu hidup"


" maaf pak citra ga sengaja kok"


Bapak tak menjawab permintaan maafku, hanya terdengar suara mendecih karena perbuatanku


Bapak meninggalkanku sendiri, ia pergi keluar rumah dengan menggunakan motor yang sudah ia nyalakan.


" huh ntah apalagi yang akan terjadi besok, kenapa aku semakin membenci diri ini kenapa aku tidak segera mati saja kenapa? Aku juga capek hidup seperti ini!"


Aku langsung memasuki kamar dan menguncinya, dengan perasaan kesal yang sudah tak karuan kukepalkan tangan kananku dan kuhantamkan ke tembok yang sudah mengerti apa yang sedang kulakukan seperti orang gila.


" aghhhh bangs*t! Apa yang harus kulakukan hah? Ini salah itu salah? Semua orang hanya bisa menyuruhku ini itu saja memangnya mereka tau kalau aku juga bisa capek! Aku juga ingin dianggap ada"


Tubuh kembali meringkik memeluk kedua kakiku, mataku menyorot gambar diri yang berada didalam cermin.


Perlahan mata ini beralih mengamati tangan yang sudah memerah dan sedikit memiliki goresan, nafas yang tadinya tak beraturan akhirnya juga kembali mendapat ketenangan setelah melampiaskannya pada benda mati.

__ADS_1


__ADS_2