
" kamu gapercaya aku punya luka?"
" gagitu loh nil, tapi kan gimana ya? Kamu kaya, kamu punya banyak temen juga itupun kamu udah kaya populer banget di sekolah gitu loh"
" ya gitu deh orang orang bacanya gitu aja terus, mereka kan gatau apa yang terjadi dirumah"
" kamu kenapa?"
" boleh aku cerita? Aku gabisa cerita sama temen temenku karena mereka pasti akan menganggapku lemah, tapi aku ingin membagi dukaku ini karena aku udah gabisa lagi nahan dan bahkan aku udah ngerasa cape banget"
Ya andai saja aku juga punya teman untuk membagi lukaku, mungkin sakit ini tak akan menjadi seburuk ini sekarang
" iya ayo kalo kamu mau cerita"
" tapi janji, jangan kasi tau sama siapa siapa"
" iya iya janji, aku mau kasi tau siapa? Aku aja gapunya temen disekolah"
" sekarang Kamu punya satu, aku..."
" ka- kamuu..? Mau jadi temenku? Aghhh aaaa terimakasih aku seneng banget"
Tangan ini tak mampu kukendalikan lagi karena rasa senangku, hingga aku tak menyadari bahwa tanganku ini sudah menggenggam salah satu tangannya yang berada di dekatku
Danil menatapku, hingga mata kami saling bertatapan
" maafkan aku, aku tidak sengaja"
Aku langsung melepas tanganku yang sudah janggal berada ditempat yang salah. Beraninya aku, sampai lupa bahwa aku adalah gadis yang jelek.
" gapapa kok, ini udah wajar"
Kini tangannya kembali meraih tanganku yang tadinya sudah terlepas darinya, aku tak berkhayal tentang cinta karena bagiku pertemanan ini sudah lebih dari cukup.
Setelah hal itu terjadi, kami berdua kembali diam satu sama lain.
" kamu gamau pulang nil? Ini kayanya udah larut malam loh"
Ia kemudian merogoh sesuatu didalam saku celananya, sebuah ponsel yang tadi membuatku kembali tergiur kembali ia sodorkan kepadaku.
" masih jam 10 cit , lagipun tidak ada juga yang akan mencariku"
" kenapa kamu berfikir seperti itu? Apa ada yang terjadi di rumahmu"
" iya cit, itu yang ingin kuceritakan padamu"
" apa?"
Tanyaku dengan sangat teramat penasaran dibuatnya.
" ayahku yang sedang selingkuh tapi ibuku tak bisa kuberitahu, karena aku takut ia akan merasakan sakit yang teramat karena tingkah ayahku yang seperti itu"
" aku boleh sambil nanyain sesuatu ga sama kamu?"
" apa?"
Tanya danil padaku
" ia tentang ceritamu, tapi jika kamu berkenan untuk menjawabnya aku gamaksa kok"
Aku yang dibuat penasaran dengan apa yang ia ceritakan tak mampu menahan diri untuk mengetahui seluruhnya. Meskipun aku tau aku tidak bisa menceritakan apapun tapi setidaknya aku akan bisa menjadi seorang pendengar yang baik
__ADS_1
" kamu mau tanya apa?"
" tapi ibu kamu baik baik aja sekarang kan?"
" iya kayanya begitu, selama ibu aku tidak tau mungkin akan tetap seperti itu"
" jadi kamu tinggal dengan ibu kamu? Atau ayah kamu?"
" tidak, untuk sekarang aku tidak tinggal dengan ayah"
" Kenapa? Ayah kamu kemana"
" dia memang ada bekerja di luar kota dan hanya sebulan sekali ia menemui ibuku. Meskipun aku tau diluar kota ayah bersama dengan wanita lain"
" kamu tau darimana?"
"Aku pernah pergi ketempat ayah bekerja karena aku sudah beberapa kali mendapat kecurigaan dan benar saja saat aku sudah berada disana. Mataku tertuju pada wanita yang sedang mencumbui ayah"
Sama halnya dengan kedua orang tuaku tapi bedanya mereka berdua sama sama memiliki pasangan lain. Dan untuk apa sebenarnya aku lahir ke dunia ini jika aku akan terlantar seperti ini.
" maaf ya udah bikin kamu sedih karena harus ngebuka luka kamu yang masih belum sembuh"
" eh gapapa gapapa kok, aku tinggal sama ibu aja dirumah kamu mau ketemu ibu aku?"
" eh ga ga gausa, kapan kapan aja ya"
" kenapa harus kapan kapan kalo kamu emang bisa hari ini?"
" aku malu nil, kamu taukan aku gabisa secepat itu beradaptasi apalagi sama orang baru"
" udah ayo ikut aja gausa banyak bicara"
" emangnya ini beneran gapapa nil?"
" apanya?"
" semua ini?"
" aku tau kamu pasti merasa malu tapi sudahlah aku akan memperkenalkanmu dengan ibuku, meskipun sebelumnya aku tidak pernah membawa seorang gadis kerumahku sekalipun itu adalah pacarku"
Hatiku merasa terenyuh merasa paling menjadi orang yang spesial malam ini.
Tapi aku tak terlalu memikirkan demikian, aku dan danil adalah sepasang teman dan seorang teman akan berbagi apapun dengan temannya kan. Tanganku terasa pegal karena harus menumpunya di bagian pahaku karena motor gede ini selalu saja membuat tubuhku merosot ke arah danil ntah apa yang akan danil fikirkan nanti tentangku jika aku berani mendekatinya melewati batas teman.
" citraaa"
" kenapa kamu teriak nil?"
" gapapa aku cuma ingin kamu tau bahwa aku senang berteman denganmu"
" kamu suka sama kecepatan ga?"
Sekali lagi ia menyambung tanyanya padaku
" gatau juga sih nil, kan aku belum pernah nyoba naik motor dalam kecepatan tinggi?"
" sekarang mau nyoba ga?
" boleh"
Aku mengiyakan saja karena aku ingin mencoba hal yang belum kuketahui sama sekali
__ADS_1
" kencengin dulu dong cit! nanti kalo kamu jatuh gimana aku loh yang jadi tawanan polisi. Ihh serem banget kalo bener bener terjadi, gamau gamau "
" kencengin gimana nil? Maaf aku gapaham"
Ia mengambil satu persatu tanganku dari sanggahanku menaruhnya di depan perutnya hingga kedua tanganku berhasil melingkar sempurna di tubuhnya dan dagu ini tak bisa lagi berkutik karena sudah bersandar di atas bahunya
Mataku membulat, jantungku semakin berdebar debar. Apa ini cinta? Tapi aku masih anak smp gamungkin udah cinta cintaan kalopun ia pasti cinta monyet aja kalo kata lagu itu.
" nah gini maksud aku, sekarang kita akan melaju dengan kecepatan tinggi"
Motor danil melaju sekencang kencangnya menjadikan cengkraman ditubuhnya semakin mengerat saja3
" nil udah aku takut"
Pintaku dengan memejamkan mata karena merasa akan terbentur pada kendaraan lain yang ada didepan mata kami.
Perlahan kecepatan motor ini sudah kembali normal seperti tadi
" ternyata kamu lumayan penakut juga ya "
" ih mana ada aku takut, aku cuma gamau masuk angin aja kalo ngebut ngebut"
Di dalam pantulan spion yang merekat di motornya aku bisa melihat jelas gigi gingsul itu kembali tersingkap
" kita hampir sampai dirumah"
Aku yang mendengar kalimat itu mulai melepas cengkramanku yang ada di tubuh danil, sembari memperbaiki helai helai rambutku yang pasti berantakan karena terkena angin
Sesekali aku celingak celinguk, menatap kearah kanan dan kiri serta apa yang ada didepan mataku untuk melihat rumah danil, meskipun aku akan menuju kesana tetap saja aku merasa penasaran
Beberapa menit berlalu dan motor ini sudah berbelok memasuki sebuah rumah yang warnanya didominani oleh warna putih dan warna gold
" ini rumah kamu?"
" iya maaf ya jelek"
" huh dasar ngerendain diri udah kaya t*i aja kamu! Jelas jelas rumah ini udah kaya istana megah"
Aku melepas helm yang tadi kupakai di kepalaku, tapi rasanya aneh. Kenapa tidak bisa kubuka? Rasanya sulit sekali membukanya, aku terus mencoba menarik nariknya supaya lekas terlepas
" mau aku bantuin ngelepasnya?"
" ga gausa aku pasti bisa kok, udah jangan anggap aku remeh ini cuma masalah kecil"
Ucapku pada danil karena masalah sekecil ini saja sudah akan meminta pertolongan.
" uda sini citra... Kamu gausa naikin gengsi kek gitu"
Ia mulai mengambil alih pengunci keselamatan helmku
" jadi kamu tuh tekan dulu yang ini baru kamu tarik citra, jangan ditarik terus gabakal bisa yang ada tangan kamu sakit nanti. Sini liat tangan kamu"
Ia melihat telapak tanganku dengan mengerutkan dahinya
" nih lihat udah merah kan apa aku bilang"
" eh gapapa ko itu cuman kaya gitu sebentar lagi udah sembuh"
" kamu pulang sama siapa dan?"
Suara wanita cantik dengan sekitar usia kepala 4 menarik perhatianku
__ADS_1