
Danil terlihat mondar mandir didepan pintu kamar citra dirawat, dirinya khawatir dan terus saja mengutuki dirinya.
Karena sejatinya danil juga anak yang lahir dari keluarga yang kekurangan kasih sayang tapi ia masih punya ibu dan juga rumah mewah yang ia tinggali
" maaf cit, aku membawamu kerumah untuk berniat membuatmu merasa lebih disayangi. Karena jika aku bisa aku tak mau orang lain merasakan apa yang kurasakan saat melihat ayahku berselingkuh"
Setelah beberapa menit mereka menunggu dokter keluar dari kamar citra danil sontak langsung mendekati tubuh dokter dan melirik ke dalam kamar untuk memastikan kondisi citra
" dok bagaimana kondisi citra? Dia baik baik saja kan?"
" dia baik baik saja, tapi dia memerlukan bantuan dokter psikolog"
" iya dong saya akan mencarikan dokter psikolog untuk citra"
" kamu jangan menganggap ini remeh nak, mungkin sekarang dia hanya melukai tubuhnya tapi bagaimana jika luka dihatinya membuatnya semakin nekat karena tak menemukan jawaban untuk semua masalahnya. Dia sudah diberi obat penenang dan ini hanya bersifat sementara yang bisa menyembukannya ialah dirinya sendiri"
" jadi apa dia sudah bisa pulang?"
Tanya pak guru pada dokter
" iya tentu saja"
" kamu bisa membawa citra ke mobil, bapak akan mengurus administrasinya dan menebus obat untuk citra"
" baik pak"
Sahut danil dengan singkat
__ADS_1
Danil menuju kamar citra, matanya langsung tertuju pada tubuh yang berusaha turun dari tempat tidurnya
" apa yang kau lakukan cit? Kamu masih belum pulih"
" kenapa kamu ada disini? Bagaimana jika sitamu akan kembali mencelakaiku?"
" tidak, dia tidak akan berani menyakitimu lagi"
" bagaimana kamu tau?"
Pertanyaan pertanyaan citra terus menghantam danil tanpa henti, danil berusaha memapah tubuh citra yang masih lemah, Namun danil malah fokus pada mata citra yang sampai saat ini masih menggenang air mata.1
" kamu akan baik baik saja kok cit"
Sanggah danil tanpa mengeluarkan suara, ia tak bisa berjanji untuk selalu melindunginya tapi danil akan berjanji selagi ada danil dihidup citra, maka citra tidak akan lagi merasakan lukanya.
Danil menuntun langkah demi langkah yang citra ambil.
Sepanjang perjalananpun citra hanya terdiam dan didalam matanya hanya ada tatapan kosong.
" cit mau coklat lagi?"
Citra menoleh pada danil yang menawarkan sebatang coklat padanya.
Hanya saja kepala citra mengisyaratkan bahwa ia tidak menginginkan coklat tersebut
Danil menatap citra dengan penuh rasa bersalah, lengannya yang penuh dengan perban semakin membuatnya merasa bersalah
__ADS_1
" cit maafkan aku"
Danil meraih tangan citra yang dan menggenggamnya
" untuk apa?"
" untuk kesalahanku yang sudah melukaimu sampai seperti ini"
Citra kembali membisu tak menjawab permintaan maaf danil
Hingga akhirnya mobil sudah terparkir didepan pagar rumah mewah milik keluarga danil.
" aku bisa sendiri kok"
Ucap citra pada danil yang menjulurkan tangannya pada citra untuk membantunya turun dari mobil
Ntah apa yang sedang citra fikirkan sekarang, matanya tetap saja terlihat kosong
" cit ini obat kamu, semoga cepat sembuh"
Citra tak menjawab perkataan pak guru. Danil yang melihatnya keheranan dengan sikap citra yang tak menanggapinya.
Citra hanya melangkah kedalam rumah dan tentu saja meninggalkan mereka tanpa pamit dan rasa bersalah
" maaf pak dan terima kasih karena sudah membantu citra hari ini"
" untuk apa kamu meminta maaf padanya? Bahkan dia sudah tau bahwa aku sering dibulli tapi tetap saja dia menutup mata karena aku adalah siswa yang bodoh"
__ADS_1
Perkataan citra membuat pak guru yang mengantarkan mereka menunduk, hingga danil yang berada di sana kembali meminta maaf pada pak guru
" tidak danil, citra benar. Bapak titip citra jaga dia"