
" bu tolong bu, saya lapar.. Saya belum makan dari kemarin tolong bu"
Terlihat wajahnya mulai ikut merasa iba padaku, ia mulai merogoh tas yang sedang ada didalam pangkuannya.apa
Ia mulai menaruh selembar uang 20 ribu kedalam wadah kotor yang kubawa
Sedikit aneh bagiku karena untukku ini adalah perbuatan yang memalukan. Karena aku masih kuat untuk mencari uang dengan membanting tulang, tapi aku? Aku malah berusaha meminta minta untuk dikasihani oleh orang orang.
" ini kamu makan ya setelah ini"
" makasih bu.."
Aku kemudian berpindah pada kendaraan kendaraan lain yang ada dibelakangnya, tapi tak jarang beberapa orang enggan untuk memberikanku uang.
Ya tak jarang juga seseorang melirik tubuhku menyorotku dari ujung kaki hingga ujung akar rambutku
Hingga lampu merah berganti menjadi hijau, aku kemudian bergegas menepi dan kembali menunggu lampu merah itu tiba secara terus menerus hingga akhirnya aku merasa pusing..
Telingaku serasa mendengar bunyi dengungan, perlahan pandangan mataku kabur hingga akhirnya tubuh ini hampir saja terhuyung hingga beberapa pejalan kaki mulai bersimpati kepadaku dan seorang dari mereka menyempatkan diri untuk membeli sebungkus nasi dan juga segelas es teh
" makasih ya mas"
Ucapku sambil menyiratkan sebuah senyuman pada orang yang masih berada didepan mataku.
" akhirnya aku bisa makan juga, setelah setengah hari aku berusaha untuk mengumpulkan uang ini"
Sudah setengah hari aku jalani menjadi seorang pengemis, tapi apa uang 47ribu ini akan membuat rasa cukup pada kepuasan hati bapak
Apa aku minta dijemput sekarang saja ya? Lagipun awan sudah tampak mendung, pasti sebentar lagi akan turun hujan
" lebih baik aku akan menghubungi bapak dan menanyakannya saja, karena langit sudah sangat gelap"
*panggilan terhubung
" pak citra boleh pulang sekarang ga? Langit udah gelap banget pak sepertinya hujan akan turun"
Tanyaku pada ayah dengan kekhawatiran yang memuncak
" lebay banget sih kamu! Baru aja gelap udah mau pulang! Emangnya kamu dapet berapa? Banyak?"
" iya pak syukur, citra udah dapet 47 ribu pak"
__ADS_1
" hah apa? Baru segitu aja? Kamu ngapain aja sih! Pasti kamu ambilkan sebagian uangnya"
" ngga pak tadi aja citra makan karena ada yang ngasi citra makanan pak"
" aghh udah udah cukup tutup telvonnya sekarang sebelum ada yang curiga sama kamu"
* panggilan terputus
Gemuruh cambukan langit semakin menggelegar menakut nakuti para penghuni bumi, mataku yang kini mulai mencari cari tempat teduh disekitar tempat yang sedang kutapaki sekarang sepertinya harus menelan kenyataan bahwa aku hanya bisa berteduh dibawah pohon besar.
" setidaknya aku tidak akan terlalu basah jika aku berada dibawah pohon ini"
Semua notif sms membuatku merogoh kembali saku celana yang juga compang camping
" jangan pulang kalau uang yang didapat belum banyak! Dan satu lagi gausa sok istirahat neduh neduh saat hujan, orang orang bermobil pasti akan merasa semakin kasian jika melihat gadis kecil yang jelek dan malang menggigil karena dingin yang disebabkan oleh hujan"
Aku yang membaca pesan itu dengan sangat hati hati karena takut handphone ini terkena hujan, malah hatiku sendiri yang semakin terkena hujan tekanan.
" apa aku salah jika suatu hari nanti aku akan menyerah karena lelah menghadapi sikap bapak yang semakin hari semakin seenaknya memperlakukanku seperti ini"
Lagi lagi aku mulai berperang dengan isi otakku sendiri, sampai kapan aku akan tetap seperti ini aku tak tau
Dengan rasa dingin yang memeluk erat tubuhku, kupaksakan diri ini untuk mencari uang meskipun hujan sudah membasahi sekujur tubuh ini, hingga akhirnya matahari perlahan sudah turun yang akan segera digantikan oleh gelapnya malam
Badan yang sudah basah kuyup ini tak lagi ingin berada didunia luar, aku yang sudah lelah akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Terlihat uang yang sudah terkumpul kurasa cukup.
Kususuri jalanan kota tanpa merasakan suasana hati apapun, hanya berandai andai saja yang ada dalam otakku.
" andai saja aku punya orang tua yang bisa menyayangiku sepenuh hatinya dan bisa menghargai setiap keputusan maupun mendukung apapun yang akan kuusahakan dengan sungguh sungguh"
Aku kembali pada rumah kosong untuk mengambil jaketku disana sembari kuhubungi lagi nomer bapak untuk menjemputku.
Tapi ntah kenapa ia tak menjawabnya, padahal jam sudah menunjukan di angka 19.05
" sudahlah aku akan jalan kaki saja"
Hujan sudah reda tapi rada sakitku masih tak juga mereda, tak apa hari ini dengan sangat baik.
Samar samar aku mendengar suara motor yang menggeber geber dari arah berlawanan, mataku silau dibuatnya hingga mata ini tak menangkap ada lubang di antara mulusnya jalanan aspal
" aghhh, sakit sekali lutut ini! Huh siapapun dia apa dia galiat kalau lampu motornya mengenai mataku, dasar orang kaya"
__ADS_1
Sesaat aku menatap motor yang menyakiti mataku tiba tiba berhenti. Seolah matanya menyorot tubuh ini yang masih berada diatas tanah, menepuk nepuk celana jeans yang kugunakan karena terkena tanah basah karena air hujan
***sesampainya dirumah
" kenapa pintunya tertutup, biasanya jika bapak ada dirumah pintu ini tak akan tertutup, hah ntah bapak pergi kemana lagi kali ini. Semoga saja bapak tidak akan pulang dengan kondisi mabuk, aku tak mau bapak kenapa napa dalam kondisinya yang tak tahan dengan minuman beralkohol"
Aku segera melangkahkan kaki mendekati pintu
" loh ko gadikunci? Apa bapak ada didalam?"
Setelah pintu itu kubuka ntah apa apaan yang kudapati karena memandang dua kepala berada dalam satu ranjang.
" bapak? Berani sekali bapak bersama janda gatal ini? Apa bapak sudah lupa dengan ibu? Hah? Apa bapak sudah tidak lagi menyayangi ibu? Dan beraninya dia berada di tempat tidur ibu!"
" dasar anak gatau diuntung! Apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu hah? Kamu kira ini rumah kamu?"
" iya bapak ini memang bukan rumahku dan seharusnya aku sudah pergi kemarin atau bahkan aku sudah pergi dan mengemis dari dulunya"
" ya ya ya kau memang cocok menjadi seorang pengemis"
Aku benci sekali, kenapa harus terjadi lagi aku melihat dengan kedua mataku sendiri, kedua orang tuaku pergi dan mengusirku karena selingkuhan mereka masing masing. Harusnya setelah aku tau bahwa ibu dan bapak mempunyai cadangan pada hari itu aku tidak usah lagi berada di tempat yang menyedihkan ini.
" ya kau betul bapak seharusnya aku menjadi pengemis materi daripada mengemis kasih sayang dari kalian berdua!"
Amarahku meledak menjadikan semua emosi yang terpendam membuncah tanpa terkendali, hari itu aku sudah pernah melihat ibu duduk berdua di satu meja dengan lelaki itu, dan bapak setiap pulang bekerja pasti selalu singgah dirumah janda ini alias mantan pacarnya dulu. Ntah sandiwara apa lagi yang akan diberikan dunia kepadaku.
Aku pergi dari rumah dengan kemarahan menyusuri jalan ditengah tengah hujan yang kembali membasahi bumi
" aghhhhhhhhh"
Aku berteriak dan menangis di bawah hujan tak akan ada orang yang bisa menyadari suaraku, karena teriakan dan tangisku ikut tersapu oleh derasnya hujan.
" aku tak membawa apapun dari rumah kecuali uang yang terkumpul dari hasil mengemis tadi"
Aku duduk sendirian di tengah taman kota tanpa berfikir untuk berada di tempat yang teduh. Tak ada seseorang yang berada ditempat yang sama denganku, dengan begitu aku berani semakin keras menyaringkan suara tangisku untuk semakin melegakan isi hati dan fikiranku.
" ntah bagaimana aku akan tidur malam ini, yang aku tau aku tidak punya rumah lagi"
Aku memeluk erat lagi kedua kaki ini untuk mengurangi rasa dingin ini, namun ditengah tengah wajahku menunduk terasa kursi yang kududuki sedikit bergerak seakan seseorang juga ikut duduk disampingku
" kamu suka hujan?"
__ADS_1