Citra

Citra
bagian 13


__ADS_3

Setelah ia kembali ke meja kami, ia mengeluarkan sebuah ponsel kekinian yang dari sejak dulu aku inginkan. Aku selalu saja ingin melihat apa yang orang itu mainkan disitu, meskipun terkadang pemilik ponsel itu merasa terganggu karena wajahku terlalu dekat dengan ponselnya karena terlalu penasaran.


" a-apa yang sedang kamu mainkan?"


" ini?"


Ia mengacungkan ponselnya kearahku untuk memastikan apa yang sedang kubicarakan


" kamu gapunya ponsel seperti ini?"


" eng-enggak aku cuma punya yang seperti ini"


Sembari menyodorkan hp jadul yang kumiliki, kudapati danil mengernyitkan dahinya itu, yang membuatku merasa apa ada yang salah atau karena ia mulai sadar kalau aku orang miskin.


" ada yang salah ya nil?"


" gaada cuma aku heran aja, kenapa masih ada orang yang gapunya ponsel canggih seperti ini. Karena anak balita aja kadang udah punya sendiri loh"


" hehe iya, gapapa deh kan kapan kapan aku bisa beli kalo udah gede"


Perbincangan kami terhenti ketika seorang pelayan membawakan pesanan yang kami pesan.


Sebuah hamburger dan segelas jus jeruk hangat terhidang didepanku, begitu juga didepan danil


" mbak gasalah meja? Saya hanya pesan secangkir kopi mbak"


" eh ga mbak udah bener kok"


" yasudah saya permisi jika tidak ada yang salah, selamat menikmati hidangan kami"


Danil tersenyum kepada pelayan itu tapi tetap saja aku merasa bingung bukannya tadi aku udah nulis kopi di kertas pesanan tadi


" ayo makan"


" kamu mesen ini semua?"


" iya kamu gasuka ya? Atau aku pesanin menu lainnya gimana?"


" eh ngga ko nil aku cuma heran aja soalnya tadi aku cuma mesen secangkir kopi aja"


" iya aku inget kok tapi ini udah malem gabaik juga buat perempuan minum kopi"


" makasih ya nil"


" udah makan aja dulu"


Aku merasa sangat senang, karena perut ini sebenarnya sudah minta diisi sedari tadi.


Ingin rasanya aku melahap makanan ini dengan secepatnya tapi sayang aku tidak bisa memakai pisau dan garpu ini.


Sesekali aku hanya melirik cara makan danil, siapa tau aku bisa menirunya tapi mustahil rasanya.


Pisau ini seakan tidak tajam saat aku berusaha memotongnya hingga beberapa bunyi gesekan antara garpu, pisau ataupun piring sering beradu.


" kamu gabisa makai itu?"


Aku tersenyum dan hanya mengangguk karena semua itu memanglah benar


" pakai tangan aja gapapa kok cit"


" tapi aku malu nil, kalo sampai orang orang liat gimana? Pasti kamu juga ikutan malu"

__ADS_1


Ia menggeleng gelengkan kepala sembari kembali menyiratkan sebuah senyuman dengan gigi gingsulnya yang terlihat manis bukan terlihat menakutkan lagi sama seperti ia berdiri dihadapanku bersama dengan gerombolannya.


" mau dibungkus aja? Nanti kita makan ditempat yang sepi"


" tapi gimana caranya bilang ke pelayannya? Nanti pasti dia merasa kerepotan karena aku"


" cit udah ya, kamu harus belajar ngendaliin fikiran kamu yang berlebihan tentang pandangan orang ke kamu. Mereka itu juga gabakal setertarik itu buat ngurus hal kecil kaya gini"


" sini makanannya"


ia mengambil alih piring yang sudah tersaji untukku. Ia mengeyampingkan piring yang ia miliki dan mulai membuat beberapa potongan pada makananku


" mau aku suapin aja sekalian?"


Pertanyaannya membuatku merasa sedikit mendebarkan jantung dengan ritme yang menjedag jedug


" eh ga ga usah ko aku bisa sendiri"


Ia kemudian mengembalikan piring itu kepadaku


Setelah beberapa menit berlalu akhirnya semua hidangan yang sudah danil pesan tadi habis tak bersisa.


" tunggu disini sebentar yaa"


Terlihat ia kembali kepada tempat untuk pemesanan, dan membawa 2 bungkus makanan ntah apa yang ada didalamnya.


" ayok!"


Ucapnya padaku menyadarkanku bahwa dia sudah ingin pergi dari tempat ini, dan tentu ia akan meninggalkanku untuk pulang kerumahnya


Aku hanya berjalan tepat di belakang tubuhnya, mengikuti setiap langkahnya. Dan fikiran ini sembari terus bertanya tanya aku akan pulang kemana?


" nih ini kamu makan dirumahmu okey"


" kamu gasuka ya?"


" suka kok, suka banget malah"


" aku anterin kamu pulang yuk, gausa takut aku gabakal ngapa ngapain kamu. Aku janji"


" aku ingin pergi ke taman lagi nil, kamu bisa pulang duluan. Makasih makanannya"


" okey see u next time ya cit"


Aku mengangguk dan kembali menyebrangi jalan raya untuk kembali ke tempat yang sebelumnya. Meskipun sudah ada beberapa orang yang menempati taman kota karena hujan sudah reda, tapi apa boleh buat aku tidak punya pilihan untuk pergi kemana lagi.


Aku meninggalkan danil di parkiran itu, tak mungkin aku tetap berada didepannya karena air mata sudah ada di ujung mataku


Kududuki lagi kursi yang masih basah, karena pakaian ini masih terasa basah sebenarnya.


Aku membuka bungkus makanan yang tadi ia berikan padaku untuk melihat apa yang ia berikan kali ini


" nasi goreng, aku suka nasi goreng dan aku sangat bersyukur bisa kembali mencicipinya kali ini, makasih nil"


Aku berbicara seolah ada saja yang mendengarkan diriku


" iya sama sama cit"


Hah suara danil? Apa dia kembali lagi? Aku langsung menoleh kearah belakang memastikan apa yang kuduga benar atau tidak


" ko kamu balik lagi kesini? Ada yang ketinggalan? Atau kamu masih ada perlu sama orang lain disini"

__ADS_1


" iya aku punya perlu sama kamu"


Iya kemudian duduk kembali disampingku dan kembali menatap wajah ini


" kenapa kamu lihat wajah aku?"


" aku ingin tau lebih jauh hidup kamu"


" apa yang ingin kamu tau nil, gaada yang menarik dalam hidup aku"


" okey kalau kamu tidak mau menjawab pertanyaanku atau menceritakan apa yang ingin kudengar, tapi kamu harus menjawab pertanyaanku yang satu ini"


" apa? Aku harus menjawab apa?"


Tanyaku dengan wajah penasaran


" kenapa kamu belum pulang selarut ini, gamungkin orang tua kamu ganyariin kamu"


" kamu tau apa sama hidup aku?"


" ya itu dia, aku tak tau sama sekali tentangmu makanya sudah aku paksakan kamu harus membaginya denganku"


" ya ya baiklah jika kamu ingin tau, aku tidak lagi memiliki rumah. Aku tidak punya lagi orang tua sekalipun ada mereka tidak akan sepeduli itu sampai ingin mencariku ada dimana"


Kemarahanku terlepas, aku tak bisa lagi menahan untuk mengatakannya karena aku akan menjadi seorang pencerita yang akan selalu ingin didengarkan dimengerti dan bahkan bisa jadi aku akan menjadi seseorang yang oversharing.


" nih minum kopimu dulu"


" kopi?"


" iya sebelum aku kesini aku beliin kamu kopi dulu, biar tambah anget badan kamu"


" selagi lagi makasih untuk semua kebaikanmu malam ini"


Ia mengangguk dan menyiratkan senyumnya lagi


Beberapa menit terlihat seperti canggung lagi aku dengan kopi yang masih kugenggam dan danil dengan menatap beberapa kerumunan orang yang tak jauh dari kami


" apa yang sedang kau fikirkan?"


" kau tau aku banyak menyembunyikan luka selama ini?"


" luka? Kamu bisa juga terluka?"


Aku tertawa dihadapannya untuk mengejek dirinya yang katanya merasa terluka, meskipun aku tau pasti setiap orang punya lukanya masing masing.


" kamu gapercaya aku punya luka?"


" gagitu loh nil, tapi kan gimana ya? Kamu kaya, kamu punya banyak temen juga itupun kamu udah kaya populer banget di sekolah gitu loh"


" ya gitu deh orang orang bacanya gitu aja terus, mereka kan gatau apa yang terjadi dirumah"


" kamu kenapa?"


" boleh aku cerita? Aku gabisa cerita sama temen temenku karena mereka pasti akan menganggapku lemah, tapi aku ingin membagi dukaku ini karena aku udah gabisa lagi nahan dan bahkan aku udah ngerasa cape banget"


Ya andai saja aku juga punya teman untuk membagi lukaku, mungkin sakit ini tak akan menjadi seburuk ini sekarang


" iya ayo kalo kamu mau cerita"


" tapi janji, jangan kasi tau sama siapa siapa"

__ADS_1


" iya iya janji, aku mau kasi tau siapa? Aku aja gapunya temen disekolah"


" sekarang Kamu punya satu, aku..."


__ADS_2